Kamis, 12 Mei 2016

Gagal Fokus, Puncak dari Civil War

Steve Rogers (Captain America) bersitegang dengan Tony Stark (Iron Man). Keduanya superhero yang cukup lama saling bekerja sama dalam The Avengers. Masalahnya sebatas prinsip, Stark ingin menandatangani perjanjian peraturan tindakan superhero dan Rogers menolak. Pemerintah menilai keberadaan Avengers membahayakan rakyat sipil dan mereka perlu diatur dalam hukum yang jelas.

Saat itu, dunia tengah menghadapi serangan teroris yang tidak diketahui dalangnya. Rogers bersama timnya memilih menggunakan caranya sendiri untuk tetap memburu para teroris. Mereka bergerak melawan hukum dengan dalih bahwa terorisme akan makin berbahaya jika tidak segera dilumpuhkan dalangnya. Mengetahui hal ini, Stark bersama timnya berusaha menghentikan tindakan outlaw Rogers dan tim. Akhirnya terjadi pertempuran diantara mereka. Pertarungan 2 kubu superhero memang sangat dahsyat, tidak ada yang mau mengalah dan tidak ada yang mau menyerah. Berhasil lolos, dengan pesawatnya Rogers segera meluncur menuju Kreischberg, yang disinyalir sebagai lokasi keberadaan si dalang. Stark berhasil mengejar Rogers. Kali ini ia telah bertekad untuk membantu Rogers. 

Di lokasi, niat baik Stark urung. Sekali lagi keduanya kembali saling baku hantam, kali ini beda pemicu. Stark menjadi geram mengetahui dikhianati Rogers yang selama ini telah menyembunyikan misteri tewasnya kedua orang tua Stark. Pada akhirnya semua terkuak. Baron Zemo-lah yang menjadi penyebab semua ini terjadi. Kecerdasan Zemo mampu memecah belah Avengers, ia berhasil membuat para superhero saling curiga dan saling melumpuhkan melalui berbagai skenario rapi. Walau Zemo berhasil ditangkap pemerintah, kedua kubu Avengers terlanjur saling menyakiti.

Itulah sekilas gambaran Civil War, karya Marvel yang sempat mendominasi ruang-ruang bioskop tanah air. Cukup banyak pelajaran yang bisa kita petik. Menontonnya, saya teringat sebuah buku berjudul Focus -Daniel Goleman. Sukses atau gagal fokus menjadi masalah puncak dalam Civil War.

Mari kita berdiri di sisi Rogers. Ia punya misi besar untuk menangkap dalang terorisme. Namun perhatikan, perjalanannya sangat panjang dan melelahkan. Di setiap tindakan, selalu saja ada "interupsi" dan "penganggu", mulai dari masalah pribadi hingga masalah politik. Kubu Stark beberapa kali berusaha membujuknya untuk mau menandatangi perjanjian tindakan superhero, dan ia tetap bersitegas menolak. Ia punya prinsip bahwa teroris akan lebih berbahaya jika tidak segera dilumpuhkan, dengan cara Avenegers. Itulah tugas superhero, itulah integritas! Lepas dari asumsi lain, sikap Rogers adalah pemicu berhasilnya penangkapan Zemo. Tindakan berdasar nilai kebenaran pada akhirnya membuka mata hati kubu Stark. Saya teringat kalimat bijaksana Ghandi, "First they ignore you, then they laugh at you, then they fight you, then you win!" Tindakan berintegritas Rogers telah memenangkan hati para penolaknya. Sebaliknya, Stark mengalami gagal fokus pada pertempuran puncak. Provokasi Zemo membuatnya menjadi benci kepada Rogers. Niat awal membantu Rogers berubah menjadi niat untuk membunuh sahabat Rogers (Winter Soldier) sekaligus melumpuhkan Rogers yang dianggap pengkhianat. Tujuan baik, berubah menjadi tujuan baru yang tidak lebih baik. Saat itu Stark sedang mengalami gagal fokus.

Gagal fokus adalah masalah utama kegagalan pencapaian performa. Sebagai manusia yang hidup di era konektivitas, nampaknya maaslah fokus akan menjadi tantangan yang makin sulit diselesaikan. Baru serius kerja, eh tiba-tiba muncul notifikasi facebook. Sering kita jadi penasaran dan sejenak meninggalkan pekerjaan untuk bersosmed. Sebentar lagi bekerja, tang ting tung suara notifikasi Line berbunyi dan kembali membuat kita penasaran untuk membukanya. Itulah gambaran sederhana gagal fokus. Jika dibiarkan, bisa jadi pekerjaan 1 jam baru selesai 3 jam. Belum lagi gangguan dan godaan lain yang sering mendatangi kita saat bekerja, seperti ajakan ngobrol rekan.

Seringkali, sebuah pekerjaan tidak selesai bukan karena kita tidak punya kompetensi, namun karena sulit untuk konsentrasi dan fokus. Sama seperti Stark, informasi bias dari Zemo membuatnya memutar fokus awal membantu Rogers menjadi "membantai" Rogers. Emosi negatif dan kebencian telah menguasai diri dan menggagalkan niat mula-mula. Dalam kehidupan organsiasi, gagal fokus (visi) yang diboncengi emosi negatif sangat potensial untuk menjadi konflik layaknya Civil War. Dalam hal ini, mari belajar dari Rogers. Apapun yang terjadi ia tidak pernah lupa fokus dan tujuan hidupnya. Ia menyelesaikan masalah dan interupsi yang terjadi, namun ia tetap menjaga integritas pada visi hidupnya. Faktor "pengganggu" dan interupsi tidak lepas dari kehidupan kita, namun kendali untuk ikut arus lain atau stay focus ada di tangan kita.


Semoga bermanfaat!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar