Selasa, 27 Februari 2018

Ghillan, Kerikil Hati

pi: runnersworld
Bayangkan, Anda seorang pelari profesional sedang dalam pertandingan lari jarak jauh. Anda berada pada posisi kelompok depan. Dengan stamina yang optimal, Anda terus bersemangat menjadi pemenang. Bertahap tapi pasti, Anda terus mendahului pelari lain. Bukan kebetulan, sejak pertengahan jarak tempuh, sebuah kerikil kecil masuk di sela sepatu Anda. "Auwww", Anda merasa kerikil itu mulai mengganggu telapak kaki. Diam tapi menusuk-nusuk kecil.  Berambisi mencapai garis akhir, Anda mencoba tidak terkonsentrasi pada kerikil, dan mencoba move on. 

Tiga perempat jarak telah Anda tempuh dengan sempurna. Tinggal seperempat lagi. Anda mulai gelisah, dilema antara berhenti atau terus berlari. Berhenti berarti Anda akan kehilangan kesempatan menjadi jawara. Terus berlari dan Anda akan terus menyakiti kaki. Kerikil itu sedikit tajam dan terasa sudah menyayat menyobek kulit. 

Apa keputusan Anda?

Begitulah kehidupan batin kita. Mungkin seperempat, separuh, atau tigaperempat sudah perjalanan hidup kita. Sering, kerikil-kerikil itu masuk ke dalam hati. Kebencian, kedengkian, iri, dan lain sebagainya. Enerji negatif yang terus mengganjal dan akan melukai hati dan batin kita, yang mungkin juga tanpa sebab jelas. Ganjalan atau derita batin yang disebut Ghillan غِلًّا dalam bahasa Arab.

Sudah berapa lama Anda bermusuhan dengan seseorang, berapa lama tidak bicara dengan keluarga, berapa lama tersiksa dengan bayang-bayang musuh? Mungkin hati Anda mulai berdarah karena sudah terlalu lama menderita. Setiap hari, tanpa sadar bertahun-tahun Anda menderita, tidak pernah menjadi manusia bebas, bahagia, dan damai. Bahkan tak jarang manusia mati dalam penderitaan batinnya sendiri.

Sebuah pilihan dan ketetapan hati untuk berhenti sejenak, menyadari, mengambil tindakan untuk mengeluarkan kerikil tajam dari sepatu kehidupan kita. Sebuah proses penaklukan ego untuk mau sadar dan melepas Ghillan. Tentang hal ini, saya banyak belajar dari guru kehidupan saya yang luar biasa, Solihin salah seorang expert perusahaan ternama Indonesia. Proses belajar yang panjang secara kualitas itu pada akhirnya menyimpulkan 2 sikap yang bisa membantu kita lepas dari penderitaan batin, yaitu 1) Berdamai dan memaafkan diri dan 2) Berdamai dan tulus memaafkan orang yang berkonflik dengan (pikiran) kita. Penyadaran diri, penerimaan, dan tindakan memaafkan adalah kunci mencabut kerikil hati.

Seberat-beratnya memaafkan, hidup akan lebih berat jika kita tidak pernah belajar memaafkan.

Sekali lagi, apapun masalah kita, cara paling bijaksana di dalam menyikapi hidup adalah mengeluarkan kerikil dari batin dan hati.

Semoga berbahagia!