Kamis, 20 Juni 2019

Kenali Sejak Dini, 7 Gejala Kehancuran Bisnis Mapan

pic: bankruptcy-myths.campaign
Kodak, Lehman, MGM, Worldcom, dan General Motor merupakan perusahan-perusahaan besar yang paling sering dibahas pernah mengalami kebangkrutan. Bagaimana itu terjadi? Berbagai literatur dan analisis pakar tentang kejatuhan raksasa binis, mengerucut pada dugaan bahwa penyebab utamanya adalah faktor internal, ketimbang faktor eksternal. Dalam artikel sebelumnya, saya menyebutnya Self Disruption.

Sore ini, saya membongkar lemari buku dan menemukan kembali salah satu buku favorit saya, The Self-Destructive Habits of Good Companies oleh Jagdish Sheth. Sudah 10 tahun usianya, namun esensinya masih sangat relevan dengan zaman now. Dalam karya ini, Sheth menjelaskan 7 poin penting penyebab jatuhnya para Titan.

1. Pengingkaran, terjadi ketika perusahaan mapan menyakini bahwa sejarah dan strategi sukses yang membawa sukses di masa lalu adalah segala-galanya. Fenomena glorifikasi masa lampau yang berlebihan sehingga pihak manajemen tidak lagi mudah menerima hal baru. Mereka sangat lamban dalam merespon, bahkan cenderung acuh tak acuh dengan perubahan yang terjadi seperti lifestyle masyarakat, budaya atau teknologi.

2. Arogansi, terjadi ketika perusahaan berada pada fase puncak kematangan. Segudang prestasi telah diraih, merasa paling top, dan gemar memamerkan kehebatan diri secara berlebihan. Arogansi manajemen akan mematikan proses belajar organisasi karena mereka sudah berhenti mendengarkan masukan, kritik baik dari karyawan maupun stakeholder luar. 

3. Puas diri, sebuah sikap yang banyak menghantui perusahaan mapan dimana mereka telah merasa puas dengan pencapaian saat ini. Hidup di zona nyaman yang mungkin akibat stabilnya tingkat pendapatan dan profit tahunan, keuntungan monopoli atau relatif tidak ada pesaing dan dukungan politis pemerintah. Sikap yang membuat tim manajemen enggan untuk berpikir lebih, apalagi merisikokan diri dalam proyek-proyek inovasi. 

4. Terlalu mengandalkan kompetensi tunggal, menjalani bisnis, mencapai KPI yang sama sekian puluh tahun secara rutin, tanpa disadari sudah membangun habit, kebiasaan atau pola kerja tertentu secara kuat dan mengakar. Hal demikian berisiko mempersempit paradigma manajemen terhadap peluang-peluang lain, di luar normal yang mungkin lebih baik. Mereka tidak memiliki waktu yang cukup untuk memikirkan pengembangan dan diversifikasi.

5. Rabun jauh persaingan, bisnis masa kini bukan lagi bertaung dalam sebuah skema industri, namun telah menjadi arena. Artinya, mereka menghadapi pesaing-pesaing yang mungkin berasal dari industri yang berbeda. Saya dapat katakan bahwa pesaing toko buku bisa jadi sebuah cafe yang nyaman. Orang tidak selalu harus mengunjungi toko buku untuk mencari dan membeli literatur. Mereka bisa saja mengunjungi cafe dengan wifi yang kencang, sambil membeli ebook. Hanya berpikir sempit (industrial) akan membuat kita babak belur saat memasuki arena.

6. Obsesi volume, terjadi ketika perusahaan sudah duduk di posisi nyaman, kondisi puncak cenderung makin mudah untuk terjebak dalam inefisiensi. Segalanya telah tercukupi, margin laba juga besar. Saya memperhatikan beberapa perusahaan yang sangat kuat struktur permodalannya, cukup gegabah dalam berinovasi. Mereka berpikir memiliki banyak uang untuk melakukan ini itu, tanpa memepertimbangkannya dengan matang.

7. Fanatisme area, perusahaan menciptakan divisi untuk memudahkan pengawasan dan pertanggungjawaban. Namun ketika perbedaan divisional ini dibangun atas ego yang berlebihan, yang terjadi adalah konflik kepentingan yang tak pernah berakhir. Tak ada kerjasama dan sikap saling menolong yang baik. Dalam konflik operasional, antarbagian saling menyalahkan, saling bersaing, dan kehilangan sinerji. 

Demikian 7 gejala yang berpotensi menghancurkan bisnis kita. Pelajari dengan saksama, semoga kita tetap selalu waspada dan belajar.

1 komentar:

  1. Assalamualaikum...
    Salam kenal. Saat ini, bisnis jualan produk digital semakin menjamur.

    Itu adalah peluang besar bagi siapapun yang ingin meraup penghasilan jutaan rupiah dari bisnis digital.

    Kami tim Autopostbisnis menawarkan Waralaba Bisnis PLR.

    Apa itu Waralaba Bisnis PLR?
    Silahkan kunjungi salespage kami
    https://autopostbisnis.com/waralaba-toko-plr

    Waralaba kami sudah masuk ke marketplace Ratakan.

    Tujuan kami membangun sistem Waralaba Bisnis PLR adalah untuk membantu teman-teman dalam menjalankan bisnis PLR.

    Terimakasih,
    Salam Sukses
    https://autopostbisnis.com

    BalasHapus