Rabu, 21 Maret 2018

Disruption is The Absence of Mindfulness

pic: toughtco
Cukup menggelitik mendengar masyarakat bisnis berbincang, berdebat tentang disrupsi. Mendadak banyak yang menjadi pakar. Mereka yang terinspirasi, berambisi menjadi disruptor. Mereka yang terhimpit mencari kambing hitam dan menyebutnya (baca: tech savvy new comers) sebagai disruptor. Ada pula yang mengaitkannya dengan fenomena vuca (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity). Benarkah kekuatan disrupsi begitu menakutkan, something out there yang tak terpola, mendadak membunuh the existing?

Saya teringat sebuah kisah bijak Tiongkok...

Suatu pagi, seekor serangga asyik memandangi, menikmati embun di daun hijau. Tanpa ia sadari, burung gagak tengah mengintai untuk memangsanya. Pada saat yang sama, burung itu juga tidak menyadari bahwa seorang anak laki-laki siap mengambil posisi untuk melemparnya dengan batu. Tiba-tiba, gagak mematukkan paruhnya, melahap serangga mungil itu. Sungguh naas, tak sempat ia menghindari serangan itu. Sepersekian detik kemudian, batu anak itu menghantam keras kepala gagak. Saat itu juga ia terjatuh dan menghempas nafas terakhirnya.  

Yah, begitulah disrupsi terjadi. Gagak atau si anak tidak begitu saja dan tiba-tiba menyerang. Mereka menyusun strategi, melakukan pengintaian, dan menjalani penantian sebelum menyerang. Mereka menunggu saat yang tepat, saat obyek serangan lemah, tidak waspada, dan kehilangan fokus pada lingkungan sekitar. 

Sebagai contoh sederhana, coba renungkan, benarkah taksi online adalah disruptor taksi konvensional? Apakah hadirnya taksi online begitu tiba-tiba dan tanpa proses penyusunan strategi yang panjang? 

Jelas tidak!

Sebenarnya, yang terjadi sesungguhnya adalah pudarnya kepekaan dan kesadaran pelaku bisnis konvensional terhadap perubahan zaman, pergeseran kebutuhan konsumen, dan perubahan teknologi tepat guna. Seperti serangga yang asyik sibuk dengan dirinya, tidak menyadari segala yang terjadi di sekitarnya. Posisi keuangan yang relatif stabil, pola monopoli dan regulasi yang melindunginya selama ini menjadi zona nyaman, tidak lagi membuat mereka melek lingkungan dan terus berinovasi. 

Sebaliknya, perusahaan yang mendapat stigma disruptor, sebenarnya hanyalah mereka yang lebih peka dan menyadari segala gejala yang terjadi di sekitar. Mereka sadar masyarakat sudah melek internet, mereka sadar hampir setiap manusia remaja dan dewasa memiliki gadget, mereka sadar masyarakat butuh layanan yang lebih baik, cepat, mudah, murah, dan fair, kemudian lebih cepat bergerak untuk menciptakan solusi. 

Tidak ada sebenarnya disrupsi itu, apalagi disruptor di luar sana. Disrupsi hanya fenomena ketidakhadiran kesadaran penuh atau mindfulness di dalam kehidupan sebuah organisasi bisnis. Hilangnya kesadaran dan kepekaan pada lingkungan sekitar, bahkan kesadaran pada kemuliaan visi dan misi mula-mula. Mungkin padanan kata yang lebih tepat adalah self disruption.

Disruption is the absence of mindfulness!

2 komentar:

  1. Disrupsi oh disrupsi...sangat mencerahkan. Begitu pula dengan era disrupsi perguruan tingginya Pa Doktor?🙏🙏🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar pak cand Doktor. Semua akan mengalami badai ini...

      Hapus