Kamis, 29 November 2018

Perjalanan Spiritual dan Kebebasan

pic: lakeside
Seorang pemuda dalam kesedihan bertanya kepada guru Zen. Ia kerap dihantui dogma-dogma yang kerap membuat batinnya tersiksa, seperti terpenjara sangkar emas. "Benarkah jalan hidupku?" "Mengapa aku sering ragu atas langkahku?" "Sejatikah apa yang kupeluk?"

Guru Zen berkata:
Perjalanan spiritual ibarat perjalanan duniawi. Bayangkan Anda berjalan menuju ke satu tujuan. Tujuan nun jauh. Anda memulainya dengan langkah kaki dan berjalan. Setelah sekian puluh kilo meter, tubuh, betis dan paha terasa lemas tak berdaya. Seseorang menawarkan sepeda pancal dan Anda menghargainya. Dengan sepeda itu, Anda melanjutkan perjalanan. 

Dalam babak selanjutnya, Anda mulai mengenal ada sepeda motor yang lebih bertenaga untuk menempuh jarak yang masih terlampau jauh. Anda meninggalkan sepeda dan beralih ke sepeda motor. Demikian hingga Anda menemukan mobil, kendaraan ber-roda 4 yang sungguh lebih nyaman. Dengan menyebut nama Tuhan, Anda melanjutkan petualangan.

Sampailah Anda di penghujung pantai. Perjalanan Anda terpisah lautan luas. Tak mungkin memaksa mobil Anda membelah laut seperti Musa. Anda melihat sebuah kapal kecil yang lebih selayaknya membawa Anda menyeberang. Meninggalkan mobil, Anda melompat memasuki kapal untuk berlayar ke seberang. Demikian seterusnya hingga entah kapan Anda mencapai tujuan.

Tak ada yang tetap dan kekal, kecuali perubahan dan kekekalan itu sendiri. Tak ada yang benar tak ada yang salah karena pada akhirnya semua akan berkumpul pada titik tujuan yang sama. Jalani saja segalanya dengan batin yang jernih, niat baik, dan mengalirlah seperti air. Hadiri dan nikmati setiap perjalanan, perjalanan antara Anda dan Dia, Sang Kekal. Anda dan Dia, tidak ada yang lain.

Setelah mendengar semuanya, pemuda itu menjadi ceria dan merasakan kebebasan. 

***

Rabu, 28 November 2018

Mencipta Seperti Queen, Rahasia Penciptaan Produk Masterpiece

"Setelah nonton, sumpah jadi ilfil denger lagu-lagu kelas Chemical Roma**e, apalagi West**fe dkk", itulah kesan saya setelah nonton Bohemian Rhapsody.

Sebagai bocah tahun 80an, sejak kecil saya familiar dengan lagu-lagu Queen dari kakak, om, tante. Under Pressure, Radio Ga Ga, Bohemian Rhapsody, We will rock you, dan sebagainya. Hanya tahu sebagai lagu yang tidak biasa, unik, dan enak. 

Sungguh beruntung saya bisa menikmati film "biopic" Queen dalam kemasan apik. Film garapan 2 sutradara ini tergolong sukses. Bahkan di kota saya, sudah memasuki minggu ke 4 tayang dan tetap ramai penonton. Visualisasi yang menurut saya, keren tantang kisah lagu-lagu, ambisi, frustasi, kesuksesan, dilema, bercampur dalam drama kehidupan dibalik tenarnya nama Queen. Menyimak, menikmati pesan moral Bohemian Rhapsody mengajarkan kita 5 prinsip tentang penciptaan sebuah masterpiece.

1. Visi besar
Nama Queen adalah simbol kebesaran. Freddie dkk mengawali karirnya dengan impian yang besar, menjadi ratu dalam jagad musik dunia. Segala capaian dimulai dari impian. Apapun pekerjaan kita, bermimpilah karena mimpi akan menjadi arah hidup kita. Tanpa impian, kita hanya bisa mengalir, ikut arus. Hanya ikan mati yang demikian. Lepas dari segala keterbatasannya, setidaknya Queen berhasil menjadi salah satu grup band yang wajib diperhitungkan. Keberhasilan yang diawali dari mimpi Freddie untuk menjadi manusia baru dan menggapai sukses di dunia musik. Keberhasilan yang dituangkan dalam lagu We Are The Champions.

We are the champions, my friends
And we'll keep on fighting til the end
We are the champion
We are the champion
No time for loser
Cause we are the champion of the world

2. Melawan pola konvensional
Bohemian Rhapsody, salah satu killer song hasil ide gila Freddie. Lagu yang nampak tak jelas genre dan temanya, berdurasi panjang, namun berhasil mendapat junjungan dari pendengar musik dunia. Freddie mengajarkan kita tentang kreatifitas, keberanian melawan pola umum. Keberanian yang mengekstrak daya saing. Salah satu ciri produk yang berkarakter adalah yang tidak mudah ditiru. Freddie bereksperimen mencampuraduk berbagai elemen secara harmonis. Seperti yang pernah dikatakan de Bono bahwa kreatifitas hanyalah kemampuan manusia menghubungkan hal-hal yang tak berhubungan. Jadi, kemampuan sinerji atau simfoni adalah hal utama dalam menciptakan sesuatu yang berbeda dan belum pernah ada sebelumnya. Jangan pernah takut bereksperimen dan gagal, karena gagal adalah paket dari kesusksesan.

3. Mengalir dalam Mencipta
Tampak adegan anggota Queen kebingungan melihat tingkah Freddie di panggung. Sebagai vokalis, Freddie sering melakukan improvisasi secara spontan. Gerakan-gerakan gila, lirik-lirik yang berbeda, di luar skenario dan spontan! Freddie nampak selalu menikmati penampilannya, mengalir, menyatu dalam show, iringan musik, dan audien. Menyimak konser-konser live melalui youtube, sangat jelas bahwa Freddie telah mencapai Ikigai-nya dalam bermusik (baca: Ikigai). Ikigai adalah prinsip bekerja orang Jepang. Mengalir dalam pekerjaan, bahkan untuk hal paling sepele. Demikianlah prinsip menciptakan produk berkelas. 

4. Produk Anda adalah Anda. Anda adalah produk Anda
Tema dan genre lagu Queen sangat beragam. Ini juga ditentukan oleh keberagaman karakter anggotanya yang juga turut menciptakan lagu. Mudah bagi pengamat musik untuk menentukan siapa pencipta lagu Queen. Misalnya, lagu-lagu dengen tema kepedihan, kegalauan, atau pemberontakan lebih banyak dicipta oleh Fred. Berbeda dengan tema-tema lagu ciptaan Bryan atau Roger. Tanpa sadar, produk yang Anda ciptakan sebenarnya mencerminkan diri Anda. Memperhatikan produk-produk Apple sungguh merupakan cerminan Steve Job, tidak pernah sama, sederhana, elegan, dan kekuatan. Steve yang dikenal sebagai "rebel" dan penganut ajaran Zen. Demikianlah seni menjadi unik dan diri sendiri. Jujurlah dalam berkarya, jadilah diri Anda.

5. Customer Experience Yang Utama
We will, we will rock you! Lagu lain yang membuat saya terkagum-kagum. Dibalik kesederhanaan lagu tersebut, tersimpan konsep yang sangat cerdas. Bryan ingin menciptakan lagu yang justru dinyanyikan oleh audien. Lagu yang sederhana, berulang, dan mudah diikuti. Mungkin We Will Rock You adalah satu-satunya lagu di dunia yang di-perform oleh audien konser. Prinsip keterlibatan audien adalah kunci sukses tembang penuh enerji ini. Pengalaman emosional yang bergelora, bersatu, dan fanatik. Bagaimana dengan produk Anda, sudahkan menciptakan pengalaman emosional konsumen? Sebaik-baiknya produk, tanpa ditunjang pengalaman dalam perolehan (marketing) atau penggunaan, tidak akan bertahan lama di hati konsumen. Bahkan dalam kasus tertentu, pengalaman ini justru mengalahkan aspek harga dan rasional.  

Demikianlah 5 prinsip bagaimana Queen menciptakan masterpiece, semoga bermanfaat!