Rabu, 06 November 2019

5 Cara Keluar dari Belenggu Multitasking

pic: shutterstock
Setelah posting artikel sebelumnya (Waspada! Multitasking Picu Kerusakan Otak), saya mendapat beberapa pertanyaan serupa, "Jika tak boleh multitasking, lalu bagaimana mungkin kita bisa menyelesaikan target-target pekerjaan?"

Ada yang perlu kita luruskan. Saya tidak merekomendasikan Anda tidak bekerja secara produktif. Seperti diungkap pakar neuroscience, Earl Miller bahwa otak kita tidak tertata (set) untuk bekerja multitasking. Saat seseorang berpikir dirinya sedang multitasking, sesungguhnya ia hanya sedang meningkatkan intensitas switch dari satu pikiran ke pikiran lain dan Setiap intensitas peralihan ini meningkatkan cognitive cost atau risiko kerusakaan sel otak. Sebaliknya, menghindari multitasking selain kita menjadi makin produktif, fokus dalam bekerja, juga menjaga kesehatan otak. 

Bagaimana mungkin?
Ingat perumpamaan, bagaimana mungkin seorang pemburu dapat mengejar dua rusa dalam waktu yang sama. Mengejar keduanya berarti kehilangan keduanya. Demikianlah dampak buruk multitasking. Kita tidak akan pernah mencapai performa prima saat memecah pikiran ke dalam lebih dari satu obyek konsentrasi.

Lalu, bagaimana menghindari multitasking?
Saya akan membagikan lima cara untuk membiasakan hidup anti-multitasking:
  1. Mulai dengan hening, jika Anda memulai hari kerja Anda dengan pikiran yang penuh, urusan keluarga, utang KPR, uang sekolah anak, cekcok dengan mertua, coba lakukan proses hening. Tutup mata dan mulailah bernafas perlahan. Rasakan oksigen yang Anda hirup hingga masuk ke dalam kepala, hembuskan melalui mulut. Rasakan beban pikiran Anda keluar bersamaan udara yang keluar. Bawa pikiran Anda pada momen saat ini. Lepaskan segala kekhawatiran masa depan dan problema masa lalu. Ulangi hingga Anda merasa rileks.
  2. Komitmen untuk tidak multitasking, niatkan diri Anda untuk menghindari multitasking. Di dalam kantor yang berisik, apalagi penuh aktivitas gibah, cari tempat yang tenang untuk bekerja lebih fokus. Anda juga dapat menutup telinga dengan earphone mendengar instrumen meditasi. Jika Anda pemimpin, titipkan pesan pada asisten untuk tidak diganggu untuk beberapa waktu hingga Anda berhenti (sejenak) menyelesaikan pekerjaan. Sementara, say no pada hal-hal yang bukan prioritas. Tanpa komitmen diri, keluar dari kebiasaan multitasking hanyalah wacana forever.
  3. Heningkan notifikasi dan panggilan gadget, distraksi utama era teknologi datang dari gadget. Sementara, pada saat bekerja heningkan gadget Anda. Simpan pada tempat yang tidak mudah Anda jangkau (misalnya di dalam tas). Tentukan jadwal kapan Anda berhenti bekerja senenak untuk memeriksa pesan-pesan chat atau email.
  4. Buat to-do list, setiap pagi, tentukan to-do list hari ini. Tentukan mana yang penting dan mendesak dan mana yang tidak penting dan tidak mendesak. Dahulukan yang utama dan berusahalah disiplin dengan jadwal Anda. Teknik sederhana ini akan membantu Anda menyelesaikan segalanya satu per satu.
  5. Istirahat, jika Anda mendapat banyak pekerjaan, pastikan Anda mengistirahatkan otak/ pikiran sejenak sebelum melakukan proses switch konsentrasi pada obyek lain. Cukup 2 hingga 3 menit. Anda dapat berjalan keluar ruang menghidup udara, melemaskan otot tubuh, atau melakukan proses hening.

Semoga bermanfaat!

Minggu, 03 November 2019

Waspada! Multitasking Picu Kerusakan Otak

pic: seguros.elcorteingles
Multitasking, sebuah keahlian baru yang diburu oleh pemberi kerja masa kini. Seolah, mereka yang mampu bekerja demikian memiliki keunggulan bersaing lebih baik. Benarkah?

Bayangkan, Anda bekerja dengan komputer. Pada saat yang sama Anda terus membuka banyak aplikasi. Apa yang terjadi? Jelas, kinerja komputer Anda akan makin lemot, bahkan hang. Beberapa file yang Anda buka berisiko rusak atau hilang. Demikian pula sesungguhnya yang sedang terjadi pada diri kita saat kita melakukan multitasking.

Memang ada manusia yang memiliki kecenderungan mampu multitasking. Peneliti Stanford membuktikan bahwa mereka yang merasa dirinya mampu melakukan banyak tugas dalam satu waktu ternyata hasil pekerjaannya tidak sebaik mereka yang melakukannya secara fokus. Otak memerlukan jeda waktu untuk melakukan switch, atau peralihan dari satu fokus ke fokus yang lain. Memaksa diri untuk multitasking berarti pula memaksa dengan keras kinerja otak Anda. Psychology Today melansir beberapa temuan terkini tentang dampak buruk multitasking:
  1. Memicu kerusakan otak pada jangka panjang, khususnya terkait fungsi kognitif dan pengaturan semangat juang serta emosi.
  2. Menyebabkan gangguan memori (ingatan), multitasking berdampak pada penurunan daya ingat jangka panjang.
  3. Meningkatkan risiko gangguan penentuan prioritas, peneliti menemukan bahwa mereka yang terbiasa multitasking cenderung menjadi sulit dalam menentukan prioritas.
  4. Meningkatkan risiko kecelakaan, dalam sebuah riset pada 1400 pejalan kaki korban tabrakan di NY ditemukan bahwa 20% dari mereka adalah remaja yang sedang sibuk dengan gadget-nya.
  5. Menurunkan performa, ditemukan bahwa siswa yang melakukan multitasking saat mengerjakan tugas sekolah mendapatkan nilai rata-rata lebih buruk.
  6. Merusak hubungan, terutama gadget, telah membuat sebuah hubungan tidak lagi intim, personal akibat distraksi yang besar dari notifikasi dan telepon masuk. Dalam bisnis, hal ini berdampak besar pada kepuasan konsumen.
  7. Memicu stress kronis dan depresi, derasnya arus informasi berakibat pada kondisi overload, meningkatkan kekhawatiran, kegelisahan, dan hilangnya konsentrasi penuh.
  8. Mengurangi produktivitas kerja, terutama terkait dengan kualitas pekerjaan, bukan hanya penyelesaian pekerjaan.
Jadi, masihkah Anda ingin mengasah keahlian multitasking? Mungkin saja, saat muda semuanya tak terlalu terasa karena sekali lagi dampak dari kebiasaan ini bersifat jangka panjang, saat kita menua risko gangguan otak akan lebih besar. Mulailah merawat diri dan berkarya secara berimbang. Ketika target pekerjaan mulai mengeksploitasi Anda, setidaknya berhentilah Anda mengeksploitasi diri sendiri.


Semoga bermanfaat!