Jumat, 21 September 2018

Ikigai: Sebuah Alasan Hidup, Rahasia Sukses Ala Jepang

pic: walt disney
Sebagian besar dari kita pernah melihat film Pinocchio garapan Walt Disney. Namun tahukah Anda bagaimana konflik pra-rilis film animasi tersebut?

Konon, film ini dirilis pada tahun 1940. Beberapa saat sebelum resmi rilis, Walt kembali menyimak masterpiece-nya itu, frame demi frame untuk memastikan kualitas yang sempurna. Alhasil, Walt menemukan kejanggalan pada satu karakter, Jiminy Cricket. Baginya, desain tokoh tersebut terlihat aneh. Tidak mau tanggung, Walt dan Ward Kimball (desainer) menunda penayangan perdana dan memerintah kru untuk merombak kembali animasi tersebut. Perlu Anda ketahui, dalam animasi, perombakan desain satu tokoh saja berdampak pada seluruh frame yang menampilkan tokoh tersebut. Apalagi pada zaman itu, kita tidak mengenal software 3D animation canggih. Menggambar, mewarnai, mengkomposisi, memberi efek, satu persatu.

Walt mengutamakan hal detil dan kesempurnaan. Tidak masalah menunda untuk hasil terbaik. Apa yang terjadi? 5 tahun setelah penayangan perdana, Pinocchio dinobatkan sebagai The Greatest Animated Firm Ever dengan nilai sempurna pada pemeringkatan Rotten Tomatoes. Gara-gara, jangkrik!

Walt dikenal sebagai sosok animator dan pebisnis hiburan yang perfeksionis, selalu memperhatikan hal detil, hadir dan sering terlarut dalam pekerjaannya, pekerjaan yang menghidupi, sekaligus menghibur banyak orang. Menjadi animator, sekaligus pebisnis hiburan adalah jalan hidup Walt Disney, sebuah pola hidup yang sedang kekinian dengan istilah Ikigai.

Dipopulerkan oleh Kobayashi Tsukasa, Ikigai (dari kata iki dan gai) diartikan sebagai "a reason for living". Alasan mengapa aku hidup?

Ikigai menjadi makin terkenal sejak dibukukan oleh Ken Mogi dan Hector Garcia & Miralles. Hidup adalah pencarian harmoni untuk menemukan titik kebahagiaan dalam batin. Ikigai menawarkan pencarian kita, tentang makna hidup, sebagai pertemuan apa yang Anda sukai, apa keahlian/ kompetensi Anda, apa yang dunia peroleh, dan apa yang Anda peroleh. Secara sederhana, Ikigai dapat digambarkan seperti berikut:


pic: ikigai

Kualitas Ikigai pada akhirnya akan menentukan perbedaan orang sukses dan tidak. Orang-orang sukses berhasil menemukan titik optimal Ikigai mereka, a reason for living. Selain Walt, sederet nama dunia seperti Steve Jobs, Jack Ma, Eiji Tsuburaya, J.R.R. Tolkien, hingga Mother Theresa, adalah mereka yang menikmati pekerjaannya dengan segala kemampuannya, pekerjaan yang memberi kebaikan hidup pada orang lain dan pada akhirnya kembali menjadi kebaikan bagi dirinya.

Di Indonesia, sederet tokoh inspiratif seperti seniman Eko Supriyanto, Joseph Theodorus Wuliandi alias Mr. Joger, pendeta jalanan Agus Sutikno, dan Mooryati Soedibyo juga menginspirasi kita tentang Ikigai. Sebuah harmoni kehidupan yang ideal dalam konteks masing-masing pribadi. Harmoni antara memberi dan mendapat, harmoni antara tanggungjawab pribadi dan tanggung jawab kepada dunia, serta harmoni antara aspek material dan spiritual. Inilah rahasia kebahagiaan.

Bagaimana dengan Anda, sudahkan menemukan Ikigai, a reason for living Anda? 

Selasa, 11 September 2018

Cakep! Customer Experience Owndays

pic: coolwinx
Dua tahun lalu, saya terpaksa mengunjungi salah satu toko kacamata (optik) di sebuah mall di kota tercinta, Surabaya. Kacamata saya pecah. Tidak mungkin beli onlen, karena pengguna harus mencobanya secara langsung.

Mengunjungi gerai, saya mencari model yang pas. Sebagian besar frame tersimpan rapih di dalam display kaca terkunci. Setelah memilih frame yang cocok, kemudian saya meminta pelayan mengambil untuk dicoba. Jika kurang cocok, saya memilih lagi dan terpaksa terus meminta bantuan pelayan mengambilnya. Bersamaan, ia segera mengembalikan frame-frame yang sudah saya coba ke lemari display. Begitu seterusnya. Sungkan juga lama-lama, merepotkan pelayan karena saya termasuk konsumen yang terlalu banyak memilih, apalagi jika ternyata  tidak jadi beli. Mendatangi gerai lain, rata-rata menawarkan layanan yang mirip. 

Setelah menemukan frame paling baik, saatnya memeriksa kondisi mata. Dengan  bantuan kacamata  Phoropter, saya diminta membaca huruf-huruf yang ada di sebuah kartu atau disebut snellen. Dari pengalaman ini kemudian diketahui kondisi mata, serta lensa terbaik untuk kacamata kita. Tahap berikutnya, setelah bertransaksi, saya diminta untuk menunggu (minimal) 3 hari kerja untuk dapat menikmati kacamata baru saya. Sungguh menyusahkan, sudah 2 hari tidak memakai kacamata dan harus menunggu paling cepat 3 hari lagi baru bisa menjadi "normal". Beruntunglah jika kita langsung mendapat setting-an yang sesuai. Jika tidak, bisa memakan waktu lebih lama dan biaya tambahan untuk perbaikan atau penyesuaian kembali. Bagi saya, ini bukan customer experience yang baik, tapi ya sudahlah.

Beberapa minggu ini, kepala saya sering terasa pusing. Mata cepat lelah. Saya pikir, mungkin kerusakan mata saya makin parah. Berniat mencari toko optik untuk memeriksa mata sekaligus ganti gaya.  Istri saya mengajak saya mengunjungi gerai optik baru di Tunjungan Plaza, Owndays. Awalnya tak tertarik dan sama sekali belum pernah mendengar nama tersebut. Membaca material promosi di sana, saya tertarik dengan info bahwa brand ini berasal dari Jepang. OK, kita coba saja... 

Lebih dari ratusan jenis frame tertata di meja dan lemari display yang terbuka. Saya bisa mencoba  suka-suka gue, tanpa sungkan. Mengambil dan mengembalikannya kembali jika belum cocok. Pelayan di sana, yang sebagian besar perempuan usia milenial dengan tampilan casual, cukup proaktif memberi pengetahuan produk pada saya. Mungkin hampir satu jam saya di sana dan bingung pilih yang mana, mengingat biaya beli kacamata sepadan dengan satu ekor Godzilla Monsterarts :) Bagi saya, ini adalah pengalaman tentang kebebasan bagi orang-orang yang ingin membeli kacamata dengan nyaman.

Owndays Tokyo
Owndays menawarkan konsep simple price, artinya harga yang tertera pada masing-masing frame sudah termasuk lensa berkualitas, apapun kelainan mata kita. Harganya bekisar 700rban hingga 1700an. Mungkin hanya ada 5 hingga 6 varian harga saja di antaranya. Kecuali jika kita ingin mengupgrade, seperti mangganti lensa transform yang dapat berubah warna. Mudah menentukan batas anggaran karena varian harga yang relatif sedikit dengan sistem pricing sederhana. Saya memilih frame andalan mereka, dengan teknologi fleksibel.

Koleksi Fleksible
Okey, lanjut ke tahap berikutnya untuk memeriksa mata. Pertama, dengan teknologi scan cepat, mungkin hanya 1 menitan, mereka mendeteksi kemungkinan jenis kelainan lensa mata saya.  Dan benar, nampaknya minus dan silinder saya naik kelas. "Gini aja mbak?", tanya saya. "Oh belum kak, masih ada 2 tahap pemeriksanan lagi", jelasnya. Ternyata prosedur deteksi pertama hanya untuk melihat hipotesis kelainan yang akan diuji kembali pada prosedur berikutnya. Tahap kedua, mata saya diperiksa, dan dilakukan simulasi lensa dengan teknologi digital. Sampai saya menemukan titik terbaik penglihatan saya. Tahap terakhir, seperti pada optik tradisional lain, saya diminta mencoba simulasi Phoropter dan berjalan-jalan sambil menguji penglihatan saya. Kali pertama saya melihat putri dan istri saya yang keduanya terlihat lebih tajam cantiknya. Menarik, Owndays menerapkan validasi berjenjang dengan proses yang cepat untuk menjaga ketepatan produk. 

Selesai uji mata, lalu saya melakukan pembayaran di kasir. "Kapan bisa saya ambil?" tanya saya. "20 menit lagi kak", jawabnya. Wow... hanya 20 menit! Sangat cepat. Bahkan kita bisa melihat workshop mereka saat mengerjakan pesanan kita. Semua jenis lensa dan pekerja profesional ready. Owndays memotong inefisiensi waktu produksi untuk menjaga kepuasan konsumen, menjauhkan dari kegerahan masalah "menunggu kacamata terlalu lama". Sebagian orang mengganti kacamata karena mendadak, tiba-tiba rusak, pecah, jatuh, terinjak, dan sebagainya, dan mereka butuh cepat. Inilah value yang ditawarkan.

Saya mendapat kartu garansi dan beberapa informasi tentang kemudahan Owndays, seperti mengganti frame dan lensa jika tidak sesuai secara gratis dalam satu bulan, atau garansi lain. Terus terang saya belum pernah merasakan fasilitas pascatransaksi. Namun, setidaknya dari pengalaman saya sebagai konsumen biasa, Owndays mampu memenuhi value yang saya cari dari sebuah gerai optik, yaitu kebebasan memilih, akurasi penentuan lensa, dan waktu produksi yang cepat. Bagi saya pribadi, customer experience yang dibangun Owndays, cakep! 

Mungkinkah ini praktik disrupsi bisnis optik, sekaligus bisnis lain yang memiliki kemiripan proses operasional? Bisa jadi!



Dr. Bonnie S
Academician | BusinessCoach | Author
Head of Master of Accounting Programme 
Universitas Surabaya

email: bee7179@gmail.com

Minggu, 09 September 2018

5 Tips Singkat Hidup Meditatif

pic: wikihow
Bagi sebagian besar orang, meditasi identik dengan posisi bersila lotus dengan tangan menyentuh lulut, kemudian bernafas dan berkonsentrasi. Benar, namun teknik tersebut hanyalah satu dari sekian banyak teknik bermeditasi. Sederhananya, meditasi adalah sebuah upaya untuk meningkatkan kesadaran penuh (mindful) dalam segala kondisi, mengamati segala sesuatu tanpa penghakiman, menerima, dan kemudian melepaskannya. Tujuan akhirnya adalah pada pola hidup meditatif, selama 24 jam, 7 hari, dan seterusnya. Orang jawa menyebutnya, eling lan waspada. Berbagai penelitian menunjukkan dampak signifikan dari sikap hidup demikian, seperti peningkatan konsentrasi, empati, fokus, kreatifitas, hingga produktivitas, seperti yang kerap dipopulerkan oleh perusahaan sekelas Google, Apple, atau 3M.

Bagaimana caranya?

Belajar dari berbagai guru yang baik, serta referensi yang berguna, saya mencoba merangkum 5 cara untuk menuju hidup meditatif, baik untuk kehidupan keluarga maupun karir.

1. Ucapkan mantra
Karena ucapan adalah "doa", selalu awali hari dengan kata-kata positif yang membantu meningkatkan gairah hidup, seperti aku bisa menyelesaikan masalah pekerjaan hari ini, aku akan tenang menghadapi ujian hari ini, atau perjalanan hari ini akan menyenangkan. Ucapkan dengan tenang. Anda dapat mengawalinya dengan beberapa detik menyadari nafas hingga Anda benar-benar siap menyadari apa yang akan Anda ucapkan, dengan kayakinan tanpa obsesi.

2. Bersikap dan berbuat baik
Bagaimana sikap orang pada kita, sangat ditentukan bagaimana sikap kita pada mereka. Jadi, mulailah bersikap baik. Tidak perlu memperdebatkan, bagaimana jika orang masih tetap tidak bisa baik pada kita. Karena keikhlasan dalam bersikap dan berbuat baik tidak butuh alasan, tidak perlu menuntut pengembalian. Jangan terjebak pada manipulasi pikiran yang berpotensi menghancurkan mantra dan kedamaian Anda.

3. Amati tanpa menghakimi 
Dalam rutinitas kehidupan, Anda mulai lelah, sedih, bahkan marah menghadapi masalah? Ini adalah hal yang wajar. Bukti bahwa kita manusia. Yang lebih penting adalah bagaimana kita meresponnya. Sadari saja ketika tubuh dan jiwa Anda bergetar karena emosi yang mulai memberontak keluar dari kandang. Tidak perlu dilekati atau dilawan karena itu akan memicu masalah baru. Ambil jarak diantaranya. Tidak perlu dihakimi baik atau tidak. Cukup sadari, kemudian lepaskan perlahan dalam hembusan nafas. Segera kembali pada batin yang murni, bersih, dan damai.

4. Yakini apa yang dilepas, akan diterima
Fisika mengajarkan hukum kekekalan enerji. Bahwa enerji yang dilepas akan kembali. Jika kita melepas kebaikan, kemudian akan memeroleh kebaikan. Juga sebaliknya. Poin ini sekaligus menjawab pertanyaan pada poin 2, bagaimana jika saat kita berbuat baik, tapi orang membalas sebaliknya? Jika Anda masih meragukan dan mempertanyakan hal ini, berarti Anda belum benar-benar secara penuh melepaskan kebaikan. Masih ada sesuatu yang mengganjal, sebuah harapan yang mengikat. Enerji bukan hanya datang dan pergi, namun juga dapat berubah wujud. Setiap kebaikan yang kita tanam akan berbuah. Buah yang datangnya dari mana saja, dalam wujud apa saja, dan dalam kurun waktu sesuai "jalan"nya. Maka, ikhlas dan bersabar saja.

5. Ambil waktu untuk olah raga
Hidup meditatif tidak lepas dari proses penyelarasan tubuh dan batin. Keduanya saling memengaruhi. Prioritaskan juga untuk mengolah tubuh, disamping mengolah rasa dan batin. Berikan waktu untuk diri (me time), melakukan apa yang menyenangkan dan menyehatkan tubuh. Olah raga rutin, tidak harus menghabiskan banyak waktu, cukup sering dan rutin saja. Tubuh yang bugar dan sehat sangat menunjang proses hidup meditatif. Otak selalu fresh dan mampu bekerja optimal. Sebaliknya, ketika tubuh kita lemah, lelah, sakit, lebih sulit bagi kita untuk menjaga pikiran/ batin tetap jernih. Yuk buat jadwal olah raga mulai hari ini, prioritaskan!


Yah... beberapa jam lagi sudah Senin. Weekend sedang berlalu meyapa selamat datang realita. Realita yang mungkin nampak tidak cukup menyenangkan. Para pekerja, memeriksa setumpuk dokumen, jadwal rapat yang bakal melelahkan, kembali mengejar target, atau menghadapi rekan kerja yang menyebalkan. Para ibu rumah tangga, membayangkan perjuangan menembus kemacetan lalu lintas antar-jemput anak-anak sekolah, memasak, mempelajari seluruh catatan sekolah dan jadi "guru les" privat. Para siswa, momok tes, ujian mendadak, mengejar deadline skripsi, anggota kelompok yang semau gue, atau menghadapi dosen-dosen seleb yang dumeh.  


(Tarik dan hembuskan nafas... perhatikan beberapa saat) Tetap dalam posisi batin yang tenang, sekali lagi renungkan kelima tips di atas. Jika disingkat, jadi kata UBAYA, mudah diingat.

Selamat mencoba dan bahagia!