Sabtu, 23 Desember 2017

Berdamai dengan Diri, Cara Terbaik Mengatasi Konflik

pic: womanatwork.in
Besarnya animo manusia untuk segera menikmati liburan akhir tahun, mencari hiburan cukup menggambarkan betapa pekerjaan, rutinitas, konflik membuat batin penat. Mungkin diantara kita meninggalkan jejak sentimen, pertentangan, dan kebencian di tempat kerja, pada atasan atau bawahan. Akhirnya kita tidak lagi merasa bahagia di sana. Bahkan hari pertama liburan masih saja teringat wajah-wajah orang yang berkonflik dengan Anda.

Coba renungkan kembali, mengapa konflik itu muncul? Ingat kembali pengalaman Anda... 

Konflik hanya akan terjadi ketika ada dua atau lebih pihak berbeda pendapat dan gagal menemukan titik kompromi atau win-win solution. Tidak ada yang mengalah dan semua menganggap dirinya benar.

Ya, merasa benar adalah akar dari segala konflik. Di dalam merasa benar, jelas ada pihak yang dirasa salah, sebagai sebuah dikotomi. Dua pihak berdebat dan sama-sama merasa paling benar, saling memaksakan pihak lawan untuk menerima perasaan benarnya, bagaikan membenturkan dua batu yang pada akhirnya retak atau pecah keduanya. Inilah manifestasi ego yang menjauhkan manusia dari menjadi bahagia.

Menyadari diri, rileks, dan tidak defensif disebut-sebut sebagai cara untuk menjauhkan diri dari konflik berkepanjangan yang berdampak negatif. Menyadari bahwa, saya adalah bagian kecil dari semesta yang hidup dalam tubuh dan pikiran yang terbatas, mampu menjadikan kita makhluk yang rendah hati. Kebenaran yang kita yakini, belum tentu benar bagi orang lain. Bahkan sampai kapanpun, tidak ada manusia yang mampu mencapai kebenaran sejati karena itu milik Sang Pencipta. Kebenaran atau lebih tepat, pembenaran yang kita anut hanya serpihan kecil dari kebenaran utuh yang tak terbatas.

Kedua, selalu berusaha rileks saat mendapati lawan bicara yang tidak setuju bahkan menentang keras pendapat Anda. Menarik nafas, menyadari peningkatan amarah dalam diri, dan kemudian mengendalikannya. Hanya dengan rileks, Anda akan menguasai diri dengan penuh, tidak impulsif, dan tidak gegabah. Anda bahkan mampu tampil dan mengambil keputusan lebih bijaksana. 

Ketiga, tidak difensif. Debat kusir, konflik berkepanjangan dipicu oleh sikap dan tindakan defensis. Ambisi ingin tampil lebih baik, membangun pembenaran dengan data untuk mengalahkan lawan bicara. Sesungguhnya sikap demikian tidak akan membawa kebahagiaan. Jika kebetulan Anda menang, yang Anda akan sombong, senang, sesaat, dan hilang. Jika sebaliknya, Anda akan menderita, sedih, merasa menjadi pecudang. Hal yang sama terjadi pada pihak lawan. Apapun hasilnya, sikap defensif akan membawa penderitaan pada saat satu pihak. Empati adalah kunci dari menghindarkan diri dari sikap defensif. Tidak ada yang benar, tidak ada yang salah. Di dalam benar ada salah, dan di dalam salah ada benar. Mendengar, memahami lawan bicara, tidak segera menilai benar-salah, akan meningkatkan kebijaksanaan diri sekaligus menurunkan kadar ego kita, berdamai dengan diri sendiri. 

Sadar diri, rileks dalam menghadapi masalah, dan tidak difensif pada akhirnya akan menjadi modal utama membangun sebuah persatuan (unity), kompromi, dan sinerji.

Semoga bermanfaat! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar