Sabtu, 19 Mei 2018

Otaku Coin, Mata Uang Penggemar Budaya Pop Jepang Masa Depan


pic: Darling in The Franxx

Bayangkan, pemuda pecinta budaya pop Jepang mendapat poin dalam bentuk digital secara otomatis saat membuka sebuah situs streaming anime, membaca e-manga, mengunduh game, atau ikut ngeramein even bertema Jepang. Poin yang kemudian bisa ia gunakan untuk transaksi, seperti membeli barang fisik atau mengikuti even berbayar Jejepangan. Tidak perlu bawa uang tunai, tidak perlu kartu kredit, atau visa, cukup dengan poin virtual dalam sebuah aplikasi. Semua mudah, cepat, dan praktis. Benar-benar sistem impian para Otaku (sebutan orang yang demen banget dengan hal berbau Jepang seperti anime Naruto, Ksatria Baja Hitam, Gundam, Doraemon, dan pop culture Jepang lain), impian yang sebentar lagi menjadi kenyataan.

Otaku Coin (OC), demikianlah sebutan cryptocurrency berbasis blockchain yang khusus menyasar para Otaku. Di bawah payung pengembang Tokyo Otaku Mode, OC dijadwalkan rilis pada musim panas 2019. OC yang beroperasi pada platform Ethereum ini akan menjadi backbone penghubung seluruh organisasi dan perusahaan terkait. FX Empire memprediksi teknologi OC ini akan sukses, karena anime atau manga sendiri sudah memiliki jumlah fanbase yang keterlaluan besar, sangat fanatik, dan memiliki daya beli yang kuat. Manusia masa depan memiliki dua kehidupan dan kependudukan, nyata dan maya atau yang disebut Johan dan David Stillman, phygital. Keduanya akan saling berselaras dan saling melengkapi, seperti fitur yang ditawarkan OC.

Dalam tulisannya, Lauren Orsin kontributor Forbes menyebutkan rencananya, OC akan menerbitkan 100 milyar koin untuk keperluan pengembangan budaya Otaku dan 39% lainnya akan dipakai oleh Otaku Mode sebagai biaya operasional. Namun demikian, jumlah ini masih menjadi pro-kontra diantara pengamat keuangan. Nao Kodaka, CEO Tokyo Otaku Mode berusaha menawarkan value co-creation, dimana para Otaku dapat berperan aktif mendanai sebuah even atau proyek, penghilangan biaya konversi mata uang asing, dan memberi penghargaan lain dalam konsep semacam gamification.


Saat OC dirilis, para Otaku dengan bebas dan praktis dapat berburu mengumpulkan koin dari berbagai aktivitas terkait dan kemudian dapat menggunakannya untuk transaksi suka-suka. Sangat personal. Semua dilakukan dengan mata uang OC, memotong rantai distribusi dan kerumitan transaksi uang fisik atau dengan kartu kredit tradisional, serta menghilangkan barrier transaksi akibat perbedaan mata uang negara. Wow! Saya hanya membayangkan masa depan, tentang goncangan ekonomi yang dahsyat, dan terpuruknya lembaga keuangan tradisional. Teknologi inovatif demikian semakin menyisihkan peran mereka sebagai perantara/ “penimbun” uang dan mungkin akan banyak mengurangi perputaran devisa/ valuta asing. 

Sungguh menarik. Setelah goncangan bitcoin, sekarang Otaku Coin hadir dengan pasar lebih segmented, namun sungguh berdaya beli. Kebangkitan cryptocurrency tidak dapat dibendung, lebih disruptif daripada marketplace online, atau taxi online. Mereka menawarkan value proposition yang sangat kuat, praktis, cepat, ekonomis, online, dan dipertanggungjawabkan dengan skema mutual monitoring otomatis, semuanya serba transparan.

Saat ini sedang dikembangkan OC untuk Otaku. Berikutnya, entah segmen dan bidang mana lagi yang akan digarap oleh para inovator dan "penambang" cryptocurrency. Strategi perekonomian negara akan terdisrupsi. Kehidupan ekonomi manusia akan bertransformasi. Mari sambut datangnya dunia maya yang nyata, dan dunia nyata yang maya.

Semoga bermanfaat!

Jumat, 04 Mei 2018

Kasih Retno Anjani Kepada Hanoman, Kepemimpinan Ala Ibu Kera

pic: Anjani (wikipedia)
Retno Anjani, tokoh favorit kedua saya dalam kisah Ramayana. Tidak setenar perempuan lain seperti Sinta namun perannya begitu besar.

Memang akibat perbuatannya, ia harus menanggung derita, menjadi rupa kera dan bertapa nyantoka, berdiam dalam air seperti katak. Bertahun-tahun ia hidup bergantung pada daun-daunan yang kebetulan terbawa aliran air menuju mulutnya. Bathara Guru menjadi berbelas kasih padanya dan mengirimkan daun sinom untuk Retno Anjani. Ia memakannya dan segera mengandung. Berakhir sudah tapanya, dimulailah masa kehamilan. Perlahan parasnya kembali seperti semula, perempuan cantik bagai bidadari.

Hari yang ditunggu tiba, lahirlah jabang bayi Anjani. Tak penuh membawa kebahagiaan melihat anaknya berupa kera, berbulu putih kapas. Hanoman, demikian nama bayi itu harus menanggung "dosa" Anjani menjalani kehidupan mencapai kesempurnaan. Dewata tidak memberi Anjani banyak waktu untuk mendampingi Hanoman. Dalam masa pendek, Anjani harus mendidik putranya dengan tepat. Membekalkan sesuatu yang penting bagi fondasi kehidupan Hanoman kelak.

Membaca kisahnya dalam Anak Bajang Menggiring Angin, saya menemukan inspirasi hebat tentang peran Retno Anjani sebagai ibu, sekaligus pemimpin bagi anaknya. Ia sadar, tidak lama lagi Hanoman akan menjadi sebatang kara, tak ada lagi sandaran, pelukan nyaman ibu. Hanoman harus menjadi wanara yang kuat, mandiri, dan berhati mulia. 

Bagaimana Retno Anjani mangajar dan mengembangkan potensi Hanoman?

Setiap malam, Anjani melantunkan kidung Dharma terus berulang hingga Hanoman tertidur lelap. Tak heran, pada usia anak-anak, Hanoman memiliki kebijaksanaan yang luar biasa. Ia sering mempertanyakan misteri-misteri dunia. Kidung Dharma adalah dasar cara berpikir dan bersikap. Dharma menghasilkan kebijaksanaan. Demikianlah prinsip pertama bagaimana Anjani membentuk karakter Hanoman. Dalam organisasi masa kini, tata nilai, prinsip kenbenaran adalah tiang agung yang harus dibangun dalam diri setiap anggotanya. Sungguh tidak berarti keahlian, gelar akademik, jabatan tinggi jika tidak didasari Dharma. Orang-orang yang menjalani Dharma akan sadar bahwa ia wajib melatih dirinya, mengembangkan keahlian dan wawasannya, mengajar budi dan mengasah hati nuraninya.

Sambil membangun kesadaran Dharma sejak dini, Anjani juga mengajar Hanoman untuk berteman dengan makhluk hutan. Ia sadar, kemampuan bertahan atau survival ability dengan membangun relasi atau networking adalah hal yang penting. Ini adalah kecerdasan sosial. Berinteraksi dengan makhluk yang berbeda, saling memahami, dan saling bekerja sama. Demikian halnya dalam kehidupan organisasi modern, bahwa kecerdasan sosial adalah faktor utama dalam membangun teamwork dan sinerji, baik dengan pihak internal maupun pihak eksternal. Persahabatan Hanoman dengan makhluk hutan sangat murni, bebas prasangka atas perbedaan atribut, bahkan dikisahkan ia berteman akrab dengan bangsa kura-kura. Jika manusia modern masih sibuk mempertentangkan perbedaan atribut, sesungguhnya mereka kalah dengan bangsa kera ini.  

Akhirnya, Anjani juga menanamkan prinsip agar Hanoman mengasihi alam. Ketika kita menjaga, mengasihi alam, maka alam juga akan mengasihi dan menjaga kita. Ini semacam hukum menabur dan menuai. Saya memaknai arti mengasihi alam sebagai kecerdasan ekologis dan tindakan spiritual pada alam. Sikap inilah yang kelak menjadi kekuatan tak terbatas Hanoman, semesta mendukung. Ia berhasil menemukan Alengka dan membantu Rama mengalahkan Rahwana dengan cara-cara yang ajaib seolah alam bekerja untuknya. Menabur kebaikan perlu dijadikan budaya organisasi masa kini di tengah era berat yang disebut disrupsi. Kekuatan organisasi manapun terletak pada orang-orangnya. Orang-orang yang baik dalam tutur kata dan sikap. Baik kepada manusia lain, baik kepada lingkungan dan makhluk lain karena hanya dengan budaya dan pemimpin yang baik kita memperoleh hasil terbaik dari proses terbaik mereka.

Retno Anjani, menyingkap rahasia pembedayaan manusia secara utuh yang diteladankan melalui  bagaimana seorang ibu mendidik anaknya, Hanoman. Mendidiknya menjadi makhluk yang berbudi luhur, mandiri dan kuat. Terima kasih Dewi Anjani.




"Berbahagialah kera yang berhati manusia dan celakalah manusia yang berhati kera."
(Inspirasi Anak Bajang Menggiring Angin)