Kamis, 07 Desember 2017

Kenali Bahaya Micromanagement di Perusahaan Anda


pic: medicaljane

Pernahkah Anda bekerja dan mendapat pengawasan berlebihan? Seolah setiap gerak-gerik Anda harus di-scan dan dipastikan sesuai maunya perusahaan. Banyak mata-mata, banyak CCTV, banyak alat kendali yang sedang mengawasi Anda. Pihak manajemen mencampuri urusan-urusan yang Anda anggap, sepele, seperti uang kembalian yang kurang, nota pembelian bensin yang kelebihan, memilih penerbangan dinas termurah, apa yang Anda lakukan saat rehat, atau situs apa yang sedang Anda browse saat ini. Jika demikian, perusahaan tempat Anda bekerja sedang mengalami micromanaged.
Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh artikel Stop Being Micromanaged yang diterbitkan pada HBR (2011). Micromanaged adalah sebuah kondisi dimana pihak manajemen yang seharusnya memikirkan hal strategis, terjebak mengurusi hal-hal teknis, kecil, dan tidak signifikan. Menarik ketika artikel ini menyebutkan bahwa perilaku demikian akan sangat mengganggu kedamaian karyawan, menghambat pertumbuhan profesionalisme, dan kreativitas karyawan. Dari hasil survei terhadap pekerja di Amerika Serikat, ditemukan bahwa micromanagement lebih banyak membawa dampak negatif, salah satunya menurunkan produktivitas karyawan (hingga 55%). 
Mengapa terjadi?
Lack of Trust
Sistem kendali dibangun dengan asumsi bahwa manusia itu liar dan perlu diawasi setiap gerak-geriknya. Akibatnya, pihak manajemen terobsesi untuk kepo, selalu ingin tahu apa yang sedang staf lakukan, selalu curiga, dan berpikir negatif. Makin ketatnya pengendalian dalam sebuah organisasi mencerminkan makin lemahnya trust di dalamnya. Hilangnya trust adalah pemicu runtuhnya integritas dan teamwork.
Paranoid
Rendahnya kepercayaan yang memicu praktik micromanagement juga diakibatkan oleh faktor kejiwaan, ketakutan bahwa orang lain akan mengganggu, menyakiti dirinya. Fenomena demikian sering kita sebut dengan paranoid. Akibatnya, seseorang akan cenderung memperhatikan, menganalisis tindakan-tindakan orang lain yang ia anggap mengancam dirinya, memikirkannya secara berlebihan, dan tertekan. Paranoid bisa disebabkan pengalaman buruk/ trauma masa lalu, faktor lingkungan, dan rendahnya spiritualitas. Buruknya, jika keadaan ini digeneralisasi dan menganggap seluruh orang berbahaya.
Lack of Leadership
Micromanaged juga terjadi karena tidak memadainya kualitas kepemimpinan pihak manajemen. Bahkan mereka sulit membedakan mana hal strategis, mana hal teknis. Mana yang penting, mana yang tidak penting, mana yang mendesak, dan mana yang tidak mendesak. Kondisi ini akan memicu disorientasi strategis, pihak manajemen akan kehabisan waktu dan enerji dengan mengurus hal-hal kecil.
Tidak banyak manfaat dari micromanagement. Kondisi kerja menjadi penuh tekanan, saling curiga, melelahkan, dan rentan konflik. Kondisi yang memicu bom bunuh diri pada waktunya.
...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar