Jumat, 19 Oktober 2018

Mengapa Kebaikan Kita Tak Kunjung Terbalas?

pic:animalbaby
Tak jarang rekan gaul, profesional, hingga pengusaha curhat. Merasa sudah berbuat kebaikan tapi ujung-ujungnya malah mendapat sial. Ditipu partner kerja, dilupakan sahabat lama yang pernah kita tolong, dimanfaatkan dan ditinggal begitu saja setelah tidak ada urusan. Hingga kita berpikir, hidup tidak fair. Karma hanya mitos. Tuhan tidak ada?!

Tidak. Hidup itu selalu fair dengan caranya. Alam memiliki hukum tabur tuai dengan ritme dan harmoninya sendiri.

5 pekan lalu, tepat di hari minggu, saya dan anak-anak ke sebuah mall. Siang itu kami menuju foodcourt. Sangat ramai, bahkan 1 kursi kosongpun sulit ditemukan. Setelah mengantri, akhirnya kami mendapat meja. Wow... sampah pengunjung sebelumnya sungguh banyak. Terpaksa saya membersihkannya dan memanggil petugas kebersihan disana. Anak-anak ingin sekali menyantap siomay dan segelas milktea. 

Empat puluh menitan kami selesai. Spontan saya membersihkan semua sampah kami. Kritis, anak saya bertanya, "Papa, kenapa kita bersihkan? Kan ada pak sampah. Orang-orang juga membiarkan sisa sampahnya." "Tidak apa, Vin. Ngga ada salahnya kita bantu pak sampah. Lagian, baik kalau kita belajar mengurangi nyampah. Latihan gaya hidup orang Jepang", jawab saya. Ia hanya mengangguk pendek antara sedikit bingung dan paham.

Waktu terus berjalan, kami menikmati liburan. Tak terasa sudah sore. Waktunya pulang. Mendekati area parkir mobil, istri saya mulai beres-beres barang belanjaan. Memisahkannya dengan sampah-sampah seperti plastik bekas F&B dan kertas struk tak dipakai. Cukup banyak kami nyampah. Toleh kiri kanan, tidak ada tempat sampah. Tiba-tiba saja seorang pemuda meghampiri kami dan berkata, "Pak, saya buangkan sampahnya." Wow, saya terkejut darimana ini makhluk datang. Ia memakai seragam. Ternyata ia salah satu petugas kebersihan mal yang mungkin baru saja datang atau mau keluar berganti shift. Bagaimana mungkin moment itu begitu pas? Saat kami perlu bantuan, bantuan itu datang dengan sendirinya. "Ini hukum tabur tuai, nak", bisik saya pada Calvin, anak saya.

Kejadian ini hanya contoh sederhana tentang Karma, atau hukum tabur tuai. Saat kita melakukan kebaikan, kemudian kebaikan lain akan mendatangi hidup kita. Tapi, bagaimana dengan kebajikan, kebaikan, ketulusan yang kita lakukan untuk orang lain tapi tetap saja tidak mendatangkan kebaikan?

Inilah "rahasia" pola kerja hukum alam yang tidak sering kita sadari. Dalam ilmu fisika kuantum, kita belajar bahwa enerji itu bisa berpindah dan berubah bentuk, namun masanya tetap sifatnya kekal. Implikasinya, ketika kita melepas enerji positif, ia akan kembali pada kita. Demikian pula dengan enerji negatif. Yang perlu dicermati adalah, darimana kembalinya? Siapa yang mengembalikan? 

Merenungkan hal ini, saya belajar 4 prinsip utama:

1. Kebaikan yang kita berikan pada seseorang, kembali melalui apa dan siapa saja
Kembali pada kisah sederhana saya tadi. Saya melatih kebaikan kecil kepada petugas kebersihan yang sedang in charge di foodcourt, dan pada akhirnya, kami mendapat kebaikan dari petugas kebersihan lain. Mungkin Anda pernah membantu seseorang, yang selanjutnya tidak punya rasa terima kasih. Lalu, Anda mulai berpikir transaksional menanggalkan keikhlasan. Menghadapi situasi demikian, perlu kesadaran penuh tentang Karma serta keikhlasan yang besar. Sadar bahwa kebaikan dapat kembali melalui orang, makhluk lain, bahkan melalui kebaikan alam. Sadar bahwa tanpa keikhlasan penuh, hukum tabur tuai tidak akan berjalan mulus. 

2. Kebaikan yang kita lepaskan saat ini, kembali kapan saja
Dari pengalaman di atas, saya belajar bahwa kebaikan yang kita lepas saat ini, tidak selalu kita rasakan kebaikannya saat ini juga. Kebaikan dapat berputar kemana saja dan kembali kapan saja. Dalam hal ini, perlu kesabaran. Kesabaran untuk menerima dan pengharapan yang dibangun atas rasa syukur. Kembalinya kebaikan tidak terbatas ruang dan waktu, kebaikan yang kita lakukan sekarang mungkin akan kembali dan dirasakan oleh anak dan cucu kita, bahkan kita rasalah pada masa after life.

3. Kebaikan dapat kembali dalam wujud apa saja
Banyak diantara kita terjebak pada prinsip ini. Satu ilustrasi, kita meminjamkan sejumlah besar uang pada teman baik. Hingga pada waktu pengembalian, urusan menjadi rumit, tertunda, dan akhirnya uang kita raib dibawa kabur. Lalu apakah benar kalau kali ini saja, Tuhan tidak adil? Kembali pada hukum bahwa enerji dapat berubah bentuk. Demikian pula kebaikan yang kita lepaskan. Artinya, saat kita melepas materi, mungkin kita akan mendapat kebaikan dalam wujud material atau mungkin imaterial seperti jiwa yang sehat dan pikiran yang bahagia. Dalam hal ini, wujud material juga tidak selalu identik dengan uang, namun termasuk kesehatan tubuh, pasangan yang selalu menyambut kita sepulang kerja, anak-anak penurut, dan sebagainya. Sadari adanya, syukuri segalanya.

4. Hal buruk yang kita alami, adalah akibat keburukan yang pernah kita lakukan, sadari
Akhirnya, inilah prinsip yang sering diabaikan, bahwa hal buruk yang kita alami saat ini sebenarnya hanya konsekuensi dari hal buruk yang pernah kita lakukan, pada diri sendiri, orang lain, atau alam. Cukup mengusik batin mendengar orang-orang yang menderita penyakit di masa tua akibat kesalahan gaya hidup di masa muda, yang kemudian berkata "Ini atas ijin Tuhan, atau "Ini cobaan iblis". Yah, terdengar seperti pengalihan isu. Sejatinya, apa yang kita dapatkan saat ini hanyalah sebuah dampak. Bisa saja ketika seseorang mengkhianati, menipu, atau menyakiti kita sebenarnya hanya konsekuensi dari perbuatan tidak baik yang pernah kita lakukan di masa lampau, warisan dari orang tua, atau akibat sesuatu hal yang terjadi jauh sebelum kehidupan sekarang.

Masa lalu mungkin dapat memenjarakan batin kita. Masa depan mungkin tergantung dan terikat oleh masa kini. Namun, masa kini adalah satu-satunya saat yang memberi kita kebebasan. Kebebasan untuk memilih keluar dari jerat masa lampau atau kebebasan untuk menentukan seperti apa masa depan kita. Sekali lagi, kebebasan ditentukan oleh pikiran, sikap, dan tindakan kita saat ini. 

Semoga bermanfaat, sehat dan bahagia :)

Sabtu, 13 Oktober 2018

Not Smoking Kills You, but Your Jobs Does

pic: unusual
Asti, bukan nama sebenarnya, seorang manajer profesional di sebuah perusahaan kota metropolitan. Demi memenuhi kebutuhan ekonomi, ia terpaksa hijrah jauh meninggalkan suami dan anak-anaknya. Lebih sepuluh tahun, sejak tahun 90an ia bekerja pada korporat ternama. Memang sungguh besar gaji dan tunjangannya, namun risiko konflik, tanggungjawab dan tingkat stress tak kalah tinggi. Jarang ia bisa langsung pulang kantor pukul 5 sore. Bahkan sabtu dan minggu terkadang harus datang ke kantor. 

Memasuki tahun 2000an, ia mengalami masalah kesehatan. Dokter mem-vonisnya positif mengidap kanker dan menurut diagnosa, 5 tahun saja ia bisa bertahan sudah sangat baik.

Kejadian ini menjadi titik balik Asti untuk berpikir kembali tentang hidupnya. Sekian belas tahun ia  "bertengkar" dengan rekan kerja, berjuang, berbakti pada dewan direksi, tak dekat dengan anak-anaknya, jarang sekali berkencan dengan suaminya, dan sekarang menyadari hidupnya yang tak lama lagi. Semua raihan, tabungan, tiba-tiba saja tak berarti. Niat awal bekerja untuk keluarga, akhirnya justru menjadikannya seorang ibu yang mengorbankan keluarga demi karirnya.

Ia mulai membaca artikel-artikel tentang kanker, berdiskusi dengan komunitas dan beberapa dokter. Benar, salah satu pemicu penyakitnya adalah pikiran. Beban pekerjaan, setiap hari memeras otak, enerji, dan perasaannya. Belum tekanan batin melawan rindunya pada keluarganya. Tekanan yang ia tanggung sekian lama.

Tetap dalam usaha pikiran dan sikap positif, ia memutuskan berhenti bekerja, pulang kampung, dan mencari pekerjaan lain. Tahun 2005, ia mulai bekerja sebagai guru di sekolah kecil di kotanya. Gajinya jelas jauh lebih kecil, pola pekerjaannya lebih sederhana, namun ia dapat berjumpa dengan keluarganya, setiap hari. Dekat dengan suami, berbagai tawa, canda, suka, duka, bersama. Ia mengaku, sejak saat itu ia lebih banyak tertawa daripada murung. Hidupnya terasa lebih berarti, bukan karena berapa banyak uang yang bisa ia dapatkan, namun karena kebahagiaan yang ia rasakan.  Kebahagiaan dari hal-hal paling sederhana dan mendasar, seperti melihat anak-anak makan masakannya dengan lahap, merasakan hangatnya pelukan suami saat ia galau, atau merayakan hari ulang tahun bersama keluarga.

Saya berjumpa dengan beliau awal tahun 2018 ini. Berarti sekitar 15 tahun sejak ia divonis bahwa hidupnya tidak lebih dari 5 tahun. Luar biasa, ia bisa bertahan sampai sekarang dan tampak sehat. Bahkan ia mengaku rutin berolah raga ringan bersama keluarganya, sebuah wow. Dalam perbincangan terakhir, ia sempat nyeloteh not smoking kills you, but your jobs does!