Rabu, 29 Agustus 2018

Boleh Mimpi, Jangan Terobsesi

pic: artofholiness
Mengejutkan, mendengar kabar oknum atlet Malaysia lepas kendali dalam cabang pencak silat Asian Games 2018 lalu. Dua tindakan menjadi sorotan media. Kalah telak dari petarung Komang (Indonesia), Al-Jufferi tak terima dan melayangkan protes, marah dan puncaknya ia menjebol salah satu dinding temporer venue di sana. Di sesi lain, Sobri yang juga tim negeri Jiran itu tertangkap kamera melakukan tendangan pelanggaran kepada lawan (walau hal ini belum cukup jelas pemberitaan kebenaranya). Tindakan ini bukan masalah negara, namun sekali lagi, hanya oknum. 

Tidak perlu membangun sentimen, karena tanpa disadari, diri kita mungkin sering "melakukan" hal serupa!

Menjadi juara jelas impian tiap atlit, menjadi penambang emas juga harapan negaranya. Dalam kehidupan, kita juga sering membangun impian. Ingin ini, ingin itu, banyak sekali seperti Nobita. Visi, impian, adalah baik adanya. Tanpanya, hidup kita tak jelas arah, mengikuti arus seperti ikan mati. Ingin kaya secara materi, ingin punya pasangaan ideal, ingin sembuh dari sakit, ingin jadi aktivis sosial, bisa keliling dunia, membeli semua barang koleksi, ingin sukses kuliah adalah impian-impian yang men-drive tindakan kita menjadi lebih terencana.

Namun yang menjadi masalah adalah ketika kita menjadi terobsesi dan "budak" dari ilusi impian yang kita bangun sendiri. Obsesi akan memicu ego dan emosi yang segera menguasai diri dan tak jarang berujung pada kekecewaan, rusaknya hubungan, kebencian, dan kapahitan. Tidak hanya menyakiti diri, kekecewaan juga akan berdampak pada orang-orang di sekitar, bahkan orang yang tak bersalahpun akan ikut menderita. Kembali pada kasus tim pencak silat tadi. Reaksi anarkis yang terjadi (mungkin) sebenarnya hanya akibat dari sebuah sebab. Takut kalah, ambisi menang yang obsesif akhirnya menggelapkan hati dan mengacaukan batin.

Memang benar bahwa kehidupan terkadang membiarkan kita gagal, kejam dan tidak fair. Sejatinya, segala kejadian yang kita anggap buruk bukan untuk menjadikan kita seorang pecundang, namun untuk membentuk "aku yang lebih sempurna". Kegagalan adalah salah satu bagian paling menantang dalam kisah pencapaian kesuksesan. Bagian yang akan membuat kita lebih kuat dan lebih bijaksana. Hidup akan lebih damai ketika kita mau belajar untuk menerima dan melepaskan segala sesuatu, terutama yang kita rasa tidak baik. Saat kita berhasil, saat kita gagal, terima sebagai kenyataan, menyadarinya tanpa melekatinya. Obsesi berlebihan dan penolakan realitas pada akhirnya sama saja dengan menjerumuskan diri pada ilusi dan manipulasi pikiran, menyalahakan obyek di luar diri bahkan tak segan menyakiti orang lain. Syukuri bahwa segala sesuatu terjadi karena memang harus terjadi. Yakini sebagai hal yang akan membawa kebaikan bagi kita semua.

Ketika Tuhan mengambil emas dari genggaman tangan kita, (mungkin) ia sedang ingin memberikan berlian untuk kita.