Sabtu, 20 Januari 2018

Cara "Ndheso" Maraih Sukses

pic: maskot Tanjungan
1 Agustus 2017 lalu saya berbagi tentang Cara Ndheso Menggerakkan Tim, sebuah pengalaman pengabdian masyarakat desa bersama tim Ubaya. 4 bulan mendampingi warga membagun proyek ekowisata Tanjungan, menjalankan komitmen hibah multiyears Dikti. Dari desa yang kering, hampir mati dan kemudian mulai hidup kembali. Wisata waduk, hutan rakyat, pusat budaya, dan kuliner khas Tanjungan.

Beberapa minggu lalu saya berkesempatan kembali ke sana untuk melihat perkembangan sekaligus bersilaturahmi dengan mereka setelah lebih dari 2 bulan tidak berjumpa. Suasana yang tetap hangat, bersahabat, dan penuh semangat.

Siang itu, setelah berkeliling lokasi wisata, pak Herry salah seorang perangkat desa sekaligus penggerak proyek menyuguhkan beberapa lembar laporan. "Ini laporan kunjungan selama tahun 2017." Saya sangat terkejut melihat angka-angka di sana. Dari bulan Januari hingga Agustus, jumlah pengunjung bergerak pada angka 500 hingga 1000 perbulan. Sedangkan September hingga Desember, terhitung sejak kami bekerja sama, jumlah penggunjung melonjak dengan pesat hingga puncaknya pada bulan Desember menembus angka 20407 dalam satu bulan saja. Jelas angka di atas 100 juta rupiah. Prestasi yang luar biasa!

Beberapa rekan mempertanyakan, "Bagaimana mungkin? Bagaimana caranya? Apa yang tim kami lakukan?" Sebenarnya kunci keberhasilan bukan berasal dari kami, tim pengabdi, namun bersumber pada kekuatan manusia (human capital) desa itu sendiri. 

1. Semua berawal dari mimpi yang mulia
spanduk kirab budaya tahunan
Saya teringat, pertama kali berjumpa dalam rapat di bulan Agustus, saya mempertanyakan, "Apa mimpi bapak ibu buat desa ini?" Pak Hartoyo (sesepuh dan penggerak budaya) dan sebagian besar menjawab, agar bisa berkembang lebih baik, dikenal masyarakat, dan meninggalkan warisan untuk anak cucu. Saya mencatat ini sebagai  visi yang mulia, sebuah desa yang menjadi manfaat untuk warga, pengunjung, dan menjadi warisan masa depan. Saya merasakan ketulusan dalam kesederhanaan. Inilah kekuatan mereka. Saya yakin bahwa segala doa yang tulus, mulia akan mendatangkan kebaikan. 
Ada satu kisah inspirasif, Ibu Tuti, warga yang kesehariannya berjualan makanan di warung kecil daerah Jatikurung, beberapa puluh kilometer dari desa. Tak jarang pulang malam tanpa hasil satu rupiahpun. Sejak berjalannya pengembangan ekowisata, ia memutuskan untuk menyewa 1 stan warung disana. Alhamdulillah, laku dan sering kehabisan sebelum jam 1 siang. Niat baik itu menular dan menjadi berkah bagi orang lain. Kisah serupa dialami pak Ardan, pemilik warung nyambik (sejenis kadal), yang mengaku omset perhari bisa mencapai 500 ribu. Ia mendapat berkah dari visi mulia.

2. Keterbukaan dan komitmen
wahana perahu naga
Keterbukaan atas hal baru, masukan, dan kritik menjadi kekuatan lain warga desa. Kami tim Ubaya sangat beruntung bertemu mereka. Mungkin canggung awalnya, namun waktu membuktikan bahwa mereka terbuka atas hal baru, mereka menerima kami. Segala kritik dan masukan selalu menjadi menu utama rapat untuk perbaikan bersama. Bahkan kami punya forum diskusi melalui aplikasi chat yang selalu aktif. Setidaknya, sekali dalam seminggu selalu ada hal yang mereka sampaikan, kegalauan dan kebahagiaan. Beberapa kali, perangkat desa proaktif meminta pelatihan, materi-materi baru agar mereka lebih baik. Ya, inilah sikap orang-orang yang mau maju dan sang pemilik masa depan. 
Komitmen juga menjadi kunci keberhasilan di sana. Dari sekian banyak sesi pelatihan dan diskusi yang kami gelar, komitmen kehadiran mereka hampir selalu 100%. Selalu ramai dan antusias dalam sesi tanya jawab. Dalam pelaksanaannya, komitemen mereka terlihat dari pencapaian milestone yang sudah mereka tetapkan. Pembangunan yang (sedikit) perlahan namun pasti. Inovasi yang selalu ada dalam 1 bulan. Selalu ada yang baru bagi pengunjung dan inilah spirit Tanjungan. 

3. Mental pengusaha, bukan pengemis
warga swadaya membuat fasilitas
Tanpa mencari kambing hitam, sering kita membaca berita "kebocoran" dana dari atasan dan tata kelolanya sampai ke desa. Mungkin memang benar adanya oknum dibalik kasus tersebut. Sebagian proyek pengembangan desa di Indonesia berhenti ketika dana dari pemerintah tak lagi diterima atau cukup. Berbeda dengan warga Tanjungan. Lelah sudah berharap dan meminta dana dari pengelola negara dan daerah yang kadang php, warga desa lebih memilih berusaha sendiri. Dengan capaian yang layak diapresiasi, mereka sudah mulai memiliki dana desa mandiri, roda ekonomi warga sudah mulai berputar. Untuk menekan biaya, gotong royong men jadi solusi mereka. Mereka bekerja membangun, mengelola tanpa berharap besar gaji layak. Mereka hanya mengusahakan berbuat yang terbaik bagi desa. Beberapa bulan ini mereka akan membangun unit bisnis dan merancang beberapa revenue stream yang strategis. Bermental pengusaha adalah modal berbisnis, termasuk bisnis pariwisata. Semoga semangat ini akan ada selamanya. Saya pikir, bukan berarti dana yang dijanjikan presiden tidak lagi diperlukan desa. Saya yakin, dengan dukungan dana yang terdistribusi dengan benar tanpa "pungli",  kekuatan ekonomi desa akan benar-benar makin nyata berkontribusi. 

4. Kepemimpinan yang melayani
komunitas lansia beraktivitas di sisi waduk
Inilah kunci dasar keberhasilan Tanjungan. Mereka beruntung, memiliki pemimpin yang baik, ibu Lurah. Kisahnya tidak terkenal karena memang tujuan hidupnya bukan menjadi popluer. Saya mengenal ibu Lilik sebagai sosok yang rendah hati, terbuka, dan sangat perhatian kepada warga. Menarik mendengar proses pemilihan calon lurah dan beliau mendapat dukungan suara 100% dari warga, tanpa politik abal-abal. Kepemimpinan yang baik dari seorang pemimpin jelas menjadi pemicu setiap perubahan dan perbaikan. Saya melihat, sikap warganya yang demikain  adalah cerminan dari jiwa ibu Lurah. Ia memimpin di depan, menjadi sahabat di antara warga, dan mendorong dari belakang. Bahkan tak segan-segan seorang ibu Lurah ikut mengatur parkir pada saat ramai pengunjung. Inilah kepemimpinan yang melayani. Tidak ada pencitraan, hanya ketulusan membangun bersama.

Perjalanan mereka belum selesai. Ini hanya awal menuju mimpi yang lebih mulia. Semoga semangat ndheso yang sederhana ini menjadi inspirasi hati kita yang sudah modern.

Kamis, 11 Januari 2018

Pesan Raja Bodoh: Ketika Integritas Diuji

pic hatikupercaya
Setiap anak-anak mendengar cerita tentang raja bodoh. 

Alkisah seorang raja sombong yang selalu ingin memegahkan diri. 

Suatu saat, dua penipu yang mengaku penata busana mendatanginya, menawarkan baju yang sangat indah dan mahal. Raja tertarik. Dua penata busana mengatakan "Tapi hanya orang pintar yang bisa melihat baju yang akan kami buat. Orang bodoh tidak akan pernah bisa." Beberapa hari, dua orang itu bekerja. Sesekali raja datang untuk melihatnya. Aneh, raja tidak melihat apapun selain pantomim dua orang menenun baju. Raja hanya memendam dalam hati, tapi karena tidak mau dianggap bodoh, ia pun berkata "Kerja bagus kawan, baju yang indah."

Tiba waktunya baju di (dianggap) selesai. Dengan sama-sama berpura-pura, dua penipu itu memakaikan baju (imajiner) kepada raja. Raja bersikeras tidak mau dianggap bodoh. Menanggalkan baju yang lama, telanjang, dan pura-pura memakai yang baru. Segebok emas diberikan kepada perancang busana itu dan segera mereka pergi. Untuk mendapat pujian, raja menghelat pameran baju mahal. Semua rakyat datang menyaksikan. Dengan santai, ia melanggak lenggok bagai model untuk memamerkan baju (imajiner) nya. Menarik, rakyat bertepuk tangan dan memuji "Baju yang sangat indah", serunya. Tidak ada yang berani berterus-terang bahwa raja sedang telanjang. Tidak ada yang mau dianggap bodoh, tidak ada yang berani ditangkap pengawal raja.

Diantara kerumuman, seorang anak kecil berseru "Raja telanjang". Akhirnya semua orang sadar bahwa mereka hanya bersandiwara. Rajapun akhirnya sadar bahwa ia tertipu dan telah menjadi raja yang bodoh karena kesombongannnya.

Kisah klasik yang menyimpan pesan moral yang luar biasa.

Kita sering dihadapkan dengan kondisi serupa. Pimpinan organisasi melakukan kesalahan, entah sengaja atau tidak, dan tidak seorang pun berani memberitahu. Semua diam, semua menjilat, semua takut dipecat. Berbagai skandal bisnis hingga sekelas Enron sering kita simak. Mereka (pelaku) berjemaah melakukan kejahatan korporat dan tak seorangpun berani mengungkap. Semua diam ingin aman, demi kesejahteraan, semua demi keuntungan dan gaya hidup.

Pertanyaan renungan, jika Anda mendapati pimpinan Anda melakukan kesalahan, tindakan di luar prinsip kebenaran, apa yang Anda lakukan? Diam? Menegur? Memang bukan keputusan mudah. Menegur bisa berakibat fatal, dia tersinggung dan Anda dikeluarkan. Diam juga berarti Ada membiarkan kesalahan di depan mata. Jawaban paling ideal adalah menjadi seperti anak kecil, menyerukan sesuatu yang tidak benar, tanpa takut, tanpa terbeban kepentingan apapun. Mungkinkah kenyataannya?

Saya teringat curhat mahasiswa saya beberapa tahun. Saat itu ia dalam pergumulan hebat. Sambil kuliah di program magister akuntansi, ia bekerja di salah satu kantor akuntan (tanpa perlu saya sebut merk). Ia sudah tidak lagi nyaman dengan pekerjaannya yang seringkali melakukan "permainan" akuntansi dan pajak. Hatinya tidak damai, walau gajinya lumayan besar. Sudah lama ia ingin keluar tapi takut jika keputusannya ini salah. Ia meminta pendapat saya. Terus terang saya tidak berani menghakimi tempat ia bekerja, bosnya dan semuanya. Saya hanya menyampaikan bahwa pekerjaan yang terbaik adalah pekerjaan yang mendekatkan kita dengan sifat kebaikan Tuhan. Kamu masih muda, menarik, potensi besar, karakter baik. Tentu banyak yang berminat padamu. Semua keputusan kembali padamu. Entah bagaimana prosesnya, terkahir ia berani resign dari kantor tersebut dan mendapat pekerjaan baru yang jauh lebih baik. Gosip terakhir yang saya dengar, ia menemukan pasangan hidupnya di sana.

Kembali pada kisah raja bodoh dan kondisi organisasi. Dalam kondisi demikian, setidaknya terdapat 5 opsi tindakan: diam saja dan pura-pura tidak tahu apa-apa; diam saja tapi terus menggerutu; menunggu saatnya menjadi pemimpin dan melakukan perbaikan; melawan secara konfrontatif; atau megundurkan diri tanpa kompromi. Semua adalah tentang prinsip hidup dan integritas. Tentu setiap keputusan mendatangkan konsekuensi, baik dan buruknya. 

Hidup adalah pilihan. Semoga kebijaksanaan selalu menuntun pikiran dan keputusan kita.