Rabu, 20 Februari 2019

Meditasi Bima Suci: Menggapai Mimpi, Terbebas dari Penderitaan


pic: everydayfamily
Sahabat, tulisan ini merupakan pendalaman dari prolog saya pada 2 artikel sebelumnya...

Dalam wiracarita Mahabarata, dikisahkan atas permintaan Dorna, Bima mencari 2 "benda" keramat, KAYU GUNG SUSUHING ANGIN dan TIRTA PAWITRASARI MAHENING SUCI. Perjalanan pertama membawanya menuju gunung Candramuka.

"Tiba di Gunung Candramuka yang konon sangat berbahaya, Bima dihadang dua raksasa. Tarung sengit terjadi dan dua raksasa tumbang, berubah wujud menjadi Dewa Indra dan Bayu. Bima sujud sembah, mendapat pencerahan dan aji-aji Druwenda Mustika Manik Candrama. "Wahai Werkodara ksatria Pandawa, Kayu Gung Susuhing Angin sebenarnya adalah simbol tubuh kita yang hidup melalui nafas/ angin. Angin yang masuk melalui candra muka atau wajah".   
Melanjutkan permintaan kedua, Bima melesat ke dalam samudra dengan cincin sakti. Entah dari mana, tetiba naga raksasa melilit tubuhnya. Makin melawan, naga itu makin melilitnya kencang. Bima tak berdaya. Ia menjadi pasrah, ikhlas, dan ajaib terjadi. Naga itu justru perlahan melepas jeratan dan menjadi lengah. Pertempuran sengit kembali terjadi, kuku Pancanaka Werkodara menusuk mulut naga hingga hancur sebelum menghilang. Sesaat, muncul sosok dewa kerdil, menyebut dirinya Dewa Ruci. Hanya setinggi jari tangan Werkodara.  Untuk mendapat Tirta Pawitra Sari, Werkodara harus ke dalam tubuh Dewa Ruci melalui telinga kirinya. Mistis, dan Bima berhasil. Dewa Ruci sebenarnya adalah wujud jatidiri Bima. Wujud kembalinya Bima pada "siapa aku". Pengalaman spiritual tentang jagad alit, micro cosmos. Penemuan keilahian dalam diri manusia. Bima lahir baru menjadi sosok yang Manunggaling Kawula-Gusti. Ia telah "selesai" dengan dirinya".

Apa sebenarnya Kayu Gung Susuhing Angin? 

Sederhananya, jimat pertama ini merupakan simbol niat agung (besar) yang hanya dapat diraih melalui nafas (angin). Nafas adalah tanda kehidupan. Tubuh adalah wadah perputaran udara, masuk dan keluar, yang sejatinya patut disyukuri. Susuhing angin berusaha memberi pemaknaan lebih dalam, lebih dari sekadar hidup dan bernafas. Namun, lebih pada tata kelola nafas. Dalam berbagai keyakinan, teknik ini disebut meditasi, saat teduh, topo broto, atau semedi. Menyadari, merasakan, dan mensyukurinya sebagai anugerah Yang Maha Esa. Kemudian menyadarinya, segala upaya pencapaian niat yang besar harus didasari kebiasaan hidup meditatif, memekakan diri pada segala sesuatu.
pic: ngelmu.id

Kemudian, apa itu Tirta Pawitra Sari Mahening Suci?

Sebelumnya, kita maknai terlebih dahulu, mengapa harus menaklukkan naga? siapa Dewa Ruci, dan mengapa Bima harus masuk telinga kirinya? Di berbagai ajaran agama, ular atau naga merupakan simbol nafsu dan dosa, yang selalu berusaha membelenggu kehidupan dan membuatnya tak berdaya, menderita. Hanya dengan hidup meditatif, naga itu akan perlahan lepas. Kedua, Dewa Ruci adalah Bima. Sedangkan telinga adalah simbol dari pendengaran. Bahwa iman dan kepercayaan dimulai dari pendengaran. Untuk benar menemukan jatidirinya, Bima harus membuka telinga batinnya, hening, dan menerima. Bima berhasil masuk dan manunggaling dengan Dewa Ruci yang sebenarnya merupakan simbol bersatunya, manusia ksatria Bima dan Dewa, atau kita dengan Tuhan. Peleburan yang disebut Manunggaling Kawula-Gusti atau tahap manusia mencapai Makrifat.

Tirta adalah air. Air adalah kehidupan sekaligus pembersihan/ penyucian. Masuknya Bima ke samudra adalah simbol "pembaptisan" pembersihan dan heningnya batin. Dalam kehidupan, simbol ini mengajarkan bahwa niat yang besar harus didasari oleh batin yang bersih dan suci. Tidak ada nafsu yang membelenggunya. Memang benar, dalam upaya hidup meditatif, masalah, godaan, selalu saja muncul. Namun Bima telah mengajarkan bahwa kesadaran, keikhlasan, batin yang jernih, dan rasa syukur, niscaya akan membebaskan manusia dari kecelakaan dan penderitaan. 

Pada akhirnya, yang terutama dari pesan Dewa Ruci alias Bima Suci adalah, ketika kita sadar bahwa Tuhan tinggal dalam diri kita, dan diri kita tinggal dalam Tuhan, maka kita akan menyadari bahwa segala bentuk pekerjaan adalah ibadah. Awali hari dengan niat baik, jalani dengan cara yang baik, dan ikhlaskan apapun hasilnya. Dalam segala suka dan duka, Tuhan juga telah memperhitungkannya. Karena Ia yang Maha Kuasa. Jika burung saja Ia pelihara, apalagi Anda, makhluk yang termulia. 


Selamat beraktivitas sekaligus beribadah!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar