Kamis, 10 Januari 2019

55 Menit Pelajaran dari Sopir Bis

04.45 waktu Tokyo atau 02.45 WIB, saya bersama keluarga bergegas keluar dari apartemen tempat kami menginap, berjalan beberapa menit menuju halte bis di Stasiun Kameari. Itu adalah hari terakhir kami berlibur di sana dan saatnya kembali ke tanah air. Jalan begitu sepi, masih terhirup embun pagi yang murni, desiran angin musim dingin menyapu mengiringi langkah kami. Melewati fending machine, anak saya masih sempat membeli milk tea Royal hangat, minuman kemasan favoritnya selama di sana.

Pukul 05.00 tiba di halte bis menuju Haneda. Masih cukup waktu untuk beli sedikit roti sarapan pagi anak-anak, sebelum bis tiba pukul 05.20. Pukul 05.10 kami berdiri pada posisi antri. Terlihat bis yang akan membawa kami di ujung parkir. Mesinnya menyala dan sopir setengah baya (mungkin 55 hingga 60th usianya) sudah siap sedia di posisinya. Diam saja di sana seolah cuek pada kami yang berdiri menunggu. Waktu menunjukkan 05.19 dan perlahan bis itu berjalan menuju halte. Tepat 05.20 sudah siap angkut penumpang. Wow. 

Suspensi body sisi kiri perlahan turun. Ceessss.... bunyinya seperti rem angin, merendah agar kami para penumpang lebih mudah naik ke sana. Pak sopir segera turun dan menyapa kami, "ohayou gozaimasu" dan dengan bahasa yang asing intinya mempersilahkan kami naik. Penampilannya rapih, bersih, mengenakan sarung tangan putih dan topi. Melihat 2 koper bawaan kami yang besar ampun, ia cepat mengangkatnya dan memasukkannya ke dalam bagasi bawah. Kepalanya sempat terantuk body bis saat berusaha mengatur koper kami. Tak ada umpatan, tak ada penyesalan, terus menyelesaikan pekerjaannya. 5 menit kemudian bis berangkat menuju bandara internasional. Khusyuk ia mengendalikan bis,  fokus, halus, tidak tronjal tronjol.

Indah, perjalanan kami diiringi matahari terbit, hangat, menyisakan kenangan manis 10 hari di Tokyo bersama keluarga tercinta. Kami melewati beberapa halte pemberhentian. Seperti biasa, saya suka memperhatikan perilaku manusia. Di setiap halte setidaknya selalu ada 1 hingga 2 orang petugas. Mereka membungkukkan badan saat bis tiba. Pemandangan yang mengejutkan bagi saya. Sebegitunya mereka sangat menghormati penumpang. Oh, ternyata mereka bertugas membantu mengangkat dan mengatur barang bawaan penumpang baru ke dalam bagasi. Atau membantu mengeluarkan barang penumpang yang turun di sana.

55 menit tepat kami memasuki area bandara, terminal pertama, kedua, dan akhirnya sampai di terminal internasional. Pada pemberhentian terakhir, tak terlihat petugas menyambut kami. Pak sopir sendirilah yang turun, mengantar dan mengambil koper-koper berat kami. "Ternyata, banyak kakek bugar di Jepang", guman saya :) Ia mengucap terima kasih dan segera berangkat untuk rute selanjutnya. 

Pengalaman singkat itu menginspirasi saya 5 pelajaran yang sangat berharga, tentang: 
1. Ketepatan waktu, yang menjadi gaya hidup manusia negara maju. Tak peduli siapapun penumpangnya, harus mengikuti jadwal yang ada. Tidak ada nepotisme, tidak ada main suap, semua ditujukan pada kepentingan publik. 

2. Penampilan prima, yes, ini salah satu faktor kenyamanan kendaraan umum di sana. Seluruh sopir mengenakan seragam standar yang rapih dan harus bersih. Seluruh asesoris wajib dipasang dengan benar. Sedap dipandang dan bebas bau tak sedap (jika Anda dapat posisi duduk di sampingnya). 

3. Kesungguhan dalam bekerja, selama perjalanan di sana, saya memperhatikan sopir selalu khusyuk dalam mengendarai bis. Tak ada yang sambil main-main hape, ngobrol, atau puter musik keras-keras. Mereka terlatih untuk fokus dalam setiap pekerjaan, Ikigai.

4. Layanan yang baik, kesungguhan dalam bekerja akhirnya memicu layanan yang baik. Saya merasakan keramahan dan petugas-petugas yang bekerja sigap, cepat, tanggap, menyenangkan. Bahkan hingga para petugas halte, mereka helpful dan sopan. 

5. Santun berlalu lintas,  selama perjalanan, bahkan selama di Tokyo, saya belum pernah mendengar bel kendaraan, kecuali sirine ambulance. Nampaknya sopir bis di sana tidak hobi om telolet om. Bisa jadi bukan semata-mata karena sopir bis yang santun, namun juga pengguna jalan lain juga sama-sama santun, sehingga tercipta lalu lintas yang tertib, aman, dan saling menghargai satu sama lain.

Sungguh peradaban yang tinggi...

***

Halte Bis Stasiun Kameari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar