Selasa, 22 Januari 2019

Ajarkan Toleransi Pada Anak Sejak Dini

Bukan keputusan saya, dilahirkan di keluarga etnis Tionghoa beragama Katolik. Menjadi kaum minoritas, sejak kecil, bahkan hingga jenjang SMA, hidup di kota kecil, sudah terbiasa dapat olokan berbau etnis dan seputar agama. Dulu, emosi banget tapi tak bisa apa-apa karena realitanya, saya memang "berbeda". 

Bertambah usia, sadar juga kalau emosi, benci, bukan solusi. Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan?

Olokan-olokan berbau SARA sering tumbuh subur di grup-grup keluarga, saudara. Olokan yang kemudian menjadi sentimen sampai kebencian. Keluarga, adalah benteng pertama bagi anak untuk belajar arti toleransi, menghargai, menghormati perbedaan. Keluarga jugalah yang pertama kali mengajarkan sebaliknya. 

...

Minggu lalu, anak saya baru pulang dari field trip sekolah di sebuah perkebunan Pacet. Saya mendengar spoiler dari istri saya, dia membeli 3 oleh-oleh buat keluarga. Kerupuk buat adik, gelang buat mama, dan satu gantungan kunci buat saya. Bertemu dengannya, saya langsung menanyakan, "Mana oleh-pleh buat papa?" Tampak galau, diam saja beberapa detik sebelum akhirnya buka mulut, "Ada gantungan kunci tapi aku salah beli." Hmm, saya penasaran, "Emang kamu beli gantungan kunci apa?" Memasukkan tangan ke dalam kantong, mengambil gantungan itu sambil menunjukkan pada saya, "Ini papa...", ia tampak ragu menunggu respon saya. Ia membelikan saya gantungan kunci berbahan kayu dengan tulisan We Love Rosul, dan doa dalam bahasa Arab di sisi baliknya.

Spontan, saya memeluknya sambil mengatakan terima kasih. Dia makin bengong, "Aku kan salah beli", katanya. "Tidak, kamu tidak salah beli. Tidak ada masalah membeli suvenir demikian. Islam agama yang baik, indah. Lihat saudara-saudara kamu, nenek, tante, lihat temen-temen papa, mereka beragama Islam dan penuh kasih sayang pada kita. Bahkan, papa sangat menghormati Nabi Muhammad", jelas saya. Sekali lagi saya memeluknya dan mengatakan, "Terima kasih, papa akan jaga baik-baik oleh-olehnya." Dia akhirnya tersenyum terlihat lega parasnya.

Saya sadar, anak saya hidup di dunia, masyarakat yang heterogen. Suatu saat ia akan membangun relasi, bekerja sama, hidup, bersama orang-orang yang beragam. Sejak dini, ia harus belajar terbiasa dan menghargai warna warni kehidupan. Walaupun ia memiliki 1 warna favorit, namun ia harus memahami, hanya dengan perpaduan warna, pelangi dapat tercipta. 

Semua dimulai dari keluarga...

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar