Rabu, 11 September 2019

Renungan untuk Mereka, Korporasi Yang Menua

design: rangerup
Dalam praktiknya, proses inovasi di lingkungan korporasi tak semudah membalik telapak tangan. Terlalu banyak pertimbangan kelayakan, mulai dari kelayakan ekonomi, legal, operasional, teknis, hingga masalah politis. Berbeda dengan mereka yang masih dalam fase startup, tak banyak kepentingan, jauh dari birokrasi berkepanjangan, dan lincah dalam bermanuver. 
Dalam buku saya Lasting Lean, saya mengisahkan kembali bagaimana Daud melawan dan mengalahkan raksasa Goliat. Goliat diceritakan mengalami Acromegali, sebuah kelainan langka yang memicu pertumbuhan terus menerus, sehingga tubuh Goliat terus membesar hingga tua. Dampaknya, kedua matanya mengalami rabun. Goliat yang saat itu menggunakan baju besi dengan senjata yang relatif berat menjadi lambat dalam bergerak. Sulit baginya menjangkau Daud. Apalagi kondisi matanya yang rabun, makin menyulitkannya untuk membidik sasar Daud. Goliat tak menyadari kelemahannya, ia makin sombong ketika melihat lawannya begitu mini. Dengan sigap, cepat, lincah, sekelebat Daud bermanuver dan melempar batu tepat di dahi Goliat. Begitu saja, Goliat roboh.

Pertarungan epik ini menorehkan 4 pesan moral bagi pelaku bisnis masa kini, khususnya yang menua, melewati 4 dasawarsa, yaitu:


1.     Rabun adalah ancaman perusahaan mapan. Perusahaan yang telah mapan dan besar biasanya (mulai) diwarnai konflik-konflik kepentingan baik horizontal maupun vertikal. Tim manajemen menjadi kehabisan enerji memikirkan konflik personal antarlini dan jenjang. Alih-alih memikirkan inovasi dan customer value, mereka sudah lelah dalam rapat-rapat masalah teknis dan politik praktis. Visinya tak lagi setajam pada masa startup atau pertumbuhan pesat. Mereka menjadi rabun akan visi besarnya.

2.     Membesar, biasanya melambat. Seperti Goliat, membesarnya sebuah korporat akan mengurangi kelincahannya. Bagai gajah yang sulit bergerak, apalagi menari, begitulah kondisi umumnya perusahaan papan atas. Sebuah terobosan, langkah baru harus diikuti serentak seluruh elemen. Semua SOP sudah terlanjur mengikat, aturan, hukum juga tidak lagi membuatnya leluasa bermanuver. Mereka terjebak dalam kondisi eskalasi komitmen, terlalu banyak pertimbangan, terlalu banyak konspirasi. Inilah yang menjadi tantangan khusus, bagaimana secara lincah menggerakkan seluruh elemen seolah dalam satu tubuh dan satu pandangan (visi).

3.     Mempertahankan strategi kuno untuk masa kini. Goliat menghadapi Daud dengan cara yang sama. Ia memakai baju zirah dan senjata berat. Ia tak menyadarinya bahwa Daud, lawannya begitu lincah bergerak, menyerang, dan mematikan tanpa beban senjata berat. Demikianlah bagaimana pendatang baru yang ternama dengan label Unicorn menghantam The Titans. Korporasi besar yang telah ada masih mengandalkan cara-cara kuno yang sudah tidak lagi relevan dengan zaman. Strategi keunggulan bersaing yang diusulkan Michael Porter sejak tahun 80an tidak lagi relevan seperti dahulu kala. Pendatang baru menggunakan strategi-strategi baru yang bahkan tak dikenali korporasi yang ada. Tanpa memahami strategi lawan, sangat tidak mungkin kita menaklukkannya, demikianlah bunyi strategi perang.

4.     Kesombongan adalah kejatuhan. Goliat meremehkan Daud yang bertubuh kecil, tak menyadarinya bahwa ia akan tumbang di tangan Daud yang mungil. Ini adalah pesan tentang kewaspadaan. Kita tak selalu jatuh tersandung batu besar, namun juga karena terpeleset kerikil kecil. Merasa superior, nyaman pada posisi penguasa pasar, sementara meremehkan pendatang-pendatang baru yang relatif kecil bisa jadi penyebab jatuhnya sebuah korporasi di masa depan.


---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar