Jumat, 04 Mei 2018

Kasih Retno Anjani Kepada Hanoman, Kepemimpinan Ala Ibu Kera

pic: Anjani (wikipedia)
Retno Anjani, tokoh favorit kedua saya dalam kisah Ramayana. Tidak setenar perempuan lain seperti Sinta namun perannya begitu besar.

Memang akibat perbuatannya, ia harus menanggung derita, menjadi rupa kera dan bertapa nyantoka, berdiam dalam air seperti katak. Bertahun-tahun ia hidup bergantung pada daun-daunan yang kebetulan terbawa aliran air menuju mulutnya. Bathara Guru menjadi berbelas kasih padanya dan mengirimkan daun sinom untuk Retno Anjani. Ia memakannya dan segera mengandung. Berakhir sudah tapanya, dimulailah masa kehamilan. Perlahan parasnya kembali seperti semula, perempuan cantik bagai bidadari.

Hari yang ditunggu tiba, lahirlah jabang bayi Anjani. Tak penuh membawa kebahagiaan melihat anaknya berupa kera, berbulu putih kapas. Hanoman, demikian nama bayi itu harus menanggung "dosa" Anjani menjalani kehidupan mencapai kesempurnaan. Dewata tidak memberi Anjani banyak waktu untuk mendampingi Hanoman. Dalam masa pendek, Anjani harus mendidik putranya dengan tepat. Membekalkan sesuatu yang penting bagi fondasi kehidupan Hanoman kelak.

Membaca kisahnya dalam Anak Bajang Menggiring Angin, saya menemukan inspirasi hebat tentang peran Retno Anjani sebagai ibu, sekaligus pemimpin bagi anaknya. Ia sadar, tidak lama lagi Hanoman akan menjadi sebatang kara, tak ada lagi sandaran, pelukan nyaman ibu. Hanoman harus menjadi wanara yang kuat, mandiri, dan berhati mulia. 

Bagaimana Retno Anjani mangajar dan mengembangkan potensi Hanoman?

Setiap malam, Anjani melantunkan kidung Dharma terus berulang hingga Hanoman tertidur lelap. Tak heran, pada usia anak-anak, Hanoman memiliki kebijaksanaan yang luar biasa. Ia sering mempertanyakan misteri-misteri dunia. Kidung Dharma adalah dasar cara berpikir dan bersikap. Dharma menghasilkan kebijaksanaan. Demikianlah prinsip pertama bagaimana Anjani membentuk karakter Hanoman. Dalam organisasi masa kini, tata nilai, prinsip kenbenaran adalah tiang agung yang harus dibangun dalam diri setiap anggotanya. Sungguh tidak berarti keahlian, gelar akademik, jabatan tinggi jika tidak didasari Dharma. Orang-orang yang menjalani Dharma akan sadar bahwa ia wajib melatih dirinya, mengembangkan keahlian dan wawasannya, mengajar budi dan mengasah hati nuraninya.

Sambil membangun kesadaran Dharma sejak dini, Anjani juga mengajar Hanoman untuk berteman dengan makhluk hutan. Ia sadar, kemampuan bertahan atau survival ability dengan membangun relasi atau networking adalah hal yang penting. Ini adalah kecerdasan sosial. Berinteraksi dengan makhluk yang berbeda, saling memahami, dan saling bekerja sama. Demikian halnya dalam kehidupan organisasi modern, bahwa kecerdasan sosial adalah faktor utama dalam membangun teamwork dan sinerji, baik dengan pihak internal maupun pihak eksternal. Persahabatan Hanoman dengan makhluk hutan sangat murni, bebas prasangka atas perbedaan atribut, bahkan dikisahkan ia berteman akrab dengan bangsa kura-kura. Jika manusia modern masih sibuk mempertentangkan perbedaan atribut, sesungguhnya mereka kalah dengan bangsa kera ini.  

Akhirnya, Anjani juga menanamkan prinsip agar Hanoman mengasihi alam. Ketika kita menjaga, mengasihi alam, maka alam juga akan mengasihi dan menjaga kita. Ini semacam hukum menabur dan menuai. Saya memaknai arti mengasihi alam sebagai kecerdasan ekologis dan tindakan spiritual pada alam. Sikap inilah yang kelak menjadi kekuatan tak terbatas Hanoman, semesta mendukung. Ia berhasil menemukan Alengka dan membantu Rama mengalahkan Rahwana dengan cara-cara yang ajaib seolah alam bekerja untuknya. Menabur kebaikan perlu dijadikan budaya organisasi masa kini di tengah era berat yang disebut disrupsi. Kekuatan organisasi manapun terletak pada orang-orangnya. Orang-orang yang baik dalam tutur kata dan sikap. Baik kepada manusia lain, baik kepada lingkungan dan makhluk lain karena hanya dengan budaya dan pemimpin yang baik kita memperoleh hasil terbaik dari proses terbaik mereka.

Retno Anjani, menyingkap rahasia pembedayaan manusia secara utuh yang diteladankan melalui  bagaimana seorang ibu mendidik anaknya, Hanoman. Mendidiknya menjadi makhluk yang berbudi luhur, mandiri dan kuat. Terima kasih Dewi Anjani.




"Berbahagialah kera yang berhati manusia dan celakalah manusia yang berhati kera."
(Inspirasi Anak Bajang Menggiring Angin)

1 komentar: