Rabu, 04 April 2018

Rethinking Digital Culture: 3 Alasan Mengapa Produktivitas Kita Menurun

pic: 123rf
Mari renungkan. Apa yang pertama kali Anda lakukan sebangun tidur? Ambil smartphone, matikan alarm. Kemudian memeriksa berbagai pesan masuk dan jadwal hari ini. Sambil sarapan, menyimak berita kekinian dari media sosial atau situs berita. Berbegas menuju kendaraan pribadi dan membuka aplikasi peta mencari rute lancar dan tercepat. Atau dengan bantuan taxi onlen melalui apliaksi. Mernariknya, sambil mengendarai kendaraan, masih saja ada yang sempat update status atau cek pesan.

Sampai kantor, segera menghidupkan PC, memeriksa setumpuk email masuk, memilah dan membalas yang penting. Lanjut bekerja membuka aplikasi hingga sore, sambil selalu menyempatkan memeriksa pesan smartphone dan menerima telepon. Selesai bekerja, pulang kembali meminta bantuan aplikasi peta. Di rumah, sambil bersantai bersama keluarga kembali membuka internet, entah sekadar membaca berita, update status media sosial, bermain game, atau lihat-lihat video musik. 

Inilah gambaran digitalisasi kehidupan. Sebuah kehidupan yang terkoneksi pada perangkat berbasis digital hingga menjadi sebuah kebiasaan atau budaya dalam sebuah masyarakat.  Phygital, begitulah Stillman & Stillman (2016) menyebut manusia demikian. Mereka yang hidup di dunia fisik, sekaligus dunia digital. Teknologi digital dirancang untuk mempermudah kehidupan manusia. Segalanya lebih cepat, praktis, dan ekonomis. 

Hal bertolak belakang dialami, sebut saja Mr X salah seorang kawan diskusi saya. Beliau adalah seorang manajer di sebuah perusahaan manufaktur plastik. Beliau megeluhkan produktivitas karyawan lama-lama menurun hingga diambil kebijakan dilarang membuka media sosial selama jam kerja. Namun demikian, karyawan masih saja bisa mengakses media sosial melalui smartphone. Lalu, pembatasan sampai tahap apa harus dilakukan? Akan menjadi terlalu micromanaged jika melakukan scanning pada setiap karyawan yang akan keluar dan masuk kantor.

Benar, tanpa pengendalian diri yang baik, digitalisasi justru membuat hidup kita antiproduktif. Berbagai pakar mindfulness menyebutkan bahwa optimalisasi sebuah pekerjaan hanya dapat dilakukan ketika seseorang fokus, tenang, dan tidak mengalami gangguan (distraction). Bagaimana mungkin kita menjadi fokus jika saat membuat laporan keuangan tiba-tiba smartphone berbunyi berkali-kali. Bagaimana mungkin kita tenang jika saat membuat proposal proyek kemudian notifikasi media sosial muncul terus di layar PC. 

Dampak negatif digitalisasi adalah munculnya gangguan tiba-tiba (sudden distraction), sesuatu yang datang tiba-tiba membuat kita penasaran dan akhirnya gagal fokus pada apa yang sedang kita lakukan. Mematikan gadget atau notifikasi media sosial yang tidak diperlukan pada jam-jam tertentu bisa menjadi salah satu solusi menghindari distraction dan menjadi bekerja fulltime. Kedua, information overload atau kondisi dimana kita menerima informasi secara berlebihan. SMS tawaran produk, email spam, iklan media sosial, ditambah berbagai berita yang terlalu mudah terakses. Memang di dalam pengambilan keputusan yang baik kita perlu mendapat banyak informasi, namun informasi tersebut harus relevan dan tidak redundan. Sebaliknya, informasi yang berlebihan dan tidak relevan justru memicu bias keputusan.

Ketiga, kehadiran perangkat digital selalu menggoda kita untuk bekerja multitasking seperti mendengarkan bos bicara di meeting sambil memeriksa pesan pribadi. Namun perlu diperhatikan bahwa menurut neuroscience, bekerja secara multitasking tidak pernah berdampak baik, selain mempercepat penurunan kinerja otak (overload the brain). Dalam artikel penelitian Jääskeläinen disebutkan penelitian terdahulu bahwa multitasking menurunkan produktivitas hingga 40%. Jika masih ada organisasi berharap karyawan mampu multitasking sesungguhnya ia sedang menurunkan kinerja perusahaan secara keseluruhan, secara berlahan.

Mari lebih bijaksana dalam berdigital-ria. Semoga bermanfaat!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar