Senin, 10 November 2014

Perang, Kekuatan, dan Kemerdekaan Disain

Mendefinisikan desain cukup mudah, namun cukup sulit. Banyak diantara kita terjebak pada aspek visual, mengidentikkan desain dengan tampilan yang dapat dilihat langsung. Steve Jobs mengatakan:

“Design is a funny word. Some people think design means how it looks. But of course, if you dig deeper, it's really how it works.”

Disain tidak terbatas pada hal visual, namun lebih pada bagaimana sesuatu itu bekerja. Bentuk paling dasar dari disain adalah imajinasi. Disain adalah proses rasional (pikiran), emosional (jiwa), dan spiritual (roh) untuk menciptakan solusi atas masalah hidup dengan berlandaskan pada value. Penulis buku, John Haskett memandang sebuah disain sebagai sesuatu yang sangat bernilai. Yang intinya adalah tentang utilitas (fungsional) dan kebermaknaan (emosional dan spiritual).

Gambar, teks visual, tata letak, suara harmonis, patung, produk dan media lain merupakan format atau bentuk akhir dari desain, bukan desain itu sendiri.


Bisnis Adalah Perang Disain
Kita semua mengenal kisah Ford. Pada era industri 1918, Ford automobile memang sangat berjaya dengan strateginya “hitam”nya. Ia mengatakan:

"Any customer can have a car painted any color that he wants so long as it is black.”

Pada saat itu, semua mobil Model T diproduksi didominasi dengan warna hitam untuk menjaga efisiensi karena warna hitam cenderung lebih cepat kering. Ford bisa meraup keuntungan besar pada era tersebut mengingat tidak banyaknya pesaing dan masih berlaku hukum kapitalisme modern secara kuat. Namun bisa Anda bayangkan, apa yang terjadi jika saat ini Ford masih memegang teguh pemikirannya, semua mobil hitam?

Tidak laku.

Sekarang, kita mengenal Ford dengan baru dengan berbagai tipe dan varian warna, seperti Fiesta, Ecosport, Everest, atau Ranger dengan warna-warni menarik. Itulah tuntutan pasar, itulah tekanan persaingan yang memicu demokratisasi disain.

Era konseptual telah memerdekaan disain. Di dalam proses mencipta produk, fungsi adalah hal mutlak yang wajib dipenuhi, semacam tiket memasuki industri. Sekarang, desain telah mengambil alih keunggulan bersaing. Demokrasi disain merubah pola persaingan. Dasar kemenangan bukan lagi logika low cost atau diferensiasi produk, tetapi desain.

Kemerdekaan desain sangat terlihat pada industri automobile. Jika pada masa lampau Ford menjadi merdeka dengan strategi kompetitif-nya, sekarang mereka mencari kemerdekaannya dengan membicarakan harmony and balance. Chris Bangel, perwakilan BMW juga mengklaim bahwa BMW tidak membuat mobil, mereka membuat penggerakan pekerjaan seni yang mengekspresikan kecintaan dan kualitas driver. Dan satu lagi, Toyota yang mendisain strategi branding dengan model edukasi. Kita mengenal konsep bisnis seperti Just-in Time, Lean Manufacturing, juga Monozukuri wa Hitozukuri berkat kehebatan Toyota di dalam mengedukasi pasar sekaligus membangun brand awareness. 

Inilah demokratisasi desain yang menunjukkan bahwa fungsi adalah syarat mutlak bagi pebisnis untuk memasuki industri seperti tiket nonton XXI. Selebihnya, ditentukan oleh kemampuan mendisain.


Kekuatan Truly Asia
Anda familiar dengan tagline “Truly Asia”?

Benar, itu adalah tagline program pariwisata negara tetangga, Malaysia. Lepas dari kontroversi kita terhadap konten tayangan commercial ads Truly Asia, Malaysia adalah satu contoh negara yang mampu mendudukkan dirinya secara unik dan kokoh. Malaysia adalah Asia, Malaysia adalah hub yang menghubungkan seluruh Asia. Jika Anda ingin melihat Asia, datanglah melalui Malaysia. Lebih dari itu, Malaysia adalah negara multiculture yang sangat menghargai perbedaan. Dari orang Cina, India, Melayu, Barat, semua ada di sana. Begitulah kira-kira pesan dari Truly Asia.

Jika direnungkan, potensi kekayaan budaya dan ragam tempat wisata Indonesia jauh lebih baik. Namun faktanya, Malaysia mampu mendisain sebuah tagline dengan lebih baik. Kita mungkin membutuhkan Christoper Columbus untuk mencipta produk, namun kita memerlukan Amerigo Vespuci untuk menjualnya.


Semoga bermanfaat!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar