LastingLean

Pertumbuhan industri kreatif diharapkan membawa angin segar bagi lesunya perekonomian Indonesia. Berbagai pihak memprediksi industri kreatif mampu memberi dukungan pertumbuhan ekonomi lebih dari 6%, bahkan disinyalir terus meningkat dengan angka lebih dari 10% setiap tahun. Dalam Indopos sendiri diberitakan informasi dari Kemenparekraf bahwa kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDB Indonesia mencapai Rp 642 triliun setara 7 persen dari angka nasional. Bahkan perkembangan industri kreatif membidik target 8 persen untuk kontribusi industri kreatif terhadap PDB hingga 2015.

Tentunya harapan ini akan tercapai ketika terjadi perimbangan antara kemampuan inovasi dan manejerial yang baik dari para pelaku bisnis.

Tak jarang pelaku bisnis (startuper) terjebak pada penghamburan resource untuk menciptakan produk-produk kreatif tanpa memikirkan strategi penciptaan inovasi yang bernilai bagi konsumen. Di sisi lain, para pebisnis senior seringkali terjebak dalam zona pertempuran melawan para pesaing kawakan dan para pendatang baru. Tanpa sadar, lingkungan bisnis demikian memaksa mereka untuk menghabiskan enerji untuk menjadi pemenang dalam petandingan dan melupakan tujuan bisnis sebenarnya, menciptakan value bagi konsumen.

Sementara itu, literatur dan referensi yang diajarkan di sekolah-sekolah bisnis lebih berorientasi pada bedah kasus korporat dan manufaktur Barat masa lampau yang jelas memiliki karakteristik berbeda dengan bisnis kreatif yang memerlukan kemampuan inovasi, adaptasi, dan fleksibilitas tinggi. Bahkan masih banyak sekolah yang mengagungkan konsep-konsep bisnis tahun 90an yang jelas sudah tidak cukup relevan dengan lanskap bisnis saat ini. Bisnis kreatif, baik startuper maupun yang sudah mapan memerlukan metodologi strategis yang sederhana, mudah dipahami, dan dapat didisain dan redisain dengan cepat. Lebih dari 10 tahun saya mempelajari berbagai teori dan hipotesis akademis tentang permodelan bisnis. Referensi populer seperti Blue Ocean Strategy, Business Model Generation, Balanced Scorecard atau Lean Startup memang cukup mencerahkan. Namun satu hal yang perlu diwaspadai, bahwa banyaknya pilihan seringkali malah membingungkan early adopter di dalam menentukan mana yang paling baik, atau mereka terjebak dalam dualisme business model.

Berbagai latar belakang inilah yang memotivasi saya untuk mencari dan merancang sebuah konsep bisnis inovatif yang mampu mengintegrasikan, menemukan benang merah pemikiran-pemikiran hebat dalam satu skema metodologi. Saya menganalogikan berbagai pilihan strategi terbaik yang ada sebagai kumpulan warna. Dengan memilih kombinasi warna yang harmonis, tekanan dan gerakan kuas yang tepat, dan kemampuan imajinasi yang baik kita dapat menggambarkan sebuah pemandangan yang indah. Proses inilah yang menginspirasi saya untuk mengembangkan metodologi LastingLean.


INSPIRASI LEAN 
Ketika mencari kata sepadan untuk Lean, satu kata yang muncul di benak pikiran saya, yaitu healthy diet atau diet sehat. Diet merupakan program kesehatan dan perbaikan penampilan dengan merancang menu dan jadwal makanan khusus yang diperlukan secara ideal oleh tubuh diimbangi dengan olah raga dan istirahat cukup. Sebaliknya, berbagai racun dan zat yang tidak banyak dibutuhkan tubuh seperti lemak dan kolesterol akan dikurangi secara signifikan.
Sama halnya dengan Lean dalam konteks bisnis. Perusahaan yang ingin hidup sehat perlu melakukan program demikian, meningkatkan aktivitas value added dan membuang aktivitas non value added (sampah). Prinsip Lean pada mulanya diperkenalkan oleh manajemen Toyota dengan konsep Lean Manufacturing. Secara filosofis, sebagian besar kemajuan Jepang dibangun dari prinsip ini. Sebut saja seni bonsai, sebuah seni rekayasa tanaman menjadi mungil, ramah ruang, namun tetap terlihat cantik. Jepang dibangun dari banyak keterbatasan termasuk dalam aspek geografis.

Di dalam perkembangannya, prinsip Lean mulai berkembang ke Barat dalam konteks yang makin variatif. Eric Ries, salah seorang pakar bisnis startup secara cerdas mengembangkan dan mengkontekstualisasikan Lean ke dalam pemikiran strategis bisnis startup dengan konsep Lean Startup. Lean Startup merupakan konsep inovasi dan reengineering bisnis yang berusaha meminimalkan risiko dan memaksimalkan peluang keberhasilan. Pembelajaran Ries menjadi salah satu inspirasi terbaik bagi saya dalam mengembangkan konsep LastingLean, proses Lean yang ditujukan secara khusus kepada perusahaan dengan tantangan inovasi terus-menerus, baik perusahaan startup maupun perusahaan yang sudah mapan melalui metodologi praktis. Berikut gambaran umum alur LastingLean:

Secara umum, LastingLean terdiri dari 3 fase, yaitu:

1. Value Generator dengan tujuan penciptaan value dan validasi untuk meminimalkan risiko kegagalan bisnis. Proses ini terbantu dengan alat Industry Analysis dan Compromised Value Index (CVI). Tujuannya, agar kita dapat benar-benar mengukur efektivitas validasi secara kuantitatif.

2. Value Deconstructor yang bertujuan untuk mengurai aktifitas dan resource kunci untuk menciptakan produk atau proses dengan value yang telah dirancang pada fase pertama. Fase ini juga bertujuan untuk mengoptimalkan penggunaan resource secara efisien. Proses ini terbantu dengan alat Workflow Map (WorM). Tujuannya, agar kita memiliki fokus yang jelas di dalam mengkonsumsi resource dan merancang aktivitas.

3. Fase terakhir, Value Converter bertujuan untuk mengkonversi seluruh penggunaan resource dan aktifitas (di dalam fase kedua) ke dalam sistem pengukuran yang saling terintegrasi sebagai dasar pembelajaran secara holistik. Proses ini terbantu dengan pengembangan WorM. Tujuannya, agar kita dapat meningkatkan efisiensi dan mampu mengukur performa bisnis secara keseluruhan secara efektif.


LASTINGLEAN UNTUK ANDA? 
Bagi Anda, para pimpinan manajemen dan inovator yang tengah berhadapan dengan tantangan penciptaan dan inovasi nilai, LastingLean akan memberikan insight secara holistik bagaimana merancang strategi berbasis penciptaan nilai dan moral sekaligus bagaimana implementasi pengukurannya sehingga Anda mampu mengelola aktifitas dan resource dengan baik. LastingLean juga akan memberikan percepatan proses permodelan bisnis dan inovasi secara fleksibel. 

LastingLean akan membantu Anda, para startuper untuk merancang model bisnis strategis dengan produk bernilai melalui pengelolaan resource dan aktifitas yang efisien dengan risiko kecil, namun tetap memiliki kepastian prospek yang baik. 

LastingLean akan menjadi tuntunan yang sangat mudah dipelajari bagi Anda, para Wantrepreneur, calon-calon pengusaha yang sedang bimbang melangkahkan kaki pertama ketika memasuki dunia bisnis, bahkan meskipun Anda tidak memiliki latar belakang pendidikan fakultas bisnis sekalipun. 



ASUMSI DASAR 
Konsep dan metodologi bisnis manapun tidak pernah memberikan jaminan sukses 100% karena variabel-variabel pengaruh dalam sukses begitu banyak dan mustahil untuk ditangkap oleh sebuah perusahaan secara valid, mana yang signifikan dan mana yang tidak. Dengan kata lain, kesuksesan sebuah perusahaan tidak serta merta hanya karena metodologi yang baik dan benar. Namun disain metodologi bisnis yang baik dapat dipastikan akan memberikan bahan pembelajaran terbaik. 


Semoga bermanfaat!


--------------------------------------------------------------------------------------------------------

Klik gambar untuk mengunduh Workflow Map:














--------------------------------------------------------------------------------------------------------

APRESIASI UNTUK LASTINGLEAN

“Bisnis masa depan adalah bisnis konten yang tidak bisa dibangun dengan cara-cara instan. Bonnie membuka mata startupers ekonomi kreatif bahwa bukan hanya karya yang diperlukan, tetapi juga konsep untuk menjaga bisnis tetap long lasting."
-Rina Novita, CEO DNA production & Indonesia Channel
(Pemegang lisensi Upin & Ipin Indonesia)

"LastingLean, sebuah metodologi inovasi unik yang efektif, efisien, serta memudahkan positioning inovasi agar tidak terjebak dalam kompetisi."
-Chandra Tamrin, Manager Service Development, R&D Center PT Telkom Indonesia, Tbk.

"Banyak teori yang sudah saya pelajari hanya untuk menjadi CEO sukses, sepertinya buku inilah yang akan menjadi "kitab suci" saya untuk terus mengembangkan industri animasi Indonesia."
-Achmad Rofiq, Founder, CEO DGMaxinema

"Out of the box, applicable, and amazing."
-Jody Handoyo, Composer & Music Director, Co-founder & Product Developer Dreamsky Creative School, Bandung

“Dosa terbesar animator dan pelaku kreatif adalah menciptakan karya tanpa memperhatikan masa depan karya itu sendiri. Buku ini mengajarkan “perintah dan larangan” dalam berkarya dan membangun “surga” industri kreatif Indonesia.”
-Adhicipta R. Wirawan, CEO Mechanimotion Entertainment & Kreator The Adventures of Wanara

"Buku ini membuka kembali hal kritis yang banyak terlupakan oleh pelaku bisnis karena rutinitas dan ego. LastingLean menyingkap pengetahuan yang paling dibutuhkan dalam pengembangan bisnis."
-Drs.ec. Sujoko Efferin, MCom (Hons), MA(Econ), PhD, Akademisi & Peneliti Bisnis Universitas Surabaya


Tidak ada komentar:

Posting Komentar