Senin, 02 Juli 2018

Aku, AKUntan yang Bodoh?!

pic: time.com
Berawal dari diskusi ringan bersama Idfi, rekan dosen yang kebetulan tergabung dalam proyek pengabdian kepada masyarakat. Saat itu menjelang hari raya Idul Adha. "Hakikat dari hari raya Qurban adalah ketulusan hati kita untuk memberikan korban yang terbaik, bagi sesama dan Allah. Jadi, jika kita mampu membeli sapi, belilah yang terbaik. Namun jika hanya kambing, belilah yang terbaik pula", tuturnya. Seperti bagaimana nabi Ibrahim menyerahkan anak kesayangannya atau kisah Allah mengorbankan Yesus. Ia menyebutnya sebagai kewajiban umat beragama atau hukum Tuhan.

Sejenak, pikiran saya berpetualang menuju masa lampau, ketika masih mula-mula belajar ilmu ekonomi. Saya belajar hukum ekonomi, bahwa ekonom yang baik mampu berkorban sekecil-kecilnya untuk keuntungan sebesar-besarnya. Ada sesuatu seperti dilema. Kedua hukum tersebut bertolak belakang. Atau mungkin memang bisnis adalah bisnis dan agama adalah agama, yang keduanya tidak pernah bersatu. Dilema yang menggantung.

Sejak 2 tahun lalu, saya membantu guru-guru saya, Sujoko Efferin, Iwan Triyuwono, dan Hery Pratono untuk mengampu mata kuliah Akuntabilitas dan Spiritualitas dalam Bisnis di Magister Akuntansi Universitas Surabaya. Mata kuliah akuntansi yang mungkin hanya ada di tempat kami. Mata kuliah yang memperluas horison pengetahuan dan kebijaksanaan bahwa akuntabilitas atau pertanggungjawaban manusia dalam bekerja bukan hanya kepada bos atau shareholder, namun lebih pada Tuhan, makhluk lain, dan alam dalam skema omnikonektivitas semesta. Setiap ucap dan tindak yang kita lakukan berdampak pada kehidupan secara holistik. Sejak saat itu, saya terus memikirkan apa sebenarnya roh dari kata "akuntansi". Apakah akuntansi sebuah simulakra atau bahkan hiper realitas? Ada sedikit hal yang mulai saya pahami, namun meninggalkan hal-hal lain yang sulit dipahami. Selama ini saya mengenal akuntansi sebagai metode pengumpulan data, pencatatan transaksi, proses klasifikasi dan perhitungan komponen-komponen ekonomis untuk menghasilkan laporan keuangan. Bahkan, secara konvensi sudah ada pakem atau standar internasional yang diberlakukan sebagai simbol dominasi politis. 

Penasaran itu makin mengusik saya. Saya kembali menjelajah dunia maya mencari berbagai literatur tentang keaslian dan sejarah akuntansi. Syukur, saya menemukan tulisan salah seorang guru dan penguji disertasi saya, Eko Ganis Sukoharsono, Luca Pacioli's Response to Accounting Whereabout: An Imaginary Spiritual Dialogue. Ada yang menarik dari tulisan ini. Melalui 3 tokoh imajinatif, Luca Lama, Luca baru, dan Luca Pacioli, beliau mengajak pembaca untuk memahami kembali apa itu akuntansi. Luca Pacioli seorang pelayan Tuhan di gereja Katolik Roma dan ahli matematika, dikenal sebagai bapak akuntansi, penemu sistem double-entry. 

Mempelajari bidang hermeneutika Foucault dan Ricoeur, mengusik hati saya untuk berburu mencari tahu, siapa itu Luca Pacioli, apa yang pernah ia sampaikan tentang akuntansi dan dalam konteks seperti apa. Dengan harapan mendapat sedikit pencerahan yang benar. Bertemu Christian, salah satu mahasiwa yang sedang dalam proses bimbingan Tesis. Ia membantu saya untuk mencari naskah-naskah asli Pacioli serta literatur tentang sejarah akuntansi dan upaya manusia mencari kebenaran. 

Particularis de Computis et Scripturis, demikianlah judul naskah Pacioli yang menjadi best seller pada tahun 1490an hingga ke Amerika. Pacioli, disebut sebagai salah satu kawan sekaligus guru dari si jenius, Leonardo da Vinci. Lukisan The Last Supper karya da Vinci sebenarnya merupakan hasil "kursus" nya tentang matematika, geometri, proporsi, dan perspektif pada sang guru Pacioli. Naskah fenomenal Pacioli tidak hanya berisi tentang teknis penulisan transaksi, namun diwarnai oleh pesan-pesan spiritual yang sebenarnya menjadi roh dari akuntansi itu sendiri. Tidak ada ucap tentang difinisi akuntansi oleh Pacioli. Ia hanya memaparkan secara eksplisit tentang prinsip pengusaha atau pedagang dan prinsip pencatatan yang baik. Prinsip pengusaha dan pencatatan yang sangat mencerahkan atau malah, membingungkan.

(The Last Supper, Wikipedia)
Trustworthiness, sebagai prinsip pertama pebisnis yang baik. Ia harus dapat diandalkan dan dipercaya. Pacioli mengatakan, "We are saved by faith, and without it, it is impossible to please God." Tuhan. Dalam bisnis, moral, kejujuran adalah yang utama. Ia harus memiliki roh Tuhan, iman keTuhanan yang baik agar dapat bersikap baik. Pernyataan ini mulai menjawab dilema saya, apakah bisnis dan agama adalah hal yang tidak pernah bertemu. Kedua, be a good bookeeper, artinya pebisnis perlu menyajikan informasi yang baik dan dapat dipahami oleh pembaca yang rajin. Prinsip ini mengajarkan tentang empati, bahwa laporan yang dihasilkan harus dapat dipahami oleh audien dan meminimalkan bias persepsi. Ada kata "rajin" dalam memaknai prinsip kedua. Kemudian, Pacioli menjelaskan kutipan Raja Sulaiman tentang perumpamaan semut, bahwa pengusaha dan pedagang harus bekerja dengan rajin dan tekun seperti semut. 

Selanjutnya, terkait pencatatan, Pacioli menekankan 2 poin utama, yaitu inventario (inventori) dan disposition (pengaturan). Pacioli mengajar bahwa segala yang kita miliki harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan. Harta, waktu, kesempatan adalah anugerah Tuhan pada kita. Bagaimana kita mengelolanya adalah ibadah kita padaNya. Implikasinya, bahwa ketika memulai berbisnis khususnya mencatat transaksi, ia mengajarkan kita agar terbiasa menuliskan "In the name of God..." atau di dalam nama Tuhan... Wow!!!  Ia menulis, "The merchants should begin their business with the name of God at the begining of every book and have His holy name in their minds."

(Cuplikan naskah Pacioli, 1949)
Kedua, tentang pengaturan. Mungkin tidak banyak akuntan paham, termasuk saya. Apa arti Debet dan Kredit. Mengapa Debet didahulukan, dan kemudian Kredit?

Istilah Debit berasal dari bahasa Itali tradisional, "Dee Dare" yang artinya shall give atau memberi atau menabur. Sedangkan Kredit berasal dari kata "De Avere" yang artinya shall have atau mendapat atau menuai. Bagaimana menurut Anda? 

Debit-Kredit bukanlah dikotomi, namun sebuah interkoneksi, bahwa ketika kita memberi, kita pasti akan mendapatkan. Ketika kita menabur, kita akan menuai. Demikianlah harmoni kedua sisi akuntansi. Bahkan dalam bagian lain, Pacioli berpesan, "… But above all, remember God and your neighbor, never forget to attend to religious meditation every morning, for through this you will never lose your way, and by being charitable, you will not lose your riches..." Artinya, bahwa dalam berbisnis selalu ingat dan pedulikan Tuhan dan orang-orang disekitarmu, selalu intim dengan Tuhan dalam sesi meditasi, maka engkau akan selalu mendapatkan jalan. Selalu bermurah hati dan engkau tidak akan pernah menjadi miskin. Sebuah prinsip yang bertolak belakang dengan hukum ekonomi yang beredar hampir di seluruh perguruan yang katanya tinggi.

Selanjutnya, ia juga mengutip pernyataan Santo Matius, "...St Matthew says “Primum quaerite rugulum dei, et haec omnia adiicietur vobis” (“Seek first the kingdom of God and then the other temporal and spiritual things you will easily obtain, becaude your Heavenly Father knows very well your need…)

Demikianlah prinsip dasar akuntansi pada mula-mula. Pacioli adalah tokoh religius yang juga berwawasan spiritual yang baik. Ia mengajarkan prinsip Tuhan universal. Sebuah keyakinan penuh bahwa Tuhan harus menjadi yang utama. Segala tindak tanduk kita adalah pertanggungjawaban pada Tuhan. Jauh dari fraud, jauh dari penggelapan pajak, jauh dari korupsi uang perusahaan, jauh dari double accounting, jauh dari income smooothing. Carilah Kerajaan Tuhan, lakukan kebaikan, prinsip-prisnip kebenaran dalam berbisnis, dan kita tidak akan pernah jatuh miskin. Demikian harap Pacioli yang tentunya dapat dicapai melalui iman dan perbuatan baik.

O.. i c...

10 tahun aku belajar akuntansi hingga jenjang tertinggi, tanpa memahami apa itu akuntansi. Bodohnya aku...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar