Selasa, 10 Desember 2019

3 Prinsip Utama Merekrut Anggota Tim

pic; womansday
Dalam satu kesempatan, seorang pemimpin tingkat tengah perusahaan profesional tampak hopeless, curhat tentang bawahannya yang susah diatur. Diberi tugas, tidak diselesaikan, tidak cepat respon dalam komunikasi, tidak ada motivasi bekerja yang baik, bahkan tidak ada rasa hormat dan santun pada pimpinan. Kasus umum yang mungkin sering kita lihat. Nampak sepele, namun melelahkan dan sering makan hati, menguras emosi dan fokus pekerjaan utama. Pemimpin menjadi tak berdaya dan hanya menerima keadaan.

Suatu saat, ini akan menjadi racun yang cepat menyebar dan mematikan performa bisnis. Membiarkan staf dengan cacat motivasi ibarat melubangi kapal sendiri dan menunggu karam bersama.

Lalu apa yang bisa dilakukan?

Saya pikir, memberinya pelatihan-pelatihan softskill temporer bukan solusi efektif.  Penyembuhannya akan memakan waktu, biaya, dan tenaga lebih banyak. Hal demikian kembali pada karakter ketegasan sang pemimpin. 

Tindak kendali preventif sebenarnya menjadi kunci awal pembentukan tim. Saya mencatat 3 prinsip penting bagaimana menentukan anggota tim kerja.

1. Tendang jauh si bunglon
Sungguh menarik menyimak sepak terjang Eric Thohir (mas menteri), memberangus kelompok "mafia" di salah satu BUMN. Dalam sesi wawancara Mata Najwa, tentang bagaimana merekrut Dirut BUMN, ia nampak sepakat dengan tips dari Said Didu (mantan sekretais BUMN). Bang Didu menyatakan, "Siapa yang paling banyak memo-nya atau banyak nelpon-nelponin, itu yang dicoret pertama... karena seorang profesional yang punya integritas, punya etika, tidak akan pernah mau minta memo, dan tidak pernah menitipkan diri ke siapapun, dia akan menitipkan diri pada integritas dan kompetensinya..."

Jauh dari kepentingan politis dan tetap obyektif adalah kunci dalam merekrut anggota tim manajemen. Sering keputusan pemimpin menjadi bias ketika memasuki ranah politik praktis. Ia dikelilingi (EO) oknum-oknum politis yang bergerilya secara all out dan massive. Sungguh tidak wajar dan sangat mungkin memiliki agenda tersembunyi. Mereka bergerak seperti bunglon, bisa hinggap di mana saja, melakukan apa saja, untuk memenuhi kepentingannya.

Pemimpin bijaksana tidak sepenuhnya mengandalkan informasi dari para pembisik yang bermanuver secara tidak wajar. Lihat sendiri jejak rekam prestasi, karya, pertimbangkan berbagai masukan secara berimbang, dan yang lebih utama, percayakan pada hati nurani. 

2. Jangan ambil kucing dalam karung
Pepatah lama yang masih saja relevan. Artinya, jangan pernah merekrut tim secara random. Dalam perusahaan profesional sudah pasti memiliki SOP dalam merekrut karyawan. Hal ini baik. Namun tak bisa dipungkiri kahadiran orang-orang karena faktor x, seperti hubungan pertemanan, darah atau dikenal dengan istilah nepotisme. 

Apakah hal ini salah?

Tentu tidak. Yang menjadi masalah utama adalah ketika kita tidak mempertimbangkan aspek KSA (knowledge, skill, attitude) dari si calon, karena menganggap kekerabatan lebih utama. Mereka yang didatangkan tanpa proses fit and proper test secara holistik terlebih dahulu. Lepas dari aspek kekeluargaan, merekrut orang tanpa keseimbangan KSA yang memadai sangat berisiko. Memang sebuah keberuntungan jika toh ternyata ia adalah orang yang baik. Jika tidak, ini akan menjadi bumerang seperti mengambil kucing dalam karung.

Siapapun yang akan masuk dalam tim Anda, selalu ikuti prosedur tes dan lakukan evaluasi secara adil dan profesional.

3. Jangan pelihara anjing yang menggigit tuannya
Mungkin terdengar kurang sopan. Saya ingin mengajak Anda untuk melihat pesan dibalik pernyataan metaforik ini. Anjing adalah hewan peliharaan yang setia dan mengabdi pada tuannya. Tentunya, tuan yang baik, merawat, dan bertanggung jawab. Dalam ilmu biologi, hubungan demikian disebut simbiosis mutualisme. Hewan mendapat perawatan, kasih sayang, dan pemenuhan kebutuhan hidup. Sedangkan manusia mendapat teman bahkan penjaga rumah yang baik. 

Lalu, bagaimana jika suatu ketika anjing tersebut menjadi buas dan menyerang pemeliharanya? Selamanya, Anda akan hidup dalam ketakutan jika sewaktu-waktu ia menggigit Anda. Anda tidak lagi memelihara, tapi Anda yang akan dikendalikannya. 

Intinya, jangan pernah pekerjakan orang yang tak dapat Anda kendalikan, egois, terlalu keras kepala dan semau gue. Anda akan tampak "bodoh", tak tahu harus melakukan treatment apa. Membiarkannya sama dengan memberi kesempatan switching power. Anda yang akan dikendalikan olehnya.  Kepemimpinan Anda tak lagi memiliki kuasa. Bangun karakter pemimpin yang kuat dan sistem penilaian kinerja yang mendukung Anda, tanpa harmoni keduanya, keterkendalian tak akan pernah eksis. 


Semoga bermanfaat!

Rabu, 06 November 2019

5 Cara Keluar dari Belenggu Multitasking

pic: shutterstock
Setelah posting artikel sebelumnya (Waspada! Multitasking Picu Kerusakan Otak), saya mendapat beberapa pertanyaan serupa, "Jika tak boleh multitasking, lalu bagaimana mungkin kita bisa menyelesaikan target-target pekerjaan?"

Ada yang perlu kita luruskan. Saya tidak merekomendasikan Anda tidak bekerja secara produktif. Seperti diungkap pakar neuroscience, Earl Miller bahwa otak kita tidak tertata (set) untuk bekerja multitasking. Saat seseorang berpikir dirinya sedang multitasking, sesungguhnya ia hanya sedang meningkatkan intensitas switch dari satu pikiran ke pikiran lain dan Setiap intensitas peralihan ini meningkatkan cognitive cost atau risiko kerusakaan sel otak. Sebaliknya, menghindari multitasking selain kita menjadi makin produktif, fokus dalam bekerja, juga menjaga kesehatan otak. 

Bagaimana mungkin?
Ingat perumpamaan, bagaimana mungkin seorang pemburu dapat mengejar dua rusa dalam waktu yang sama. Mengejar keduanya berarti kehilangan keduanya. Demikianlah dampak buruk multitasking. Kita tidak akan pernah mencapai performa prima saat memecah pikiran ke dalam lebih dari satu obyek konsentrasi.

Lalu, bagaimana menghindari multitasking?
Saya akan membagikan lima cara untuk membiasakan hidup anti-multitasking:
  1. Mulai dengan hening, jika Anda memulai hari kerja Anda dengan pikiran yang penuh, urusan keluarga, utang KPR, uang sekolah anak, cekcok dengan mertua, coba lakukan proses hening. Tutup mata dan mulailah bernafas perlahan. Rasakan oksigen yang Anda hirup hingga masuk ke dalam kepala, hembuskan melalui mulut. Rasakan beban pikiran Anda keluar bersamaan udara yang keluar. Bawa pikiran Anda pada momen saat ini. Lepaskan segala kekhawatiran masa depan dan problema masa lalu. Ulangi hingga Anda merasa rileks.
  2. Komitmen untuk tidak multitasking, niatkan diri Anda untuk menghindari multitasking. Di dalam kantor yang berisik, apalagi penuh aktivitas gibah, cari tempat yang tenang untuk bekerja lebih fokus. Anda juga dapat menutup telinga dengan earphone mendengar instrumen meditasi. Jika Anda pemimpin, titipkan pesan pada asisten untuk tidak diganggu untuk beberapa waktu hingga Anda berhenti (sejenak) menyelesaikan pekerjaan. Sementara, say no pada hal-hal yang bukan prioritas. Tanpa komitmen diri, keluar dari kebiasaan multitasking hanyalah wacana forever.
  3. Heningkan notifikasi dan panggilan gadget, distraksi utama era teknologi datang dari gadget. Sementara, pada saat bekerja heningkan gadget Anda. Simpan pada tempat yang tidak mudah Anda jangkau (misalnya di dalam tas). Tentukan jadwal kapan Anda berhenti bekerja senenak untuk memeriksa pesan-pesan chat atau email.
  4. Buat to-do list, setiap pagi, tentukan to-do list hari ini. Tentukan mana yang penting dan mendesak dan mana yang tidak penting dan tidak mendesak. Dahulukan yang utama dan berusahalah disiplin dengan jadwal Anda. Teknik sederhana ini akan membantu Anda menyelesaikan segalanya satu per satu.
  5. Istirahat, jika Anda mendapat banyak pekerjaan, pastikan Anda mengistirahatkan otak/ pikiran sejenak sebelum melakukan proses switch konsentrasi pada obyek lain. Cukup 2 hingga 3 menit. Anda dapat berjalan keluar ruang menghidup udara, melemaskan otot tubuh, atau melakukan proses hening.

Semoga bermanfaat!

Minggu, 03 November 2019

Waspada! Multitasking Picu Kerusakan Otak

pic: seguros.elcorteingles
Multitasking, sebuah keahlian baru yang diburu oleh pemberi kerja masa kini. Seolah, mereka yang mampu bekerja demikian memiliki keunggulan bersaing lebih baik. Benarkah?

Bayangkan, Anda bekerja dengan komputer. Pada saat yang sama Anda terus membuka banyak aplikasi. Apa yang terjadi? Jelas, kinerja komputer Anda akan makin lemot, bahkan hang. Beberapa file yang Anda buka berisiko rusak atau hilang. Demikian pula sesungguhnya yang sedang terjadi pada diri kita saat kita melakukan multitasking.

Memang ada manusia yang memiliki kecenderungan mampu multitasking. Peneliti Stanford membuktikan bahwa mereka yang merasa dirinya mampu melakukan banyak tugas dalam satu waktu ternyata hasil pekerjaannya tidak sebaik mereka yang melakukannya secara fokus. Otak memerlukan jeda waktu untuk melakukan switch, atau peralihan dari satu fokus ke fokus yang lain. Memaksa diri untuk multitasking berarti pula memaksa dengan keras kinerja otak Anda. Psychology Today melansir beberapa temuan terkini tentang dampak buruk multitasking:
  1. Memicu kerusakan otak pada jangka panjang, khususnya terkait fungsi kognitif dan pengaturan semangat juang serta emosi.
  2. Menyebabkan gangguan memori (ingatan), multitasking berdampak pada penurunan daya ingat jangka panjang.
  3. Meningkatkan risiko gangguan penentuan prioritas, peneliti menemukan bahwa mereka yang terbiasa multitasking cenderung menjadi sulit dalam menentukan prioritas.
  4. Meningkatkan risiko kecelakaan, dalam sebuah riset pada 1400 pejalan kaki korban tabrakan di NY ditemukan bahwa 20% dari mereka adalah remaja yang sedang sibuk dengan gadget-nya.
  5. Menurunkan performa, ditemukan bahwa siswa yang melakukan multitasking saat mengerjakan tugas sekolah mendapatkan nilai rata-rata lebih buruk.
  6. Merusak hubungan, terutama gadget, telah membuat sebuah hubungan tidak lagi intim, personal akibat distraksi yang besar dari notifikasi dan telepon masuk. Dalam bisnis, hal ini berdampak besar pada kepuasan konsumen.
  7. Memicu stress kronis dan depresi, derasnya arus informasi berakibat pada kondisi overload, meningkatkan kekhawatiran, kegelisahan, dan hilangnya konsentrasi penuh.
  8. Mengurangi produktivitas kerja, terutama terkait dengan kualitas pekerjaan, bukan hanya penyelesaian pekerjaan.
Jadi, masihkah Anda ingin mengasah keahlian multitasking? Mungkin saja, saat muda semuanya tak terlalu terasa karena sekali lagi dampak dari kebiasaan ini bersifat jangka panjang, saat kita menua risko gangguan otak akan lebih besar. Mulailah merawat diri dan berkarya secara berimbang. Ketika target pekerjaan mulai mengeksploitasi Anda, setidaknya berhentilah Anda mengeksploitasi diri sendiri.


Semoga bermanfaat!

Jumat, 25 Oktober 2019

Mengenal Meditasi, Hidup Berkesadaran

pic: gettyimages
Tak jarang orang bertanya kepada saya, "Pak, meditasi itu apa? Lalu kita berdoa kepada siapa?"
Dalam kamus, meditasi diartikan sebagai kemampuan berpikir mendalam atau fokus pada satu hal dalam satu waktu. Jadi meditasi adalah metoda atau cara, bukan sebuah keyakinan atau agama. Meditasi bersifat netral. Kepada apa dan siapa kita memusatkan pikiran, itu tergantung niat yang melakukannya. Mungkin saja karena istilah ini lebih sering dipakai oleh umat agama tertentu, namun bukan berarti bahwa meditasi adalah urusan reliji. Meditasi adalah konsep universal.

Lalu, apakah berarti juga kita mengosongkan pikiran?
Meditasi bukan mengosongkan pikiran, namun lebih tepatnya menarik pikiran-pikiran dari jerat masa lalu dan obsesi masa depan kembali pada titik saat ini. Menyadari dan menerima apa yang ada saat ini tentang kejadian yang dapat ditangkap oleh indera dan rasa. 

Dalam bahasa lebih umum, meditasi adalah cara hidup berkesadaran (mindful), yang dalam bahasa Jawa disebut Eling Lan Waspada. Konsep meditasi telah lahir sejak zaman kuno sebagai budaya Timur. Hidup berkesadaran demikian ditujukan agar pikiran kita lebih damai, hening, sabar, konsentrasi, serta fokus dalam bekerja, dan hidup. Cara hidup yang menghindarkan diri dari disraksi pikiran, ambisi berlebihan, termasuk kekhawatiran yang berlebihan. 

Jadi, tidak perlukah kita memiliki ambisi capaian masa depan?
Ini juga tidak sepenuhnya benar. Kita wajib memiliki visi dan tujuan hidup. Tujuan jelas akan menggerakkan kita untuk terus maju, tumbuhkembang. Hidup berkesadaran berarti kita tidak melekati ambisi yang kita bangun. Kita perlu menjalaninya, berusaha mencapainya, namun juga selalu siap dan waspada akan apapun hasilnya.

Bagaimana cara melatih meditasi?
Meditasi dilakukan dengan cara berkonsentrasi pada satu hal. Latihan memperhatikan nafas adalah teknik yang paling dasar, mudah, dan tak berbiaya. Anda dapat memulainya dengan memperhatikan nafas yang masuk dan nafas yang keluar bergantian. Perhatikan dengan saksama serta tetap berusaha kembali konsentrasi saat pikiran mulai melayang. Demikian seterusnya.

Perlukan bersila dengan posisi tangan di lutut?
Yah, sekali lagi ini adalah teknik, yang bisa dikembangkan menurut tradisi dan keyakinan komunitas tertentu. Namun esensi meditasi bukan karena duduk bersila dan memperhatian nafas. Pada tahap selanjutnya, berkesadaran perlu dilatih dalam aktivitas lain, seperti saat berjalan, mengendarai kendaraan, atau makan. Konsentrasi, perhatikan, sadari apa yang terjadi dalam diri Anda serta lingkungan sekitar. Sebagai contoh, saat makan, cukup perhatikan dan nikmati hidangan Anda. Tak perlu sambil buka gadget, nonton TV, atau mendengar musik. Ciptakan momen hanya ada Anda dan makanan. Sadari dan nikmati gerakan tangan Anda terangkat memegang sendok, perhatikan suara tabrakan sendok dengan piring, rasakan mulut Anda terbuka, makanan masuk, dan gigi Anda mengunyah merasakan berbagai sensasi rasa, dan seterusnya. Sebuah momen here and now yang akan menjaga kesehatan organ pencernaan dan pikiran Anda. 

Bahkan di dalam pekerjaan Anda dapat membiasakan hidup meditatif dalam menghadapi tantangan, tekanan, membangun relasi, rapat, hingga keputusan bisnis. Anda akan lebih waspada, peka, bijaksana dalam berucap dan bertindak.

Berapa lama hasilnya?
Melatih diri hidup meditatif membutuhkan ketekunan dan intensitas. Tanpa membiasakan dan mendisiplikan diri, jelas tidak akan pernah ada perubahan dalam diri kita. Pada titik tertentu, cara hidup berkesadaran demikian secara otomatis akan menjadi kebiasaan dan gaya hidup kita.

Apa dampaknya?
Perusahaan sekelas Garuda Food, bahkan kampus sekelas Stanford atau perusahaan mega Google telah mengembangkan program-program human capital terkait. Mereka meyakini dan membuktikan bahwa sense of purpose, hubungan baik antarkaryawan, inovasi, hingga produktivitas terus meningkat.

Semoga bermanfaat!

Rabu, 23 Oktober 2019

Pesan Jokowi Tentang Sense of Purpose dan Mindfulness

pic: koran-jakarta

Sungguh menarik melihat strategi dan manuver Joko Widodo, presiden terpilih. Jika tahun lalu netizen heboh dengan terpilihnya ibu Susi Pudjiastuti, kali ini kembali netizen ramai dengan nama Nadiem, Terawan, dan Prabowo. Seluruh lapisan masyarakat menunggu, apa gebrakan nyata Indonesia Maju.

Ada yang paling menarik perhatian saya saat membaca 7 pesan Pak dhe Jokowi kepada kabinetnya, perhatikan pesan nomor 4 "JANGAN TERJEBAK RUTINITAS KERJA YANG MONOTON". Saya melihatnya sebagai pesan "to be mindful". Mungkin beliau berpikir, belum optimalnya pekerjaan kabinet sebelumnya karena mereka masih terjebak pada rutinitas, pokoknya kerja kerja kerja. Pesan Jokowi seolah mengingatkan kita semua, bukan hanya kepada para menteri. Dalam bekerja, beraktivitas jangan biarkan semuanya menjadi tugas yang berulang dan monoton. 

Sejenak pikirkan, bagaimana relasi Anda dengan pekerjaan Anda saat ini. Bagaimana Anda memandang pekerjaan yang sedang Anda jalani, sekadar sebagai tanggungjawab rutin, atau lebih dari itu? Mengapa kemudian kita merasa jenuh dengan pekerjaan pilihan kita sendiri? Itu semua karena kita bekerja secara monoton. Menganggap pekerjaan hanya sebatas ritual, akan menghilangkan makna yang esensial, yaitu alasan bekerja. Hal yang sama dapat terjadi pada kehidupan di luar pekerjaan seperti membina rumah tangga. Jika Anda menjalaninya sebatas rutinitas, tanpa menyadari tujuan dan makna, Anda akan segera bosan. Anda akan kehilangaan sesuatu yang di dalam konsep Ikigai disebut Reason for Being.

Saya mewancarai secara acak peserta pelatihan di berbagai perusahaan. Tidak banyak yang mampu menjelaskan dengan baik, apa tujuan menjalani pekerjaan saat ini? Sebagian besar berpikir hanya untuk insentif. Insentif yang nanti membawanya membeli rumah, mobil, atau jalan-jalan ke luar negeri. Sesungguhnya, tidak ada yang salah dengan keinginan ini. Namun pemikiran sempit demikian berpotensi menghilangkan makna pekerjaan itu sendiri. Kita menjadi terlalu transaksional, bahkan tidak peduli satu sama lain.
Purpose (SDT's Deci & Ryan)

Dalam Self Determination Theory, tersebutlah PURPOSE atau tujuan sebagai salah satu motivator penting dalam kehidupan seseorang. Ketika ia kehilangan tujuan, ia akan terjebak dalam rutinitas tak berarti. Membangun sense of purpose diawali dari proses kesadaran diri (mindfulness), untuk apa aku bekerja? Apa yang sebenarnya sedang saya jalani? Apa manfaat gambaran kerja yang sedang saya lakukan, bagi diri, sekaligus orang lain? Selain berkesadaran tentang tujuan, menjadikan pekerjaan bermakna juga dapat ditunjang oleh hubungan atau relasi di tempat kerja yang baik, saling membangun, komunikasi, dan kepeduian satu sama lain.

Saat ini, berhentilah sejenak, renungkan kembali, apa alasan Anda bekerja, apa kontribusi pekerjaan Anda bagi orang lain? Jika Anda menyadarinya, melalui pekerjaan Anda, setiap detik adalah kesempatan untuk menjadi berkat bagi orang-orang terdekat.


Salam bahagia!

Minggu, 13 Oktober 2019

Keterlibatan dan Kesehatan Karyawan, Koentji Kinerja Bisnis Anda

pic: hcamag.com
Apa sebenarnya kunci peningkatan kinerja karyawan? 

Di luar sana, banyak tawaran strategis untuk mengejar produktivitas tinggi, seperti pembuatan target secara kreatif dan beragam rancangan sistem imbalan-hukuman yang inovatif. Trending-nya topik-topik HR dan HC turut menambah deretan pilihan investasi untuk mencapai kinerja terbaik. Mana yang paling efektif, sekaligus efisien?

Membaca survey-survey Gallup dan beberapa artikel Forbes dan HBR, ditemukan bahwa hanya ada 2 kunci mencapai performa terbaik, yaitu KETERLIBATAN dan KESEHATAN. Kedua komponen ini telah terbukti mendorong lompatan produktivitas yang mengagumkan. Berikut 10 temuan penelitian yang pernah dilakukan oleh Gallup terkait keterlibatan dan kesehatan:
  1. Karyawan yang dilibatkan dalam keputusan dan aktivitas penting mengalami peningkatan produktivitas hingga 21%, berkurangnya ketidakhadiran dan penurunan tingkat tunrover.
  2. 89% kepala HRD mengaku bahwa feedback serta pengakuan yang jujur dan tulus menjadi faktor penentu keberhasilan atas capaian.
  3. Efektivitas pemberdayaan karyawan mengalami peningkatan hingga 4,6 kali lipat ketika pemimpin mau mendengar aspirasi mereka.
  4. 96% karyawan menyakini bahwa empati di tempat kerja adalah alasan kuat mengapa mereka bertahan.
  5. Lunturnya rasa terlibat/ memiliki dalam diri karyawan telah membebani biaya perusahaan hingga $550 bilion per tahun.
  6. Ditemukan sebanyak 61% karyawan mengalami burnout di tempat kerja. Mereka tertekan hingga depresi yang berdampak pada kesehatan fisik.
  7. Sebanyak 89% karyawan yang bekerja pada perusahaan yang menjaga value WELL BEING pada akhirnya dengan sendirinya membantu mempromosikan perusahaannya sebagai tempat kerja terbaik.
  8. 70% perusahaan pemberi kerja telah sadar untuk meningkatkan kualitas kesehatan lingkungan untuk menjaga ketahanan fisik karyawan.
  9. 61% karyawan merespon baik dan merasakan bahwa program tatanan lingkungan sehat yang disediakan oleh perusahaan berdampak pada kesehatan fisik dan mental mereka.
  10. 87% karyawan berharap agar pemberi kerja selalu mendukung quality of work life mereka.

Satu hal yang perlu digarisbawahi bahwa kedua hal, membangun keterlibatan dan memelihara kesehatan bukan semata tugas HRD atau People Ops, namun adalah tanggungjawab seluruh pemimpin divisi perusahaan karena idealnya kedua hal tersebut menjadi kebiasaan yang cara hidup sebuah organisasi yang baik. Sudahkah Anda menyadarinya?


Semoga bermanfaat!

Jumat, 20 September 2019

Pendidikan, Hati, dan Totski


Totski, seorang bocah perempuan belajar di sebuah sekolah dasar negeri. Tak lama, ia dikeluarkan atas sebab perilakunya yang dianggap aneh. Ia suka sekali pertunjukan musik jalanan. Begitu mendengar pemusik melewati sekolahnya, ia bergegas, lari menuju jendela, membukanya dan girang menikmati alunan musik. Demikian ia terus melakukannya di jam pelajaran. Ia sering mendapat teguran dari guru yang merasa terganggu dan tak kuat lagi dengan kelakuannya. Totski dipindahkan ke sekolah lain.

Ibunya memindahkannya ke Tomoe Gakuen, sekolah terpencil dengan segelintir murid. Totski tampak gembira. Sekolah yang tak biasa. Kadang, murid-murid dibawa ke gerbong kereta api untuk belajar di sana sambil menikmati pemandangan. Kadang belajar sambil berenang di danau kecil. Di sana, murid-murid diberi kebebasan untuk menentukan urutan jadwal pelajarannya dalam sehari. Tomoe, lebih dari sekadar sekolah biasa. Ia mengajarkan lebih banyak tentang kehidupan, persahabatan, nilai kesopanan, penghargaan, dan menjadi diri sendiri. Totski dikenal sebagai salah satu murid yang sangat peduli dan menyayangi teman-temannya, terlebih kepada beberapa temannya yang memiliki keterbatasan fisik. 

Suatu ketika, Tomoe mengadakan pertandingan, permainan antarmurid. Salah seorang teman dekat Totski yang memiliki tubuh tak lazim, lebih mungil dari teman sebayanya memenangkan beberapa pertandingan. Ia menjadi heran, kenapa bisa? Ternyata dalam beberapa permainan, pihak sekolah merancangnya agar anak-anak yang memiliki keterbatasan fisik justru memiliki peluang yang lebih besar untuk menang dibanding mereka yang secara fisik normal.

Sebuah kisah nyata yang sempat membuat saya merinding saat membacanya, Toto Chan. Ini dia sejatinya pendidikan. Sebuah lembaga dimana anak-anak belajar mengenal dirinya, menerima dan menjadi dirinya, belajar berbuat baik kepada sesama. Tomoe Gakuen dibangun oleh kerinduan untuk membentuk generasi lebih baik. Ia menjadi sekolah yang inklusif, tak hanya menerima siswa yang memiliki nilai tes masuk tinggi atau kaum berduit saja. Tomoe membangun dirinya dengan hati, bukan motif transaksi atau bisnis semata. Cerita yang seharusnya mendorong mata batin kita untuk merenung lebih dalam, bagaimana dengan pendidikan di sekitar kita? Apa standar kualitas sebuah sekolah? Akreditasi, rerata nilai UNAS, label agama, uang pendidikan yang maha mahal, prestasi guru? Atau kesaksian semacam Totski?


^_^


Rabu, 11 September 2019

Renungan untuk Mereka, Korporasi Yang Menua

design: rangerup
Dalam praktiknya, proses inovasi di lingkungan korporasi tak semudah membalik telapak tangan. Terlalu banyak pertimbangan kelayakan, mulai dari kelayakan ekonomi, legal, operasional, teknis, hingga masalah politis. Berbeda dengan mereka yang masih dalam fase startup, tak banyak kepentingan, jauh dari birokrasi berkepanjangan, dan lincah dalam bermanuver. 
Dalam buku saya Lasting Lean, saya mengisahkan kembali bagaimana Daud melawan dan mengalahkan raksasa Goliat. Goliat diceritakan mengalami Acromegali, sebuah kelainan langka yang memicu pertumbuhan terus menerus, sehingga tubuh Goliat terus membesar hingga tua. Dampaknya, kedua matanya mengalami rabun. Goliat yang saat itu menggunakan baju besi dengan senjata yang relatif berat menjadi lambat dalam bergerak. Sulit baginya menjangkau Daud. Apalagi kondisi matanya yang rabun, makin menyulitkannya untuk membidik sasar Daud. Goliat tak menyadari kelemahannya, ia makin sombong ketika melihat lawannya begitu mini. Dengan sigap, cepat, lincah, sekelebat Daud bermanuver dan melempar batu tepat di dahi Goliat. Begitu saja, Goliat roboh.

Pertarungan epik ini menorehkan 4 pesan moral bagi pelaku bisnis masa kini, khususnya yang menua, melewati 4 dasawarsa, yaitu:


1.     Rabun adalah ancaman perusahaan mapan. Perusahaan yang telah mapan dan besar biasanya (mulai) diwarnai konflik-konflik kepentingan baik horizontal maupun vertikal. Tim manajemen menjadi kehabisan enerji memikirkan konflik personal antarlini dan jenjang. Alih-alih memikirkan inovasi dan customer value, mereka sudah lelah dalam rapat-rapat masalah teknis dan politik praktis. Visinya tak lagi setajam pada masa startup atau pertumbuhan pesat. Mereka menjadi rabun akan visi besarnya.

2.     Membesar, biasanya melambat. Seperti Goliat, membesarnya sebuah korporat akan mengurangi kelincahannya. Bagai gajah yang sulit bergerak, apalagi menari, begitulah kondisi umumnya perusahaan papan atas. Sebuah terobosan, langkah baru harus diikuti serentak seluruh elemen. Semua SOP sudah terlanjur mengikat, aturan, hukum juga tidak lagi membuatnya leluasa bermanuver. Mereka terjebak dalam kondisi eskalasi komitmen, terlalu banyak pertimbangan, terlalu banyak konspirasi. Inilah yang menjadi tantangan khusus, bagaimana secara lincah menggerakkan seluruh elemen seolah dalam satu tubuh dan satu pandangan (visi).

3.     Mempertahankan strategi kuno untuk masa kini. Goliat menghadapi Daud dengan cara yang sama. Ia memakai baju zirah dan senjata berat. Ia tak menyadarinya bahwa Daud, lawannya begitu lincah bergerak, menyerang, dan mematikan tanpa beban senjata berat. Demikianlah bagaimana pendatang baru yang ternama dengan label Unicorn menghantam The Titans. Korporasi besar yang telah ada masih mengandalkan cara-cara kuno yang sudah tidak lagi relevan dengan zaman. Strategi keunggulan bersaing yang diusulkan Michael Porter sejak tahun 80an tidak lagi relevan seperti dahulu kala. Pendatang baru menggunakan strategi-strategi baru yang bahkan tak dikenali korporasi yang ada. Tanpa memahami strategi lawan, sangat tidak mungkin kita menaklukkannya, demikianlah bunyi strategi perang.

4.     Kesombongan adalah kejatuhan. Goliat meremehkan Daud yang bertubuh kecil, tak menyadarinya bahwa ia akan tumbang di tangan Daud yang mungil. Ini adalah pesan tentang kewaspadaan. Kita tak selalu jatuh tersandung batu besar, namun juga karena terpeleset kerikil kecil. Merasa superior, nyaman pada posisi penguasa pasar, sementara meremehkan pendatang-pendatang baru yang relatif kecil bisa jadi penyebab jatuhnya sebuah korporasi di masa depan.


---