Jumat, 01 Desember 2017

Pemecah Belah Itu Bernama... Responsibility Accounting!

pic: journal.thriveglobal
Apakah Anda merasa kurang atau tidak adanya dukungan dari divisi lain di perusahaan Anda? Mereka tidak cukup peka peduli pada divisi Anda, sementara mereka sangat disiplin dan all out untuk kepentingannya?

Wajar jika Anda sedang mengalaminya. Ini adalah default accounting model yang diterapkan di seluruh perusahaan yang mangadosi model akuntansi barat. Dalam disiplin akuntansi, dikenal konsep responsibility accounting yang diimplementasikan dalam kerangka kerja responsibility centre (RC). Singkatnya, RC berasumsi bahwa setiap divisi dalam perusahaan harus memegang peran 1 pertanggungjawaban terkait dengan kinerja keuangan. Sebagai contoh, divisi purchasing harus bertanggung jawab penuh atas biaya (cost) karena fungsinya sebagai pusat biaya (cost centre), untuk membeli segala bahan baku atau sediaan. Targetnya, makin efisien biaya yang dikeluarkan dalam satu periode, maka kinerja divisi tersebut akan dinilai makin baik.

Begitu pula dengan pusat-pusat keuangan lain seperti pusat pendapatan (revenue centre), pusat keuntungan (profit centre), dan pusat investasi (investment centre). Setiap divisi dinilai berdasarkan peran keuangannya masing-masing dan wajar jika akhirnya mereka lebih memikirkan performanya, alih-alih mikirin performa orang lain.

Jika tidak dikelola dengan benar, RC justru menciptakan dikotomi performa dan kerusakan hubungan. Masing-masing "kerajaan" divisi berusaha menyelamatkan dirinya. "Raja-raja kecil" ingin tampil paling cantik di depan pemangku kepentingan atas keuangan yang maha esa. Risiko terburuk, perusahaan akan terpecah belah dan terjebak pada konflik kepentingan tiada akhir, kehilangan fokus terdisrupsi oleh dirinya. Ahli strategi Sun Zi mengatakan, "Dalam bergerak, seluruh pasukan harus menjadi satu tubuh bergerak ke arah yang sama." Persatuan adalah kunci keberhasilan organisasi. Namun realitanya, ilmu bisnis modern menciptakan dikotomi. 

Sudah saatnya organisasi (apapun) kembali pada tatanan organisasi yang saling bekerja sama, memikirkan nasib bersama, bukan pribadi divisi. Maju bersama dan sukses bersama. Bagaimana caranya?

Saya menyebutnya sebagai Value Centre (VC), sebuah model konseptual dimana masing-masing divisi berbicara tentang bagaimana memberi value pada divisi lain yang terkait (langsung atau tidak langsung). Tidak lagi memikirkan dirinya terlebih dahulu, namun mengutamakan kepenringan bersama. Key Performance Indicator (KPIbukan lagi berorientasi pada ego, namun pada seberapa besar value yang telah diberikan.  Pada akhirnya, performa sebuah divisi bukan karena kesombongan jerih payah divisi tersebut, namun lebih karena "bantuan" manfaat yang diberikan divisi lain. Saya telah memberikan pelatihan bisnis pada klien-klien saya tentang hal ini dan hasilnya lebih baik. Mereka memikirkan kembali strategi dan KPI secara sadar. Kesinambungan dan konsistensi VC pada akhirnya membangun empati organisasi yang membawa perusahaan dari sekadar good, tapi menjadi great corporate governance.

Semoga bermanfaat!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar