Senin, 25 Desember 2017

Mengatasi Masalah Melalui Keajaiban Bernafas

Suatu ketika X mengendarai mobil menuju kantor. Berbegas dengan kecepatan lebih tinggi dari biasanya. Pagi itu ada rapat dewan direksi. Tiba-tiba, mobil mungil dari sisi kanan, sebut saja mobil Y mendahului dan memotong jalur. Tidak terima, X balas mendahului dan memotong jalur menghentikan mobil Y. Keduanya turun. Mulailah adu argumen, saling ngotot, bahkan saling pukul. Kedua mobil berhenti di tengah jalan, semua arah terkait jadi macet dan kacau. Polisi datang, kedua pihak dibawa ke kantor polisi terdekat untuk menyelesaikan masalah. Sampai kantor, sudah terlambat. Rapat sudah dimulai dan bos menyindir keterlambatan X. Ia dipermalukan di depan dewan direksi.

Siapa yang salah? X, Y, polisi, keadaan, bos, direksi, atau Tuhan? Jawaban Anda akan menunjukkan seberapa “sadar diri” atau mindful diri Anda.

Saya teringat salah seorang guru saya, Basuki menceritakan pengalaman sederhana Musashi. Suatu ketika, bersama beberapa kawanan ia memasuki sebuah desa. Tanpa hati-hati, kakinya menginjak sebuah paku yang ujungnya menganga ke atas. Lubang dan berdarah. Alih-alih menyalahkan orang yang menaruh paku sembarangan, Musashi berkata, “Akulah yang salah. Tidak berhati-hati saat melangkah.” Dalam hal ini, Musashi telah mencapai kesadaran diri penuh (true being) atau disebut kondisi mindful.

Kesadaran penuh jarang membawa kita pada masalah berkepanjangan. Sebaliknya, ia akan menghindarkan kita dari konflik “tidak penting”, menghabiskan enerji, konflik-konflik yang sebenarnya hanya hasil manipulasi pikiran sendiri dan korban keadaan. Kita sering terjebak dalam polemik, masalah hidup, tak berkesudahan, bertambah besar karena membiarkan pikiran dan keadaan menguasai kesadaran diri.

Kesadaran adalah kunci dari segala bentuk masalah hidup. Sayang, rutinitas, kesibukan, obsesi masa depan sering merampas kesempatan diri untuk menjadi sadar penuh. Banyak cara melatih kesadaran diri. Cara paling sederhana adalah dengan menyadari bahwa Anda sedang bernafas. Anda mungkin pernah mendapat nasehat untuk menarik nafas saat jiwa tidak tenang, gugup, dan takut. Benar, ini cara yang efektif.

Ketika Anda dihadapkan masalah, emosi dalam diri mulai bergejolak, jangan pernah ambil keputusan, berbicara, atau bertindak. Just breath… Tarik nafas perlahan, lepaskan perlahan. Sambil menarik dan melepas nafas, sadari bahwa Anda sedang bernafas. Observasi apa yang terjadi. Anda mulai marah atau sedih, sadari saja bahwa emosi Anda mulai bergejolak. Sadari apa yang sedang terjadi di sekeliling Anda. Cukup sadari saja, jangan biarkan prasangka dan pikiran mengambil alih kesadaran Anda. Jangan biarkan keadaan sekitar memanipulasi diri Anda. Terus bernafas hingga jiwa terasa tenang. Kemudian, barulah bersikap, berkata, atau bertindak.

Kembali pada ilustrasi si X. Jika ia mampu membangun kesadaran diri penuh sejak awal, ia tidak akan terlibat dalam konflik dengan Y, urusan dengan polisi, dan masalah dengan dewan direksi. Saat itu, ia hanya tidak mampu mengobservasi apa yang sedang terjadi di dalam batinnya. Emosi telah menguasainya, ego telah membutakannya. Kesadaran diri penuh perlahan akan menenangkan pikiran dan jiwa Anda. Kesadaran diri akan membawa diri Anda pada keadaan damai dan keputusan yang bijaksana.

Semoga bermanfaat!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar