Minggu, 03 November 2019

Waspada! Multitasking Picu Kerusakan Otak

pic: seguros.elcorteingles
Multitasking, sebuah keahlian baru yang diburu oleh pemberi kerja masa kini. Seolah, mereka yang mampu bekerja demikian memiliki keunggulan bersaing lebih baik. Benarkah?

Bayangkan, Anda bekerja dengan komputer. Pada saat yang sama Anda terus membuka banyak aplikasi. Apa yang terjadi? Jelas, kinerja komputer Anda akan makin lemot, bahkan hang. Beberapa file yang Anda buka berisiko rusak atau hilang. Demikian pula sesungguhnya yang sedang terjadi pada diri kita saat kita melakukan multitasking.

Memang ada manusia yang memiliki kecenderungan mampu multitasking. Peneliti Stanford membuktikan bahwa mereka yang merasa dirinya mampu melakukan banyak tugas dalam satu waktu ternyata hasil pekerjaannya tidak sebaik mereka yang melakukannya secara fokus. Otak memerlukan jeda waktu untuk melakukan switch, atau peralihan dari satu fokus ke fokus yang lain. Memaksa diri untuk multitasking berarti pula memaksa dengan keras kinerja otak Anda. Psychology Today melansir beberapa temuan terkini tentang dampak buruk multitasking:
  1. Memicu kerusakan otak pada jangka panjang, khususnya terkait fungsi kognitif dan pengaturan semangat juang serta emosi.
  2. Menyebabkan gangguan memori (ingatan), multitasking berdampak pada penurunan daya ingat jangka panjang.
  3. Meningkatkan risiko gangguan penentuan prioritas, peneliti menemukan bahwa mereka yang terbiasa multitasking cenderung menjadi sulit dalam menentukan prioritas.
  4. Meningkatkan risiko kecelakaan, dalam sebuah riset pada 1400 pejalan kaki korban tabrakan di NY ditemukan bahwa 20% dari mereka adalah remaja yang sedang sibuk dengan gadget-nya.
  5. Menurunkan performa, ditemukan bahwa siswa yang melakukan multitasking saat mengerjakan tugas sekolah mendapatkan nilai rata-rata lebih buruk.
  6. Merusak hubungan, terutama gadget, telah membuat sebuah hubungan tidak lagi intim, personal akibat distraksi yang besar dari notifikasi dan telepon masuk. Dalam bisnis, hal ini berdampak besar pada kepuasan konsumen.
  7. Memicu stress kronis dan depresi, derasnya arus informasi berakibat pada kondisi overload, meningkatkan kekhawatiran, kegelisahan, dan hilangnya konsentrasi penuh.
  8. Mengurangi produktivitas kerja, terutama terkait dengan kualitas pekerjaan, bukan hanya penyelesaian pekerjaan.
Jadi, masihkah Anda ingin mengasah keahlian multitasking? Mungkin saja, saat muda semuanya tak terlalu terasa karena sekali lagi dampak dari kebiasaan ini bersifat jangka panjang, saat kita menua risko gangguan otak akan lebih besar. Mulailah merawat diri dan berkarya secara berimbang. Ketika target pekerjaan mulai mengeksploitasi Anda, setidaknya berhentilah Anda mengeksploitasi diri sendiri.


Semoga bermanfaat!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar