Sabtu, 04 Januari 2014

Meneropong Industri Kreatif dari Peak Tram (Bagian 1)

The Peak Tram, sebuah disain wisata Hongkong yang menarik erat rasa penasaran wisatawan lokal dan mancanegara. Setiap harinya, antrian panjang selalu memadati anjungan di daerah Victoria. Pengunjung dapat meleburkan jiwa di dalam museum sejarah, berfoto bersama replika tokoh idola di Madame Tussauds atau sekadar menikmati udara sejuk dan suasana taman. Dari sekian tawaran wisata Peak Tram, Sky Terrace nampaknya menjadi lokasi yang tidak pernah dilewatkan wisatawan. Melintasi rail kuno, kereta merah berukuran mini siap membawa pengunjung melintasi dan menaiki pegunungan hingga mencapai kemiringan 45’ menuju sebuah teras yang memungkinkan kita menikmati pemandangan kota-kota Hongkong dari puncak tertinggi, sekitar 428 meter di atas permukaan laut. Dari teropong Sky Terrace, The Peak Tram, komposisi keindahan laut, langit, kota, dan gedung-gedung tinggi Hongkong nampak utuh memukau. 


Tanggal 20-23 Desember 2013 lalu, saya mendapat kesempatan meneropong, berobservasi, belajar, dan memetakan kemajuan industri kreatif Hongkong. Perjalananan saya bersama tim kemenparekraf dan para duta -pelaku industri kreatif bidang media- menuaikan 7 poin informasi dan pengetahuan baru yang dapat kita jadikan referensi dan inspirasi bagi industri kreatif tanah air. 


1. Disain Arsitektur: Keterbatasan Memicu Inovasi
Sore itu jam menunjukkan sekitar pukul 17.00. Saya menapakkan kaki di bandara Hongkong. Udara terasa dingin mendekati 16’ C, suasana cukup ramai hiruk-pikuk orang, yang sebagian besar adalah bangsa Cina. Beberapa diantara saya tengah asyik meregangkan leher dan tangan untuk sekadar melemaskan otot yang terasa kaku setelah duduk manis sekitar 5 jam di pesawat Garuda. Beberapa saat kemudian, kami memesan 2 taxi untuk mengantar ke tempat istirahat, sebuah hotel ekonomis, Best Western di daerah Causeway Bay. Tanahnya tidak begitu luas dan lebih memanfaatkan disain vertical building hingga mencapai lebih dari 30 lantai. Disain ruang kamarnya cukup efisien, sempit namun cukup untuk beristirahat. Hongkong bukan negara yang luas. Dengan luas sekitar 1092 km2 dan jumlah penduduk hingga mencapai angka 7 juta jiwa, pemerintah Hongkong harus sangat pandai di dalam mengatur dan mendisain tata kota. Sebagian besar bangunan-bangunan disana menjulang cukup tinggi, namun tertata rapih karena keterbatasan luas area. Keterbatasan demikian justru memicu inovasi dan efisiensi tingkat tinggi Hongkong.


2. Restoran Muslim: Fokus dan Segmen yang Jelas
Malam hari itu setelah urusan check-in selesai, kami berjalan menikmati suasa kota sambil hunting secara khusus Chinese food halal di lantai 2 masjid Ammar And Osman Ramju Saddick Islamic Centre, di Oi Kwan Road. Sebuah restoran yang seolah terfokus untuk melayani masyarakat muslim dengan berbagai pilihan menu lezat yang tetap halal. Saya tiba disana sekitar pukul 20.45 tepat 15 menit sebelum proses pemesanan ditutup. Namun tetap saja terlihat banyak rombongan-rombongan tengah menikmati hidangan. Seorang ibu segera mendatangi saya, melempar kecil menu di meja dan menawarkan berbagai menu pilihan. Tertulis jelas kata “Halal” di sampul menu. Tidak banyak restoran di Hongkong yang benar-benar halal atau bebas babi, sedikitnya, mereka (pemilik restoran) mencampur masakannya dengan minyak babi. Saya cukup mengenali rasa masakan karena memasak adalah salah satu hobi saya. Restoran ini berani tampil beda dan fokus. Terlihat sebagian besar pengunjung adalah umat Muslim. Nuansa Islam terasa makin kental dengan atribut-atribut khas yang dipajang disana. Dengan memilih lokasi yang tepat, fokus pada segmen yang jelas, restoran ini berhasil bertahan hidup dalam persaingan industri kuliner Hongkong, yang bukan negara Islam. 


3. Kecepatan Layanan
Setelah berdiskusi kecil menentukan pilihan menu, hal yang luar biasa terjadi! Tidak sampai 10 menit, 7 jenis masakan tersaji. Hebatnya, semua masakan adalah masakan baru matang (fresh) dan mereka bisa memasaknya dalam waktu yang terlalu cepat. Saya berhipotesis bahwa kecepatan di dalam bekerja adalah salah satu budaya Hongkong. Semenjak turun dari pesawat dan memasuki lorong-lorong kereta MTR, orang-orang berjalan lebih cepat dari orang-orang di Indonesia, meskipun tidak secepat orang-orang Jepang. Seolah mereka menghargai waktu dan tidak mau melakukan hal sia-sia dengan berlambat ria. Sambil menikmati kari, terong oseng daging, dan nasi goreng XO, mata saya tertuju pada taplak meja yang dipakai di sana. Taplak meja restoran tersebut hanya berupa plastik tipis yang terususun beberapa lapis. Menariknya, begitu konsumen selesai, lapisan plastik tersebut langsung ditarik dan dibuang. Mereka tidak perlu lagi memakai lap dan cairan pembersih meja yang lebih mahal dan memerlukan waktu lebih banyak untuk pembersihan meja. Taktik ini juga akan memperpendek waktu antrian konsumen.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar