Senin, 16 Oktober 2017

Mengapa Kita Tidak Puas dengan "Gaji"

pic: well-beingsecret
Pernahkah Anda lihat posting-an glamor friend sosmed dan rasanya nyesek? Hari ini di Paris, besok di China, lusa di Antartika. Belanja barang branded bagai artis wannabe. Lalu dalam hati Anda mulai berguman, "Enak banget dia, kerjanya gitu aja, tapi bisa belanja ini itu, jalan-jalan ke luar negeri, bla bla bla". Entah kenapa, Anda mulai menjadi gelisah, berhipotesis, iri, hingga membenci tanpa alasan yang jelas. 

Sebenarnya, yang bikin nyesek itu postingan friend glamor Anda, atau pikiran Anda sendiri?

Setuju atau tidak, tanpa sadar kita suka membandingkan diri dengan orang-orang yang kita anggap lebih sukses hidupnya. Kita berupaya meraih apa yang mereka (orang yang kita anggap sukses) raih. Kita mulai bekerja mati-matian, mengorbankan segalanya yang justru membuat hidup tidak lebih tenang. Kemudian kecewa atas pekerjaan dan bisnis yang kita tekuni.

Arocas & Tang (2016) dalam penelitiannya menguji 3 variabel tentang ketidakpuasan seseorang terhadap tingkat gaji yang diperolehnya. Kita boleh menginterpretasi kata gaji sebagai pendapatan. Ketiga variabel itu adalah kecintaan atas uang, standar, dan faktor budaya. Pertama, memang hidup butuh uang. Segala material diperoleh hanya dengan uang. Dalam hal ini, peneliti lebih menekankan pada sikap cinta uang, bukan tentang uang itu sendiri. Ketika manusia menjadi pecinta uang, segala upaya yang ia lakukan tak lain hanya untuk memperoleh uang. Waktu untuk uang, bekerja untung uang, bahkan bernafas hanya untuk uang. Mengejar, mencintai uang adalah pemicu sikap tamak dan rakus. Dalam kondisi demikian, berapapun pendapatan atau gaji yang diperoleh tidak pernah memuaskan. Tidak heran jika para petinggi negeri yang bergaji relatif layak masih saja korupsi hingga trilyunan rupiah. Itulah pecinta uang.

Menariknya, banyak sekolah mengajarkan kita untuk menjadi budak ekonomi, mengejar keuntungan sebesar-besarnya dengan pengorbanan sekecil-kecilnya. Sebuah hukum yang sangat berbeda dengan hukum Tuhan tentang pengorbanan yang mulia adalah mengorbankan yang terbaik. Hubungan antar manusia akan terdisrupsi oleh sikap ini. Bahkan kedamaian batin akan terus tergerus. Lepas dari segala kontroversi, saya teringat kalimat bijak AA Gym bahwa hidup yang mendamaikan adalah hidup yang mengejar cukup bukan mengejar kaya, karena kaya tidak ada batasnya. 

Kedua, tentang standar. Variabel ini akan menjawab pertanyaan tadi. Sesuatu yang nyesek itu darimana sumbernya? Mereka yang merasa terusik dengan kehidupan orang lain yang lebih sukses dapat dipastikan adalah mereka yang membandingkan kekurangan diri dengan kelebihan orang lain.  Ini adalah penggunaan standar yang tidak seimbang. Bahkan, grandmaster Catur akan kalah telak saat bertanding melawan juara dunia Karate. Ketika kita melihat diri dan orang lain dengan cara lebih bijaksana, kita akan menemukan bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Fokuslah pada apa yang kita miliki sebagai sebuah anugerah dan kekayaan, yang belum tentu dimiliki orang lain. Kesejahteraan, kekayaan tidak hanya sebatas uang. Kesehatan, kesenangan, kedamaian, dan kebahagiaan, juga kekayaan itu sendiri. Satu hal yang perlu kita renungkan, bahwa menjadi manusia paling berbahagia dan damai tidak memerlukan saldo besar, hanya perlu hati yang besar. Tetap jalani kehidupan dan pekerjaan dengan segala upaya terbaik namun jangan lupa syukuri apa yang Anda miliki dan dapatkan.

Ketiga, budaya. Ada pepatah "kita adalah bentukan lingkungan". Hal ini benar adanya. Lingkungan memiliki budaya, tata nilai, yang pada akhirnya akan membentuk pola pikir kita. Berkumpul dengan orang-orang pesimis dan pencibir akan menumbuhkan iri hati dan tukang gosip, yang sebenarnya merupakan manifestasi atas ketidakmampuan diri untuk memenuhi kesenangan atau kekecewaan atas nasib yang dijalaninya. Begitu pula jika kumpulan Anda adalah mereka yang saling bersaing kelas ekonomi, sadari dan tidak perlu terjerumus ke dalamnya karena itulah awal penderitaan dan beban hidup Anda. Fokus hidup Anda akan bergeser dari membangun keluarga bahagia menjadi pengejar kesenangan dan status sosial. Jika demikian, segera keluar dan cari komunitas yang saling membangun.

Semuanya berawal dari benak pikiran kita. Bagaimana kita memaknai dan menyikapi kekayaan, bagaimana cara memandang diri kita dihadapan orang lain, dan budaya dimana kita bertumbuh. Meletakkan pikiran pada cara pandang yang benar akan membuat hidup kita damai, sejahtera, dan penuh syukur.


Semoga bermanfaat!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar