Jumat, 27 April 2018

Resep Kreasi Efisiensi

pic: edisonnationmedical
Ada dua cara meningkatkan profit periodik, meningkatkan pendapatan atau menurunkan biaya. Pada umumnya, setiap perusahaan yang baik melakukan opsi kedua. Bagi perusahaan inovatif, mereka akan mengupayakan keduanya, melakukan inovasi dengan mengerahkan dedicated team-nya sekaligus melakukan efisiensi pada kegiatan operasional. Efisiensi adalah keharusan!

Banyak teknik dan upaya dilakukan untuk menekan efisiensi, khususnya biaya. Cara termudah efisiensi adalah melalui cut cost atau kebijakan pangkas biaya yang lazim dilakukan sejak proses penganggaran. Semua biaya ditekan hingga estimasi laba tercapai dengan ideal. Strategi efisiensi adalah upaya perusahan untuk bertahan. Namun pada praktiknya tidak semudah itu.

Altman (2015) dalam artikel Forbes menggambarkan efek negatif dari strategi efisiensi biaya ketika efisensi hanya dipandang sebagai upaya penyelamatan reputasi divisi (cost centre) dan citra manajemen atas. Jika demikian, "pertentangan" stakeholder karyawan dan konsumen menjadi tantangan baru bagi tim manajemen. Perusahaan dinilai kebangetan, terlalu berhitung, dan kapitalis. 

Sebuah studi McKinsey menjelaskan bahwa esensi efisiensi bukan pada berapa banyak biaya yang dipangkas, namun pada bagaimana cari kita memangkas. "Cara", adalah kuncinya. 

Efisiensi dapat upayakan melalui dua cara, pemaksaan dengan otoritas atau upaya penyadaran melalui budaya organisasi. Cara pertama berisiko memicu retensi dari berbagai pihak. Tidak jarang karyawan tengah dan bawah berpikir ekonomis. Memanfaatkan segala fasilitas perusahaan dengan optimal. Toh yang penting saya (baca: karyawan) untung. Memakai mobil dan peralatan kantor untuk pribadi, menghidupkan komputer dan AC sepanjang hari walau tidak terpakai, hingga membawa pulang barang tidak material seperti pensil atau kopi saset.

Bisa dihitung, berapa risiko pemborosan. Ilustrasi, bayangkan sebuah korporat memiliki 10 gedung. Setiap gedung terdiri dari 5 ruang kerja dan berdiri di atas 5 lantai. Total 250 ruangan. Jika setiap ruang bisa menghemat listrik perbulan sebesar 100rb rupiah dengan mematikan segala peralatan elektronik setelah selesai bekerja atau saat tak dibutuhkan, maka bisa terjadi efisiensi hingga 25jt sebulan atau 300jt dalam 1th.

Membangun budaya membiasakan hidup efektif dan efisien, menjaga fasilitas tempat kita bekerja, bekerja ekonomis, dan berintegritas akan menjadi pemicu dasar efisiensi. Sejatinya, biaya hanya konsekuensi dari tindakan. Kuncinya adalah membangun kesadaran arti saling memiliki, bukan merasa paling memiliki, tahu diri, dan tidak egois. Kesadaran yang dimulai dari para petinggi.

Diyakini, ketika perilaku orang-orang dalam organisasi mencapai kesadaran penuh dalam berperilaku efektif dan efisien, pemangkasan biaya akan terjadi dengan sendirinya, tanpa dipaksakan. Efisiensi bukan lagi sekadar upaya menjaga performa atau citra, atau upaya survival, tapi sebagai gaya hidup. Demikianlah resep mencipta efisiensi.

Semoga bermanfaat!


Selasa, 10 April 2018

Apakah Anda Bahagia?

pic: theconversation
BAHAGIA... kata ajaib, sesuatu yang dicari orang dalam hidup. Kita sering mendengar kata itu dan dikaitkan dengan kenaikan gaji, keberhasilan kinerja bisnis, naik pangkat, dapat properti baru, dan segala pencapaian materi lain. Seseorang bisa berpikir inilah kebahagiaan. Namun apa yang terjadi kemudian, saat biaya hidup dan biaya gaya hidup di masa mendatang meningkat, tanpa dibarengi peningkatan pendapatan? Menderita lagi, merasa tidak bahagia, dan begitu seterusnya. Lalu, apakah bahagia itu sementara? 

Sesungguhnya ilustrasi di atas menggambarkan kesenangan, bukan kebahagiaan. Lalu apa itu bahagia?

Pernahkah Anda menolong makhluk lain?
Memberi sedekah pengemis tua, memberi bantuan obat-obatan pada korban bencana alam, membantu mengganti ban mobil orang yang terlihat kebingungan, berqurban untuk kaum dhuafa, atau menyingkirkan anak kucing dari tegah jalan. Pertolongan-pertolongan sederhana. Apa yang Anda rasakan setelahnya? Senang atau bahagia?

Inilah perbedaan antara kesenangan dan kebahagiaan. Senang adalah kondisi saat kita menerima sesuatu, sesuatu yang kita anggap bernilai bagi diri. Sesuatu yang berpusat pada ego. Bertolak belakang dengan bahagia, kondisi saat kita memberi sesuatu yang bernilai bagi orang atau makhluk lain.  Sesuatu yang berpusat pada relasi kehidupan atau omni-connectivity. Sebuah kesadaran penuh bahwa kita memberi bukan karena berharap sesuatu (transaksi), namun karena saling menolong, berbuat kebaikan adalah tujuan hidup yang saling terkait, antara saya, anda, kami, kita, makhluk lain, alam, dan Tuhan.

Sering, dalam kondisi berbahagia kita sekaligus merasa senang namun dalam waktu singkat eforia senang itu akan segera hilang. Kesenangan membuat jiwa kita terus haus tanpa batas. Namun kebahagiaan akan menggenapkan rasa syukur. Dalam berbagai keyakinan, Tuhan telah megajarkan arti kasih, kebebasan, dan kebahagiaan bukan karena mendapat, namun karena memberi. Memberikan korban terbaik, bahkan pengorbanan diri, anak yang paling dikasihi.


Selamat beraktivitas!

Rabu, 04 April 2018

Rethinking Digital Culture: 3 Alasan Mengapa Produktivitas Kita Menurun

pic: 123rf
Mari renungkan. Apa yang pertama kali Anda lakukan sebangun tidur? Ambil smartphone, matikan alarm. Kemudian memeriksa berbagai pesan masuk dan jadwal hari ini. Sambil sarapan, menyimak berita kekinian dari media sosial atau situs berita. Berbegas menuju kendaraan pribadi dan membuka aplikasi peta mencari rute lancar dan tercepat. Atau dengan bantuan taxi onlen melalui apliaksi. Mernariknya, sambil mengendarai kendaraan, masih saja ada yang sempat update status atau cek pesan.

Sampai kantor, segera menghidupkan PC, memeriksa setumpuk email masuk, memilah dan membalas yang penting. Lanjut bekerja membuka aplikasi hingga sore, sambil selalu menyempatkan memeriksa pesan smartphone dan menerima telepon. Selesai bekerja, pulang kembali meminta bantuan aplikasi peta. Di rumah, sambil bersantai bersama keluarga kembali membuka internet, entah sekadar membaca berita, update status media sosial, bermain game, atau lihat-lihat video musik. 

Inilah gambaran digitalisasi kehidupan. Sebuah kehidupan yang terkoneksi pada perangkat berbasis digital hingga menjadi sebuah kebiasaan atau budaya dalam sebuah masyarakat.  Phygital, begitulah Stillman & Stillman (2016) menyebut manusia demikian. Mereka yang hidup di dunia fisik, sekaligus dunia digital. Teknologi digital dirancang untuk mempermudah kehidupan manusia. Segalanya lebih cepat, praktis, dan ekonomis. 

Hal bertolak belakang dialami, sebut saja Mr X salah seorang kawan diskusi saya. Beliau adalah seorang manajer di sebuah perusahaan manufaktur plastik. Beliau megeluhkan produktivitas karyawan lama-lama menurun hingga diambil kebijakan dilarang membuka media sosial selama jam kerja. Namun demikian, karyawan masih saja bisa mengakses media sosial melalui smartphone. Lalu, pembatasan sampai tahap apa harus dilakukan? Akan menjadi terlalu micromanaged jika melakukan scanning pada setiap karyawan yang akan keluar dan masuk kantor.

Benar, tanpa pengendalian diri yang baik, digitalisasi justru membuat hidup kita antiproduktif. Berbagai pakar mindfulness menyebutkan bahwa optimalisasi sebuah pekerjaan hanya dapat dilakukan ketika seseorang fokus, tenang, dan tidak mengalami gangguan (distraction). Bagaimana mungkin kita menjadi fokus jika saat membuat laporan keuangan tiba-tiba smartphone berbunyi berkali-kali. Bagaimana mungkin kita tenang jika saat membuat proposal proyek kemudian notifikasi media sosial muncul terus di layar PC. 

Dampak negatif digitalisasi adalah munculnya gangguan tiba-tiba (sudden distraction), sesuatu yang datang tiba-tiba membuat kita penasaran dan akhirnya gagal fokus pada apa yang sedang kita lakukan. Mematikan gadget atau notifikasi media sosial yang tidak diperlukan pada jam-jam tertentu bisa menjadi salah satu solusi menghindari distraction dan menjadi bekerja fulltime. Kedua, information overload atau kondisi dimana kita menerima informasi secara berlebihan. SMS tawaran produk, email spam, iklan media sosial, ditambah berbagai berita yang terlalu mudah terakses. Memang di dalam pengambilan keputusan yang baik kita perlu mendapat banyak informasi, namun informasi tersebut harus relevan dan tidak redundan. Sebaliknya, informasi yang berlebihan dan tidak relevan justru memicu bias keputusan.

Ketiga, kehadiran perangkat digital selalu menggoda kita untuk bekerja multitasking seperti mendengarkan bos bicara di meeting sambil memeriksa pesan pribadi. Namun perlu diperhatikan bahwa menurut neuroscience, bekerja secara multitasking tidak pernah berdampak baik, selain mempercepat penurunan kinerja otak (overload the brain). Dalam artikel penelitian Jääskeläinen disebutkan penelitian terdahulu bahwa multitasking menurunkan produktivitas hingga 40%. Jika masih ada organisasi berharap karyawan mampu multitasking sesungguhnya ia sedang menurunkan kinerja perusahaan secara keseluruhan, secara berlahan.

Mari lebih bijaksana dalam berdigital-ria. Semoga bermanfaat!