Jumat, 20 September 2019

Pendidikan, Hati, dan Totski


Totski, seorang bocah perempuan belajar di sebuah sekolah dasar negeri. Tak lama, ia dikeluarkan atas sebab perilakunya yang dianggap aneh. Ia suka sekali pertunjukan musik jalanan. Begitu mendengar pemusik melewati sekolahnya, ia bergegas, lari menuju jendela, membukanya dan girang menikmati alunan musik. Demikian ia terus melakukannya di jam pelajaran. Ia sering mendapat teguran dari guru yang merasa terganggu dan tak kuat lagi dengan kelakuannya. Totski dipindahkan ke sekolah lain.

Ibunya memindahkannya ke Tomoe Gakuen, sekolah terpencil dengan segelintir murid. Totski tampak gembira. Sekolah yang tak biasa. Kadang, murid-murid dibawa ke gerbong kereta api untuk belajar di sana sambil menikmati pemandangan. Kadang belajar sambil berenang di danau kecil. Di sana, murid-murid diberi kebebasan untuk menentukan urutan jadwal pelajarannya dalam sehari. Tomoe, lebih dari sekadar sekolah biasa. Ia mengajarkan lebih banyak tentang kehidupan, persahabatan, nilai kesopanan, penghargaan, dan menjadi diri sendiri. Totski dikenal sebagai salah satu murid yang sangat peduli dan menyayangi teman-temannya, terlebih kepada beberapa temannya yang memiliki keterbatasan fisik. 

Suatu ketika, Tomoe mengadakan pertandingan, permainan antarmurid. Salah seorang teman dekat Totski yang memiliki tubuh tak lazim, lebih mungil dari teman sebayanya memenangkan beberapa pertandingan. Ia menjadi heran, kenapa bisa? Ternyata dalam beberapa permainan, pihak sekolah merancangnya agar anak-anak yang memiliki keterbatasan fisik justru memiliki peluang yang lebih besar untuk menang dibanding mereka yang secara fisik normal.

Sebuah kisah nyata yang sempat membuat saya merinding saat membacanya, Toto Chan. Ini dia sejatinya pendidikan. Sebuah lembaga dimana anak-anak belajar mengenal dirinya, menerima dan menjadi dirinya, belajar berbuat baik kepada sesama. Tomoe Gakuen dibangun oleh kerinduan untuk membentuk generasi lebih baik. Ia menjadi sekolah yang inklusif, tak hanya menerima siswa yang memiliki nilai tes masuk tinggi atau kaum berduit saja. Tomoe membangun dirinya dengan hati, bukan motif transaksi atau bisnis semata. Cerita yang seharusnya mendorong mata batin kita untuk merenung lebih dalam, bagaimana dengan pendidikan di sekitar kita? Apa standar kualitas sebuah sekolah? Akreditasi, rerata nilai UNAS, label agama, uang pendidikan yang maha mahal, prestasi guru? Atau kesaksian semacam Totski?


^_^


Rabu, 11 September 2019

Renungan untuk Mereka, Korporasi Yang Menua

design: rangerup
Dalam praktiknya, proses inovasi di lingkungan korporasi tak semudah membalik telapak tangan. Terlalu banyak pertimbangan kelayakan, mulai dari kelayakan ekonomi, legal, operasional, teknis, hingga masalah politis. Berbeda dengan mereka yang masih dalam fase startup, tak banyak kepentingan, jauh dari birokrasi berkepanjangan, dan lincah dalam bermanuver. 
Dalam buku saya Lasting Lean, saya mengisahkan kembali bagaimana Daud melawan dan mengalahkan raksasa Goliat. Goliat diceritakan mengalami Acromegali, sebuah kelainan langka yang memicu pertumbuhan terus menerus, sehingga tubuh Goliat terus membesar hingga tua. Dampaknya, kedua matanya mengalami rabun. Goliat yang saat itu menggunakan baju besi dengan senjata yang relatif berat menjadi lambat dalam bergerak. Sulit baginya menjangkau Daud. Apalagi kondisi matanya yang rabun, makin menyulitkannya untuk membidik sasar Daud. Goliat tak menyadari kelemahannya, ia makin sombong ketika melihat lawannya begitu mini. Dengan sigap, cepat, lincah, sekelebat Daud bermanuver dan melempar batu tepat di dahi Goliat. Begitu saja, Goliat roboh.

Pertarungan epik ini menorehkan 4 pesan moral bagi pelaku bisnis masa kini, khususnya yang menua, melewati 4 dasawarsa, yaitu:


1.     Rabun adalah ancaman perusahaan mapan. Perusahaan yang telah mapan dan besar biasanya (mulai) diwarnai konflik-konflik kepentingan baik horizontal maupun vertikal. Tim manajemen menjadi kehabisan enerji memikirkan konflik personal antarlini dan jenjang. Alih-alih memikirkan inovasi dan customer value, mereka sudah lelah dalam rapat-rapat masalah teknis dan politik praktis. Visinya tak lagi setajam pada masa startup atau pertumbuhan pesat. Mereka menjadi rabun akan visi besarnya.

2.     Membesar, biasanya melambat. Seperti Goliat, membesarnya sebuah korporat akan mengurangi kelincahannya. Bagai gajah yang sulit bergerak, apalagi menari, begitulah kondisi umumnya perusahaan papan atas. Sebuah terobosan, langkah baru harus diikuti serentak seluruh elemen. Semua SOP sudah terlanjur mengikat, aturan, hukum juga tidak lagi membuatnya leluasa bermanuver. Mereka terjebak dalam kondisi eskalasi komitmen, terlalu banyak pertimbangan, terlalu banyak konspirasi. Inilah yang menjadi tantangan khusus, bagaimana secara lincah menggerakkan seluruh elemen seolah dalam satu tubuh dan satu pandangan (visi).

3.     Mempertahankan strategi kuno untuk masa kini. Goliat menghadapi Daud dengan cara yang sama. Ia memakai baju zirah dan senjata berat. Ia tak menyadarinya bahwa Daud, lawannya begitu lincah bergerak, menyerang, dan mematikan tanpa beban senjata berat. Demikianlah bagaimana pendatang baru yang ternama dengan label Unicorn menghantam The Titans. Korporasi besar yang telah ada masih mengandalkan cara-cara kuno yang sudah tidak lagi relevan dengan zaman. Strategi keunggulan bersaing yang diusulkan Michael Porter sejak tahun 80an tidak lagi relevan seperti dahulu kala. Pendatang baru menggunakan strategi-strategi baru yang bahkan tak dikenali korporasi yang ada. Tanpa memahami strategi lawan, sangat tidak mungkin kita menaklukkannya, demikianlah bunyi strategi perang.

4.     Kesombongan adalah kejatuhan. Goliat meremehkan Daud yang bertubuh kecil, tak menyadarinya bahwa ia akan tumbang di tangan Daud yang mungil. Ini adalah pesan tentang kewaspadaan. Kita tak selalu jatuh tersandung batu besar, namun juga karena terpeleset kerikil kecil. Merasa superior, nyaman pada posisi penguasa pasar, sementara meremehkan pendatang-pendatang baru yang relatif kecil bisa jadi penyebab jatuhnya sebuah korporasi di masa depan.


---