Jumat, 22 September 2017

Prinsip Dasar Kepemimpinan yang "Terlupakan"

Ninjago, bukan film pilihan saya di tahun ini. Tak ada minat sama sekali mengingat pengalaman tidak ada stori yang kuat dalam serialnya. Dari pengamatan sepintas, terbukti tidak ada yang istimewa dengan penjualan Lego Ninjago. Produksi set baru lini ini bagai eskalasi kominten, terus bermunculan namun pergerakannya tidak secepat lini lain seperti Marvel, DC, Starwars, atau City yang memang lebih murah harganya. Bisnis besar Lego tengah mengalami pasang surut. Seperti diberitakan LA Times, bahwa pendapatan dan net profit mereka di semester ini menurun masing-masing 5% dan 3% sejak 13 tahun terakhir. Ninjago the movie diharap jadi angin segar bagi posisi keuangan Lego Company dengan angan-angan pendapatan hingga 40 juta USD pada awal minggu pemutaran.

Jumat lalu, saya terpaksa mengantar anak saya nonton Ninjago. Surprisingly, kali ini Lego benar-benar serius menggarap film layar lebarnya. Seperti Lego Batman the movie yang juga memiliki alur cerita dan pesan moral yang kuat. Film ini mengajarkan what does make you a true Ninja. Jika Anda penyuka gaya pesan moral Kung Fu Panda, mungkin Anda akan menyukai Ninjago. Monomyth yang cukup kompleks. Lloyd, seorang remaja yang sedang kehilangan jadi diri. Ayahnya, Garmadon adalah penjahat (warlord) ternama yang dibenci oleh penduduk kota Ninjago. Ia berambisi menguasai dan menjadi walikota. Lloyd merindukan seorang ayah yang baik, bukan Garmadon yang meninggalkannya sejak bayi. Lloyd adalah salah 1 ninja rahasia (green ninja) bentukan Master Wu (yang disuarakan oleh Jacky Chan). Ia terpaksa harus menaklukkan ayahnya. Ninjago the movie menceritakan perjalanan Lloyd menjadi ninja sejati, pemimpin ninja rahasia lima elemen. Seperti biasa, saya mencoba berpikir keras dan memperhatikan setiap percakapan dan menemukan 4 hakikat kepemimpinan sejati, yang mungkin sedang dilupakan oleh dunia modern.

1. Melihat dari sudut pandang berbeda
Lloyd selalu merasa bukan siapa-siapa. Tak ada yang menyukainya selain 5 sahabat ninja rahasia, ia selalu galau akan hidupnya. Dalam satu adegan, Master Wu menasehatinya, "Lihatlah segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda". Saya teringat kalimat bijaksana Konfusius, "Segala sesuatu memiliki keindahan, hanya kita yang tidak mampu melihat semuanya." Demikian pula halnya, Lloyd calon pemimpin yang harus merubah paradigmanya, mencoba melihat sesuatu dari sisi yang berbeda. Pada akhirnya, ia mampu melihat sosok ayah yang baik dalam Garmadon hingga menyadarkannya untuk kembali ke jalan yang benar. Demikian pula dalam kepecundangannya, Lloyd akhirnya melihat sosok pemimpin hebat. Dalam hidup, kita sering menemui jalan buntu saat menghadapi masalah. Nampaknya tidak ada lagi cara menyelesaikannya. Segala upaya sudah dicoba. Di sinilah kita berkesempatan belajar melatih kesadaran untuk merubah sudut pandang. Dengan merubah atau memperluas sudut pandang, kita kan menjadi makin bijaksana dan kreatif. Seburuk-buruknya orang, tetap memiliki kebaikan. Sebaliknya, sebaik-baiknya orang, ia memiliki kekurangan. Pandanglah setiap kegagalan sebagai cara mengetahui metode alternatif yang lebih baik. Cara pandang demikian akan memudahkan kita bersosialisasi, bekerja sama, berkreasi, dan menggerakkan orang lain.

2. Kekuatan dalam hati adalah senjata terkuat
Selama ini, tim ninja rahasia mengandalkan robot (mecha) untuk menggagalkan niat Garmadon menguasai kota. Hingga suatu saat, kecerobohan dan ketidaksabaran Lloyd mengacaukan segalanya. Lloyd mengaktifkan senjata terhebat di dalam museum Master Wu, membangkitkan monster terbesar bernama Meowthra dan kota Ninjago hacur, termasuk robot-robot Ninjago.  Lloyd berusaha keras memperbaiki keadaan, namun ia tetap saja buntu, ia tidak melihat kehebatan apapun di dalam dirinya selain bergantung pada kecanggihan robot. Kali ini Master Wu benar-benar kecewa sambil melontarkan nasehat bahwa senjata terkuat bukanlah itu (baca: robot atau teknologi), tapi apa yang ada dalam hati. Saya teringat keluh kesah pengusaha dan beberapa klien saya tentang disruption. Bahkan buku-buku bertema disruption sedang naik daun. Banyak diantara kita salah mengartikan fenomena ini. Kita menilainya sebagai revolusi teknologi yang menggoyahkan (raksasa) bisnis yang telah ada. Benarkah taxi online, toko online, adalah disruptor? Jika cara pandang kita linier, kita akan beriman demikian. Coba putar sudut pandang dan renungkan, bukankah para "distuptor" itu tidak lebih dari orang-orang biasa yang lebih mampu berempati memahami kebutuhan pasar? Stigma pada perusahaan disruptor sebenarnya hanya ilusi dan kekacauan berpikir kita. Para korban bukanlah mereka yang lambat mengadopsi teknologi, namun mereka yang lambat merespon kebutuhan pasar yang kebetulan sedang beralih ke teknologi internet. Kekuatan sesungguhnya bukan pada teknologi itu sendiri, namun pada pembangunan empati dan relasi jiwa antarmanusia. Kekuatan yang bersumber dari hati. 

3. Inner piece dan right path
Setelah bertarung dengan Garmadon, dalam perjalannanya ke kuil tersembunyi, Master Wu terseret arus sungai dan hilang. Ia berpesan 2 poin pada ninja rahasia, selalu cari potongan kecil dalam diri dan jalan yang benar. Potongan kecil juga terbaca kedamaian dalam diri. Konsep ini dikenal dengan mindfulness, bagaimana kita tetap tenang, damai dalam menghadapi kondisi apapun. Inilah kunci dari kepemimpinan apapun. Sebelumnya, Lloyd kehilangan kedamaian, kalap dan mencuri senjata terbesar di museum Master Wu dan akibatnya, semua kacau. Sebenarnya, masalah dalam hidup akan selalu ada, dan keberhasilan mengatasinya adalah pilihan. Siapa yang memilih jalan mindfulness, akan berpeluang besar keluar dari masalah. Sebaliknya, siapa yang dikuasai ambisi dan emosi, akan hancur. Inner piece bagai desiran ombak lembut yang mampu mengikis batu karang. Kedua, memilih jalan yang benar. Pada satu adengan, tim ninja rahasia berada di persimpangan jalan, antara right path dan short cut. Hasutan Garmadon mendorong tim ninja memilih jalan pintas yang berujung pada malapetaka. Pesan moral sederhana yang kita semua pahami, namun tidak mudah dijalani. Kadang, kita cenderung memilih jalan pintas dan berharap bisa memotong proses. Namun sejatinya, proses adalah jalan pembelajaran yang benar. Tanpa proses (fisik, jiwa, dan roh), kita akan menjadi pribadi yang lemah, rapuh, dan seringkali baper

4. Green element
Lloyd terlarut dalam kesedihan mengetahui ia adalah ninja elemen hijau. Sementara anggota tim lain mendapat elemen yang hebat, air, api, es, tanah, petir. Tidak tampak kehebatan apapun dari elemen hijau. Bahkan Master Wu tidak menjelaskan dengan baik apa itu hijau. Perjalanan yang ditempuh pada akhirnya menyadarkan dan mengungkap kehebatan elemen hijau. Hijau adalah warna kehidupan yang mengkoneksikan seluruh elemen alam. Lloyd adalah pemimpin yang harus mampu mensinerjikan seluruh kekuatan tim demi satu tujuan. Lloyd mulai menyadari dan mensyukuri elemen hijau. Inilah titik balik, tim ninja tidak lagi mengandalkan teknlogi mecha. Ia memberdayakan kekuatan yang memang sudah ada dalam dirinya. Demikianlah tugas sejati pemimpin. Menjadi orkestrator untuk mensinerjikan seluruh sumber daya demi pencapaian visi bersama. Pemimpin bukanlah orang yang hebat dalam segala-galanya, ia adalah orang yang mampu menggerakkan orang-orang hebat. Ninjago juga menegaskan bahwa potensi organisasi bukan terletak pada teknologi semata, namun pada potensi manusia itu sendiri. Pada akhir kisah, sentuhan kahidupan, manusiwi inilah yang mengembalikan Garmadon ke jalan kebaikan. Kasih dan pengampunan menjadi titik terang masalah dalam Ninjago. Seperti prinsip Toyota, "Membangun mobil adalah membangun manusia". Google, Walt Disney, dan segudang perusahaan bernilai selalu membangun pada karyawan terelbih dahulu. Sudahkan orientasi pengembangan organisasi Anda tepat pada aspek manusia? Atau masih terjebak pada alat dan teknologi?

Jika dicermati, keempat prinsip ini berorientasi pada aspek manusia, mindfulness dan kindfulness yang harus dibangun terlebih dahulu sebelum bicara strategi, apalagi pencapaian visi. Faktor inilah yang membedakan Ninja sejati dan bukan. Ada satu lokasi yang menarik dalam Ninjago, Temple of Fragile Foundation. Sebuah kuil raksasa yang fondasinya sangat rapuh dan akhirnya roboh. Aspek manusia dan kepemimpinan adalah fondasi dari setiap organisasi. Seperti prinsip Balanced Scorecard, tanpa aspek human capital yang kokoh pada perspektif learning and growth, perancangan visi indah dan tujuan organisasi akan sirna dan sia-sia. Sederhana semestinya, namun modernitas, konflik kepentingan, kompleksitas persaingan, kapitalisme akut, membuat kita lupa sentuhan manusia sebagai sebuah kemuliaan.

Semoga bermanfaat!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar