Kamis, 23 November 2017

Yuk Belajar "Disruption" dari Bedhes Putih

pic: wayangku
Disruption, jargon bisnis yang sedang trending. Kata ini kerap dikaitkan dengan kondisi startup dan teknologi kekinian. Istilah disruption dipopulerkan oleh Christensen pada tahun 1997 dalam bukunya Innovator's Dilemma. Pada tataran berikutnya, muncul berbagai versi pemahaman dan pemaknaan kata ini. Ada yang masih sejalan dengan konteks, ada pula yang sudah keluar dari paradigma mula-mula. 

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan disruption?

Saya terinspirasi dari salah seorang mahasiswa saya, si Christian yang menempuh spesialisasi innovation accounting. Saat itu, kami sedang membahas kisah Ramayana di dalam ruang kuliah Akuntansi dan Spiritualitas dalam Bisnis. Chris memotong kesunyian, memberi opini yang bagi saya mengagumkan. "Menurut saya, Hanoman adalah simbolisasi disruption. Saat kelompok pasukan Wanara menawarkan 3 bulan untuk mencari Sinta, dan kelompok Wanara lain menawarkan 1 bulan, Hanoman tiba-tiba datang dan menawarkan 1 hari saja untuk menemukan dimana Rahwana menawan Sinta", tuturnya. Alhasil, Raja Sugriwa memilih Hanoman sebagai ututsan pencari Sinta.

Saya mencoba memikirkan celoteh si Chris, merenungkan kembali peran Hanoman, (bangsa wanara, dalam rupa separuh manusia separuh bedhes putih) dalam novel cantik Anak Bajang Menggiring Angin. Benar, Hanoman boleh kita maknai sebagai simbol, bahkan simulakra dari disruption. Masyarakat bisnis memaknai kata ini sebagai fenomena perusahaan yang mampu memanfaatkan teknologi lebih cepat, bekerja lebih efisien, dan segera menggerogoti pangsa pasar industri yang ada (the existing). Demikian pula, bagaimana saat Hanoman muncul di tengah kericuhan tentang tawar-menawar cara menemukan Sinta. Saat itu para kesatria unjuk kebolehan dan menawarkan durasi waktu pencarian Sinta, ada yang 3 bulan dan ada yang 1 bulan. Sayangnya, bagi Sri Rama, itu terlalu lama. Tak ada yang mampu memenuhi harapannya. Value yang ditawarkan the existing belum mampu menjangkau kebutuhan Rama sebagai "klien". 

Tiba-tiba Hanoman angkat suara. Dengan kepercayaan diri yang besar berani menawarkan durasi 1 hari saja. Semua mata tertuju padanya. "Bagaimana mungkin?", guman kawanan Wanara. Bahkan Sugriwa meragukan ini. Hanya Rama yang mencoba menaruh rasa percaya padanya. Atas nasehat Rama, Sugriwa rela mengutus Hanoman. Singkat cerita, Hanoman berhasil menemukan lokasi Alengka, dimana Raja Rahwana menawan Sinta, hanya dalam 1 hari. Begitulah para disruptor bekerja. Mereka lebih cepat mengambil peluang, memanfaatkan teknologi, dan berproses dengan sangat efisien.  Mereka berhasil memenuhi harapan dan kebutuhan konsumen dengan lebih murah sekaligus berbeda dan berkualitas, sambil seolah meruntuhkan teori generic strategy. Hanoman tidak hanya menemukan lokasi Sinta dalam 1 hari, ia mampu mendapat informasi bahwa Sinta masih suci sekaligus membawa kalung titipan Sinta untuk Sri Rama. Satu lagi, Hanoman berhasil memporak-porandakan Alengka sambil memberi ancaman moril pada Indrajit. 

Bagaimana ia melakukannya? 

Ini adalah poin penting yang boleh menjadi pelajaran bagi kita semua, betapa kebijaksanaan lokal itu terlalu bernilai. Saya mencatat 5 prinsip utama, bagaimana Hanoman berhasil sebagai disruptor

1. Proses Diri
Hanoman adalah "putra" Batara Bayu, dewa angin. Kesaktiannya mengalir pada darah Hanoman. Ia memiliki kemampuan melebihi makhluk lain. Aji-aji atau kesaktian dan senjata adalah simbol teknologi. Tidak hanya memiliki, namun kemauan, kemampuan menguasai dan menggunakan teknologi dengan tepat adalah syarat penting disruptor. Menjadi ahli bidang adalah proses yang dilalui dengan perjuangan.  Hanoman, putra Retno Anjani telah menjadi sebatang kara sejak masa ia masih menyusu. Hanoman yang malang harus berjuang untuk bertahan hidup. Keberanian, kemandirian, dan pencarian tujuan hidup ia jalani dengan keras. Namun, siapa sangka pengalaman pahit ini berbuah manis dan Hanoman tumbuh menjadi wanara yang paling berwibawa, bermoral, dan bermental baja diantara kaumnya, bahkan Sri Rama sangat berkenan padanya. Tidak ada disruptor yang muncul tiba-tiba. Mereka semua menjalani proses, ketakutan, penderitaan, dan pada akhirnya mereka mampu merubah paradigma, kegagalan menjadi jalan menuju sukses. 

2. Orientasi pada Kebaikan
Tidak ada motif lain Hanoman selain menjalani Dharma-nya. Ia "mengabdi" pada Rama sebagai titisan Wisnu, pemelihara alam semesta. Motivasi dan tujuan adalah faktor penggerak utama. Saya sempat berpikir bahwa disruption sebenarnya hanya mitos, imajinasi dan rasionalisasi untuk mencari kambing hitam. Lihat bagaimana gmail telah menggeser posisi yahoo mail, facebook "menonaktifkan "friendster, toko online menggerus toko tradisional, dan taksi online menggoyah posisi aman taksi konvensional. Inovator pendatang baru tidak berambisi untuk menghancurkan the existing. Mereka hanya lebih peka dan mampu  menawarkan value yang sedang dicari oleh pasar. Mereka berorientasi untuk membantu orang agar dapat menjalankan pekerjaannya dengan lebih baik, efektif dan efisien. Sebaliknya, the existing, karena comfort zone atau karena konflik internal organisasi menjadikannya tidak lagi fokus pada visinya. Mereka (the existing) yang gagal sebenarnya telah mendisrupsi dirinya, fokusnya sendiri.

3. Kesempatan
Hanoman datang pada saat atau kesempatan yang tepat. Jika ia terlambat, mungkin peran duta itu sudah diemban pihak lain. Demikian pula menjadi unggul di pasar. Kita perlu melihat peluang dengan jeli dan sesegera mungkin mengambil peluang itu. Memang banyak pelatih bisnis berkicau, jangan tunggu kesempatan, namun ciptakan. Bisa jadi cara ini berhasil, namun jelas betapa besar risiko bisnisnya di tengah era pasar yang tidak terduga. Hanoman telah mendengar semua perbicangan dan tawaran pesaingnya. Ia membaca kelemahan the existing dan kemudian berusaha mengisi kekosongan tersebut atau value gap, yaitu durasi pencarian yang sangat cepat dengan informasi yang terpercaya.

4. Aliansi
Peran Hanoman dalam epos ramayana tak lain adalah sebagai "konektor" antara Rama dan Sinta. Tanpanya, Dharma itu tidak pernah tergenapi, Rama tidak akan pernah berjumpa kembali dengan Sinta. Hanoman menjadi mulia bukan karena kesaktiannya, namun keberhasilannya mempertemukan keduanya. Liber, dkk dalam buku Network Imperatives memberi pencerahan baru tentang survabilitas perusahaan inovatif. Sebut saja Amazon, Ebay, Uber, dan Airbnb. Apa yang mereka miliki? Bahkan sekelas Uber tidak pernah memiliki stok ban mobil. Mereka sukses menjadi mediator atau konektor antara penyedia (vendor) dan pemakai (user) atau penjual dan pembeli. Itu saja! Dengan modal disain jaringan kerja dan teknologi mereka menguasai pangsa pasar dan menjadi raja bisnis. 

5. Dukungan Pemerintah
Dukungan pemerintah, merupakan faktor eksternal yang sangat menentukan keberhasilan. Hanoman tidak akan berangkat menunaikan tugasnya tanpa restu dari Sugriwa, maharaja negeri Kiskenda.  Tidak hanya mendukung secara moril, Sugriwa mempersiapkan segala kebutuhan Hanoman. Kebijaksanaan pemerintah dalam mengambil keputusan sangat menentukan going concern inovasi anak negeri. Inovasi anak negeri akan sia-sia tanpa dukungan kuat pemerintah. Sudah sering kita tahu bagaimana suka duka para CEO perusahaan transportasi online di negeri kita dan di beberapa belahan dunia lain, yang malah mendapat kecaman dari the existing dan "hambatan" dari pemerintah sendiri. Cepat atau lambat, visi dari para inovator yang dikambinghitamkan dalam istilah disruptor itu akan menjadi nyata, layaknya sebuah hiperealitas. Hakikatnya, seperti Sugriwa menerima Hanoman, mereka yang berdamai dengan kemajuan akan berjaya dan mereka yang menolak perubahan akan celaka.

Semoga bermanfaat!

Jumat, 17 November 2017

Sudahkah Anda Memenuhi 5 Kriteria Riset Yang Baik?

pic: www.123rf.com
Riset, salah satu critical outcome perguruan tinggi. Hukumnya wajib! Dosen dan mahasiswa membuat karya ilmiah, skripsi, tesis, disertasi, atau entah apapun sebutannya. Di kalangan akademisi, sering muncul pertanyaan, apa sih ciri-ciri riset yang baik? Dapat nilai A, diterbitkan aliansi Scopus, atau mendapat hibah dari pemerintah? 

Sering, persepsi umum dan target ambisius demikian malah jadi beban mental peneliti untuk mulai berkarya, beban untuk lulus atau beban untuk naik pangkat. Riset bicara tentang kebermanfaatan. Artinya, sumbangsih riset kita kepada masyarakat adalah yang utama, bukan sekadar pemenuhan ego. Kebermanfaatan adalah salah 1 dari 5 kriteria riset yang baik. Berikut uraian kelima kriteria tersebut:

1. Impressive
Ya, riset yang mengesankan memiliki daya pikat pembaca. Kesan pertama dibangun dari judul yang kreatif bahkan provokatif. Bagaimanapun juga, kita menilai buku dari sampul. Namun demikian, judul tetap wajib mencerminkan isi. Sesuatu yang mengesankan juga dapat dinilai pada hasil penelitian, temuan yang tidak biasa, bahkan temuan yang mengejutkan. 

2. Insightful
Berikutnya, mampu memberi wawasan atau cara pandang baru. Jika kita meneliti mengapa benda itu jatuh ke bawah atau apakah kelelahan bekerja berpengaruh pada produktivitas, maka ini bukan riset yang berwawasan. Tidak ada yang mendapat hal baru karena semua orang sudah tahu jawabannya. Makin banyak hal atau kebenaran baru yang mampu diungkap, maka riset itu dikatakan berwawasan luas, memberi wacana baru, dan menjadi media belajar yang baik. 

3. Innovative
Inovasi diartikan sebagai tindakan atas dasar kreasi yang memberi manfaat. Kebermanfaatan adalah kunci penting riset yang baik. Sayangnya, kita sering melewati begitu saja bagian manfaat penelitian. Kita menganggapnya sebagai formalitas yang pokoknya ada. Sejatinya, adalah kesia-siaan jika hasil riset kita tidak mampu memberi manfaat nyata pada masyarakat, walaupun mendapat nilai A. Bahkan menurut catatan biografi, Frederick Smith, pendiri Fed-Ex dikisahkan hanya mendapat nilai C saat mengajukan ide bisnis ekspedisi internasional kepada dosennya. 

4. Inspiring
Tidak cukup memberi wawasan (insightful). Riset yang baik harus mampu menjadi inspirasi bagi orang lain untuk mempelajarinya, mengembangkan, mengikuti jejak, bahkan mengkritiknya. Riset yang baik akan dirujuk oleh banyak orang. Dirujuk secara natural bukan dengan cara memaksa mahasiswa mengutip karya dosen.

5. Informative
Terkahir, riset yang baik bersifat informatif. Artinya, mudah dibaca dan dimengerti oleh pembaca. Bahkan masyarakat awampun bisa turut menikmati karya tersebut. Eisntein mengatakan, "Jika Anda tidak mampu menjelaskan ide Anda pada anak 6 tahun, sesungguhnya Anda tidak menguasai ide tersebut". Orang-orang hebat memiliki kemampuan menjelaskan sesuatu yang rumit dengan cara sederhana, bukan sebaliknya. Demikian pula laporan riset yang idealnya ditulis dengan alur bepikir dan cerita yang menarik dan mudah dipahami.

Sudahkah penelitian Anda memenuhi 5 kriteria tersebut? 



Dr. Bonnie S
Akademisi | Konsultan Bisnis | Penulis Buku

Sabtu, 04 November 2017

Mahkota Sakura Bisnis Akihabara

pic: japan.stripes.com
Akihabara, katanya surga para Otaku (pecinta pop culture Jepang). Memang benar! Hari ketiga, bersama tim, saya berkesempatan berpetualang di Akihabara. Sekitar 10 menit dari East57. Berbeda dengan Shinjuku, Shibuya, atau Harajuku sebagai pusat belanja fashion, Akihabara fokus pada kawasan belanja seputar anime. Berbagai gerai penjual pernak pernik manga (komik) anime (animasi) seperti Hatsune Miku, One Piece, Gundam, Doraemon, Love Live, Pokemon, Ultraman, menguasai perekonomian distrik Akihabara. Terdapat lini bisnis lain di sana seperti café (yang ternama Maid Café), elektronik, dan fashion. Sejak buka pukul 10.00 waktu Jepang hingga tutup, kawasan ini tidak pernah sepi, bahkan di hari kerjapun terasa liburan. 

Perputaran uang di sana sangat menggiurkan. Bahkan produsen anime, Hayao Miyazaki mengkritik bahwa masyarakat Jepang saat ini sudah terlalu konsumtif terhadap barang-barang pop culture. Bayangkan saja, dalam laporan keuangannya per 2015 Bandai (produsen mainan dan game) mencatat pendapatannya  sebesar ¥565.5 milyar, 2016 Pokemon Company mencatat pendapatannya sebesar 3.3 milyar USD. Memang omset itu adalah kelas dunia, namun konsentrasi tertinggi bisnis IP Jepang masih di negeri itu sendiri. Mereka (anak muda Jepang) menjadi materialis hingga mendewakan imajinasinya. Bayangkan saja ada berapa ribu IP beredar di sana. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan kocek demi tokoh impian.
pic: volks (one of the big toy stores)

Hampir sehari terdampar di sana, waktu berjalan terlalu cepat. Namun petualangan tersesat di blok-blok Akiha menorehkan pelajaran industri kreatif yang sangat inspiratif. Saya mencatat 3 prinsip bisnis dasar, yang saya sebut 3 mahkota Sakura sebagai ikon keindahan musim semi Jepang:

1.     Waktu Yang Berharga
Pukul 09.45 saya tiba di Ami Ami, salah satu toko action figure terbesar di sana. Belum buka. Tertulis “kami buka jam 10.00”. Sambil bersantai, kami menunggu di sana. Beberapa saat, tepat jam 10.00 pintu langsung dibuka dan pelayan menyapa kami. Luar biasa, jam 10.00 adalah jam 10.00 tidak pakai kurang atau lebih. Dan sesaat saja mereka siap melayani transaksi. Mereka sangat profesional. Penasaran, pukul 12.00 saya mengunjungi toko lain. Mandarake adalah toko mainan langka yang sudah tidak beredar di pasaran. Sekali lagi, kami terlalu pagi. Menunggu sesaat dan tepat jam 12.00 mereka membuka gerai toko. Nampaknya gaya bisnis disiplin waktu ini sudah menjadi habit. Waktu sangat berharga dan dioptimalkan dengan baik.

Pengalaman yang bertolak belakang, suatu ketika saya mengunjungi pusat belanja di Surabaya, sekitar pukul 10.00. Belum sarapan, setelah berjalan 30 menitan perut saya keroncongan. Sekeluarga saya segera mencari resto terdekat. Waktu menunjukkan pukul 10.40. Pegawai resto menyapa, “mohon maaf kami belum siap, kira-kira 15 menit lagi.” Kecewa? Tentu saja. Namun marah pun tidak akan membuat mereka lebih cepat bersiap.

Malam hari, sekitar pukul 20.50 saya mengunjungi toko kecil penjual kaos. Disainnya menarik hati saya, seputar Kaiju. Lama sekali saya memilih mengingat harganya lumayan tinggi. Tepat pukul 21.00 seorang pegawai mendatangi saya dan mengatakan “Sorry, we’re close. You can comeback tomorrow”.  Wow… saya diusir neh. Kalau pengalaman ini, di negeri kita juga banyak namun lebih pada motif pegawai pengen cepat pulang.

Saya belajar, menjadi profesional tidak selalu terkonsentrasi pada hal-hal besar dan heboh. Yang utama adalah membangun habit profesional yang diawali dari hal-hal kecil, seperti disiplin dan menghargai waktu.

2.     Segmentasi dan Strategi Marketing Emosional Akihabara
Mendengar istilah anime dan manga, mungkin sebagian besar dari kita berpikir tentang dunia anak. Pemandangan yang berbeda. Pusat belanja Akihabara didominasi pembeli remaja, dewasa muda, dan khususnya profesional muda. Jepang memiliki kategori usia pada anime dan manga. Sebagian besar iklan di sana ditujukan pada pasar remaja ke atas. Bahkan di pusat arcade, kita jarang menjumpai anak kecil bermain. Malam hari, bukan keanehan kita melihat pekerja kantoran pakai jas dan dasi asyik bermain Aikatsu dan sejenisnya, atau uji keberuntungan bola Gacha.  

Sungguh menarik medokumentasikan fenomena ini. Segmentasi bisnis IP (Intellectual Property) Jepang terkonsentrasi pada pekerja muda. Mengapa? Karena mereka memiliki daya beli tinggi dan tidak tergantung pada orang tua dalam mengelola uang. Berbeda dengan anak kecil yang masih harus minta uang kepada orang tua dan kemungkinan besar jawabannya adalah “tidak”.

Cara produsen menjual IP juga melalui strategi yang tidak biasa, yaitu transmedia storytelling. Hampir seluruh IP memiliki cerita dan kemudian disebarluaskan melalui berbagai platform media seperti manga, anime, game, dan segudang lini bisnis merchandise. Saya pernah menuliskan strategi ini di buku saya Exist or Extinct dan saya sebut strategi pengepungan. Bisnis IP menyasar seluruh kemampuan serap informasi manusia. Mereka yang suka musik, disuguhi dengan OST. Mereka yang suka film disuguhi anime. Mereka yang suka fashion disuguhi cosplay dan seterusnya. Jadi tidak heran, toko apa saja selalu ada saja pengunjung dan pembelinya.
pic: amiami (one of the big toy stores)

Transmedia storytelling yang tepat tidak hanya menciptakan pelanggan, namun fans, evangelis, bahkan “jemaat". Cerita adalah kekuatan yang menembus ruang dan waktu, emosional, dan mampu mempersuasi dan memengaruhi dengan halus. Analogi yang mirip dengan penyebaran agama di dunia melalui cerita nabi-nabi. Tidak mengherankan jika siang itu saya memandangi antrian laki-laki lebih dari 2 km hanya untuk berjumpa dengan seiyu (pengisi suara pada anime). Bahkan bagi fans akut, tokoh pujaan mereka sudah seperti dewa dewi, dan mereka bersedia membayar berapapun untuk memiliki “berhala” yang mereka inginkan.

Keberhasilan bisnis cerita IP Jepang mungkin bisa menjadi inspirasi Anda untuk memperkuat brand bisnis atau personal Anda.
                                                                                                                       
3.     Integritas Adalah Hidup dan Bisnis
Tentang integritas, saya punya kisah lain yang menarik disana. Malam itu, saya mengunjungi Don-Quijote, pusat belanja oleh-oleh khas Jepang. Seperti mall 8 lantai dan penuh pernak pernik berbagai lini. Mulai makanan kecil, kaos, tas, cosplay, gacha, console, hingga properti khusus 18++. Anda wajib mampir jika kesana. Harganya jauh dibawa Seven Eleven atau gerai lain. Asyik comot sana comot sini dan tibalah di lantai 7, pusat arcade. Sambil merogoh saku mengambil receh untuk main, tak sadar HP saya jatuh. Terus kondisi ini tidak saya sadari hingga lebih dari 30 menit. Menjelang pukul 22.30, kami pulang dan ingin rasanya foto selfie di depan toko. Baru sadar, HP saya tidak ada di saku. Hancur rasanya.

“Tenang saja, kita tanyakan ke pelayan toko pelan-pelan” ajak rekan sekaligus kawan saya. Akhirnya, berdua kami menyusuri tiap lantai. Tidak banyak pelayan paham bahasa Inggris dan meskipun paham, logat mereka sangat aneh seperti mengatakan Ulutolaman untuk Ultraman. Hampir frustasi di lantai 5. Lanjut, kami ke lantai 6, di sana kasir sudah tutup, tidak ada pelayan atau penjaga karena mereka percaya tidak akan ada pencuri. Kami naik ke lantai 7 dan menanyai seorang petugas arcade begini, “I lost my” sambil menunjuk HP kawan saya. “The color is” kemudian menunjuk obyek warna kuning. “Wait-wait” katanya. Sebentar ia masuk ruang staf dan tidak lebih dari 2 menit keluar membawa HP saya. Wow… rasanya bagai musafir di padang gurun menemukan sumber air. Saya sudah sangat pesimis mengingat waktu itu lokasi Don-Quijote sangat ramai, apalagi di lantai arcade. Sambil mengembalikan HP, ia hanya meminta saya menulis nama saya. Tidak ada identitas paspor dan alamat yang mereka minta. Ia begitu percaya pada saya.
pic: gacha station

Penduduk Jepang sebagian besar sangat menghargai keberadaan manusia lain. Mereka tidak suka mengganggu dan diganggu. Mereka akan membantu orang yang membutuhkan bantuan. Saya teringat pengalaman lain di Disneyland. Saat itu saya sibuk foto selfie, saya gesar-geser HP saya “koq semua angle jelek” pikir saya. Ya mungkin saya yang pas-pasan. Tiba-tiba seorang staf berjalan cepat mendatangi saya dan menawarkan bantuan untuk mengambil gambar saya. Itulah integritas dan gaya hidup mereka. Hidup dan bisnis adalah ketulusan, kejujuran., dan menolong orang lain Hanya saja kendala bahasa cukup menyulitkan berpetualang di sana.

Memang tidak semua yang ada di Jepang adalah baik, namun setidaknya kita belajar mengambil pelajaran terbaik di sana. Semoga bermanfaat!