Senin, 07 Januari 2019

HEPI, Rahasia Kekuatan Tokyo Disneyland/ Sea

Tak diragukan lagi budaya kerja grup Disney yang mengutamakan profesionalisme, kesempurnaan, dan berorientasi pada segmen keluarga. Begitu pula dengan gaya hidup orang Jepang yang mengupayakan Ikigai dan humanisme dalam segala aspek. Apa yang terjadi jika keduanya digabungkan?

Melanjutkan tulisan saya sebelumnya, saya merencanakan kejutan keluarga mengunjungi Tokyo Disneyland dan Disneysea. Rasanya, seperti melihat sebuah keajaiaban nyata di depan mata. Sangat indah. Ini adalah kali kedua kunjungan saya ke sana. Tahun lalu, tidak cukup beruntung, bertepatan dengan terjadinya angin taifun. Tahun ini, bersama keluarga saya menyempatkan sepanjang hari hingga malam di sana. Wahana demi wahana, parade demi parade, yang terbaik tak boleh terlewat. 

Dari sekian banyak spot yang kami nikmati, semua nyaris sempurna. Tak ada lampu sorot yang tak nyala pada teater Fantasmic, tak ada goresan cacat berarti pada patung-patung di Small World, tak ada kesalahan teknis pada pabrik Monster Inc., 20.000 Leagues Under The Sea, atau teater Triton. Dukungan para stage performer (julukan pekerja) yang ramah, profesional, enerjik, ekspresif, dan friendly menambah suasana hangat di suhu 4' C. 

Berbeda dengan Disneyland di negara lain, Tokyo Disneyland/ sea merupakan wujud nyata perpaduan budaya kerja Disney dengan gaya hidup orang Jepang. Saya memperhatikan kualitas Disneyland di beberapa negara di Asia, dan (menurut pengalaman pribadi) Tokyo memang yang terbaik. It's amaze me too much! Apa yang mereka lakukan?

1. Human
Orang Jepang terkenal helpful namun cuek. Artinya, mereka pasti akan bantu jika kita memintanya. Jika tidak, ya mereka akan menghindari kontak dan berkonflik dengan kita. Dalam area Disneyland/ sea, Anda akan menjumpai stage performer yang sangat ramah, friendly, helpful, dan proaktif. Entah berapa puluh kali dalam dua hari kunjungan, kami mendapat pertolongan dari para stage performer. Saat kami mencari sandaran kamera, mereka tanggap menawarkan diri untuk mengambil foto kami. Saat kami tersesat, mereka proaktif mendatangi kami. Bahkan saat ransel saya berisi passpor dan dompet tertinggal di Baghdad (lokasi Aladdin), mereka menyimpannya dengan baik. Nyaman dan aman, itulah yang kami rasakan di sana. Mereka benar-benar telah dilatih untuk memperlakukan manusia selayaknya manusia.

2. Energy
Orang Jepang terkenal ekspresif dalam berbahasa tubuh. Karakter ini terbawa dalam layanan Tokyo Disneyland/ sea. Ketika menyapa, mereka benar-benar memancarkan enerji keceriaan. Entah mungkin juga ditopang oleh faktor kesungguhan hati. Enerji sangat terasa pada suguhan parade serta teater. Para performer begitu powerful ketika menari, sesekali menyapa penonton, bergerak ke sana ke mari. Entah berapa kali dalam sehari mereka tampil. Tak kenal lelah dan tetap tersenyum. Kumpulan enerji kegembiraan yang saya percaya membuat atmosfer Disney di sana menjadi lebih hidup. Totalitas! 

3. Perfection
Dalam perjalanan pulang, duduk di bis saya berpikir, Disney buka jam 8 pagi dan tutup jam 10 malam. Setiap hari, tanpa libur. Lalu, kapan mereka melakukan pemeliharaan seluruhnya, perbaikan, pembersihan? Dengan lokasi yang sebesar itu, wahana yang banyak dan kompleks. Kemungkinannya hanya satu, pemeliharaan dilakukan diantara waktu tutup hingga sebelum buka kembali, alias lembur. Wow! Inilah yang menyadarkan saya, mengapa biaya masuk Disneyland/ sea relatif mahal. Mereka benar-benar mengupayakan kesempurnaan, tanpa cacat untuk kepuasan pengunjung. Begitulah ruh Walt Disney.

4. Ikigai
Sepanjang di sana, tak satupun terlihat performer yang bekerja sambil sibuk main gadget, atau ngobrol senda gurau dengan rekannya. Semua terlihat fokus dan tenggelam dalam pekerjaannya. Ketika bekerja, mereka bekerja. Ketika istirahat, mereka istirahat. Inilah penerapan prinsip Ikigai. Mereka paham peran dan tanggungjawab mereka. Mereka adalah stage performer yang melayani dan menyebarkan kebahagiaan bagi pengunjung. Saya terkejut melihat pemandangan seorang stage performer perempuan berlarian berputar membuka satu persatu pintu Jumping Jelly Fish (dari sekitar 15-20an) spot, agar proses pergantian pengguna bisa lancar, karena saat itu memang antrian cukup panjang. Hanya untuk membuka pintu saja, bahkan hanya untuk satu senyum pengunjung, mereka bergerak cepat, berlari.

Mengamati sendiri, memahami harmoni keempat etos kerja Human, Energy, Perfection, Ikigai (HEPI) tersebut, bukan berlebihan jika Tokyo Disneyland/ sea memang yang terbaik.


***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar