Selasa, 31 Oktober 2017

Mencipta Cita Rasa Tinggi Ala Jepang: Fokus pada Kesempurnaan, dan Sempurna dalam Berfokus

Hari kedua, saya berkesempatan mengunjungi Noguchi Glass - Fusion Factory, perusahaan produsen kaca seni. Cukup jauh dari Asakusabashi, kami menempuhnya dengan bis menuju lokasi di Kanagawa. Sampai juga, dan satu persatu dari kami dari 31 orang turun. Menariknya, sopir mengucapkan arigatou gozaimasu (terima kasih) kepada setia penumpang yang turun, dalam kasus ini 31 kali, tidak ada yang terlewat. Ia terlihat begitu tulus menghormati setiap orang. Apakah ini ciri khas orang Jepang? 

Benar, saya menjumpai hal serupa di salah satu gerai Mc.D di Akihabara. Saat itu, salah seorang rekan saya memesan menu yang kebetulan belum ready. Sigap, manajer gerai mendatangi kami dan meminta maaf atas kejadian tersebut. Bagi saya, mungkin kejadian demikian tidak biasa saya alami di Indonesia. Seorang manajer sendiri mendatangi dan meminta maaf pada pembeli. Namun bagi mereka, “kegagalan” melayani konsumen adalah kesalahan besar dan harus diselesaikan secara profesional sekaligus tulus. Membutuhkan kepekaan, kesadaran penuh, fokus, dan konsentrasi untuk mampu demikian. 

Berjalan beberapa menit, sampailah di Fusion. Bangunan pabrik sederhana yang berada satu lokasi dengan pabrik lain. Seperti ciri khas East57 pada catatan saya sebelumnya, yaitu optimalisasi tanah atau lean. Factory guide bersama CEO, Mieko Noguchi sudah menunggu kedatangan kami. Setelah briefing, kami memasuki lokasi produksi dan showroom. Tidak terlihat banyak karyawan di sana, hanya sekitar 15 orang bekerja di dalam ruang yang tidak terlalu besar. Demo pembuatan kaca seni dimulai dan sangat memukau prosesnya, dari serbuk kaca yang dipanaskan hingga pembentukannya. Semua memerlukan ketangkasan dan fokus tinggi. Beberapa waktu kemudian, kami memasuki showroom kaca seni. Terdapat berbagai koleksi baik yang dikomersialkan maupun yang hanya disimpan sebagai pajangan, koleksi pribadi. Sangat indah penampakannya, sangat detil tekstur dan pewarnaannya. 
pic: karya Fusion (aurora gunung salju)

Fusion mengambil tema tentang kehidupan, alam, binatang, manusia, musim, dan budaya. Mieko mengaku bahwa alam adalah sumber inspirasi yang kaya akan keindahan. Waktu produksi untuk sebuah kaca seni bisa memakan 7 hari. Menariknya, ketika ditemukan ketidaksempurnaan, maka mereka akan meleburkan kembali kaca seni itu dan membuatnya dari awal. Saya jadi teringat kisah bagaimana Walt mengulang seluruh proses produksi film Pinokio pada saat akhir ditemukan bentuk Jiminy (jangkrik) dinilai tidak pas. Mereka sangat menjaga kesempurnaan. Fusion mempekerjakan seniman profesional, mereka yang tidak mudah puas dan terus berkreasi menuju yang terbaik. Karya-karya mereka memang dapat dirasakan pancaran semangat kesempurnaannya.

pic: Gundam (Odaiba)
Istilah proses tidak akan mengkhianati hasil nampak dari cara mereka (orang Jepang) bekerja. Saya mulai menyadarinya, prinsip-prinsip bisnis ala Jepang yang kita kenal seperti Lean, Kanban, Kaizen, kemudian pada tataran teknis ada JIT merupakan prinsip yang memang berfokus pada proses. Proses yang terfokus dan sempurna. Bekerja dulu baru berhasil kemudian, bukan sebaliknya. Saya jadi teringat celetuk kawan saya di sana, “Gundam ukuran nyatanya keren dan detil banget” saat berada di Odaiba Gundam Base. Sebuah patung elektronik raksasa berwujud robot legendaris, Gundam Unicorn. Detilnya memang terlihat begitu sempurna dan dikerjakan dengan serius. 


Fokus dan kesempurnaan adalah kunci tradisional Jepang, termasuk Fusion yang terus berusaha dilestarikan. Sebagai tambahan, mungkin Anda pernah mengetahui tentang upacara teh Jepang. Proses yang begitu panjang dan sarat dengan makna spesifik, mulai dari cara meracik bahan, menggunakan alat seperti okama, mizu sashi, koboshi dsb, menuang ke cangkir, posisi badan penyaji dan tamu, cara memutar cangkir, dan sebagainya. Proses ini wajib dilakukan dengan sadar, fokus, konsentrasi, dan sempurna. Kesempurnaan fokus dan fokus kesempurnaan yang sering dikenal dengan istilah mindfulness. Dan tak boleh dilewatkan bahwa proses demikianlah yang mampu menghasilkan karya yang bernilai tinggi.

Pertanyaan kontemplatif, bagaimana Anda melakukan pekerjaan Anda? 

Kamis, 26 Oktober 2017

East 57: Lean Adalah Way of Life, Bukan Sekedar Konsep Bisnis

18–23 Oktober 2017, perjalanan saya bersama rekan ke Negeri Sakura. 5 hari yang mengajarkan banyak tentang kehidupan. Beberapa postingan saya ke depan akan membagikan pengalaman tersebut, mutiara Jepang dengan perspektif yang berbeda.

Minimalis, salah satu kata yang kerap muncul saat berbincang tentang negeri bonsai, Jepang. Tidak berlebihan karena memang demikian adanya. Kemudian kata ini popular dengan istilah lean. Berawal dari cari penginapan murah, kemudian kami tertarik cari via AirBnB dan tertujulah pada East 57, hostel di daerah Asakusabashi, sekitar 1 jam-an dari Narita Airport. Turun di stasiun Asakusabashi, berjalan kaki sekitar 6 menit. Penampakannya seperti café & bar sederhana 6 lantai.

Masuk, kami langsung disapa (yang dalam bahasa Indonesia) “Terima kasih sudah mampir”.  Salah seorang dari kami melakukan transaksi, mengambil kunci dan saya langsung mencari lokasi kamar. Cukup shock saat saya membuka kamar saya. Tidak ada space lagi selain rak imut di samping kasur 1x2 meter. Sangat berdempetan dengan kamar tetangga. Entah ini kamar tidur atau kamar hamster, canda kami. Tata letaknya, seperti sebuah ruang besar yang disekat menjadi banyak kamar mini. Bahkan ada yang menggunakan ranjang tingkat. Sangat cocok buat backpacker.
pic: penampakan kamar

Kamar mandi dan lain-lain ada di luar dan dipakai bersama. Penasaran, saya masuk ke sana, ukurannya kira-kira 1 x 1 meter. Wow! Aktivasi shower hanya sekitar 1 menit saja. Jika ingin mengaktifkan kembali, tinggal tekan tombol pemicu air. Jelas teknik ini akan mengurangi pemborosan air alias ngirit. Di depan terdapat sebuah wastafel, mungkin termini yang pernah saya lihat. Setelah cuci tangan, cuci muka saya ambil tissue gulung yang disediakan di sana. Begitu tipis. Jika biasanya kita memakai tissue lapis dua, di sana hanya 1 lapis. Selesai, saya tolah-toleh mencari tempat sampah. Setelah memperhatikan tiap sisi, akhirnya saya temukan 1 tempat sampah di salah satu sudut. Ternyata, memang di Jepang tidak banyak tempat sampah umum. Hal ini untuk mendidik masyarakat agar tidak mudah nyampah, mengingat biaya olahnya cukup besar.

Hari makin malam, perut saya mulai lapar. Turun menuju bar hendak memesan kentang goreng atau apa saja. Seorang karyawan, wanita kawaii mengatakan, “Sorry we’re closed. You may order one day before.” Wah, mau makan saja perlu PO (pre-order). Mereka tidak mau berisiko “membuang” sisa makanan yang tidak laku. Akhirnya bersama kawan, kami terpaksa keluar mencari ramen.
pic: bersama siswa dan alumni
Bukan pengalaman glamor, namun sangat mengesankan. Mungkin Anda berpikir, manajemen East57 kebangetan pelit. Jika bertukar posisi, mungkin mereka justru melihat gaya hidup orang Indonesia kelewat boros. Saya pikir, ini masalah habit dan budaya.  

Saya sejenak bertanya “Inikah penerapan Lean (ramping) sesungguhnya?” Mereka memanfaatkan space seoptimal mungkin. Mereka sangat sempurna menjaga efisiensi tanpa mengesampingkan kenyamanan dan terutama kebersihan. Mereka menjaga keseimbangan value, tenaga, waktu, dan biaya. Sebagian besar masyarakat, khususnya bisnis di sana berhasil menerapkan Lean dengan baik karena Lean adalah way of life, sesuatu yang telah menyatu dan menjadi kebiasaan.

Mungkin ini petunjuk jawaban atas pernyataan, mengapa Lean sulit diterapkan di perusahaan Indonesia. Benar, karena hanya sebatas aplikasi kognitif dan belum menyatu sebagai gaya hidup. Lean bukan sekadar ambisi efisiensi demi citra dan performa tahunan, lean adalah cara hidup. Lean bukan untuk kepentingan manajemen, lean adalah kesejahteraan dan keseimbangan alam. Bagaimana mereka (orang Jepang) bukan hanya berpikir biaya, namun lebih berkonsentrasi pada kesejahteraan sumber daya alam, air, tanah, udara, dan hutan masa sekarang dan masa depan. 

Dan yang paling mengejutkan, untuk 5 hari 4 malam, saya hanya membayar sekitar 1 jutaan saja. Tarif penginapan yang sangat murah untuk kelas Tokyo. Jika Anda ingin benar belajar dan merasakan sensasi Lean, mungkin perlu mencoba ke sana.

Senin, 16 Oktober 2017

Mengapa Kita Tidak Puas dengan "Gaji"

pic: well-beingsecret
Pernahkah Anda lihat posting-an glamor friend sosmed dan rasanya nyesek? Hari ini di Paris, besok di China, lusa di Antartika. Belanja barang branded bagai artis wannabe. Lalu dalam hati Anda mulai berguman, "Enak banget dia, kerjanya gitu aja, tapi bisa belanja ini itu, jalan-jalan ke luar negeri, bla bla bla". Entah kenapa, Anda mulai menjadi gelisah, berhipotesis, iri, hingga membenci tanpa alasan yang jelas. 

Sebenarnya, yang bikin nyesek itu postingan friend glamor Anda, atau pikiran Anda sendiri?

Setuju atau tidak, tanpa sadar kita suka membandingkan diri dengan orang-orang yang kita anggap lebih sukses hidupnya. Kita berupaya meraih apa yang mereka (orang yang kita anggap sukses) raih. Kita mulai bekerja mati-matian, mengorbankan segalanya yang justru membuat hidup tidak lebih tenang. Kemudian kecewa atas pekerjaan dan bisnis yang kita tekuni.

Arocas & Tang (2016) dalam penelitiannya menguji 3 variabel tentang ketidakpuasan seseorang terhadap tingkat gaji yang diperolehnya. Kita boleh menginterpretasi kata gaji sebagai pendapatan. Ketiga variabel itu adalah kecintaan atas uang, standar, dan faktor budaya. Pertama, memang hidup butuh uang. Segala material diperoleh hanya dengan uang. Dalam hal ini, peneliti lebih menekankan pada sikap cinta uang, bukan tentang uang itu sendiri. Ketika manusia menjadi pecinta uang, segala upaya yang ia lakukan tak lain hanya untuk memperoleh uang. Waktu untuk uang, bekerja untung uang, bahkan bernafas hanya untuk uang. Mengejar, mencintai uang adalah pemicu sikap tamak dan rakus. Dalam kondisi demikian, berapapun pendapatan atau gaji yang diperoleh tidak pernah memuaskan. Tidak heran jika para petinggi negeri yang bergaji relatif layak masih saja korupsi hingga trilyunan rupiah. Itulah pecinta uang.

Menariknya, banyak sekolah mengajarkan kita untuk menjadi budak ekonomi, mengejar keuntungan sebesar-besarnya dengan pengorbanan sekecil-kecilnya. Sebuah hukum yang sangat berbeda dengan hukum Tuhan tentang pengorbanan yang mulia adalah mengorbankan yang terbaik. Hubungan antar manusia akan terdisrupsi oleh sikap ini. Bahkan kedamaian batin akan terus tergerus. Lepas dari segala kontroversi, saya teringat kalimat bijak AA Gym bahwa hidup yang mendamaikan adalah hidup yang mengejar cukup bukan mengejar kaya, karena kaya tidak ada batasnya. 

Kedua, tentang standar. Variabel ini akan menjawab pertanyaan tadi. Sesuatu yang nyesek itu darimana sumbernya? Mereka yang merasa terusik dengan kehidupan orang lain yang lebih sukses dapat dipastikan adalah mereka yang membandingkan kekurangan diri dengan kelebihan orang lain.  Ini adalah penggunaan standar yang tidak seimbang. Bahkan, grandmaster Catur akan kalah telak saat bertanding melawan juara dunia Karate. Ketika kita melihat diri dan orang lain dengan cara lebih bijaksana, kita akan menemukan bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Fokuslah pada apa yang kita miliki sebagai sebuah anugerah dan kekayaan, yang belum tentu dimiliki orang lain. Kesejahteraan, kekayaan tidak hanya sebatas uang. Kesehatan, kesenangan, kedamaian, dan kebahagiaan, juga kekayaan itu sendiri. Satu hal yang perlu kita renungkan, bahwa menjadi manusia paling berbahagia dan damai tidak memerlukan saldo besar, hanya perlu hati yang besar. Tetap jalani kehidupan dan pekerjaan dengan segala upaya terbaik namun jangan lupa syukuri apa yang Anda miliki dan dapatkan.

Ketiga, budaya. Ada pepatah "kita adalah bentukan lingkungan". Hal ini benar adanya. Lingkungan memiliki budaya, tata nilai, yang pada akhirnya akan membentuk pola pikir kita. Berkumpul dengan orang-orang pesimis dan pencibir akan menumbuhkan iri hati dan tukang gosip, yang sebenarnya merupakan manifestasi atas ketidakmampuan diri untuk memenuhi kesenangan atau kekecewaan atas nasib yang dijalaninya. Begitu pula jika kumpulan Anda adalah mereka yang saling bersaing kelas ekonomi, sadari dan tidak perlu terjerumus ke dalamnya karena itulah awal penderitaan dan beban hidup Anda. Fokus hidup Anda akan bergeser dari membangun keluarga bahagia menjadi pengejar kesenangan dan status sosial. Jika demikian, segera keluar dan cari komunitas yang saling membangun.

Semuanya berawal dari benak pikiran kita. Bagaimana kita memaknai dan menyikapi kekayaan, bagaimana cara memandang diri kita dihadapan orang lain, dan budaya dimana kita bertumbuh. Meletakkan pikiran pada cara pandang yang benar akan membuat hidup kita damai, sejahtera, dan penuh syukur.


Semoga bermanfaat!