Senin, 26 Agustus 2019

Reaktif vs Responsif: Sikap dan Keputusan yang Mengubah Kehidupan

pic: www.mindful.org
Satu waktu, guru yang bijaksana mendapati seorang cendekiawan datang hendak mencobai kebijaksanaannya. Ia bertanya, "Guru, tolong jawab saya. Bagaimana cara hidup tenang, damai dan bahagia?" Sang guru menjawab, "Untuk itu, jangan pernah berdebat dengan orang bodoh". Tak terima dengan jawaban yang ia pikir terlalu sederhana, ia mulai berargumen mengeluarkan segala rasionalisasinya untuk mematahkan jawaban sang guru. Dengan sabar untuk kesekian kalinya, guru itu selalu menjawab, " Ya, kamu benar." Ia selalu membenarkan apapun kritik perlawanan orang itu. Kesal mendengar jawaban-jawaban guru, orang itu akhirnya pergi meninggalkannya.


Terkejut! Anda bangun terlambat dari biasanya. Tadi malam, kerjaan lemburan menumpuk. Beberapa menit lagi waktu masuk kantor. Kebetulan ada meeting penting. Berbegas bersih diri, tak sempat sarapan dan langsung berangkat dengan mobil pribadi. Jalan protokol begitu macet tak beraturan. Semua merasa tergesa dan tak mau mengalah. Kepala rasanya panas hendak meledak. 

Akhirnya sampai juga. Terlambat 45 menit, Anda berlari memasuki ruang meeting. Semua orang sudah di sana, memandangi Anda, yang terakhir datang. "Cepatlah duduk. Kehadiran kami nyaris sia-sia dan saya hampir kehilangan kesabaran menunggu Anda!", tegur manajer Anda. Ucapan yang begitu nyolot di depan seluruh rekan divisi Anda.

Menghadapi hal demikian, bagaimana sikap Anda?

Sikap dan keputusan Anda saat itu, akan menentukan kualitas detik-detik, hingga hari-hari Anda berikutnya. Setidaknya, Anda memiliki 2 pilihan sikap.

Pertama, Anda bersikap reaktif. Toh, all out lembur pekerjaan kantor semalam yang membuat Anda terlambat. Kejadian macet juga diluar kendali Anda. Teguran keras itu terasa sangat tidak fair. Anda berusaha defense. Anda menunjukkan sikap sebagai bentuk protes ketidakterimaan diri Anda atas sikap manajer yang kurang beretika dalam menegur. Tapi, apakah sikap demikian akan menyelesaikan masalah? Atau justru sebaliknya? Dalam sikap demikian, sebenarnya Anda sedang berusaha memperbaiki keadaan, atau justru sedang berusaha membangun ego, harga diri (karena merasa direndahkan)?

Kedua, Anda dapat bersikap responsif. Anda diam berusaha menenangkan diri. Menyadari bahwa Anda salah sudah terlambat datang, mangacaukan jadwal harian rekan dan manajer Anda. Waktu mereka terbuang sia-sia hanya untuk menanti Anda. Merespon hal ini, Anda berusaha berdamai dan memperbaiki keadaan. Dalam nafas yang lebih teratur, nada rendah hati, Anda menyampaikan permintaan maaf atas keterlambatan Anda. Sikap demikian (mungkin) akan meredam didih darah manajer Anda. Keadaan berikutnya jelas lebih baik daripada Anda bersikap reaktif defensif. Anda berusaha memperbaiki keadaan dengan mengesampingkan ego.

Dalam keadaan sulit, kita selalu memiliki pilihan, bersikap reaktif atau responsif. Menjadi reaktif berarti Anda mengedepankan ego, tidak mau dikritik. Ego menjadi sakral dan tak boleh disentuh. Semua permasalahan dinilai berasal dari luar sana. Selalu ada kambing hitam untuk disalahkan. Sikap yang menghambat hati nurani untuk belajar dari kesalahan, menjadi lebih bijaksana dan dewasa. 

Sebaliknya, bersikap responsif berarti Anda berusaha untuk berselaras diri dengan keadaan, termasuk dengan pikiran dan ego Anda. Mencari solusi yang lebih baik bagi diri dan pihak lain. Alih-alih mencari kambing hitam di luar sana, Anda berusaha melihat ke dalam diri sebelum bereaksi. Menyadari dan menerima bahwa sikap orang lain adalah karena sikap kita kepadanya. Anda merasakan gejolak emosi dan ego yang menggeliat hendak menguasai penuh pikiran. Tubuh terasa panas, detak jantung tak beraturan. Anda menyadarinya, dan biarkan semuanya berlalu sebelum Anda mengambil sikap dan keputusan.

Demikianlah sikap responsif yang merupakan esensi dari sikap berkesadaran penuh (mindfulness).


Selamat berbahagia!

1 komentar: