Senin, 10 Juni 2019

5 Moral Stones Endgame untuk Pemimpin Masa Kini

Endgame, bakal menjadi film paling fenomenal tahun ini dengan meraup pendapatan tiket hingga 17 trilyun rupiah. Faktanya, sekuel dari Infinity War ini berhasil menduduki peringkat pertama di seluruh dunia yang menayangkannya, kecuali Jepang. Memang, sebagian besar dari kita terpesona dengan aksi laga dan drama tokoh-tokoh Avengers di sana. Saya setuju, dari film crossover Marvel Superheroes yang pernah ada, Endgame sementara adalah yang terbaik. Adegan I love you 3000 begitu terbenam di benak saya, sampai sekarang. 

Seperti biasa, saya merenungkan pesan-pesan moral terbaik setelah menikmati sajian box office. Kali ini, saya mencoba melihat dari perspektif kepemimpinan, baik kepemimpinan atas diri maupun terhadap orang lain dari peseteruan Thanos melawan Avengers. Lima pesan moral yang boleh saya sebut The Five Moral Stones.

1. Yang terbaik, hanya yang lebih bijaksana
Sebelum Endgame, beberapa teman mempertanyakan, bagaimana mungkin Captain America yang menjadi pemimpin Avengers. Dia bukan yang terkuat, dia bukan yang terpandai, bukan yang paling tech-savvy. Ini menjadi menarik ketika mengikuti dan membaca beberapa komik Avengers, kita akan menemukan bahwa Steve Rogers memiliki personaliti yang paling matang dan bijaksana. Ia menghadapi tim-nya dengan relatif sabar, tidak emosional, dan pada akhirnya selalu berhasil menyelesaikan misi bersama. Bahkan kemurnian hatinya memampukannya untuk mengendalikan Mjolnir, senjata andalan Thor. 

Dari simbol-simbol tersebut, kita belajar bahwa untuk menjadi seorang pemimpin yang baik, lebih utama adalah kebijaksanaan dan integritas. Ia bukan yang terhebat, namun mampu mengendalikan orang-orang hebat untuk menjalani visi yang sama. Di akhir cerita, Steve sukses dalam hal regenerasi. Ia melepaskan segalanya setelah selesai waktunya, memberikan tongkat estafet sebagai next leader kepada Sam, The Falcon. Ia berhasil mempersiapkan kelanggengan Avengers di masa depan. Ssebaliknya, sungguh tragis ketika seorang pimpinan pada akhirnya sulit menemukan calon-calon penggantinya, merasa tak banyak yang lebih baik dari dirinya. Tanpa sadar, ia telah gagal menjadi pemimpin selama ini. Lihatlah Steve tua yang bahagia.

2. Lari dari masa lalu, tetap membuatmu tak berguna
Thor, salah satu tokoh yang membuat saya mengernyitkan wajah. Dalam Endagme, ia menjadi sosok yang berusaha keluar dari penderitaan batinnya dengan gaya hidup yang salah, menjadi pemabuk, over weight dan tak peduli apapun. Walau berhasil memancung Thanos, namun ia merasa gagal mengembalikan semua orang yang hilang. Hal yang mirip dengan nasib Clint Barton, si Hawk Eye yang telah kehilangan keluarganya kemudian memilih jalan hidup sebagai Ronin, pembunuh bayaran. Profesi baru yang diyakininya akan mengobati masa lampau. Baik Thor dan Clint, keduanya gagal menerima masa lampau, kenyataan pahit dan menjadi diri yang lain.

Apa yang terjadi ketika Banner dan Rocket tidak menyadarkan Thor, atau Natasha tidak menyemangati Clint? Jelas, kedua tokoh Avenger itu akan terus menjalani kehidupan tak berguna dan terus lari berkejaran dengan masa lalu. Proses penyadaran yang membawa Thor kembali mighty dan Hawkeye kembali menjadi Earth's Mightiest Hero, move on, dan menatap tajam masa depan penuh harapan. Demikian sikap pemimpin dalam merespon masa lalu. Kegagalan bisa saja terjadi, namun belajar dari kegagalan sekaligus menyusun langkah ke depan adalah hal yang lebih bijaksana.

3. Niat baik saja tidak cukup
Thanos, terlihat sosok yang sangat bengis, kejam, dan supervillain. Memperhatikan dialog-dialognya, kita akan menemukan sebuah visi besar dalam dirinya. Ambisinya adalah menjaga keseimbangan dan kelanggengan semesta, meskipun ia harus melenyapkan separuh populasi manusia di bumi, tanpa ampun. Sempat saya berpikir bahwa Thanos adalah satu-satunya di film tersebut yang memikirkan nasib jagad raya, melampaui bumi. Setidaknya para Avengers hanya berjuang untuk bumi, khususnya orang-orang yang mereka sayangi.

Karakter Thanos mengajarkan bahwa niat baik saja tidak cukup. Apa arti visi besar jika toh akhirnya harus menyakiti banyak hati. Bukankah hidup lebih indah untuk mencari kawan daripada musuh? Niat yang baik harus dibarengi cara yang baik pula, yang didasari oleh ketulusan dan welas asih. Dalam kehidupan organisasi, cara-cara yang baik bukan sekadar rangkaian aktivitas-aktivitas dalam rencana strategis, reputasi, atau popularitas, namun juga memelihara hubungan antarmanusia di dalamnya, mengedepankan core values yang kuat dalam setiap tindak operasional.

4. Aku bukan hanya milikku
Kematian Black Widow dan Ironman boleh jadi kejutan pahit Endgame bagi penggemar kedua tokoh tersebut. Mereka berkorban demi kepentingan orang lain, seolah tidak lagi memikirkan dirinya. Sebuah drama yang membuat haru, bagaimana Tony Stark sempat meninggalkan Avengers, memilih hidup berkualitas bersama keluarganya. Namun pada akhirnya ia memilih untuk berkorban, menyelamatkan bumi, menyingkirkan Thanos, nekad menggunakan Gaunlet!

Seorang guru menasehati saya, bahwa saat menjadi pemimpin dalam sebuah organisasi, dirimu bukan lagi milik dirimu atau keluargamu saja, namun sudah menjadi milik organisasi. Hidupmu harus didedikasikan pada kepentingan banyak orang. Bukan memikirkan ego lagi, tapi pada sesuatu yang lebih besar. Tenaga, waktu, bahkan pengorbanan tidak lagi semata untuk kepentingan diri. Ya, Black Widow dan Stark telah memvisualisasikannya dengan cakep.  

5. Pemimpin inovatif selalu menawarkan solusi terbaik
Salah satu solusi terbesar Endgame adalah diciptakannya mesin Quantum Realm, semacam mesin waktu untuk membawa para Avengers yang tersisa ke masa lampau dan mengumpulkan batu-batu Gaunlet. Sebuah kreasi hasil sinerji, terutama pemikiran Banner, Stark, dan tentunya keputusan Steve Rogers. Pemimpin yang baik memfasilitasi inovasi berbasis nilai, bukan sebaliknya, karena inovasi adalah satu-satunya jalan untuk penyelesaian masalah baru, yang belum terpolakan sebelumnya. Salah satu masalah terbesar kepemimpinan adalah menggunakan cara atau strategi masa lampau untuk menyelesaikan masalah saat ini. Keputusan membangun mesin tersebut juga begitu spontan dan tidak mengikuti pola pengambilan keputusan birokratis.

Salut untuk Captain America yang sukses memimpin tim memasuki Quantum Realm, dan berhasil mengambil kembali batu-batu ajaib. Ia menghitung peluang dan berani mengambil risiko inovasi yang besar dengan hasil yang belum 100% pasti. Melakukan inovasi bisa jadi keengganan pemimpin jaman now. Selain biaya dan risiko besar, hasilnya dinilai tidak pasti. Namun bagi mereka yang belajar tentang akuntansi inovasi, tetap mampu meminimalkan risiko, biaya, dan memperbesar peluang keberhasilannya. Itulah sifat pemimpin inovatif.


Semoga bermanfaat!

1 komentar:

  1. Assalamualaikum...
    Salam kenal. Saat ini, bisnis jualan produk digital semakin menjamur.

    Itu adalah peluang besar bagi siapapun yang ingin meraup penghasilan jutaan rupiah dari bisnis digital.

    Kami tim Autopostbisnis menawarkan Waralaba Bisnis PLR.

    Apa itu Waralaba Bisnis PLR?
    Silahkan kunjungi salespage kami
    https://autopostbisnis.com/waralaba-toko-plr

    Waralaba kami sudah masuk ke marketplace Ratakan.

    Tujuan kami membangun sistem Waralaba Bisnis PLR adalah untuk membantu teman-teman dalam menjalankan bisnis PLR.

    Terimakasih,
    Salam Sukses
    https://autopostbisnis.com

    BalasHapus