Minggu, 30 Desember 2018

Pelajaran dari Airbnb: Yang Lebih Berharga Dari Uang

Rasanya seperti mimpi, dapat kupon gratis resmi Airbnb sekitar 30 jutaan.

Berawal Maret 2018, saya sekeluarga merencanakan perjalanan liburan ke Jepang akhir tahun. Mencari sensasi beda dengan budget yang lebih ramah, kami memutuskan untuk menyewa apartemen lewat aplikasi Airbnb. Mencari-cari lokasi dan fasilitas terbaik, akhirnya kami memilih satu apartemen di daerah Adachi. Lumayan, sekitar 1.5juta permalam. Tiket pesawat, tempat wisata, visa, ijin cuti, dan penginapan kelar sudah. 

Tak ada awan, tak ada mendung, bulan Agustus tiba-tiba kami mendapat pesan dari host pemilik apartemen tersebut. Dengan berat hati, ia membatalkan transaksi karena peraturan pemerintah Jepang. Wah... dengan berat hatipun kami harus segera mencari lagi, mengingat waktu makin dekat. Yah... apartemen yang relatif lebih murah makin sulit dicari. Akhirnya kami memilih lokasi lain di Asakusa. Perasaan was-was masih ada, mengingat peraturan pemerintah Jepang adalah faktor makro yang tidak dapat kami prediksi.

Firasat itu benar terjadi. Awal November kami kembali mendapat pesan dari host, dengan berita yang sama, pembatalan transaksi. Kali ini, host meminta kami yang membatalkan transaksi dan saya keberatan. Berhari-hari ia bersikeras tidak mau melakukan pembatalan. Waktu tinggal satu bulanan saja, makin jarang apartemen harga menengah. Sambil mencari alternatif penginapan (di luar Airbnb), kami menghubungi layanan Airbnb dan menyampaikan kronologi transaksi kami dari awal Maret. Kamipun tahu, "dapur" mereka juga punya rekam jejak kami. Kami hanya menyampaikan keluhan sebagai user, sekaligus meminta arahan dan rekomendasi solusi dari mereka.

Beberapa hari kemudian, kami menerima panggilan telepon dari nomor yang tidak biasa. Ternyata kantor pusat Airbnb California yang menghubungi kami. Mereka mengklarifikasi, apakah kami telah membaca pesan dari manajemen Airbnb. Intinya, mereka akan melakukan pembatalan dari pusat, mengembalikan uang muka kami, dan memberikan kupon. Segera, setelah menutup telepon, kami membuka kembali aplikasi Airbnb dan memeriksa kotak pesan. Berikut cuplikan percakapan kami:

Hello *** You are very welcome. It was nice talking with you on the phone. I just want to confirm you that I have cancelled the reservation as a host. By now, you would receive an automatic email on your email address confirming this. If you need othe assistance please don’t hesitate to contact us. Best regards, ***
I am very glad that you are very happy about our service. :) Please if there is anything in future even if you have hard time to find a right listing we can always help. You can also contact us on our 24-7 hour International Support number +***** anytime. I hope you will find a better listing! Best Regards, ***
Hi ***. Thank you very much for waiting!! We have done to consider finally, and decided to cover full amount $***, and also created $*** coupon as the amount of difference for the coupon price which is you supposed to get.
Hi ***. Thank you for contacting! Okay, so now your problem all has been resolved? 

Lega rasanya... di batas waktu yang sangat mepet, kami mendapat angin segar dari manajemen Airbnb. Bukan hanya bantuan pembatalan, namun mereka memberi kami 2 kupon menginap gratis senilai 2 transaksi batal sebelumnya, sebagai kompensasi atas ketidaknyamanan kami. Wow!!!  Akhirnya kami mencari apartemen lain, tanpa pusing harga karena Airbnb akan mengkover semuanya. Kami mendapat apartemen di daerah Ayase yang sangat indah, bersih, fasilitas lengkap dan relatif dekat dengan stasiun.

Dari pengalaman subyektif saya, saya menilai Airbnb bukan sekedar membangun bisnis. Mereka membangun hubungan antarmanusia, mereka membangun inti bisnis jasa sesungguhnya. Contoh kasus yang sangat bertolak belakang dengan tulisan saya sebelumnya. Prinsip Airbnb lebih rela kehilangan uang daripada kepercayaan. Bahkan kepercayaan kecil dari kami yang baru pertama menggunakan Airbnb. 

Kepercayaan adalah investasi jangka panjang. Kepercayaan adalah prospek pengulangan transaksi dan penciptaan pelanggan, bahkan penggemar. Tentu saja, pengalaman ini akan menjadi referensi penting bagi saya tentang profesionalitas Airbnb sebagai mediator penyelesaian masalah antara pengguna dan host. Kami lebih nyaman dan merasa aman. Airbnb telah berhasil membangun layanan sempurna. Tiga orang admin yang menghubungi kami sangat ramah. Jelas terdengar dari perbincangan via telepon dan jelas terlihat dari penggunaan tata bahasa yang santun dan helpful pada pesan aplikasi. Bahkan pada akhir pembicaraan, mereka masih menanyakan apakah masalah kami benar-benar sudah beres? 

Semua proses penyelesaian masalah begitu cepat, tanpa birokrasi gila, tanpa prasangka. Semua terfokus pada membangun hubungan, layanan, dan kepercayaan, diatas keuntungan finansial jangka pendek. Bagaimana dengan bisnis Anda, mana yang utama, kehilangan kepercayaan atau uang?

***

Minggu, 23 Desember 2018

Jantung Bisnis Layanan adalah Empati dan Kepercayaan

pic: steveandalex.org
Minggu lalu, saya mengalami sebuah proses pengambilan BPKB kendaraan di salah satu lembaga kredit ternama hingga 3,5 jam. Proses yang bagi saya keterlaluan lama. Di tengah sesaknya batin saya menghadapi respon pegawai yang tidak ramah, saya belajar hal-hal utama tentang layanan.

Sekitar pukul 12.30 saya datang dan mengambil nomor urut. Terlihat sekitar 20an orang nasabah duduk menunggu panggilan konter dengan berbagai urusan, mulai pengajuan kredit, penyelesaian kredit bermasalah, pengambilan STNK, dan BPKB. Satu jam berlalu akhirnya saya mendapat panggilan di konter 2. Menyerahkan kopi KTP dan saya mendapat bukti pengambilan BPKB. "Silakan bapak menunggu antrian kembali di lantai 2", tutur pegawai yang melayani. Ternyata, saya harus naik dan mengantri lagi. 

Di lantai 2, saya bertanya pada sekuriti yang bertugas, bagaimana cara antri. "Masih menunggu 60 menit, Pak untuk pengambilan BPKB. Nanti akan dipanggil sesuai nomor bapak, 106", jawabnya. 60 menit berlalu dan masih belum ada tanda-tanda panggilan. Makin bingung mendengar operator memanggil nomor yang makin acak. Terlihat seorang nenek berparas lelah menggendong bayi memarahi teller perempuan. Ia mengaku sudah dari pagi menunggu sia-sia dan mau membatalkan antrian. "Silakan jika ibu ingin kembali besok tapi mengantri lagi dari awal. Biasanya lebih parah dari ini", jawabnya enteng. Tampak sekitar 4 atau 5 konter di lantai tersebut, namun hanya 1 konter saja yang ada petugasnya. Itupun, ia terlihat mondar mandir keluar masuk ruang terbatas. Suasana makin tegang, nasabah lain ikut berdiri dan melayangkan komplain, menanyakan kepastian jam berapa BPKB-nya dapat diterima. Namun tetap saja tak dijawab. Mereka yang duduk menanti hanya berguman parahnya layanan di sana.

Hati saya gundah, merasa ada yang tidak beres dengan perusahaan ini. Berdiri mendatangi sekuriti, saya bertanya, "Pak, dimana ya ruang pimpinan di sini, coba kami mau berikan masukan?" Ya, saya paham tidak mungkin ia menunjukkan pada saya. Namun saya ingin melihat respon karyawan di sana saja. Ia menjawab, "Pimpinan sedang cuti pak." Lalu bagaimana dengan wakil atau supervisor di hari ini yang bertugas?", kejar saya. Ternyata menurut pengakuannya, tidak ada wakil atau supervisor di tempat itu. Yang ada hanya pimpinan yang sedang cuti tadi. "Lalu, tolong bantu kami para nasabah untuk dapat solusi lebih baik, Pak?" pinta saya yang cuma dibalas dengan tatapan poker face-nya. Ya sudahlah, cuma bisa menghela nafas panjang.

Dua setangah jam sudah saya lalui. Saya mencoba mendatangi pegawai di konter aktif. "Mbak, ini BPKB saya dengan nomor 106 kapan bisa selesai?" Ia hanya menjawab, "ditunggu Pak. Menaikkan sedikit volume bicara, saya melanjutkan, "Saya sudah nunggu hampir 3 jam dan masih diminta menunggu." "Biasanya di sini tidak ada yang malayani, Pak", jawabnya. Wow... sound like madness! Gimana treatment HRD di sini ya, guman saya. Koq bisa karyawan model begini diterima. "Saya butuh kepastian waktu mbak. Berapa jam lagi selesai? Saya kudu ke acara lain setelah ini jadi perlu kepastian jam saja." Alih-alih menjawab, wajahnyapun tak memandang saya. Begitu saja ia mengabaikan pertanyaan saya. "Mbak, karyawan di sini tidak diajari etika, ya? Saya bertanya baik-baik, mohon dijawab!", tegur saya. "Mbak, mbak, mbak Agnes...???". Luar biasa.... ia tak bergeming sama sekali. Tak merespon, tak menoleh, tak menganggap saya ada.

Ya, daripada lama-lama gila, saya menenangkan diri dan menyadari saja bahwa pikiran saya mulai kacau. Saya yang telah memutuskan percaya pada lembaga tersebut dan sayalah yang salah memilih. 30 menit kemudian datang teller lain dan memanggil nomor saya. Akhirnya. Tak lagi menghabiskan enerji untuk hal bodoh, saya diam menikmati proses pengecekan biodata pada dokumen dan selesai sudah. Tak ada ucapan maaf atau terima kasih dari satupun pegawai di sana. 

Pengalaman ini mengingatkan kembali hal utama dalam bisnis layanan, yaitu empati dan kepercayaan. Tidakkah pihak perusahaan melatih karyawan untuk peka berempati, melihat nenek tua menggendong dan berdiri berjam-jam mengantri? Orang-orang tampak lelah menunggu berjam-jam, mengorbankan kegiatan lain mereka? Etika dalam merespon nasabah? 

Mampu memahami perasaan orang lain adalah kunci pertama bisnis layanan. Dari sinilah kepercayaan akan muncul. Berlatihlah berpikir dari perspektif konsumen, untuk menjadikan kita mahkluk sosial yang tidak terlalu egois. Hidup mati bisnis ditentukan oleh konsumen. Pahami, hargai, dan layani mereka sebagai manusia, Anda akan mendapatkan hatinya.


***

Rabu, 19 Desember 2018

3 Prinsip Luar Biasa dari Beruang Besar dengan Otak Kecil

Mengisi waktu perjalanan udara dari Haneda ke Changi, iseng saya mencari-cari tontonan berbobot di antara suguhan rekomendasi seperti Crazy Rich Asian dan Invinity War. Pilihan jatuh ke 2 film, Christoper Robin dan Grave of The Fireflie.

Christoper Robin, film keluarga dengan alur sederhana, namun padat dengan kejutan pesan-pesan moral berkualitas, khususnya dari perspektif bapak, sebagai kepala rumah tangga, pekerja, suami, dan ayah. Christoper telah tumbuh dewasa, menikah dan memiliki seoran putri. Setelah masa perang dunia, Christoper bekerja di perusahaan produsen tas koper Winslow. Sebagai salah satu petinggi operasional, ia dihadapkan tantangan terbesar, meningkatkan efisiensi, salah satunya dengan memecat karyawan. Tak sampai hati, ia memohon waktu tambahan pada bos Winslow untuk mencari cara lain menyelamatkan kinerja keuangan perusahaan.

Berpikir keras, terpaksa, demi karir ia mengorbankan acara liburan keluarga yang telah direncanakan jauh sebelumnya. Dalam kegundahan, ia bertemu dengan Winnie The Pooh, sahabat dan imajinasi masa kecilnya. Singkat cerita, pertemuannya dengan Pooh dan kawan-kawan memberikan inspirasi solusi penyelamatan Winslow. Salah satunya prinsip "when you doing nothing often leads to the very best kind of something". Merenungkan kembali Christoper Robin, saya belajar 3 prinsip utama dalam menjaga keseimbangan dan keselarasan hidup.

1. Take a break
Di tengah tantangan hidupnya, Christoper Robin memilih mengorbankan acara liburan keluarga. Berpikir keras mencari solusi yang tak kunjung pasti. Tanpa sengaja, ia bertemu dengan Pooh dan kawan-kawan. Tak bisa menghindar dan terpaksa Christoper meladeni Pooh bermain bersama di Hundred Acre Wood. Sejenak, ia lupakan semua beban hidupnya. Istirahat dari rutinitas yang berat, tanpa melakukan apa-apa. Tanpa disadari, semua petualangan moral yang ia jalani membawanya pada solusi terbaik bagi Winslow. Christoper tidak berfokus lagi pada efisiensi biaya, namun pada bagaimana meningkatkan pendapatan alias penjualan. Dan ia menemukan jawaban ini saat tidak melakukan apa-apa. Do nothing leads to the very best kind of something! Inilah solusinya. Ia pikir, jika sekian ribu karyawan Winslow membeli tas produksinya, maka keuntungan perusahaan dapat diselamatkan. Caranya? Berikan waktu karyawan berlibur. Kemanapun mereka pergi, mereka akan membutuhkan koper sekaligus ini sebagai cara promosi gratis. Jika Anda merasa sudah pada puncak kejenuhan bekerja, mungkin saatnya merencanakan piknik.

2. Be mindful in every moment
Pooh punya kebiasaan bermain menebak sesuatu. Dalam sebuah adegan, Pooh mengajak Christoper untuk menyebutkan apa saja yang dilihatnya dalam perjalanan, gunung, orang, dan sebagainya. Jika dipikir, ini adalah salah satu teknik yang sering dipakai ahli meditasi untuk melatih kesadaran penuh. Menyadari dan menerima apa saja yang ada di sekitar. Bahkan Pooh dikenal sebagai karakter yang selalu memilih bahwa hari ini adalah hari kesukaannya (today is my favourite day). Pooh megnajarkan tentang here and now. Tepatnya, Christoper menemukan solusi peningkatan penjualan saat ia memegang secarik kertas,kemudian berpikir dan menyadari bahwa jumlah karyawan Winslow sangat banyak, mencapai angka ribuan. Mereka adalah captive market potensial. Kesadaran inilah kunci dari solusi yang matang. Cara penemuan solusi yang sebenarnya sering ia lakukan sejak masa kecil bersama Pooh. Demikianlah saat kita dihadapkan dengan pilihan keputusan. Menyadari segala hal, dari akar masalah hingga dampak akan membantu kita menemuan solusi terbaik.

3. Family is everything
Dalam adegan lain, Christoper mengaku bahwa keluarganya sangat penting baginya dan dengan lugu, Roo bertanya "Jika Madeline (putri Christoper) penting buatmu, kenapa tidak bersamamu? Pertanyaan sederhana yang menggelitik. Kita serign mengaku bekerja untuk keluarga, mereka yang utama. Namun kenyataannya, tanpa sadar kita sering mengorbankan mereka demi pekerjaan. Bahkan di hari liburpun masih aktif di grup chat kantor. Christoper yang berusaha realistis bahwa laki-laki harus totalitas bekerja dan meminta keluarganya memakluminya, akhirnya menyadari bahwa putri dan istrinya adalah yang terpenting. Terlihat ia meninggalkan rapat direksi untuk mencari Madeline yang dikabarkan hilang. Bagaimanapun juga, keluarga adalah mereka yang akan mendukung, merawat, dan mengasihi kita sejak kita dihirkan hingga ajal menjemput. Kantor akan berduka paling lama seminggu saat kita mati. Namun keluarga akan berduka selamanya atas kepergian kita. Saya jadi terngiat quote luar biasa dari Disney "A man should never neglect his family for business". Semangat yang berusaha ditanamkan pada sosok Christoper Robin dewasa.


“I'm not lost for I know where I am. But however, where I am may be lost.”
A.A. Milne, Winnie-the-Pooh

Kamis, 29 November 2018

Perjalanan Spiritual dan Kebebasan

pic: lakeside
Seorang pemuda dalam kesedihan bertanya kepada guru Zen. Ia kerap dihantui dogma-dogma yang kerap membuat batinnya tersiksa, seperti terpenjara sangkar emas. "Benarkah jalan hidupku?" "Mengapa aku sering ragu atas langkahku?" "Sejatikah apa yang kupeluk?"

Guru Zen berkata:
Perjalanan spiritual ibarat perjalanan duniawi. Bayangkan Anda berjalan menuju ke satu tujuan. Tujuan nun jauh. Anda memulainya dengan langkah kaki dan berjalan. Setelah sekian puluh kilo meter, tubuh, betis dan paha terasa lemas tak berdaya. Seseorang menawarkan sepeda pancal dan Anda menghargainya. Dengan sepeda itu, Anda melanjutkan perjalanan. 

Dalam babak selanjutnya, Anda mulai mengenal ada sepeda motor yang lebih bertenaga untuk menempuh jarak yang masih terlampau jauh. Anda meninggalkan sepeda dan beralih ke sepeda motor. Demikian hingga Anda menemukan mobil, kendaraan ber-roda 4 yang sungguh lebih nyaman. Dengan menyebut nama Tuhan, Anda melanjutkan petualangan.

Sampailah Anda di penghujung pantai. Perjalanan Anda terpisah lautan luas. Tak mungkin memaksa mobil Anda membelah laut seperti Musa. Anda melihat sebuah kapal kecil yang lebih selayaknya membawa Anda menyeberang. Meninggalkan mobil, Anda melompat memasuki kapal untuk berlayar ke seberang. Demikian seterusnya hingga entah kapan Anda mencapai tujuan.

Tak ada yang tetap dan kekal, kecuali perubahan dan kekekalan itu sendiri. Tak ada yang benar tak ada yang salah karena pada akhirnya semua akan berkumpul pada titik tujuan yang sama. Jalani saja segalanya dengan batin yang jernih, niat baik, dan mengalirlah seperti air. Hadiri dan nikmati setiap perjalanan, perjalanan antara Anda dan Dia, Sang Kekal. Anda dan Dia, tidak ada yang lain.

Setelah mendengar semuanya, pemuda itu menjadi ceria dan merasakan kebebasan. 

***

Rabu, 28 November 2018

Mencipta Seperti Queen, Rahasia Penciptaan Produk Masterpiece

"Setelah nonton, sumpah jadi ilfil denger lagu-lagu kelas Chemical Roma**e, apalagi West**fe dkk", itulah kesan saya setelah nonton Bohemian Rhapsody.

Sebagai bocah tahun 80an, sejak kecil saya familiar dengan lagu-lagu Queen dari kakak, om, tante. Under Pressure, Radio Ga Ga, Bohemian Rhapsody, We will rock you, dan sebagainya. Hanya tahu sebagai lagu yang tidak biasa, unik, dan enak. 

Sungguh beruntung saya bisa menikmati film "biopic" Queen dalam kemasan apik. Film garapan 2 sutradara ini tergolong sukses. Bahkan di kota saya, sudah memasuki minggu ke 4 tayang dan tetap ramai penonton. Visualisasi yang menurut saya, keren tantang kisah lagu-lagu, ambisi, frustasi, kesuksesan, dilema, bercampur dalam drama kehidupan dibalik tenarnya nama Queen. Menyimak, menikmati pesan moral Bohemian Rhapsody mengajarkan kita 5 prinsip tentang penciptaan sebuah masterpiece.

1. Visi besar
Nama Queen adalah simbol kebesaran. Freddie dkk mengawali karirnya dengan impian yang besar, menjadi ratu dalam jagad musik dunia. Segala capaian dimulai dari impian. Apapun pekerjaan kita, bermimpilah karena mimpi akan menjadi arah hidup kita. Tanpa impian, kita hanya bisa mengalir, ikut arus. Hanya ikan mati yang demikian. Lepas dari segala keterbatasannya, setidaknya Queen berhasil menjadi salah satu grup band yang wajib diperhitungkan. Keberhasilan yang diawali dari mimpi Freddie untuk menjadi manusia baru dan menggapai sukses di dunia musik. Keberhasilan yang dituangkan dalam lagu We Are The Champions.

We are the champions, my friends
And we'll keep on fighting til the end
We are the champion
We are the champion
No time for loser
Cause we are the champion of the world

2. Melawan pola konvensional
Bohemian Rhapsody, salah satu killer song hasil ide gila Freddie. Lagu yang nampak tak jelas genre dan temanya, berdurasi panjang, namun berhasil mendapat junjungan dari pendengar musik dunia. Freddie mengajarkan kita tentang kreatifitas, keberanian melawan pola umum. Keberanian yang mengekstrak daya saing. Salah satu ciri produk yang berkarakter adalah yang tidak mudah ditiru. Freddie bereksperimen mencampuraduk berbagai elemen secara harmonis. Seperti yang pernah dikatakan de Bono bahwa kreatifitas hanyalah kemampuan manusia menghubungkan hal-hal yang tak berhubungan. Jadi, kemampuan sinerji atau simfoni adalah hal utama dalam menciptakan sesuatu yang berbeda dan belum pernah ada sebelumnya. Jangan pernah takut bereksperimen dan gagal, karena gagal adalah paket dari kesusksesan.

3. Mengalir dalam Mencipta
Tampak adegan anggota Queen kebingungan melihat tingkah Freddie di panggung. Sebagai vokalis, Freddie sering melakukan improvisasi secara spontan. Gerakan-gerakan gila, lirik-lirik yang berbeda, di luar skenario dan spontan! Freddie nampak selalu menikmati penampilannya, mengalir, menyatu dalam show, iringan musik, dan audien. Menyimak konser-konser live melalui youtube, sangat jelas bahwa Freddie telah mencapai Ikigai-nya dalam bermusik (baca: Ikigai). Ikigai adalah prinsip bekerja orang Jepang. Mengalir dalam pekerjaan, bahkan untuk hal paling sepele. Demikianlah prinsip menciptakan produk berkelas. 

4. Produk Anda adalah Anda. Anda adalah produk Anda
Tema dan genre lagu Queen sangat beragam. Ini juga ditentukan oleh keberagaman karakter anggotanya yang juga turut menciptakan lagu. Mudah bagi pengamat musik untuk menentukan siapa pencipta lagu Queen. Misalnya, lagu-lagu dengen tema kepedihan, kegalauan, atau pemberontakan lebih banyak dicipta oleh Fred. Berbeda dengan tema-tema lagu ciptaan Bryan atau Roger. Tanpa sadar, produk yang Anda ciptakan sebenarnya mencerminkan diri Anda. Memperhatikan produk-produk Apple sungguh merupakan cerminan Steve Job, tidak pernah sama, sederhana, elegan, dan kekuatan. Steve yang dikenal sebagai "rebel" dan penganut ajaran Zen. Demikianlah seni menjadi unik dan diri sendiri. Jujurlah dalam berkarya, jadilah diri Anda.

5. Customer Experience Yang Utama
We will, we will rock you! Lagu lain yang membuat saya terkagum-kagum. Dibalik kesederhanaan lagu tersebut, tersimpan konsep yang sangat cerdas. Bryan ingin menciptakan lagu yang justru dinyanyikan oleh audien. Lagu yang sederhana, berulang, dan mudah diikuti. Mungkin We Will Rock You adalah satu-satunya lagu di dunia yang di-perform oleh audien konser. Prinsip keterlibatan audien adalah kunci sukses tembang penuh enerji ini. Pengalaman emosional yang bergelora, bersatu, dan fanatik. Bagaimana dengan produk Anda, sudahkan menciptakan pengalaman emosional konsumen? Sebaik-baiknya produk, tanpa ditunjang pengalaman dalam perolehan (marketing) atau penggunaan, tidak akan bertahan lama di hati konsumen. Bahkan dalam kasus tertentu, pengalaman ini justru mengalahkan aspek harga dan rasional.  

Demikianlah 5 prinsip bagaimana Queen menciptakan masterpiece, semoga bermanfaat!


Jumat, 19 Oktober 2018

Mengapa Kebaikan Kita Tak Kunjung Terbalas?

pic:animalbaby
Tak jarang rekan gaul, profesional, hingga pengusaha curhat. Merasa sudah berbuat kebaikan tapi ujung-ujungnya malah mendapat sial. Ditipu partner kerja, dilupakan sahabat lama yang pernah kita tolong, dimanfaatkan dan ditinggal begitu saja setelah tidak ada urusan. Hingga kita berpikir, hidup tidak fair. Karma hanya mitos. Tuhan tidak ada?!

Tidak. Hidup itu selalu fair dengan caranya. Alam memiliki hukum tabur tuai dengan ritme dan harmoninya sendiri.

5 pekan lalu, tepat di hari minggu, saya dan anak-anak ke sebuah mall. Siang itu kami menuju foodcourt. Sangat ramai, bahkan 1 kursi kosongpun sulit ditemukan. Setelah mengantri, akhirnya kami mendapat meja. Wow... sampah pengunjung sebelumnya sungguh banyak. Terpaksa saya membersihkannya dan memanggil petugas kebersihan disana. Anak-anak ingin sekali menyantap siomay dan segelas milktea. 

Empat puluh menitan kami selesai. Spontan saya membersihkan semua sampah kami. Kritis, anak saya bertanya, "Papa, kenapa kita bersihkan? Kan ada pak sampah. Orang-orang juga membiarkan sisa sampahnya." "Tidak apa, Vin. Ngga ada salahnya kita bantu pak sampah. Lagian, baik kalau kita belajar mengurangi nyampah. Latihan gaya hidup orang Jepang", jawab saya. Ia hanya mengangguk pendek antara sedikit bingung dan paham.

Waktu terus berjalan, kami menikmati liburan. Tak terasa sudah sore. Waktunya pulang. Mendekati area parkir mobil, istri saya mulai beres-beres barang belanjaan. Memisahkannya dengan sampah-sampah seperti plastik bekas F&B dan kertas struk tak dipakai. Cukup banyak kami nyampah. Toleh kiri kanan, tidak ada tempat sampah. Tiba-tiba saja seorang pemuda meghampiri kami dan berkata, "Pak, saya buangkan sampahnya." Wow, saya terkejut darimana ini makhluk datang. Ia memakai seragam. Ternyata ia salah satu petugas kebersihan mal yang mungkin baru saja datang atau mau keluar berganti shift. Bagaimana mungkin moment itu begitu pas? Saat kami perlu bantuan, bantuan itu datang dengan sendirinya. "Ini hukum tabur tuai, nak", bisik saya pada Calvin, anak saya.

Kejadian ini hanya contoh sederhana tentang Karma, atau hukum tabur tuai. Saat kita melakukan kebaikan, kemudian kebaikan lain akan mendatangi hidup kita. Tapi, bagaimana dengan kebajikan, kebaikan, ketulusan yang kita lakukan untuk orang lain tapi tetap saja tidak mendatangkan kebaikan?

Inilah "rahasia" pola kerja hukum alam yang tidak sering kita sadari. Dalam ilmu fisika kuantum, kita belajar bahwa enerji itu bisa berpindah dan berubah bentuk, namun masanya tetap sifatnya kekal. Implikasinya, ketika kita melepas enerji positif, ia akan kembali pada kita. Demikian pula dengan enerji negatif. Yang perlu dicermati adalah, darimana kembalinya? Siapa yang mengembalikan? 

Merenungkan hal ini, saya belajar 4 prinsip utama:

1. Kebaikan yang kita berikan pada seseorang, kembali melalui apa dan siapa saja
Kembali pada kisah sederhana saya tadi. Saya melatih kebaikan kecil kepada petugas kebersihan yang sedang in charge di foodcourt, dan pada akhirnya, kami mendapat kebaikan dari petugas kebersihan lain. Mungkin Anda pernah membantu seseorang, yang selanjutnya tidak punya rasa terima kasih. Lalu, Anda mulai berpikir transaksional menanggalkan keikhlasan. Menghadapi situasi demikian, perlu kesadaran penuh tentang Karma serta keikhlasan yang besar. Sadar bahwa kebaikan dapat kembali melalui orang, makhluk lain, bahkan melalui kebaikan alam. Sadar bahwa tanpa keikhlasan penuh, hukum tabur tuai tidak akan berjalan mulus. 

2. Kebaikan yang kita lepaskan saat ini, kembali kapan saja
Dari pengalaman di atas, saya belajar bahwa kebaikan yang kita lepas saat ini, tidak selalu kita rasakan kebaikannya saat ini juga. Kebaikan dapat berputar kemana saja dan kembali kapan saja. Dalam hal ini, perlu kesabaran. Kesabaran untuk menerima dan pengharapan yang dibangun atas rasa syukur. Kembalinya kebaikan tidak terbatas ruang dan waktu, kebaikan yang kita lakukan sekarang mungkin akan kembali dan dirasakan oleh anak dan cucu kita, bahkan kita rasalah pada masa after life.

3. Kebaikan dapat kembali dalam wujud apa saja
Banyak diantara kita terjebak pada prinsip ini. Satu ilustrasi, kita meminjamkan sejumlah besar uang pada teman baik. Hingga pada waktu pengembalian, urusan menjadi rumit, tertunda, dan akhirnya uang kita raib dibawa kabur. Lalu apakah benar kalau kali ini saja, Tuhan tidak adil? Kembali pada hukum bahwa enerji dapat berubah bentuk. Demikian pula kebaikan yang kita lepaskan. Artinya, saat kita melepas materi, mungkin kita akan mendapat kebaikan dalam wujud material atau mungkin imaterial seperti jiwa yang sehat dan pikiran yang bahagia. Dalam hal ini, wujud material juga tidak selalu identik dengan uang, namun termasuk kesehatan tubuh, pasangan yang selalu menyambut kita sepulang kerja, anak-anak penurut, dan sebagainya. Sadari adanya, syukuri segalanya.

4. Hal buruk yang kita alami, adalah akibat keburukan yang pernah kita lakukan, sadari
Akhirnya, inilah prinsip yang sering diabaikan, bahwa hal buruk yang kita alami saat ini sebenarnya hanya konsekuensi dari hal buruk yang pernah kita lakukan, pada diri sendiri, orang lain, atau alam. Cukup mengusik batin mendengar orang-orang yang menderita penyakit di masa tua akibat kesalahan gaya hidup di masa muda, yang kemudian berkata "Ini atas ijin Tuhan, atau "Ini cobaan iblis". Yah, terdengar seperti pengalihan isu. Sejatinya, apa yang kita dapatkan saat ini hanyalah sebuah dampak. Bisa saja ketika seseorang mengkhianati, menipu, atau menyakiti kita sebenarnya hanya konsekuensi dari perbuatan tidak baik yang pernah kita lakukan di masa lampau, warisan dari orang tua, atau akibat sesuatu hal yang terjadi jauh sebelum kehidupan sekarang.

Masa lalu mungkin dapat memenjarakan batin kita. Masa depan mungkin tergantung dan terikat oleh masa kini. Namun, masa kini adalah satu-satunya saat yang memberi kita kebebasan. Kebebasan untuk memilih keluar dari jerat masa lampau atau kebebasan untuk menentukan seperti apa masa depan kita. Sekali lagi, kebebasan ditentukan oleh pikiran, sikap, dan tindakan kita saat ini. 

Semoga bermanfaat, sehat dan bahagia :)

Sabtu, 13 Oktober 2018

Not Smoking Kills You, but Your Jobs Does

pic: unusual
Asti, bukan nama sebenarnya, seorang manajer profesional di sebuah perusahaan kota metropolitan. Demi memenuhi kebutuhan ekonomi, ia terpaksa hijrah jauh meninggalkan suami dan anak-anaknya. Lebih sepuluh tahun, sejak tahun 90an ia bekerja pada korporat ternama. Memang sungguh besar gaji dan tunjangannya, namun risiko konflik, tanggungjawab dan tingkat stress tak kalah tinggi. Jarang ia bisa langsung pulang kantor pukul 5 sore. Bahkan sabtu dan minggu terkadang harus datang ke kantor. 

Memasuki tahun 2000an, ia mengalami masalah kesehatan. Dokter mem-vonisnya positif mengidap kanker dan menurut diagnosa, 5 tahun saja ia bisa bertahan sudah sangat baik.

Kejadian ini menjadi titik balik Asti untuk berpikir kembali tentang hidupnya. Sekian belas tahun ia  "bertengkar" dengan rekan kerja, berjuang, berbakti pada dewan direksi, tak dekat dengan anak-anaknya, jarang sekali berkencan dengan suaminya, dan sekarang menyadari hidupnya yang tak lama lagi. Semua raihan, tabungan, tiba-tiba saja tak berarti. Niat awal bekerja untuk keluarga, akhirnya justru menjadikannya seorang ibu yang mengorbankan keluarga demi karirnya.

Ia mulai membaca artikel-artikel tentang kanker, berdiskusi dengan komunitas dan beberapa dokter. Benar, salah satu pemicu penyakitnya adalah pikiran. Beban pekerjaan, setiap hari memeras otak, enerji, dan perasaannya. Belum tekanan batin melawan rindunya pada keluarganya. Tekanan yang ia tanggung sekian lama.

Tetap dalam usaha pikiran dan sikap positif, ia memutuskan berhenti bekerja, pulang kampung, dan mencari pekerjaan lain. Tahun 2005, ia mulai bekerja sebagai guru di sekolah kecil di kotanya. Gajinya jelas jauh lebih kecil, pola pekerjaannya lebih sederhana, namun ia dapat berjumpa dengan keluarganya, setiap hari. Dekat dengan suami, berbagai tawa, canda, suka, duka, bersama. Ia mengaku, sejak saat itu ia lebih banyak tertawa daripada murung. Hidupnya terasa lebih berarti, bukan karena berapa banyak uang yang bisa ia dapatkan, namun karena kebahagiaan yang ia rasakan.  Kebahagiaan dari hal-hal paling sederhana dan mendasar, seperti melihat anak-anak makan masakannya dengan lahap, merasakan hangatnya pelukan suami saat ia galau, atau merayakan hari ulang tahun bersama keluarga.

Saya berjumpa dengan beliau awal tahun 2018 ini. Berarti sekitar 15 tahun sejak ia divonis bahwa hidupnya tidak lebih dari 5 tahun. Luar biasa, ia bisa bertahan sampai sekarang dan tampak sehat. Bahkan ia mengaku rutin berolah raga ringan bersama keluarganya, sebuah wow. Dalam perbincangan terakhir, ia sempat nyeloteh not smoking kills you, but your jobs does!

Jumat, 21 September 2018

Ikigai: Sebuah Alasan Hidup, Rahasia Sukses Ala Jepang

pic: walt disney
Sebagian besar dari kita pernah melihat film Pinocchio garapan Walt Disney. Namun tahukah Anda bagaimana konflik pra-rilis film animasi tersebut?

Konon, film ini dirilis pada tahun 1940. Beberapa saat sebelum resmi rilis, Walt kembali menyimak masterpiece-nya itu, frame demi frame untuk memastikan kualitas yang sempurna. Alhasil, Walt menemukan kejanggalan pada satu karakter, Jiminy Cricket. Baginya, desain tokoh tersebut terlihat aneh. Tidak mau tanggung, Walt dan Ward Kimball (desainer) menunda penayangan perdana dan memerintah kru untuk merombak kembali animasi tersebut. Perlu Anda ketahui, dalam animasi, perombakan desain satu tokoh saja berdampak pada seluruh frame yang menampilkan tokoh tersebut. Apalagi pada zaman itu, kita tidak mengenal software 3D animation canggih. Menggambar, mewarnai, mengkomposisi, memberi efek, satu persatu.

Walt mengutamakan hal detil dan kesempurnaan. Tidak masalah menunda untuk hasil terbaik. Apa yang terjadi? 5 tahun setelah penayangan perdana, Pinocchio dinobatkan sebagai The Greatest Animated Firm Ever dengan nilai sempurna pada pemeringkatan Rotten Tomatoes. Gara-gara, jangkrik!

Walt dikenal sebagai sosok animator dan pebisnis hiburan yang perfeksionis, selalu memperhatikan hal detil, hadir dan sering terlarut dalam pekerjaannya, pekerjaan yang menghidupi, sekaligus menghibur banyak orang. Menjadi animator, sekaligus pebisnis hiburan adalah jalan hidup Walt Disney, sebuah pola hidup yang sedang kekinian dengan istilah Ikigai.

Dipopulerkan oleh Kobayashi Tsukasa, Ikigai (dari kata iki dan gai) diartikan sebagai "a reason for living". Alasan mengapa aku hidup?

Ikigai menjadi makin terkenal sejak dibukukan oleh Ken Mogi dan Hector Garcia & Miralles. Hidup adalah pencarian harmoni untuk menemukan titik kebahagiaan dalam batin. Ikigai menawarkan pencarian kita, tentang makna hidup, sebagai pertemuan apa yang Anda sukai, apa keahlian/ kompetensi Anda, apa yang dunia peroleh, dan apa yang Anda peroleh. Secara sederhana, Ikigai dapat digambarkan seperti berikut:


pic: ikigai

Kualitas Ikigai pada akhirnya akan menentukan perbedaan orang sukses dan tidak. Orang-orang sukses berhasil menemukan titik optimal Ikigai mereka, a reason for living. Selain Walt, sederet nama dunia seperti Steve Jobs, Jack Ma, Eiji Tsuburaya, J.R.R. Tolkien, hingga Mother Theresa, adalah mereka yang menikmati pekerjaannya dengan segala kemampuannya, pekerjaan yang memberi kebaikan hidup pada orang lain dan pada akhirnya kembali menjadi kebaikan bagi dirinya.

Di Indonesia, sederet tokoh inspiratif seperti seniman Eko Supriyanto, Joseph Theodorus Wuliandi alias Mr. Joger, pendeta jalanan Agus Sutikno, dan Mooryati Soedibyo juga menginspirasi kita tentang Ikigai. Sebuah harmoni kehidupan yang ideal dalam konteks masing-masing pribadi. Harmoni antara memberi dan mendapat, harmoni antara tanggungjawab pribadi dan tanggung jawab kepada dunia, serta harmoni antara aspek material dan spiritual. Inilah rahasia kebahagiaan.

Bagaimana dengan Anda, sudahkan menemukan Ikigai, a reason for living Anda? 

Selasa, 11 September 2018

Cakep! Customer Experience Owndays

pic: coolwinx
Dua tahun lalu, saya terpaksa mengunjungi salah satu toko kacamata (optik) di sebuah mall di kota tercinta, Surabaya. Kacamata saya pecah. Tidak mungkin beli onlen, karena pengguna harus mencobanya secara langsung.

Mengunjungi gerai, saya mencari model yang pas. Sebagian besar frame tersimpan rapih di dalam display kaca terkunci. Setelah memilih frame yang cocok, kemudian saya meminta pelayan mengambil untuk dicoba. Jika kurang cocok, saya memilih lagi dan terpaksa terus meminta bantuan pelayan mengambilnya. Bersamaan, ia segera mengembalikan frame-frame yang sudah saya coba ke lemari display. Begitu seterusnya. Sungkan juga lama-lama, merepotkan pelayan karena saya termasuk konsumen yang terlalu banyak memilih, apalagi jika ternyata  tidak jadi beli. Mendatangi gerai lain, rata-rata menawarkan layanan yang mirip. 

Setelah menemukan frame paling baik, saatnya memeriksa kondisi mata. Dengan  bantuan kacamata  Phoropter, saya diminta membaca huruf-huruf yang ada di sebuah kartu atau disebut snellen. Dari pengalaman ini kemudian diketahui kondisi mata, serta lensa terbaik untuk kacamata kita. Tahap berikutnya, setelah bertransaksi, saya diminta untuk menunggu (minimal) 3 hari kerja untuk dapat menikmati kacamata baru saya. Sungguh menyusahkan, sudah 2 hari tidak memakai kacamata dan harus menunggu paling cepat 3 hari lagi baru bisa menjadi "normal". Beruntunglah jika kita langsung mendapat setting-an yang sesuai. Jika tidak, bisa memakan waktu lebih lama dan biaya tambahan untuk perbaikan atau penyesuaian kembali. Bagi saya, ini bukan customer experience yang baik, tapi ya sudahlah.

Beberapa minggu ini, kepala saya sering terasa pusing. Mata cepat lelah. Saya pikir, mungkin kerusakan mata saya makin parah. Berniat mencari toko optik untuk memeriksa mata sekaligus ganti gaya.  Istri saya mengajak saya mengunjungi gerai optik baru di Tunjungan Plaza, Owndays. Awalnya tak tertarik dan sama sekali belum pernah mendengar nama tersebut. Membaca material promosi di sana, saya tertarik dengan info bahwa brand ini berasal dari Jepang. OK, kita coba saja... 

Lebih dari ratusan jenis frame tertata di meja dan lemari display yang terbuka. Saya bisa mencoba  suka-suka gue, tanpa sungkan. Mengambil dan mengembalikannya kembali jika belum cocok. Pelayan di sana, yang sebagian besar perempuan usia milenial dengan tampilan casual, cukup proaktif memberi pengetahuan produk pada saya. Mungkin hampir satu jam saya di sana dan bingung pilih yang mana, mengingat biaya beli kacamata sepadan dengan satu ekor Godzilla Monsterarts :) Bagi saya, ini adalah pengalaman tentang kebebasan bagi orang-orang yang ingin membeli kacamata dengan nyaman.

Owndays Tokyo
Owndays menawarkan konsep simple price, artinya harga yang tertera pada masing-masing frame sudah termasuk lensa berkualitas, apapun kelainan mata kita. Harganya bekisar 700rban hingga 1700an. Mungkin hanya ada 5 hingga 6 varian harga saja di antaranya. Kecuali jika kita ingin mengupgrade, seperti mangganti lensa transform yang dapat berubah warna. Mudah menentukan batas anggaran karena varian harga yang relatif sedikit dengan sistem pricing sederhana. Saya memilih frame andalan mereka, dengan teknologi fleksibel.

Koleksi Fleksible
Okey, lanjut ke tahap berikutnya untuk memeriksa mata. Pertama, dengan teknologi scan cepat, mungkin hanya 1 menitan, mereka mendeteksi kemungkinan jenis kelainan lensa mata saya.  Dan benar, nampaknya minus dan silinder saya naik kelas. "Gini aja mbak?", tanya saya. "Oh belum kak, masih ada 2 tahap pemeriksanan lagi", jelasnya. Ternyata prosedur deteksi pertama hanya untuk melihat hipotesis kelainan yang akan diuji kembali pada prosedur berikutnya. Tahap kedua, mata saya diperiksa, dan dilakukan simulasi lensa dengan teknologi digital. Sampai saya menemukan titik terbaik penglihatan saya. Tahap terakhir, seperti pada optik tradisional lain, saya diminta mencoba simulasi Phoropter dan berjalan-jalan sambil menguji penglihatan saya. Kali pertama saya melihat putri dan istri saya yang keduanya terlihat lebih tajam cantiknya. Menarik, Owndays menerapkan validasi berjenjang dengan proses yang cepat untuk menjaga ketepatan produk. 

Selesai uji mata, lalu saya melakukan pembayaran di kasir. "Kapan bisa saya ambil?" tanya saya. "20 menit lagi kak", jawabnya. Wow... hanya 20 menit! Sangat cepat. Bahkan kita bisa melihat workshop mereka saat mengerjakan pesanan kita. Semua jenis lensa dan pekerja profesional ready. Owndays memotong inefisiensi waktu produksi untuk menjaga kepuasan konsumen, menjauhkan dari kegerahan masalah "menunggu kacamata terlalu lama". Sebagian orang mengganti kacamata karena mendadak, tiba-tiba rusak, pecah, jatuh, terinjak, dan sebagainya, dan mereka butuh cepat. Inilah value yang ditawarkan.

Saya mendapat kartu garansi dan beberapa informasi tentang kemudahan Owndays, seperti mengganti frame dan lensa jika tidak sesuai secara gratis dalam satu bulan, atau garansi lain. Terus terang saya belum pernah merasakan fasilitas pascatransaksi. Namun, setidaknya dari pengalaman saya sebagai konsumen biasa, Owndays mampu memenuhi value yang saya cari dari sebuah gerai optik, yaitu kebebasan memilih, akurasi penentuan lensa, dan waktu produksi yang cepat. Bagi saya pribadi, customer experience yang dibangun Owndays, cakep! 

Mungkinkah ini praktik disrupsi bisnis optik, sekaligus bisnis lain yang memiliki kemiripan proses operasional? Bisa jadi!



Dr. Bonnie S
Academician | BusinessCoach | Author
Head of Master of Accounting Programme 
Universitas Surabaya

email: bee7179@gmail.com

Minggu, 09 September 2018

5 Tips Singkat Hidup Meditatif

pic: wikihow
Bagi sebagian besar orang, meditasi identik dengan posisi bersila lotus dengan tangan menyentuh lulut, kemudian bernafas dan berkonsentrasi. Benar, namun teknik tersebut hanyalah satu dari sekian banyak teknik bermeditasi. Sederhananya, meditasi adalah sebuah upaya untuk meningkatkan kesadaran penuh (mindful) dalam segala kondisi, mengamati segala sesuatu tanpa penghakiman, menerima, dan kemudian melepaskannya. Tujuan akhirnya adalah pada pola hidup meditatif, selama 24 jam, 7 hari, dan seterusnya. Orang jawa menyebutnya, eling lan waspada. Berbagai penelitian menunjukkan dampak signifikan dari sikap hidup demikian, seperti peningkatan konsentrasi, empati, fokus, kreatifitas, hingga produktivitas, seperti yang kerap dipopulerkan oleh perusahaan sekelas Google, Apple, atau 3M.

Bagaimana caranya?

Belajar dari berbagai guru yang baik, serta referensi yang berguna, saya mencoba merangkum 5 cara untuk menuju hidup meditatif, baik untuk kehidupan keluarga maupun karir.

1. Ucapkan mantra
Karena ucapan adalah "doa", selalu awali hari dengan kata-kata positif yang membantu meningkatkan gairah hidup, seperti aku bisa menyelesaikan masalah pekerjaan hari ini, aku akan tenang menghadapi ujian hari ini, atau perjalanan hari ini akan menyenangkan. Ucapkan dengan tenang. Anda dapat mengawalinya dengan beberapa detik menyadari nafas hingga Anda benar-benar siap menyadari apa yang akan Anda ucapkan, dengan kayakinan tanpa obsesi.

2. Bersikap dan berbuat baik
Bagaimana sikap orang pada kita, sangat ditentukan bagaimana sikap kita pada mereka. Jadi, mulailah bersikap baik. Tidak perlu memperdebatkan, bagaimana jika orang masih tetap tidak bisa baik pada kita. Karena keikhlasan dalam bersikap dan berbuat baik tidak butuh alasan, tidak perlu menuntut pengembalian. Jangan terjebak pada manipulasi pikiran yang berpotensi menghancurkan mantra dan kedamaian Anda.

3. Amati tanpa menghakimi 
Dalam rutinitas kehidupan, Anda mulai lelah, sedih, bahkan marah menghadapi masalah? Ini adalah hal yang wajar. Bukti bahwa kita manusia. Yang lebih penting adalah bagaimana kita meresponnya. Sadari saja ketika tubuh dan jiwa Anda bergetar karena emosi yang mulai memberontak keluar dari kandang. Tidak perlu dilekati atau dilawan karena itu akan memicu masalah baru. Ambil jarak diantaranya. Tidak perlu dihakimi baik atau tidak. Cukup sadari, kemudian lepaskan perlahan dalam hembusan nafas. Segera kembali pada batin yang murni, bersih, dan damai.

4. Yakini apa yang dilepas, akan diterima
Fisika mengajarkan hukum kekekalan enerji. Bahwa enerji yang dilepas akan kembali. Jika kita melepas kebaikan, kemudian akan memeroleh kebaikan. Juga sebaliknya. Poin ini sekaligus menjawab pertanyaan pada poin 2, bagaimana jika saat kita berbuat baik, tapi orang membalas sebaliknya? Jika Anda masih meragukan dan mempertanyakan hal ini, berarti Anda belum benar-benar secara penuh melepaskan kebaikan. Masih ada sesuatu yang mengganjal, sebuah harapan yang mengikat. Enerji bukan hanya datang dan pergi, namun juga dapat berubah wujud. Setiap kebaikan yang kita tanam akan berbuah. Buah yang datangnya dari mana saja, dalam wujud apa saja, dan dalam kurun waktu sesuai "jalan"nya. Maka, ikhlas dan bersabar saja.

5. Ambil waktu untuk olah raga
Hidup meditatif tidak lepas dari proses penyelarasan tubuh dan batin. Keduanya saling memengaruhi. Prioritaskan juga untuk mengolah tubuh, disamping mengolah rasa dan batin. Berikan waktu untuk diri (me time), melakukan apa yang menyenangkan dan menyehatkan tubuh. Olah raga rutin, tidak harus menghabiskan banyak waktu, cukup sering dan rutin saja. Tubuh yang bugar dan sehat sangat menunjang proses hidup meditatif. Otak selalu fresh dan mampu bekerja optimal. Sebaliknya, ketika tubuh kita lemah, lelah, sakit, lebih sulit bagi kita untuk menjaga pikiran/ batin tetap jernih. Yuk buat jadwal olah raga mulai hari ini, prioritaskan!


Yah... beberapa jam lagi sudah Senin. Weekend sedang berlalu meyapa selamat datang realita. Realita yang mungkin nampak tidak cukup menyenangkan. Para pekerja, memeriksa setumpuk dokumen, jadwal rapat yang bakal melelahkan, kembali mengejar target, atau menghadapi rekan kerja yang menyebalkan. Para ibu rumah tangga, membayangkan perjuangan menembus kemacetan lalu lintas antar-jemput anak-anak sekolah, memasak, mempelajari seluruh catatan sekolah dan jadi "guru les" privat. Para siswa, momok tes, ujian mendadak, mengejar deadline skripsi, anggota kelompok yang semau gue, atau menghadapi dosen-dosen seleb yang dumeh.  


(Tarik dan hembuskan nafas... perhatikan beberapa saat) Tetap dalam posisi batin yang tenang, sekali lagi renungkan kelima tips di atas. Jika disingkat, jadi kata UBAYA, mudah diingat.

Selamat mencoba dan bahagia!

Rabu, 29 Agustus 2018

Boleh Mimpi, Jangan Terobsesi

pic: artofholiness
Mengejutkan, mendengar kabar oknum atlet Malaysia lepas kendali dalam cabang pencak silat Asian Games 2018 lalu. Dua tindakan menjadi sorotan media. Kalah telak dari petarung Komang (Indonesia), Al-Jufferi tak terima dan melayangkan protes, marah dan puncaknya ia menjebol salah satu dinding temporer venue di sana. Di sesi lain, Sobri yang juga tim negeri Jiran itu tertangkap kamera melakukan tendangan pelanggaran kepada lawan (walau hal ini belum cukup jelas pemberitaan kebenaranya). Tindakan ini bukan masalah negara, namun sekali lagi, hanya oknum. 

Tidak perlu membangun sentimen, karena tanpa disadari, diri kita mungkin sering "melakukan" hal serupa!

Menjadi juara jelas impian tiap atlit, menjadi penambang emas juga harapan negaranya. Dalam kehidupan, kita juga sering membangun impian. Ingin ini, ingin itu, banyak sekali seperti Nobita. Visi, impian, adalah baik adanya. Tanpanya, hidup kita tak jelas arah, mengikuti arus seperti ikan mati. Ingin kaya secara materi, ingin punya pasangaan ideal, ingin sembuh dari sakit, ingin jadi aktivis sosial, bisa keliling dunia, membeli semua barang koleksi, ingin sukses kuliah adalah impian-impian yang men-drive tindakan kita menjadi lebih terencana.

Namun yang menjadi masalah adalah ketika kita menjadi terobsesi dan "budak" dari ilusi impian yang kita bangun sendiri. Obsesi akan memicu ego dan emosi yang segera menguasai diri dan tak jarang berujung pada kekecewaan, rusaknya hubungan, kebencian, dan kapahitan. Tidak hanya menyakiti diri, kekecewaan juga akan berdampak pada orang-orang di sekitar, bahkan orang yang tak bersalahpun akan ikut menderita. Kembali pada kasus tim pencak silat tadi. Reaksi anarkis yang terjadi (mungkin) sebenarnya hanya akibat dari sebuah sebab. Takut kalah, ambisi menang yang obsesif akhirnya menggelapkan hati dan mengacaukan batin.

Memang benar bahwa kehidupan terkadang membiarkan kita gagal, kejam dan tidak fair. Sejatinya, segala kejadian yang kita anggap buruk bukan untuk menjadikan kita seorang pecundang, namun untuk membentuk "aku yang lebih sempurna". Kegagalan adalah salah satu bagian paling menantang dalam kisah pencapaian kesuksesan. Bagian yang akan membuat kita lebih kuat dan lebih bijaksana. Hidup akan lebih damai ketika kita mau belajar untuk menerima dan melepaskan segala sesuatu, terutama yang kita rasa tidak baik. Saat kita berhasil, saat kita gagal, terima sebagai kenyataan, menyadarinya tanpa melekatinya. Obsesi berlebihan dan penolakan realitas pada akhirnya sama saja dengan menjerumuskan diri pada ilusi dan manipulasi pikiran, menyalahakan obyek di luar diri bahkan tak segan menyakiti orang lain. Syukuri bahwa segala sesuatu terjadi karena memang harus terjadi. Yakini sebagai hal yang akan membawa kebaikan bagi kita semua.

Ketika Tuhan mengambil emas dari genggaman tangan kita, (mungkin) ia sedang ingin memberikan berlian untuk kita.

Senin, 02 Juli 2018

Aku, AKUntan yang Bodoh?!

pic: time.com
Berawal dari diskusi ringan bersama Idfi, rekan dosen yang kebetulan tergabung dalam proyek pengabdian kepada masyarakat. Saat itu menjelang hari raya Idul Adha. "Hakikat dari hari raya Qurban adalah ketulusan hati kita untuk memberikan korban yang terbaik, bagi sesama dan Allah. Jadi, jika kita mampu membeli sapi, belilah yang terbaik. Namun jika hanya kambing, belilah yang terbaik pula", tuturnya. Seperti bagaimana nabi Ibrahim menyerahkan anak kesayangannya atau kisah Allah mengorbankan Yesus. Ia menyebutnya sebagai kewajiban umat beragama atau hukum Tuhan.

Sejenak, pikiran saya berpetualang menuju masa lampau, ketika masih mula-mula belajar ilmu ekonomi. Saya belajar hukum ekonomi, bahwa ekonom yang baik mampu berkorban sekecil-kecilnya untuk keuntungan sebesar-besarnya. Ada sesuatu seperti dilema. Kedua hukum tersebut bertolak belakang. Atau mungkin memang bisnis adalah bisnis dan agama adalah agama, yang keduanya tidak pernah bersatu. Dilema yang menggantung.

Sejak 2 tahun lalu, saya membantu guru-guru saya, Sujoko Efferin, Iwan Triyuwono, dan Hery Pratono untuk mengampu mata kuliah Akuntabilitas dan Spiritualitas dalam Bisnis di Magister Akuntansi Universitas Surabaya. Mata kuliah akuntansi yang mungkin hanya ada di tempat kami. Mata kuliah yang memperluas horison pengetahuan dan kebijaksanaan bahwa akuntabilitas atau pertanggungjawaban manusia dalam bekerja bukan hanya kepada bos atau shareholder, namun lebih pada Tuhan, makhluk lain, dan alam dalam skema omnikonektivitas semesta. Setiap ucap dan tindak yang kita lakukan berdampak pada kehidupan secara holistik. Sejak saat itu, saya terus memikirkan apa sebenarnya roh dari kata "akuntansi". Apakah akuntansi sebuah simulakra atau bahkan hiper realitas? Ada sedikit hal yang mulai saya pahami, namun meninggalkan hal-hal lain yang sulit dipahami. Selama ini saya mengenal akuntansi sebagai metode pengumpulan data, pencatatan transaksi, proses klasifikasi dan perhitungan komponen-komponen ekonomis untuk menghasilkan laporan keuangan. Bahkan, secara konvensi sudah ada pakem atau standar internasional yang diberlakukan sebagai simbol dominasi politis. 

Penasaran itu makin mengusik saya. Saya kembali menjelajah dunia maya mencari berbagai literatur tentang keaslian dan sejarah akuntansi. Syukur, saya menemukan tulisan salah seorang guru dan penguji disertasi saya, Eko Ganis Sukoharsono, Luca Pacioli's Response to Accounting Whereabout: An Imaginary Spiritual Dialogue. Ada yang menarik dari tulisan ini. Melalui 3 tokoh imajinatif, Luca Lama, Luca baru, dan Luca Pacioli, beliau mengajak pembaca untuk memahami kembali apa itu akuntansi. Luca Pacioli seorang pelayan Tuhan di gereja Katolik Roma dan ahli matematika, dikenal sebagai bapak akuntansi, penemu sistem double-entry. 

Mempelajari bidang hermeneutika Foucault dan Ricoeur, mengusik hati saya untuk berburu mencari tahu, siapa itu Luca Pacioli, apa yang pernah ia sampaikan tentang akuntansi dan dalam konteks seperti apa. Dengan harapan mendapat sedikit pencerahan yang benar. Bertemu Christian, salah satu mahasiwa yang sedang dalam proses bimbingan Tesis. Ia membantu saya untuk mencari naskah-naskah asli Pacioli serta literatur tentang sejarah akuntansi dan upaya manusia mencari kebenaran. 

Particularis de Computis et Scripturis, demikianlah judul naskah Pacioli yang menjadi best seller pada tahun 1490an hingga ke Amerika. Pacioli, disebut sebagai salah satu kawan sekaligus guru dari si jenius, Leonardo da Vinci. Lukisan The Last Supper karya da Vinci sebenarnya merupakan hasil "kursus" nya tentang matematika, geometri, proporsi, dan perspektif pada sang guru Pacioli. Naskah fenomenal Pacioli tidak hanya berisi tentang teknis penulisan transaksi, namun diwarnai oleh pesan-pesan spiritual yang sebenarnya menjadi roh dari akuntansi itu sendiri. Tidak ada ucap tentang difinisi akuntansi oleh Pacioli. Ia hanya memaparkan secara eksplisit tentang prinsip pengusaha atau pedagang dan prinsip pencatatan yang baik. Prinsip pengusaha dan pencatatan yang sangat mencerahkan atau malah, membingungkan.

(The Last Supper, Wikipedia)
Trustworthiness, sebagai prinsip pertama pebisnis yang baik. Ia harus dapat diandalkan dan dipercaya. Pacioli mengatakan, "We are saved by faith, and without it, it is impossible to please God." Tuhan. Dalam bisnis, moral, kejujuran adalah yang utama. Ia harus memiliki roh Tuhan, iman keTuhanan yang baik agar dapat bersikap baik. Pernyataan ini mulai menjawab dilema saya, apakah bisnis dan agama adalah hal yang tidak pernah bertemu. Kedua, be a good bookeeper, artinya pebisnis perlu menyajikan informasi yang baik dan dapat dipahami oleh pembaca yang rajin. Prinsip ini mengajarkan tentang empati, bahwa laporan yang dihasilkan harus dapat dipahami oleh audien dan meminimalkan bias persepsi. Ada kata "rajin" dalam memaknai prinsip kedua. Kemudian, Pacioli menjelaskan kutipan Raja Sulaiman tentang perumpamaan semut, bahwa pengusaha dan pedagang harus bekerja dengan rajin dan tekun seperti semut. 

Selanjutnya, terkait pencatatan, Pacioli menekankan 2 poin utama, yaitu inventario (inventori) dan disposition (pengaturan). Pacioli mengajar bahwa segala yang kita miliki harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan. Harta, waktu, kesempatan adalah anugerah Tuhan pada kita. Bagaimana kita mengelolanya adalah ibadah kita padaNya. Implikasinya, bahwa ketika memulai berbisnis khususnya mencatat transaksi, ia mengajarkan kita agar terbiasa menuliskan "In the name of God..." atau di dalam nama Tuhan... Wow!!!  Ia menulis, "The merchants should begin their business with the name of God at the begining of every book and have His holy name in their minds."

(Cuplikan naskah Pacioli, 1949)
Kedua, tentang pengaturan. Mungkin tidak banyak akuntan paham, termasuk saya. Apa arti Debet dan Kredit. Mengapa Debet didahulukan, dan kemudian Kredit?

Istilah Debit berasal dari bahasa Itali tradisional, "Dee Dare" yang artinya shall give atau memberi atau menabur. Sedangkan Kredit berasal dari kata "De Avere" yang artinya shall have atau mendapat atau menuai. Bagaimana menurut Anda? 

Debit-Kredit bukanlah dikotomi, namun sebuah interkoneksi, bahwa ketika kita memberi, kita pasti akan mendapatkan. Ketika kita menabur, kita akan menuai. Demikianlah harmoni kedua sisi akuntansi. Bahkan dalam bagian lain, Pacioli berpesan, "… But above all, remember God and your neighbor, never forget to attend to religious meditation every morning, for through this you will never lose your way, and by being charitable, you will not lose your riches..." Artinya, bahwa dalam berbisnis selalu ingat dan pedulikan Tuhan dan orang-orang disekitarmu, selalu intim dengan Tuhan dalam sesi meditasi, maka engkau akan selalu mendapatkan jalan. Selalu bermurah hati dan engkau tidak akan pernah menjadi miskin. Sebuah prinsip yang bertolak belakang dengan hukum ekonomi yang beredar hampir di seluruh perguruan yang katanya tinggi.

Selanjutnya, ia juga mengutip pernyataan Santo Matius, "...St Matthew says “Primum quaerite rugulum dei, et haec omnia adiicietur vobis” (“Seek first the kingdom of God and then the other temporal and spiritual things you will easily obtain, becaude your Heavenly Father knows very well your need…)

Demikianlah prinsip dasar akuntansi pada mula-mula. Pacioli adalah tokoh religius yang juga berwawasan spiritual yang baik. Ia mengajarkan prinsip Tuhan universal. Sebuah keyakinan penuh bahwa Tuhan harus menjadi yang utama. Segala tindak tanduk kita adalah pertanggungjawaban pada Tuhan. Jauh dari fraud, jauh dari penggelapan pajak, jauh dari korupsi uang perusahaan, jauh dari double accounting, jauh dari income smooothing. Carilah Kerajaan Tuhan, lakukan kebaikan, prinsip-prisnip kebenaran dalam berbisnis, dan kita tidak akan pernah jatuh miskin. Demikian harap Pacioli yang tentunya dapat dicapai melalui iman dan perbuatan baik.

O.. i c...

10 tahun aku belajar akuntansi hingga jenjang tertinggi, tanpa memahami apa itu akuntansi. Bodohnya aku...