Kamis, 26 September 2013

Mengapa Perancangan Strategi Seringkali... Gagal?

Dari sekian banyak buku dan penelitian yang pernah saya baca, belum pernah saya menemukan pernyataan bahwa strategi itu tidak penting. Namun kenyataannya, bagi sebagian besar pelaku bisnis, mengapa merancang strategi masih dianggap sebagai nonvalue added activity atau kadang hanya sebagai ritual formal saja? Tentu saja ada gap di sini. Secara filosofis, saya menemukan jawaban atas masalah ini dalam Seni Perang Sun Zi. Ia mangatakan:
“Jadi, orang-orang yang menjalankan perencanaan (strategi) di kuil sebelum pecahnya perang akan menang jika berbagai rencana itu menyeluruh dan terinci. Orang-orang yang melakukan perencanaan di kuil sebelum perang meletus tidak akan menang jika rencana itu tidak menyeluruh dan juga tidak terinci. Dengan perencanaan yang menyeluruh dan terinci, seseorang dapat menang. Dengan perencanaan yang kurang menyeluruh atau terinci, seseorang tidak dapat menang. Betapa pastinya kekalahan bila seseorang tidak merencanakan sama sekali.”
Sun Zi menjelaskan bahwa pembuatan strategi itu harus menyeluruh dan terinci. Membuat strategi yang hanya bertujuan untuk memenuhi ritual, dapat dipastikan hasilnya tidak pernah maksimal. Menyeluruh dalam arti perancang strategi harus mampu menganalisis seluruh faktor internal dan eksternal yang relevan. Strategi yang hanya dirancang berdasarkan perspektif dan kepentingan internal atau separuh-separuh dapat dipastikan gagal. Atau sebaliknya, strategi yang hanya terobsesi memuaskan stakeholder atau mengalahkan pesaing, namun tidak mempertimbangkan kemampuan resource internal juga akan berakhir dengan kekacauan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar