Selasa, 27 Maret 2018

The Greatest Showman Shows How to Empower Others


The Greatest Showman, film penghujung 2017 yang menarik untuk kita perhitungkan. Dengan tema antimainstream, film yang dibintangi si Wolverine Hugh Jackman berhasil masuk 3 nominasi Golden Globes dan memenangkan 1 kategori lagu terbaik. Sebuah kisah yang terinspirasi oleh kisah nyata PT Barnum yang memiliki mimpi dan imajinasi supergila untuk menciptakan sebuah pertunjukan terbesar sepanjang masa, Barnum & Baliley Circus.

Barnum muda yang diperankan oleh Jackman menjadi korban PHK dari tempat ia bekerja karena masalah keuangan perusahaan. Dengan impiannya, Barnum menapakkan kaki pada kehidupan dan visi barunya. Ia meminjam sejumlah besar uang pada bank untuk membuka sebuah museum, tempat pertunjukkan hal-hal unik. Perjalanan startup Barnum tidak seindah impiannya. Rugi, sepi pengunjung. Ia tak habis ara. Dengan konsep baru ia mulai merekrut manusia-manusia yang "aneh" yang mungkin tidak pernah diperhitungkan oleh keluarganya. Melalui proses yang keras, Barnum berhasil melatih dan memberi semangat orang-orangnya untuk menampilkan pertunjukan yang mengagumkan. Suka-duka, sukses-gagal menjadi warna kental drama musikal ini.

Saya bukan pecinta drama, namun saya menikmati The Greatest Showman. Satu pesan yang terngiang di batin saya, bahwa film ini adalah film tentang kemanusiaan, it's a humanity celebration movie ever. Kisah Barnum menyiratkan sebuah pesan moral tentang seorang pemimpin yang cerdas. Sangat cerdas di dalam melihat, menilai potensi manusia. Ia percaya bahwa setiap manusia memiliki potensi dan kelebihan unik yang tidak dimiliki manusia lain. Bahkan, manusia yang "tersisihkan" adalah mereka yang juga memiliki potensi luar biasa. Ia percaya itu!

Kemampuan melihat potensi di dalam diri manusia, membantunya mengembangkannya, kemudian menciptakan sebuah simfoni menjadi kekuatan pertunjukan Barnum. Layaknya sebuah proses pemberdayaan yang sempurna. Saya hanya membayangkan, betapa indahnya tempat bekerja jika kita memiliki pemimpin atau setidaknya tim HRD yang mampu bersikap demikian. Mereka yang memahami arti kehidupan secara utuh, meyakini potensi hebat manusia, menghargainya, kemudian mampu menempatkannya pada posisi yang tepat untuk menciptakan sinerji, sebuah performa pertunjukan yang luar biasa.

Perlu kesabaran dan kebesaran hati untuk membantu orang lain bertumbuh, menemukan bakatnya dan kemudian mengembangkannya. Perlu proses yang mungkin tidak efisien. Menarik, Barnum sadar segala konsekuensi dari keputusannya, namun ia tetap memegang prinsip hidupnya bahwa "The noblest art is that of making others happy", bukan hanya membahagiakan penonton atau konsumen, namun terlebih pada membahagiakan timnya, membantu mereka menemnukan tujuan hidupnya, membuat tempat kerja seperti "rumah", penuh cerita, dukungan moral.

Sangat indah, seindah utopia...


Lihat trailer:

Kamis, 22 Maret 2018

How to Drive A Jaeger: 4 Pesan Moral Pacific Rim untuk Organisasi Masa Kini

Pacific Rim Uprising, salah satu film yang saya tunggu di tahun ini. Fighting action-nya layak kita acungi dua jempol. Special effect film ini nampak nyaris sempurna. Perpaduan Mecha dan Kaiju yang membawa penonton pada atmosfer Jepang yang sangat kuat. Seperti perpaduan Ultraman, Evangelion, Gundam dalam satu film. Memang dari sisi alur dan kekuatan storytelling-nya tergolong biasa-biasa saja. Walau demikian, film terakhir Del Toro ini masih diperkaya pesan-pesan moral berbobot secara implisit. Pesan-pesan baik yang kemudian saya nilai sebagai analogi dalam organisasi bisnis maupun nirlaba.

Saya mencatat empat pesan yang menjadi prinsip dasar pengendalian dalam organisasi:

1. Synchronizing, Releasing Ego
Sama seperti Pacific Rim perdana, Jaeger menjadi titik perhatian utama Uprising. Proyek ambisius PPDC ini berhasil menciptakan robot raksasa untuk melumpuhkan Kaiju (monster). Uniknya, sebuah Jaeger dikendalikan dua atau tiga orang bersamaan. Sebelum dioperasikan, pilot atau pengendara Jaeger wajib melakukan prosesi sinkronisasi pikiran mereka melalui sebuah platform yang tertanam di dalam Conn-Pad. Kegagalan sinkronisasi akan berakibat fatal. kekacauan pikiran diantara mereka dan kegagalan operasi robot. 

Jaeger adalah simbol organisasi, sebuah sistem rumit yang dikendalikan lebih dari satu orang dan perlu sinkronisasi pikiran orang-orang didalamnya. Seperti yang dikatakan jenderal Sun Tzu bahwa pasukan harus bergerak seperti satu tubuh. Sinkronisasi dapat diartikan sebagai proses saling memahami, saling berempati, dan saling menjaga, saling bekerja sama untuk kepentingan dan tujuan yang sama. Mudah diucap, tidak ditindak. Perlu kesadaran penuh untuk mampu melepas ego dan menjadi saling berkontribusi. 

2. Learn to Let It Go
Proses sinkronisasi dua driver Jaeger bukan hal mudah. Dalam satu adegan, Jake (tokoh utama) sedang melatih salah satu bakat muda, Amara. Mereka melakukan simulasi mengendalikan Jaeger. Sinkronisasi pikiran gagal. Amara terseret kenangan pahit masa lalunya, ketika kedua orang tua dan saudaranya tewas terinjak Kaiju. Kepedihan itu terus menjadi beban pikiran yang mengakibatkan gagalnya sinkronisasi. Jake terus menasehati Amara untuk tidak terjebak memikirkan masa lalunya, tidak melawannya, namun membiarkannya mengalir. 

Wooldridge (The Economist) menyebutkan salah satu penyebab kegagalan organisasi adalah paranoia, ketakutan dan keyakinan salah bahwa hal buruk di masa lampau akan terulang kembali. Sikap ini menjadi penghambat utama proses inovasi yang sarat dengan risiko gagal. Jika demikian, organisasi akan mengalami stagnasi dan penurunan secara perlahan. Dalam film Lion King, monyet bijak Rafiki mengatakan bahwa masa lalu bisa saja menyakitkan dan kita punya dua pilihan, lari darinya atau belajar darinya. Biarkan kegagalan organisatoris lampau menjadi bagian terbaik yang dapat kita pelajari, sadari, dan biarkan ia mengalir.

3. Forgive and Forget
Sementara itu, pertengkaran terjadi di camp Cadet, antara Amara dan Vik. Pimpinan regu, Nate datang dan melerai keduanya. Dengan keras ia menasehati, bahwa kita adalah keluarga dan segala pertengkaran harus dapat diselesaikan dengan cara memaafkan dan melupakannya. 

Dapat dipastikan bahwa sebagian besar masalah di dalam organisasi disebabkan oleh masalah personal. Tak sadar ucapan dan sikap menyakiti orang lain, menjadi luka kecil dan prasangka. Luka kecil yang tak terobati, bertahun-tahun membesar, bahkan bisa saja sampai membusuk karena tidak pernah diobati. Luka batin yang perlahan meruntuhkan teamwork dan sinerji. Satu-satunya cara terbaik untuk terbebas dari masalah personal berkepanjangan adalah sikap memaafkan dan melupakannya. Perlu kebesaran hati dan lingkungan kerja yang positif untuk menumbuhkan sikap demikian. Jika tidak, maka organisasi itu sedang membentuk barisan pasukan sakit hati. Dalam versi lain, saya menyebutnya sebagai, Ghillan (baca artikel tentang Ghillan).

4. Find Your True Self Esteem
Jake menghampiri Amara yang tengah meratapi kesalahan dan kecerobohannya. Ia telah lancang memasuki area terlarang tanpa ijin dan menyebabkan salah satu rekannya terluka. Berbagai tudingan  negatif membuatnya frustasi. Jake mengatakan, "Jangan pikirkan apa yang orang prasangkakan tentang kamu". Pesan sederhana tentang menjadi diri sendiri. Tanpa sadar, kita sering menjadi pribadi lain. Pribadi yang seperti di-nyinyir-kan orang lain. Takut dianggap nyeleneh, takut dianggap salah menjadi alasan utama kita tidak menjadi diri sendiri. Akhirnya segala tindak tanduk kita cuma menuruti apa yang orang mau agar kita mendapat penilaian baik. Kita melupakan potensi dan jati diri kita sesungguhnya. 

Praktik yang sering kita jumpai, tim manajemen organisasi berusaha menampilkan citra dengan begitu cantik menurut versi stakeholder untuk mendapat pujian. Dan pada tingkatan paling parah, "melacurkan" dirinya atas nama pengakuan publik. Apapun dilakukan, termasuk "permainan" data. Ia rela tidak menjadi dirinya atas nama sustainability. Padahal sebenarnya, ia sedang kehilangan jati dirinya, nilai-nilai luhur, dan visi mulia mula-mulanya. Saat ini terjadi, sebenarnya ia sudah tidak going concern lagi. Inilah awal dari self disruption.

Setiap pribadi memiliki keunikan dan kelebihan. Setiap organisasi dibangun dari kisah dan tata nilai yang khas. Sinkronisasi dan sinerji segala elemen organisasi pada akhirnya akan menciptakan jati diri organisasi sebenarnya. Untuk itu diperlukan kepemimpinan yang kuat dan transformatif.  

Menarik, jika diperhatikan keempat pesan moral tersebut berurusan dengan mindfulness. Semoga bermanfaat!




Rabu, 21 Maret 2018

Disruption is The Absence of Mindfulness

pic: toughtco
Cukup menggelitik mendengar masyarakat bisnis berbincang, berdebat tentang disrupsi. Mendadak banyak yang menjadi pakar. Mereka yang terinspirasi, berambisi menjadi disruptor. Mereka yang terhimpit mencari kambing hitam dan menyebutnya (baca: tech savvy new comers) sebagai disruptor. Ada pula yang mengaitkannya dengan fenomena vuca (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity). Benarkah kekuatan disrupsi begitu menakutkan, something out there yang tak terpola, mendadak membunuh the existing?

Saya teringat sebuah kisah bijak Tiongkok...

Suatu pagi, seekor serangga asyik memandangi, menikmati embun di daun hijau. Tanpa ia sadari, burung gagak tengah mengintai untuk memangsanya. Pada saat yang sama, burung itu juga tidak menyadari bahwa seorang anak laki-laki siap mengambil posisi untuk melemparnya dengan batu. Tiba-tiba, gagak mematukkan paruhnya, melahap serangga mungil itu. Sungguh naas, tak sempat ia menghindari serangan itu. Sepersekian detik kemudian, batu anak itu menghantam keras kepala gagak. Saat itu juga ia terjatuh dan menghempas nafas terakhirnya.  

Yah, begitulah disrupsi terjadi. Gagak atau si anak tidak begitu saja dan tiba-tiba menyerang. Mereka menyusun strategi, melakukan pengintaian, dan menjalani penantian sebelum menyerang. Mereka menunggu saat yang tepat, saat obyek serangan lemah, tidak waspada, dan kehilangan fokus pada lingkungan sekitar. 

Sebagai contoh sederhana, coba renungkan, benarkah taksi online adalah disruptor taksi konvensional? Apakah hadirnya taksi online begitu tiba-tiba dan tanpa proses penyusunan strategi yang panjang? 

Jelas tidak!

Sebenarnya, yang terjadi sesungguhnya adalah pudarnya kepekaan dan kesadaran pelaku bisnis konvensional terhadap perubahan zaman, pergeseran kebutuhan konsumen, dan perubahan teknologi tepat guna. Seperti serangga yang asyik sibuk dengan dirinya, tidak menyadari segala yang terjadi di sekitarnya. Posisi keuangan yang relatif stabil, pola monopoli dan regulasi yang melindunginya selama ini menjadi zona nyaman, tidak lagi membuat mereka melek lingkungan dan terus berinovasi. 

Sebaliknya, perusahaan yang mendapat stigma disruptor, sebenarnya hanyalah mereka yang lebih peka dan menyadari segala gejala yang terjadi di sekitar. Mereka sadar masyarakat sudah melek internet, mereka sadar hampir setiap manusia remaja dan dewasa memiliki gadget, mereka sadar masyarakat butuh layanan yang lebih baik, cepat, mudah, murah, dan fair, kemudian lebih cepat bergerak untuk menciptakan solusi. 

Tidak ada sebenarnya disrupsi itu, apalagi disruptor di luar sana. Disrupsi hanya fenomena ketidakhadiran kesadaran penuh atau mindfulness di dalam kehidupan sebuah organisasi bisnis. Hilangnya kesadaran dan kepekaan pada lingkungan sekitar, bahkan kesadaran pada kemuliaan visi dan misi mula-mula. Mungkin padanan kata yang lebih tepat adalah self disruption.

Disruption is the absence of mindfulness!