Sabtu, 04 November 2017

Mahkota Sakura Bisnis Akihabara

pic: japan.stripes.com
Akihabara, katanya surga para Otaku (pecinta pop culture Jepang). Memang benar! Hari ketiga, bersama tim, saya berkesempatan berpetualang di Akihabara. Sekitar 10 menit dari East57. Berbeda dengan Shinjuku, Shibuya, atau Harajuku sebagai pusat belanja fashion, Akihabara fokus pada kawasan belanja seputar anime. Berbagai gerai penjual pernak pernik manga (komik) anime (animasi) seperti Hatsune Miku, One Piece, Gundam, Doraemon, Love Live, Pokemon, Ultraman, menguasai perekonomian distrik Akihabara. Terdapat lini bisnis lain di sana seperti café (yang ternama Maid Café), elektronik, dan fashion. Sejak buka pukul 10.00 waktu Jepang hingga tutup, kawasan ini tidak pernah sepi, bahkan di hari kerjapun terasa liburan. 

Perputaran uang di sana sangat menggiurkan. Bahkan produsen anime, Hayao Miyazaki mengkritik bahwa masyarakat Jepang saat ini sudah terlalu konsumtif terhadap barang-barang pop culture. Bayangkan saja, dalam laporan keuangannya per 2015 Bandai (produsen mainan dan game) mencatat pendapatannya  sebesar ¥565.5 milyar, 2016 Pokemon Company mencatat pendapatannya sebesar 3.3 milyar USD. Memang omset itu adalah kelas dunia, namun konsentrasi tertinggi bisnis IP Jepang masih di negeri itu sendiri. Mereka (anak muda Jepang) menjadi materialis hingga mendewakan imajinasinya. Bayangkan saja ada berapa ribu IP beredar di sana. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan kocek demi tokoh impian.
pic: volks (one of the big toy stores)

Hampir sehari terdampar di sana, waktu berjalan terlalu cepat. Namun petualangan tersesat di blok-blok Akiha menorehkan pelajaran industri kreatif yang sangat inspiratif. Saya mencatat 3 prinsip bisnis dasar, yang saya sebut 3 mahkota Sakura sebagai ikon keindahan musim semi Jepang:

1.     Waktu Yang Berharga
Pukul 09.45 saya tiba di Ami Ami, salah satu toko action figure terbesar di sana. Belum buka. Tertulis “kami buka jam 10.00”. Sambil bersantai, kami menunggu di sana. Beberapa saat, tepat jam 10.00 pintu langsung dibuka dan pelayan menyapa kami. Luar biasa, jam 10.00 adalah jam 10.00 tidak pakai kurang atau lebih. Dan sesaat saja mereka siap melayani transaksi. Mereka sangat profesional. Penasaran, pukul 12.00 saya mengunjungi toko lain. Mandarake adalah toko mainan langka yang sudah tidak beredar di pasaran. Sekali lagi, kami terlalu pagi. Menunggu sesaat dan tepat jam 12.00 mereka membuka gerai toko. Nampaknya gaya bisnis disiplin waktu ini sudah menjadi habit. Waktu sangat berharga dan dioptimalkan dengan baik.

Pengalaman yang bertolak belakang, suatu ketika saya mengunjungi pusat belanja di Surabaya, sekitar pukul 10.00. Belum sarapan, setelah berjalan 30 menitan perut saya keroncongan. Sekeluarga saya segera mencari resto terdekat. Waktu menunjukkan pukul 10.40. Pegawai resto menyapa, “mohon maaf kami belum siap, kira-kira 15 menit lagi.” Kecewa? Tentu saja. Namun marah pun tidak akan membuat mereka lebih cepat bersiap.

Malam hari, sekitar pukul 20.50 saya mengunjungi toko kecil penjual kaos. Disainnya menarik hati saya, seputar Kaiju. Lama sekali saya memilih mengingat harganya lumayan tinggi. Tepat pukul 21.00 seorang pegawai mendatangi saya dan mengatakan “Sorry, we’re close. You can comeback tomorrow”.  Wow… saya diusir neh. Kalau pengalaman ini, di negeri kita juga banyak namun lebih pada motif pegawai pengen cepat pulang.

Saya belajar, menjadi profesional tidak selalu terkonsentrasi pada hal-hal besar dan heboh. Yang utama adalah membangun habit profesional yang diawali dari hal-hal kecil, seperti disiplin dan menghargai waktu.

2.     Segmentasi dan Strategi Marketing Emosional Akihabara
Mendengar istilah anime dan manga, mungkin sebagian besar dari kita berpikir tentang dunia anak. Pemandangan yang berbeda. Pusat belanja Akihabara didominasi pembeli remaja, dewasa muda, dan khususnya profesional muda. Jepang memiliki kategori usia pada anime dan manga. Sebagian besar iklan di sana ditujukan pada pasar remaja ke atas. Bahkan di pusat arcade, kita jarang menjumpai anak kecil bermain. Malam hari, bukan keanehan kita melihat pekerja kantoran pakai jas dan dasi asyik bermain Aikatsu dan sejenisnya, atau uji keberuntungan bola Gacha.  

Sungguh menarik medokumentasikan fenomena ini. Segmentasi bisnis IP (Intellectual Property) Jepang terkonsentrasi pada pekerja muda. Mengapa? Karena mereka memiliki daya beli tinggi dan tidak tergantung pada orang tua dalam mengelola uang. Berbeda dengan anak kecil yang masih harus minta uang kepada orang tua dan kemungkinan besar jawabannya adalah “tidak”.

Cara produsen menjual IP juga melalui strategi yang tidak biasa, yaitu transmedia storytelling. Hampir seluruh IP memiliki cerita dan kemudian disebarluaskan melalui berbagai platform media seperti manga, anime, game, dan segudang lini bisnis merchandise. Saya pernah menuliskan strategi ini di buku saya Exist or Extinct dan saya sebut strategi pengepungan. Bisnis IP menyasar seluruh kemampuan serap informasi manusia. Mereka yang suka musik, disuguhi dengan OST. Mereka yang suka film disuguhi anime. Mereka yang suka fashion disuguhi cosplay dan seterusnya. Jadi tidak heran, toko apa saja selalu ada saja pengunjung dan pembelinya.
pic: amiami (one of the big toy stores)

Transmedia storytelling yang tepat tidak hanya menciptakan pelanggan, namun fans, evangelis, bahkan “jemaat". Cerita adalah kekuatan yang menembus ruang dan waktu, emosional, dan mampu mempersuasi dan memengaruhi dengan halus. Analogi yang mirip dengan penyebaran agama di dunia melalui cerita nabi-nabi. Tidak mengherankan jika siang itu saya memandangi antrian laki-laki lebih dari 2 km hanya untuk berjumpa dengan seiyu (pengisi suara pada anime). Bahkan bagi fans akut, tokoh pujaan mereka sudah seperti dewa dewi, dan mereka bersedia membayar berapapun untuk memiliki “berhala” yang mereka inginkan.

Keberhasilan bisnis cerita IP Jepang mungkin bisa menjadi inspirasi Anda untuk memperkuat brand bisnis atau personal Anda.
                                                                                                                       
3.     Integritas Adalah Hidup dan Bisnis
Tentang integritas, saya punya kisah lain yang menarik disana. Malam itu, saya mengunjungi Don-Quijote, pusat belanja oleh-oleh khas Jepang. Seperti mall 8 lantai dan penuh pernak pernik berbagai lini. Mulai makanan kecil, kaos, tas, cosplay, gacha, console, hingga properti khusus 18++. Anda wajib mampir jika kesana. Harganya jauh dibawa Seven Eleven atau gerai lain. Asyik comot sana comot sini dan tibalah di lantai 7, pusat arcade. Sambil merogoh saku mengambil receh untuk main, tak sadar HP saya jatuh. Terus kondisi ini tidak saya sadari hingga lebih dari 30 menit. Menjelang pukul 22.30, kami pulang dan ingin rasanya foto selfie di depan toko. Baru sadar, HP saya tidak ada di saku. Hancur rasanya.

“Tenang saja, kita tanyakan ke pelayan toko pelan-pelan” ajak rekan sekaligus kawan saya. Akhirnya, berdua kami menyusuri tiap lantai. Tidak banyak pelayan paham bahasa Inggris dan meskipun paham, logat mereka sangat aneh seperti mengatakan Ulutolaman untuk Ultraman. Hampir frustasi di lantai 5. Lanjut, kami ke lantai 6, di sana kasir sudah tutup, tidak ada pelayan atau penjaga karena mereka percaya tidak akan ada pencuri. Kami naik ke lantai 7 dan menanyai seorang petugas arcade begini, “I lost my” sambil menunjuk HP kawan saya. “The color is” kemudian menunjuk obyek warna kuning. “Wait-wait” katanya. Sebentar ia masuk ruang staf dan tidak lebih dari 2 menit keluar membawa HP saya. Wow… rasanya bagai musafir di padang gurun menemukan sumber air. Saya sudah sangat pesimis mengingat waktu itu lokasi Don-Quijote sangat ramai, apalagi di lantai arcade. Sambil mengembalikan HP, ia hanya meminta saya menulis nama saya. Tidak ada identitas paspor dan alamat yang mereka minta. Ia begitu percaya pada saya.
pic: gacha station

Penduduk Jepang sebagian besar sangat menghargai keberadaan manusia lain. Mereka tidak suka mengganggu dan diganggu. Mereka akan membantu orang yang membutuhkan bantuan. Saya teringat pengalaman lain di Disneyland. Saat itu saya sibuk foto selfie, saya gesar-geser HP saya “koq semua angle jelek” pikir saya. Ya mungkin saya yang pas-pasan. Tiba-tiba seorang staf berjalan cepat mendatangi saya dan menawarkan bantuan untuk mengambil gambar saya. Itulah integritas dan gaya hidup mereka. Hidup dan bisnis adalah ketulusan, kejujuran., dan menolong orang lain Hanya saja kendala bahasa cukup menyulitkan berpetualang di sana.

Memang tidak semua yang ada di Jepang adalah baik, namun setidaknya kita belajar mengambil pelajaran terbaik di sana. Semoga bermanfaat!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar