Sabtu, 16 Maret 2019

Leres Ati dan Laras Ati, Rahasia Komunikasi Positif

pic: momentoflove
Dalam seminar mindfulness, seorang peserta bertanya, "Pak, kadang kita melakukan hal yang baik, misalnya menasehati agar hidup seseorang lebih baik. Namun respon orang itu malah sebaliknya. Kebaikan kita tidak dianggap sebagai kebaikan, malah sebaliknya. Lalu masihkah kita perlu berbuat baik pada orang tersebut?"

Setidaknya, ada 2 dimensi dalam menyampaikan kebaikan. Pertama leres ati (hati yang benar). Semua kebaikan didasari niat tulus yang bermuara dari nilai-nilai kebenaran yang bersifat transenden. Tanpa ketulusan, kebaikan hanya sebatas kemunafikan atau kegiatan transaksi. Pastikan memiliki leres ati sebagai dasar dari pemikiran sebelum bersikap atau bertindak. Dalam menegur atau menasehati seseorang, pastikan niat dan hati Anda murni untuk kebaikan, bukan yang lain.

Selanjutnya, gunakan cara yang tepat saat menyampaikan niat baik Anda. Seleres-leresnya niat hati Anda, jika disampaikan dengan cara yang salah, justru berpotensi memicu konflik. Terkadang, tidak diterimanya niat baik bukan karena niat itu sendiri, namun hanya masalah cara komunikasi. Pastikan Anda memiliki sikap laras ati (hati yang berselaras). Selalu pahami siapa lawan bicara Anda dan kemudian gunakan cara yang paling tepat untuk menyampaikan niat baik Anda. Ada orang yang cukup peka, sehingga Anda hanya perlu sedikit upaya untuk menyinggungnya. Ada pula orang yang tidak cukup peka, dan Anda perlu lebih terus terang dalam menyinggungnya. Lakukan penyelarasan yang tepat dengan lawan bicara agar niat baik Anda dapat tersampaikan dengan baik.

Semoga bermanfaat!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar