Jumat, 12 April 2019

Trimurti, Kunci Keberhasilan Inovasi Berkesinambungan

pic: posterlounge
Inovasi diyakini sebagai penyelamat keberlanjutan bisnis. Namun di sisi lain, juga dinilai sebagai tindakan yang penuh risiko. Clayton Christensen, "guru" disrupsi menyatakan bahwa dari 30.000 produk baru yang dirilis oleh perusahaan existing, 80% diantara gagal. Hingga saat ini, inovasi adalah paradoks.

Membaca Three-Box Solution sangat mencerahkan. Petualangan kreatif penuh kejutan spiritual. Buku karangan Vijay Govindarajan yang mengajarkan 3 prinsip dasar inovasi yang disarikan dari konsep Trimurti, sekaligus menyingkap, mengapa inovasi gagal. Baginya, inovator adalah pelebur/ penghancur, pencipta, dan pemelihara. Tiga peran yang disimbolisasi melalui Dewa Siwa, Brahma, dan Wisnu. Tiga peran yang berselaras menjaga keseimbangan semesta. Demikianlah idealnya proses inovasi, khususnya untuk perusahaan mapan.

1. Prinsip Melebur (Self-Disruption)
Inovasi adalah tentang "menghancurkan" hal-hal yang sudah tidak lagi relevan. Pakar bisnis menyebutnya dengan istilah self-disruption. Kita sedang memasuki era Revolusi Industri 4.0 yang membangun dan dibangun oleh teknologi, generasi, dan peradaban baru.  Salah satu kegagalan menjaga sustainability adalah kegagalan menyadari dan menerima bahwa pola bisnis lama sudah tidak lagi sesuai lanskap masa kini. Memang perlu jembaring ati. Sejarah untuk dihormati dan dipelajari, bukan untuk terus diglorifikasi tanpa upaya kemajuan. Kematian adalah awal kehidupan. Keberanian untuk mendisrupsi diri akan menginspirasi inovasi. Peleburan akan menemukan jalan penciptaan keseimbangan baru. 

2. Prinsip Mencipta (Value-based Creation)
Tugas kedua inovator adalah menciptakan hal yang lebih baik, dalam hal produk, sistem, atau model bisnis. Penciptaan yang terjadi setelah proses self-disruption. Inovasi sarat dengan nuansa pembaharuan yang tak boleh mengabaikan nilai-nilai inti yang dihayati sebagai ruh bisnis. Kesalahan terbesar inovator adalah menjadi rule breaker. Terlalu idealis, menjadi dekonstruktor yang skeptis dan ingin membongkar segalanya. Sikap demikian justru berpotensi menciptakan kekacauan. Inovasi bukanlah sebuah kebebasan, namun lebih pada upaya perbaikan yang dibatasi oleh visi dan tata nilai karena setiap bentuk penciptaan akan kembali pada hakikatnya, tujuan dan alasan mengapa ada.

3. Prinsip Memelihara (Nurture)
Dalam dua epos terbesar Hindu, Wisnu simbol pemeliharaan menjadi manusia (avatara) dalam wujud Rama dan Khrisna. Tugasnya untuk menyeimbangkan kondisi dunia yang sedang tidak harmonis. Inovasi yang baru, telah tervalidasi, dan memiliki prospek baik perlu dijaga keberlanjutannya. Lakukan monitoring dengan cermat dan segera lakukan koreksi jika terjadi kesalahan. Lakukan iterasi terus-menerus secara lincah. Lakukan penyelarasan tanpa henti, baik terhadap produk maupun model bisnis. Demikianlah merawat inovasi dan keberlanjutan. Pada saatnya nanti, inovasi hebat saat ini akan menjadi usang, kadaluwarsa, dan tidak relevan dengan zaman. Saat menyadarinya, segera kembali pada prinsip melebur.

Demikianlah dasar berpikir siklus inovasi yang berkesinambungan. Semoga bermanfaat!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar