Kamis, 31 Januari 2019

Merawat Spirit Kebangsaan dan Evaluasi Reformasi Indonesia 1998

pic: kompasiana
Menjelang Bratayuda (perang antara Pandawa dan Kurawa), Duryodana, atas ide licik Sengkuni membujuk sang guru Drona agar meminta muridnya, Werkodara pergi mencari hal-hal tersulit dalam jagad raya. Werkodara, ksatria terkuat itu sengaja "diasingkan" agar tidak turut campur dalam perang. 

Sebagai murid berbudi luhur, Werkodara alias Bimasena menuruti pinta Drona. "Temukan Kayu Gung Susuhing Angin di puncak Gunung Candramuka, tepatnya dalam goa Sigrangga. Juga, Tirta Pawitrasari Mahening Suci di samudra Minangkalbu", pinta Sang Guru.

Mengetahui rencana busuk bala Kurawa itu, para ksatria Pandawa mencegah Werkodara. Bahkan sosok Anoman, sedulur tunggal Bayu juga hadir menghalangi Werkodara. Semua tak berhasil. Tekadnya, dedikasinya bulat untuk Drona.

Tiba di Gunung Candramuka yang konon sangat berbahaya, Werkodara dihadang dua raksasa. Tarung sengit terjadi dan dua raksasa tumbang, berubah wujud menjadi Dewa Indra dan Bayu. Werkodara sujud sembah, mendapat pencerahan dan aji-aji Druwenda Mustika Manik Candrama. "Wahai Werkodara ksatria Pandawa, Kayu Gung Susuhing Angin sebenarnya adalah simbol tubuh kita yang hidup melalui nafas/ angin. Angin yang masuk melalui candra muka atau wajah. Dan goa Sigrangga adalah 9 lubang tubuh manusia yang sarat dengan dosa jika tidak dijaga. Jagalah semuanya itu". 

Melanjutkan permintaan kedua, Werkodara melesat ke dalam samudra dengan cincin sakti. Secepat kilat, naga raksasa melilit tubuhnya. Pertempuran sengit kembali terjadi hingga kuku Pancanaka Werkodara menusuk mulut naga hingga hancur sebelum menghilang. Muncul sosok dewa kerdil, menyebut dirinya Dewa Ruci. Hanya setinggi jari tangan Werkodara. Untuk mendapat air suci, Werkodara harus ke dalam tubuh Dewa Ruci melalui telinganya. Mistis, dan Werkodara berhasil memasukinya. Dewa Ruci sebenarnya adalah wujud jatidiri Werkodara. Wujud kembalinya Werkodara pada "siapa aku". Pengalaman spiritual tentang jagad alit, micro cosmos. Penemuan keilahian dalam diri manusia. Werkodara berhasil dan ia lahir baru menjadi sosok yang menunggaling kawula gusti. Ia telah "selesai" dengan dirinya.

Kedua perjalanan mistik Werkodara sebenarnya adalah simbol pencarian jatidiri yang justru membuat Werkodara menjadi makin kuat. Werkodara kembali dan pada akhirnya, bersama keempat saudara Pandawa berhasil menaklukkan Kurawa.

Itulah analog arif yang diambil Prof Wibisono Hardjopranoto dalam seminar lintas agama, Merawat Spirit Kebangsaan dan Evaluasi Reformasi Indonesia 1998 di vihara BDC 30 Januari 2019. Baginya, berbagai fenomena radikalisme, gerakan separatis, isu diskriminasi, kekerasan, dan segudang kasus drama di Indonesia tumbuh semakin subur seiring makin keringnya jatidiri bangsa. Ulasannya terstruktur, kaya literasi, mengalir, dan menghibur... Memasuki alam karya ini, bagai berdialog dengan Dewa Ruci, jati diri bangsa yang telah lama terendam samudra.

....
.... 


***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar