Rabu, 06 Februari 2019

Spirituality-based University, Renungan Pendidikan dan Peradaban (Bagian 1)

pic: contentcoms
Suatu ketika, Prof Wibisono Hardjopranoto, Guru Besar Universitas Surabaya mengatakan bahwa pendidikan pada akhirnya akan membentuk peradaban. Pendidikan, khususnya pendidikan tinggi adalah pilar kemajuan sebuah bangsa. Lalu, bagaimana dengan nasib pendidikan dan peradaban kita?

Sudah cukup kasus-kasus kriminal intelektual di negeri kita menjadi tamparan batin. Jual beli ijazah, joki tugas akhir, pemalsuan dokumen, plagiarisme, hingga isu-isu radikalisme dan tindak asusila yang baru saja hangat. Semua demi apa? Status, kekuasaan, uang, kepangkatan, dorongan nafsu? 

Pemudaran kemuliaan perguruan tinggi tak hanya berdampak pada citra universitas, namun juga masa depan bangsa. Sudah saatnya, setiap insan pendidikan tinggi kembali sadar, eling lan waspodo, bahwa ruang pendidikan bukan media pembangun kekuasaan, politik praktis, maupun alat kapitalisme. Ruang pendidikan adalah tiang agung peradaban dan kemajuan bangsa. 

Mungkin saja, ego adalah akar masalahnya atau... 

Saya belajar banyak dari guru pengusaha Sudhamek, Chief dari korporasi ternama Garuda Food tentang konsep bisnis yang sangat mulia. Beliau menyebutnya, Spirituality-based Company. Dengan konsep spiritualitas dalam bisnis, Sudhamek berhasil dinobatkan sebagai satu dari lima puluh orang terkaya di Indonesia dengan nilai $920M (Forbes). 

Spiritualitas, bukan hal yang mudah disampaikan, kadang malah jadi bahan candaan. Ada yang bilang, spiritualitas hanya ada di tempat ibadah. Di kantor, ya saatnya bicara realita, bisnis dan keuntungan. Ojo dumeh!, Perlu dipahami, spiritualitas bukanlah agama. Spiritualitas melampaui sekat agama. Memang benar, dengan beragama secara benar, seseorang dapat mencapai spiritualitas yang lebih baik.

Spiritualitas adalah tentang nilai-nilai kemanusiaan universal. Tentang penyadaran diri adanya jagad kecil dan jagad besar, yang saling terhubung. Kesadaran diri tentang keIlahian. Sebagai contoh sederhana, seseorang yang memiliki spiritualitas yang baik akan menganggap bahwa bekerja, mengajar, menjadi pimpinan, menjadi mahasiswa adalah ibadah. Jika demikian kesadarannya, insyaallah masalah-masalah yang telah kita singgung di atas dapat dihindari.

Nyatanya, saat ini, perusahaan sekelas Google (Tan, Google) dan 3M juga menerapkan nilai yang sama. Nilai-nilai spiirtualitas berbuah kesejahteraan bersama. Bahkan universitas sekelas Stanford telah membangun CCARE, The Center for Compassion and Alturism Research and Education. Belajar dari mereka, syukur, di tempat saya bekerja, telah dibangun mata kuliah Akuntabilitas dan Spiritualitas dalam Bisnis, wajib bagi mahasiswa magister akuntansi, yang semoga makin luas dampak baiknya.

Jika nilai-nilai spiritual diyakini dan terbukti membawa kebaikan lebih besar di perusahaan yang notabene profit-oriented. Mungkinkah, ini saatnya perguruan tinggi khususnya di Inonesia yang memang dibangun dari nilai arif Pancasila, kembali berselaras diri dengan nilai-nilai spiritualitas, untuk terus membangun peradaban yang lebih baik? Mungkinkah sudah saatnya civitas akademika bergerak seirama Hamemayu Hayuning Bawono, serius menata konsep yang saya sebut Spirituality-based University??? 


bersambung...

2 komentar:

  1. Ilmu merupakan harta milik masyarakat, cermin dari kemajuan peradaban; melalui tugas mulianya sebagai pencari kebenaran untuk dipersembahkan bagi umat dan alam semesta tanpa SARA, ia selalu "bertanya" berusaha menemukan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih pak Prof. Belajar sepanjang hayat bagi kebaikan semesta. Mohon bimbingannya selalu

      Hapus