Minggu, 14 April 2019

Tips Menerapkan Hidup Ikigai

pic: yogadigest
Ikigai, makin banyak orang membicarakannya. Filosofi Zen ini dipercaya sebagai salah satu pemicu kebahagiaan dan umur panjang. Ikigai diartikan sebagai alasan ada. Ikigai adalah sebuah cara pandang dan cara sadar tentang tujuan hidup, termasuk bekeluarga, bekerja, dan beraktivitas lain, kemudian menjalaninya dengan segenap pikiran dan tubuh yang selalu berselaras. 

Ikigai dapat dilatih mulai dari hal-hal paling sederhana seperti saat Anda makan, makanlah secara penuh. Tidak ada distraksi lain. Hindari bicara, membuka gadget, atau memikirkan hal lain. Hanya makan saja, merasakan sensasi yang terjadi di hidung, mulut, tenggorokan, dan perut. Saat Anda bekerja membalas email, fokus saja pada pekerjaan tersebut. Saat Anda memimpin rapat target penjualan, tidak perlu membahas hal lain yang tidak berhubungan. Fokus dan hadirlah pada topik target penjualan. Ikigai adalah tentang menikmati, bukan ketergesaan dan multitasking. Jika Anda mendapat banyak pekerjaan yang harus dislesaikan, lakukan satu persatu. Dengan demikian kesadaran diri Anda akan terlatih. Jika Anda sadar diri, maka Anda lebih mudah untuk menyadari, memahami dinamika di sekitar Anda.

Chado atau upacara teh Jepang adalah salah satu contoh penerapan Ikigai, Setiap proses dinikmati, dihayati, dan dihargai. Profesionalisme sebagian besar orang Jepang bersumber dari Ikigai. Mereka larut dan hadir dalam pekerjaannya, apapun itu (baca: 55 Menit Pelajaran dari Supir Bis). Merenungkannya, saya mulai menyadari pagelaran Wayang Kulit sebagai salah satu implementasi Ikigai versi lokal. Dalam satu pentas, bisa memakan waktu 5 hingga 8 jam. Semua berjalan tanpa tergesa, harmonis, bermakna, dan namun tetap enerjik. Perpaduan seni Dalang dan Karawitan yang menuntut kesempurnaan dalam kepekaan dan empati. Kesadaran akan peran diri yang menentukan peran pemain lain. Perhatikan upacara dan prosesi budaya-budaya lokal kita yang selalu menyiratkan seni lambat, kenikmatan, pemaknaan atau "Ikigai". Sesuatu yang mungkin tidak menarik bagi generasi modern, instan, tergesa, multitasking, dan hanya peduli pada hasil akhir. Mungkinkah kita memang sedang memasuki era hilangnya kesadaran? Ini adalah kemajuan atau kemunduran peradaban? Ikigai menciptakan peradaban yang membentuk hidup lebih berkualitas. Peradaban yang juga mulai "luntur" di negara asalnya.

Saya mencatat 3 poin utama bagaimana kita menerapkan Ikigai dalam hidup kita:

Menyadari Momen
Kesadaran adalah inti dari kehidupan. Kesadaran adalah selarasnya antara pikiran dan tubuh. Sebagai contoh, saat mengendarai kendaraan, berkendaralah. Sadar jika kaki sedang menginjak gas, sadar tangan sedang membelokkan setir, sadar di depan ada emak-emak naik motor, sadar ada truk ingin mendahului dari sisi kanan. Hanya mengendarai, tanpa bersenda gurau, tanpa membalas telepon. Segala bentuk kecelakaan berawal dari ketidakhadiran kesadaran. Apapun yang sedang Anda lakukan, lakukan dalam keadaan sadar. Anda membaca chat, mencermati angka pada laporan, menyapu lantai, lakukan dalam kesadaran. Hadirlah di sana. Jangan distraksi diri dengan mencoba multitasking. Anda akan kehilangan fokus dan konsentrasi. Anda dapat melatihnya dengan meditasi menyadari nafas.

Menikmati Momen
Apapun profesi Anda, pegawai, pengusaha, pelajar, ibu rumah tangga, itulah jalan hidup Anda. Mungkin sekaligus menjadi alasan Anda ada. Semuanya baik jika dijalani dengan niat dan cara yang baik. Jalani pekerjaan sebagai ibadah Anda. Bekerja di kampus, saya berjumpa dosen-dosen senior yang begitu menikmati pekerjaannya. Mereka rela mendengar curhat mahasiswa hingga lewat waktu. Mereka mengajar dengan enerji yang hebat. Mereka berinovasi total untuk membantu siswanya. Mereka yang telah menemukan Ikigai. Dalam menjalani hidup, kita tak akan lepas dari suasana hati suka-duka. Senang, sedih, takut, marah. Nikmati dan biarkan datang dan pergi di pikiran tanpa menumpanginya. Melekatinya adalah penderitaan. Semua yang terjadi adalah bagian dari ujian hidup untuk menyempurnakan diri. Nikmati segalanya tanpa melekatinya.

Mensyukuri Momen
Selalu syukuri yang Anda miliki. Kesehatan, keluarga yang baik, teman yang selalu menghibur, bahkan Tuhan yang selalu mengasihimu. Memang tidak selalu harapan menjadi kenyataan. Apa yang kita inginkan tak selalu tercapai. Penderitaan sering terjadi bukan karena kita tidak memiliki, namun karena kita menuntut, berambisi, obsesif, dan reaktif terhadap apa yang tidak kita miliki. Bukan berarti tak perlu berharap dan berusaha, namun selalu terima dan syukuri apapun hasilnya. Syukur adalah keikhlasan sekaligus optimisme. Tidak semua yang baik bagi kita adalah baik bagi Tuhan. Namun apa yang baik bagi-Nya, pasti akan bagi kita. Bersikap Tawakal, entah kemana Tuhan yang Maha Asyik membawa jalan Anda. Jika burung liar saja dipelihara, apalagi Anda, ciptaan mulia.

Semoga bermanfaat!

1 komentar: