Jumat, 25 Oktober 2019

Mengenal Meditasi, Hidup Berkesadaran

pic: gettyimages
Tak jarang orang bertanya kepada saya, "Pak, meditasi itu apa? Lalu kita berdoa kepada siapa?"
Dalam kamus, meditasi diartikan sebagai kemampuan berpikir mendalam atau fokus pada satu hal dalam satu waktu. Jadi meditasi adalah metoda atau cara, bukan sebuah keyakinan atau agama. Meditasi bersifat netral. Kepada apa dan siapa kita memusatkan pikiran, itu tergantung niat yang melakukannya. Mungkin saja karena istilah ini lebih sering dipakai oleh umat agama tertentu, namun bukan berarti bahwa meditasi adalah urusan reliji. Meditasi adalah konsep universal.

Lalu, apakah berarti juga kita mengosongkan pikiran?
Meditasi bukan mengosongkan pikiran, namun lebih tepatnya menarik pikiran-pikiran dari jerat masa lalu dan obsesi masa depan kembali pada titik saat ini. Menyadari dan menerima apa yang ada saat ini tentang kejadian yang dapat ditangkap oleh indera dan rasa. 

Dalam bahasa lebih umum, meditasi adalah cara hidup berkesadaran (mindful), yang dalam bahasa Jawa disebut Eling Lan Waspada. Konsep meditasi telah lahir sejak zaman kuno sebagai budaya Timur. Hidup berkesadaran demikian ditujukan agar pikiran kita lebih damai, hening, sabar, konsentrasi, serta fokus dalam bekerja, dan hidup. Cara hidup yang menghindarkan diri dari disraksi pikiran, ambisi berlebihan, termasuk kekhawatiran yang berlebihan. 

Jadi, tidak perlukah kita memiliki ambisi capaian masa depan?
Ini juga tidak sepenuhnya benar. Kita wajib memiliki visi dan tujuan hidup. Tujuan jelas akan menggerakkan kita untuk terus maju, tumbuhkembang. Hidup berkesadaran berarti kita tidak melekati ambisi yang kita bangun. Kita perlu menjalaninya, berusaha mencapainya, namun juga selalu siap dan waspada akan apapun hasilnya.

Bagaimana cara melatih meditasi?
Meditasi dilakukan dengan cara berkonsentrasi pada satu hal. Latihan memperhatikan nafas adalah teknik yang paling dasar, mudah, dan tak berbiaya. Anda dapat memulainya dengan memperhatikan nafas yang masuk dan nafas yang keluar bergantian. Perhatikan dengan saksama serta tetap berusaha kembali konsentrasi saat pikiran mulai melayang. Demikian seterusnya.

Perlukan bersila dengan posisi tangan di lutut?
Yah, sekali lagi ini adalah teknik, yang bisa dikembangkan menurut tradisi dan keyakinan komunitas tertentu. Namun esensi meditasi bukan karena duduk bersila dan memperhatian nafas. Pada tahap selanjutnya, berkesadaran perlu dilatih dalam aktivitas lain, seperti saat berjalan, mengendarai kendaraan, atau makan. Konsentrasi, perhatikan, sadari apa yang terjadi dalam diri Anda serta lingkungan sekitar. Sebagai contoh, saat makan, cukup perhatikan dan nikmati hidangan Anda. Tak perlu sambil buka gadget, nonton TV, atau mendengar musik. Ciptakan momen hanya ada Anda dan makanan. Sadari dan nikmati gerakan tangan Anda terangkat memegang sendok, perhatikan suara tabrakan sendok dengan piring, rasakan mulut Anda terbuka, makanan masuk, dan gigi Anda mengunyah merasakan berbagai sensasi rasa, dan seterusnya. Sebuah momen here and now yang akan menjaga kesehatan organ pencernaan dan pikiran Anda. 

Bahkan di dalam pekerjaan Anda dapat membiasakan hidup meditatif dalam menghadapi tantangan, tekanan, membangun relasi, rapat, hingga keputusan bisnis. Anda akan lebih waspada, peka, bijaksana dalam berucap dan bertindak.

Berapa lama hasilnya?
Melatih diri hidup meditatif membutuhkan ketekunan dan intensitas. Tanpa membiasakan dan mendisiplikan diri, jelas tidak akan pernah ada perubahan dalam diri kita. Pada titik tertentu, cara hidup berkesadaran demikian secara otomatis akan menjadi kebiasaan dan gaya hidup kita.

Apa dampaknya?
Perusahaan sekelas Garuda Food, bahkan kampus sekelas Stanford atau perusahaan mega Google telah mengembangkan program-program human capital terkait. Mereka meyakini dan membuktikan bahwa sense of purpose, hubungan baik antarkaryawan, inovasi, hingga produktivitas terus meningkat.

Semoga bermanfaat!

Rabu, 23 Oktober 2019

Pesan Jokowi Tentang Sense of Purpose dan Mindfulness

pic: koran-jakarta

Sungguh menarik melihat strategi dan manuver Joko Widodo, presiden terpilih. Jika tahun lalu netizen heboh dengan terpilihnya ibu Susi Pudjiastuti, kali ini kembali netizen ramai dengan nama Nadiem, Terawan, dan Prabowo. Seluruh lapisan masyarakat menunggu, apa gebrakan nyata Indonesia Maju.

Ada yang paling menarik perhatian saya saat membaca 7 pesan Pak dhe Jokowi kepada kabinetnya, perhatikan pesan nomor 4 "JANGAN TERJEBAK RUTINITAS KERJA YANG MONOTON". Saya melihatnya sebagai pesan "to be mindful". Mungkin beliau berpikir, belum optimalnya pekerjaan kabinet sebelumnya karena mereka masih terjebak pada rutinitas, pokoknya kerja kerja kerja. Pesan Jokowi seolah mengingatkan kita semua, bukan hanya kepada para menteri. Dalam bekerja, beraktivitas jangan biarkan semuanya menjadi tugas yang berulang dan monoton. 

Sejenak pikirkan, bagaimana relasi Anda dengan pekerjaan Anda saat ini. Bagaimana Anda memandang pekerjaan yang sedang Anda jalani, sekadar sebagai tanggungjawab rutin, atau lebih dari itu? Mengapa kemudian kita merasa jenuh dengan pekerjaan pilihan kita sendiri? Itu semua karena kita bekerja secara monoton. Menganggap pekerjaan hanya sebatas ritual, akan menghilangkan makna yang esensial, yaitu alasan bekerja. Hal yang sama dapat terjadi pada kehidupan di luar pekerjaan seperti membina rumah tangga. Jika Anda menjalaninya sebatas rutinitas, tanpa menyadari tujuan dan makna, Anda akan segera bosan. Anda akan kehilangaan sesuatu yang di dalam konsep Ikigai disebut Reason for Being.

Saya mewancarai secara acak peserta pelatihan di berbagai perusahaan. Tidak banyak yang mampu menjelaskan dengan baik, apa tujuan menjalani pekerjaan saat ini? Sebagian besar berpikir hanya untuk insentif. Insentif yang nanti membawanya membeli rumah, mobil, atau jalan-jalan ke luar negeri. Sesungguhnya, tidak ada yang salah dengan keinginan ini. Namun pemikiran sempit demikian berpotensi menghilangkan makna pekerjaan itu sendiri. Kita menjadi terlalu transaksional, bahkan tidak peduli satu sama lain.
Purpose (SDT's Deci & Ryan)

Dalam Self Determination Theory, tersebutlah PURPOSE atau tujuan sebagai salah satu motivator penting dalam kehidupan seseorang. Ketika ia kehilangan tujuan, ia akan terjebak dalam rutinitas tak berarti. Membangun sense of purpose diawali dari proses kesadaran diri (mindfulness), untuk apa aku bekerja? Apa yang sebenarnya sedang saya jalani? Apa manfaat gambaran kerja yang sedang saya lakukan, bagi diri, sekaligus orang lain? Selain berkesadaran tentang tujuan, menjadikan pekerjaan bermakna juga dapat ditunjang oleh hubungan atau relasi di tempat kerja yang baik, saling membangun, komunikasi, dan kepeduian satu sama lain.

Saat ini, berhentilah sejenak, renungkan kembali, apa alasan Anda bekerja, apa kontribusi pekerjaan Anda bagi orang lain? Jika Anda menyadarinya, melalui pekerjaan Anda, setiap detik adalah kesempatan untuk menjadi berkat bagi orang-orang terdekat.


Salam bahagia!

Minggu, 13 Oktober 2019

Keterlibatan dan Kesehatan Karyawan, Koentji Kinerja Bisnis Anda

pic: hcamag.com
Apa sebenarnya kunci peningkatan kinerja karyawan? 

Di luar sana, banyak tawaran strategis untuk mengejar produktivitas tinggi, seperti pembuatan target secara kreatif dan beragam rancangan sistem imbalan-hukuman yang inovatif. Trending-nya topik-topik HR dan HC turut menambah deretan pilihan investasi untuk mencapai kinerja terbaik. Mana yang paling efektif, sekaligus efisien?

Membaca survey-survey Gallup dan beberapa artikel Forbes dan HBR, ditemukan bahwa hanya ada 2 kunci mencapai performa terbaik, yaitu KETERLIBATAN dan KESEHATAN. Kedua komponen ini telah terbukti mendorong lompatan produktivitas yang mengagumkan. Berikut 10 temuan penelitian yang pernah dilakukan oleh Gallup terkait keterlibatan dan kesehatan:
  1. Karyawan yang dilibatkan dalam keputusan dan aktivitas penting mengalami peningkatan produktivitas hingga 21%, berkurangnya ketidakhadiran dan penurunan tingkat tunrover.
  2. 89% kepala HRD mengaku bahwa feedback serta pengakuan yang jujur dan tulus menjadi faktor penentu keberhasilan atas capaian.
  3. Efektivitas pemberdayaan karyawan mengalami peningkatan hingga 4,6 kali lipat ketika pemimpin mau mendengar aspirasi mereka.
  4. 96% karyawan menyakini bahwa empati di tempat kerja adalah alasan kuat mengapa mereka bertahan.
  5. Lunturnya rasa terlibat/ memiliki dalam diri karyawan telah membebani biaya perusahaan hingga $550 bilion per tahun.
  6. Ditemukan sebanyak 61% karyawan mengalami burnout di tempat kerja. Mereka tertekan hingga depresi yang berdampak pada kesehatan fisik.
  7. Sebanyak 89% karyawan yang bekerja pada perusahaan yang menjaga value WELL BEING pada akhirnya dengan sendirinya membantu mempromosikan perusahaannya sebagai tempat kerja terbaik.
  8. 70% perusahaan pemberi kerja telah sadar untuk meningkatkan kualitas kesehatan lingkungan untuk menjaga ketahanan fisik karyawan.
  9. 61% karyawan merespon baik dan merasakan bahwa program tatanan lingkungan sehat yang disediakan oleh perusahaan berdampak pada kesehatan fisik dan mental mereka.
  10. 87% karyawan berharap agar pemberi kerja selalu mendukung quality of work life mereka.

Satu hal yang perlu digarisbawahi bahwa kedua hal, membangun keterlibatan dan memelihara kesehatan bukan semata tugas HRD atau People Ops, namun adalah tanggungjawab seluruh pemimpin divisi perusahaan karena idealnya kedua hal tersebut menjadi kebiasaan yang cara hidup sebuah organisasi yang baik. Sudahkah Anda menyadarinya?


Semoga bermanfaat!