Selasa, 10 Desember 2019

3 Prinsip Utama Merekrut Anggota Tim

pic; womansday
Dalam satu kesempatan, seorang pemimpin tingkat tengah perusahaan profesional tampak hopeless, curhat tentang bawahannya yang susah diatur. Diberi tugas, tidak diselesaikan, tidak cepat respon dalam komunikasi, tidak ada motivasi bekerja yang baik, bahkan tidak ada rasa hormat dan santun pada pimpinan. Kasus umum yang mungkin sering kita lihat. Nampak sepele, namun melelahkan dan sering makan hati, menguras emosi dan fokus pekerjaan utama. Pemimpin menjadi tak berdaya dan hanya menerima keadaan.

Suatu saat, ini akan menjadi racun yang cepat menyebar dan mematikan performa bisnis. Membiarkan staf dengan cacat motivasi ibarat melubangi kapal sendiri dan menunggu karam bersama.

Lalu apa yang bisa dilakukan?

Saya pikir, memberinya pelatihan-pelatihan softskill temporer bukan solusi efektif.  Penyembuhannya akan memakan waktu, biaya, dan tenaga lebih banyak. Hal demikian kembali pada karakter ketegasan sang pemimpin. 

Tindak kendali preventif sebenarnya menjadi kunci awal pembentukan tim. Saya mencatat 3 prinsip penting bagaimana menentukan anggota tim kerja.

1. Tendang jauh si bunglon
Sungguh menarik menyimak sepak terjang Eric Thohir (mas menteri), memberangus kelompok "mafia" di salah satu BUMN. Dalam sesi wawancara Mata Najwa, tentang bagaimana merekrut Dirut BUMN, ia nampak sepakat dengan tips dari Said Didu (mantan sekretais BUMN). Bang Didu menyatakan, "Siapa yang paling banyak memo-nya atau banyak nelpon-nelponin, itu yang dicoret pertama... karena seorang profesional yang punya integritas, punya etika, tidak akan pernah mau minta memo, dan tidak pernah menitipkan diri ke siapapun, dia akan menitipkan diri pada integritas dan kompetensinya..."

Jauh dari kepentingan politis dan tetap obyektif adalah kunci dalam merekrut anggota tim manajemen. Sering keputusan pemimpin menjadi bias ketika memasuki ranah politik praktis. Ia dikelilingi (EO) oknum-oknum politis yang bergerilya secara all out dan massive. Sungguh tidak wajar dan sangat mungkin memiliki agenda tersembunyi. Mereka bergerak seperti bunglon, bisa hinggap di mana saja, melakukan apa saja, untuk memenuhi kepentingannya.

Pemimpin bijaksana tidak sepenuhnya mengandalkan informasi dari para pembisik yang bermanuver secara tidak wajar. Lihat sendiri jejak rekam prestasi, karya, pertimbangkan berbagai masukan secara berimbang, dan yang lebih utama, percayakan pada hati nurani. 

2. Jangan ambil kucing dalam karung
Pepatah lama yang masih saja relevan. Artinya, jangan pernah merekrut tim secara random. Dalam perusahaan profesional sudah pasti memiliki SOP dalam merekrut karyawan. Hal ini baik. Namun tak bisa dipungkiri kahadiran orang-orang karena faktor x, seperti hubungan pertemanan, darah atau dikenal dengan istilah nepotisme. 

Apakah hal ini salah?

Tentu tidak. Yang menjadi masalah utama adalah ketika kita tidak mempertimbangkan aspek KSA (knowledge, skill, attitude) dari si calon, karena menganggap kekerabatan lebih utama. Mereka yang didatangkan tanpa proses fit and proper test secara holistik terlebih dahulu. Lepas dari aspek kekeluargaan, merekrut orang tanpa keseimbangan KSA yang memadai sangat berisiko. Memang sebuah keberuntungan jika toh ternyata ia adalah orang yang baik. Jika tidak, ini akan menjadi bumerang seperti mengambil kucing dalam karung.

Siapapun yang akan masuk dalam tim Anda, selalu ikuti prosedur tes dan lakukan evaluasi secara adil dan profesional.

3. Jangan pelihara anjing yang menggigit tuannya
Mungkin terdengar kurang sopan. Saya ingin mengajak Anda untuk melihat pesan dibalik pernyataan metaforik ini. Anjing adalah hewan peliharaan yang setia dan mengabdi pada tuannya. Tentunya, tuan yang baik, merawat, dan bertanggung jawab. Dalam ilmu biologi, hubungan demikian disebut simbiosis mutualisme. Hewan mendapat perawatan, kasih sayang, dan pemenuhan kebutuhan hidup. Sedangkan manusia mendapat teman bahkan penjaga rumah yang baik. 

Lalu, bagaimana jika suatu ketika anjing tersebut menjadi buas dan menyerang pemeliharanya? Selamanya, Anda akan hidup dalam ketakutan jika sewaktu-waktu ia menggigit Anda. Anda tidak lagi memelihara, tapi Anda yang akan dikendalikannya. 

Intinya, jangan pernah pekerjakan orang yang tak dapat Anda kendalikan, egois, terlalu keras kepala dan semau gue. Anda akan tampak "bodoh", tak tahu harus melakukan treatment apa. Membiarkannya sama dengan memberi kesempatan switching power. Anda yang akan dikendalikan olehnya.  Kepemimpinan Anda tak lagi memiliki kuasa. Bangun karakter pemimpin yang kuat dan sistem penilaian kinerja yang mendukung Anda, tanpa harmoni keduanya, keterkendalian tak akan pernah eksis. 


Semoga bermanfaat!