Jumat, 22 Maret 2019

Spirituality-based University, H.E.R.O sebagai Pilar Fundamental (Bagian 2)

pic: emerging-europe
Baru saja demam Revolusi Industri 4.0, eh... Jepang sudah merilis Society 5.0. Society 5.0 disebut sebagai inovasi berbasis teknologi yang berpusat pada manusia (technology based human centric innovation). Artinya, sejak saat ini, seluruh bentuk inovasi yang dikembangkan, terutama oleh pemerintah akan ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia. Sebentar lagi, Artificial Intelligent, robot, sistem otomasi, basis cloud, serta inovasi lain akan menjadi asisten pribadi manusia. Pekerjaan manusia menjadi lebih mudah, harapan hidup manusia lebih lama, dan produktivitas di segala bidang akan meningkat tajam. Wow!

Bagaimana dengan kita? Masih nyinyirin capres? 

Society 5.0 merupakan satu dari manifestasi nyata spiritualitas. Bahwa segala temuan ditujukan untuk kebaikan dan peningkatan kualitas hidup manusia. Spirit yang sejatinya harus tertanam dalam seluruh aspek kehidupan, utamanya dalam bidang pendidikan.

Pada artikel sebelumnya, saya menulis prolog sekaligus mempertayakan bagaimana penerapan SBC menjadi Spirituality-based University (SBU)? Berliterasi tentang spiritualitas, membawa saya pada kesimpulan 4 pilar utama bagi perguruan tinggi agar tetap berintegritas pada jalur kemuliaannya, yaitu  pembentuk peradaban bangsa. Keempat pilar itu adalah Human centric innovation, Excellent services, Reliability, dan Organisation awareness atau disingkat HERO.

1. Human centric innovation
Siklus organisasi seperti kurva distribusi normal. Ada masanya merintis, tumbuh, kembang, hingga posisi puncak. Setelahnya, menuju tahap penurunan dan pada saatnya akan mati. Perjalanan organisasi menuju fase mapan dan matang sesungguhnya perlu diwaspadai. Salah satu tanda memasuki fase ini adalah mulainya terjadi stagnasi seperti cenderung tetapnya jumlah murid, lunturnya gairah kerja, tidak bisa berkembangnya kapasitas, hingga melambatnya bahkan mandegnya pertumbuhan revenue.  Satu-satunya cara mencegah hal ini adalah dengan menciptakan "rintisan" kembali. Rintisan baru yang ditandai dengan inovasi. Inovasi adalah proses penciptaan kurva baru yang akan menjaga organisasi dari kepunahan.

Dasar dari konsep inovasi adalah penciptaan value bagi pengguna. Demikianlah dalam konteks dunia pendidikan. Inovasi hanya ditujukan untuk kebaikan umat manusia, khususnya sivitas akademika yang terdiri dari dosen, staf administrasi, mahasiswa, alumni, serta seluruh stakeholder terkait. Dibutuhkan terobosan-terobosan baru yang memiliki kausalitas dengan peningkatan kualitas hidup secara rasional. Diperlukan semangat baru dan kesadaran penuh dari segenap sivitas akademika tentang pembangunan budaya inovasi. Bagaimana berselarasan dengan teknologi dan zaman seperti spirit Society 5.0. Inovasi yang dibagun dari hulu ke hilir, sejak bertemu dengan calon mahasiswa atau calon stakeholder, kemudian bagaimana terobosan dalam program terkait Tridharma seperti disain kurikulum progresif dan gaming & learning experience yang baik.


2. Excellent services
Sebagai "bisnis" jasa, perguruan tinggi wajib menawarkan layanan prima, baik pada mahasiswa, rekanan kerjasama, termasuk layanan pada karyawannya. Kita tengah memasuki experince-driven world. Dunia bisnis makin menyadari peran srategis penciptaan pengalaman seperti telah dirintis oleh Apple Store yang menawarkan konsep live touch and try, sekaligus karyawan sebagai helper/ assistant. Keputusan dalam penilaian tidak lagi hanya berdasar fungsi dari produk (barang/ jasa), namun juga layanan.

Dalam buku Exist or Extinct, saya menulis 3 jenis pengalaman, yaitu physical, emotional, dan spiritual experience. Mana yang penting? Jelas ketiganya penting. Namun hanya emotional dan spiritual experience yang tidak mudah ditiru. Ini adalah pengalaman yang unik dan melekat, masuk hingga ke ranah jiwa dan rasa. Saya mencoba bertanya pada kawan-kawan SMP, apa yang kalian ingat dari masa sekolah dulu? Tak satupun menyebutkan gedung yang jelek, koleksi perpustakaan yang kurang, atau tatanan ruang kelas. Artinya, mereka melupakannya. Mereka lupa pengalaman-pengalaman yang bersifat fisik. Mereka lebih mengingat pengalaman dalam kisah-kisah yang seru, dimarahin guru BP, sudut taman tempat pacaran, atau penemuan jati diri saat ngopi bersama pak guru. Kelas-kelas yang menginspirasi masa depan, kelas yang merayakan bakat anak-anak, kelas yang menghargai kehidupan adalah pengalaman itu sendiri. Inilah pengalaman emosional sekaligus spiritual yang tak lekang oleh waktu, bahkan nyaris tak bisa disaingi.

"Saya berasal dari SMA "ABC", awalnya saya kaget masuk UBAYA. Sungguh berbeda kondisinya. Sangat multikultur dan perbedaan itu bisa hidup bersama. Saya yang awalnya risih bergaul dengan orang beda agama, sekarang teman-teman saya agamanya macam-macam. UBAYA adalah gambaran kecil Indonesia." Ini adalah pernyataan salah seorang mahasiswa pascasarjana di tempat saya bekerja. Memang, perbedaan yang ada tidak sekadar diterima dan dimaklumi, namun dengan upaya sadar , dirawat, karena demikianlah realita kehidupan.


3. Reliability beyond accounting
Kepada siapakah sebenarnya sebuah perguruan tinggi itu bertanggung jawab? Yayasan, pemerintah, atau pebisnis pemilik? Ya, mungkin saja benar. Setiap tahun, perguruan tinggi yang baik menjalankan kegiatan penganggaran dan monitoring internal sebagai refleksi sekaligus inspirasi perbaikan. Ini adalah bentuk pertanggungjawaban umum yang bersifat mandatori. Selain itu, mereka juga menjalani proses penilaian dan standarisasi dari pihak eksternal. Menariknya, saat ini berbagai perguruan tinggi gemar berlomba meraih akreditasi dan sertifikasi. Demi apa?

Memang benar, performa keuangan itu penting, pengakuan juga penting. Namun, jangan sampai kedua jenis target tersebut mendistorsi misi mulia bahwa perguruan tinggi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Bukan semata alat akumulasi keuntungan demi kepuasan pebisnis apalagi alat politik. Pelita inilah yang harus dijaga selamanya. Sebuah kesadaran pertanggungjawaban kepada negara dan bangsa. Perguruan tinggi bertanggung jawab pada nasib generasi muda bangsa. Perguruan tinggi bertanggung jawab kepada stakeholder, memberi value, mencerahkan, dan membangun peradaban yang baik, manusia seutuhnya. Kesadaran yang diturunkan pada segenap sivitas akademikanya.

Dan pada akhirnya, pertanggungjawaban sebuah perguruan tinggi harus ditujukan pada Tuhan Yang Maha Esa. Atas restuNya kita ada. Sudah sepatutnya, manajemen universitas bekerja sebagai wujud ibadah, ritual suci yang jauh melampaui sekadar angka-angka keuangan. Demikianlah prinsip beyond accounting.


4. Organization awareness
Sebagai bagian dari kehidupan, perguruan tinggi harus memiliki kesadaran tentang keterhubungan kosmik atau omni connectivity. Hidup adalah keterhubungan antarelemen yang ada di alam semesta. Apa yang kita lakukan akan berdampak pada hal lain. Demikian pula sebaliknya. Sebagai contoh terjadinya peningkatan permukaan laut akibat pencairan es di kutub. Pencairan akibat pemanasan global, yang diakibatkan oleh pola hidup manusia. Universitas harus berani tampil sebagai penyuara keberlanjutan alam. Pengembangan keilmuan, kegiatan Tridharma dan berbagai skema kerjasama dengan pihak ke-3 ditujukan pada kesinambungan alam, manusia, hewan, tumbuhan, dan lingkungan. Ini adalah implementasi dari kesadaran dunia besar atau dalam ilmu Tasawuf disebut Jagad Agung. Bagaimana memulainya?

Awali dengan membangun kesadaran organisatoris secara internal. Bahwa apapun yang terjadi, adalah akibat hubungan sebab-akibat dan interaksi seluruh elemen di dalam organisasi. Sebagai contoh, kita mendapati turunnya secara signifikan jumlah pendaftar. Siapa yang salah? Tim marketing? Pemimpin tim marketing? Bagian HRD yang tidak memberi pelatihan lanjutan, atau pimpinan rektorat yang jarang memberi arahan? Bisa jadi semuanya saling berkolerasi. Segala masalah dipandang secara holistik. Bahwa keberhasilan/ kegagalan di satu divisi juga dipengaruhi andil divisi lain. Dalam tulisan sebelumnya, saya memaparkan bagaimana responsibility justru berpotensi menciptakan ego divisi dan jurang sinerji. Berpikirlah menciptakan value center, dimana setiap divisi juga bertanggungjawab untuk memberi layanan, value, dukungan kepada divisi lain. Ini adalah kesadaran tentang Jagad Alit.


Dengan merawat keempat pilar ini sebagai hal yang paling fundamental, semoga dunia pendidikan tinggi di Indonesia lebih baik. H.E.R.O akan menjaga kemurnian hati tim manajemen dan seluruh sivitas perguruan tinggi, seperti matahari menjaga siang, dan bulan menjaga malam.

Semoga bermanfaat!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar