Selasa, 01 Agustus 2017

Cara "Ndheso" Menggerakkan Tim

pic: inovasee
Hari ini (1/8/17) kali pertama saya mengunjungi Desa Tanjungan, lokasi proyek pengabdian kepada masyarakat dibawah tim Universitas Surabaya (Idfi, Anton, dan Cak Ut). Desa sederhana yang memang tidak terkenal. Kami berencana menghadiri rapat bersama perangkat desa, kecamatan, kabupaten, serta dinas pariwisata.

Tiba di sana, ketua tim mengajak saya mendatangi sebuah danau sedang yang masih terkesan alami. Beberapa saat disana, terlihat warga tengah sibuk bekerja memperbaiki jembatan. Spontan 2 dari mereka mendatangi kami dan menyapa ramah. Mereka adalah salah satu sesepuh dan pemuda aktivis desa. Kami saling berkenalan dan banyak cerita tentang asal usul danau dan potensi tersembunyi di sana, mengingat desa ini adalah salah satu peninggalan kerajaan Majapahit. Mereka sempat mengajak saya berkeliling hutan samping danau naik sepeda motor, sensasinya memang seperti offroad.

Jam menunjukkan pukul 9.50, sudah saatnya kami melanjutkan perjalanan ke balai desa, mengingat rapat akan dimulai pukul 10.00. Tiba di sana, saya terkagum-kagum melihat ruang rapat sudah penuh. 100% undangan perangkat desa sudah hadir tanpa ada mesin presensi yang menakutkan. Menurut panitia, sejak 30 menit yang lalu, mereka sudah siap. Nampak ibu-ibu PKK sibuk menyuguhkan konsumsi dan bapak-bapak merapikan layar dan kursi. Semua kompak dan lugu.

Beberapa saat kemudian, doa dan sambutan dimulai. Dalam rapat tersebut, tim kami bertujuan untuk melakukan penilaian awal tentang kualitas SDM yang ada. Kekuatan swadaya masyarakat sangat kental. Bekerja sepenuh hati untuk anak cucu adalah motivasi mereka. Saya teringat pemandangan pertama tadi, warga bergotong royong membangun jembatan. Mereka bekerja tanpa upah limpah, semuanya hanya demi kemajuan bersama. Bahkan jika kucuran dana janji presiden tak kunjung cair, mereka tetap berusaha mandiri semampunya untuk membangun desa. Kehidupan mereka sangat sederhana, guyub, tidak pitungan, saling percaya, penuh syukur, dan produktif dengan perspektif mereka. Sebuah kondisi yang bagi saya sangat langka di kota besar, apalagi di perusahaan kapitalis. 

Apakah ini kondisi alami karena mereka masyarakat desa yang jauh dari modernitas?

Saya pikir bukan. Ini adalah prinsip. Prinsip yang makin hilang di dalam organisasi modern yang mengutamakan efisiensi, pendapatan, dan profit daripada manusia. Warga Tanjungan memiliki satu prinsip kehidupan yang sama. Hidup adalah tentang ibadah dan perbuatan baik kepada sesama (termasuk anak dan cucu kelak). Mereka hidup dan bekerja dengan tujuan. Mereka menemukan komunitas yang memiliki tujuan sama dan pada akhirnya, tujuan bersama inilah yang menggerakkan mereka bersama-sama. Mereka tidak menerima imbalan finansial berlimpah, mereka tidak perlu presensi waktu hadir dan pulang saat bekerja, mereka tidak perlu diawasi cctv untuk bekerja all out. Mereka bekerja untuk tujuan hidup, bukan ketaatan pada sebuah sistem. Mereka mengabdi kepada Allah Sang Pencipta, bukan untuk perut bos.

Mungkinkah idealisme ini diterapkan pada organisasi modern?

Sangat mungkin! Self Determination Theory mengungkap bahwa tujuan merupakan faktor utama yang menggerakkan manusia. Saya yakin ketika seorang karyawan menemukan tujuan hidupnya selaras dengan tujuan organisasi, mereka akan bekerja penuh hati dan pikiran. Mereka akan hadir saat diperlukan, mereka akan bekerja tanpa diancam, mereka akan lembur untuk menyelesaikan tugas tanpa dipaksa. Tidak perlu pengawasan sistem karena ia bertujuan dan mampu mengawasi dirinya sendiri. Sebaliknya sistem kendali yang tidak pada tempatnya justru akan kontra produktif dan menghancurkan trust. Karyawan adalah manusia. Sama halnya dengan warga desa Tanjungan. Mereka bukan mesin atau robot. Mereka berkehendak bebas. Memang tugas utama manajemen, khususnya terkait human resource bukan lagi sekedar fungsi personalia, menghitung gaji dan memberi punishment, namun pada upaya penyelarasan tujuan. Bantulah mereka (baca: karyawan) menemukan tujuan hidupnya atau setidaknya menyelaraskan tujuan hidupnya dengan tujuan organisasi, maka kita akan mendapatkan hati mereka, tim yang loyal, penuh dedikasi, tidak keterlaluan transaksional dan produktif. 

Cukup lama saya mempelajari aspek perilaku dalam bisnis, namun berinteraksi dengan warga Tanjungan menegaskan kembali bagaimana cara terbaik menggerakkan sebuah tim. Sudah saatnya, kita yang "sombong" hidup di kota dan bekerja di perusahaan modern, belajar lagi dari kebijaksanaan sederhana wong ndheso. 

Semoga bermanfaat!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar