Sabtu, 19 Agustus 2017

Kematian Organisasi Mapan, Kepemimpinan, dan Regenerasi

pic: cars 3 disney pixar
Lightning McQueen, seorang pembalap F1 kawakan terobsesi memenangkan pertandingan, mengulang sejarah ketenaran dan kemuliaan masa lalu. Kali ini rangkaian pertandingan musim Piston Cup sedang berlangsung. Dibawah tim RustEze McQueen, ia sangat yakin menjadi pemenang kembali.

Pertandingan perdana menjadi pengalaman pertama McQueen kalah. Seorang pendatang baru bernama Jackson Storm dengan mudah mengalahkannya pada putaran terakhir. Kekalahan ini menjadi tamparan keras McQueen atas kesombongannya, mengagungkan masa lalu. Begitu pula dalam beberapa pertandingan berikutnya, McQueen harus besar hati menerima kegetiran layaknya pecundang Kekalahan terakhir bahkan membuat McQueen lepas kendali dan mengalami kecelakaan parah karena kondisi roda yang tidak memadai. Tinggal 1 lagi pertandingan Florida yang akan menentukan karir dan masa pensiunnya.

Mengetahui ini, Sterling, pemegang brand RustEze segera mengirimkan seorang pelatih, Cruz Ramirez untuk membantunya menjadi pemenang kembali. Cruz adalah pelatih mudi yang bermimpi menjadi pembalap profesional. Namun sayang, ia harus mengubur niatnya karena dianggap tidak masuk akal. Seiring waktu berjalan, latihan McQueen nampaknya sia-sia. Memang teknologi McQueen sudah out of date, tidak seperti para pendatang baru yang bermesin turbo, digital, dan canggih, termasuk Jackson. Tidak mudah baginya menerima kenyataan bahwa ia sudah "usang". Jangankan melawan Jackson, McQueen sendiri kalah gesit dibanding Cruz. Cruz bahkan terlihat lebih berbakat, namun ia hanya bernasib sebagai pelatih. Tekad McQueen untuk tetap menjadi pemenang terus bergelora dan tiba harinya pertandingan terkahir Florida, pertandingan yang diprediksi dengan peluang kemenangan hanya sekitar 1 persen.

Beberapa lap dilalui, dan jelas McQueen tertinggal dibanding Jackson muda. Tiba-tiba ia teringat pada impian Cruz, menjadi pembalap profesional, spontan ia meminta timnya menyiapkan Cruz untuk melanjutkan pertandingan. Singkatnya, Cruz menerima permintaan ini, menyelesaikan lap-lap terakhir McQueen bahkan ia berhasil mengungguli Jackson. Tim McQueen berhasil membawa kemenangan. Inilah sinopsis singkat film Cars 3.

Tidak mudah saya menebak akhir film ini, melihat poster promosi yang sama sekali tidak mengutamakan titik lihat pada Cruz. Alurnya sederhana seperti film keluarga Disney lainnya. Kesederhanaan yang memudahkan penonton memetik pesan moralnya. Saya mencatat 2 pesan moral utama yang dapat kita kontekstualisasikan pada kepemimpinan dalam organanisasi masa kini.

1. Kita semua menua dan dikalahkan oleh pendatang baru
Bagi pebisnis kawakan, tidak mudah menerima kenyataan pendatang baru, pesaing baru yang lebih unggul dalam berbagai aspek dan perlahan menggerogoti pangsa pasarnya. Namun itulah kenyataan. Segala sesuatu yang menua akan digantikan oleh yang muda. Manuver pendatang baru akan selalu lebih inovatif, lincah, dan tidak terjerat birokrasi panjang. Hal yang sama yang dapat kita amati dalam bisnis transportasi online, toko online, maupun penyedia jasa tempat tinggal online yang perlahan membunuh pengusaha bisnis penginapan jadul. Hal yang sama akan terjadi di setiap industri, yang tradisional akan terdisrupsi oleh yang kekinian. Kondisi yang sama dihadapi McQueen. Penolakan diri atas penuaan justru membawanya pada kecelakaan maut. Teknologi baru Jackson dengan sangat mudah menyingkirkan McQueen dari arena pertandingan. Sadar diri menerima kondisi adalah cara terbaik yang pada akhirnya membuka hati McQueen untuk mempersilakan Cruz masuk sebagai penggantinya. Kemenangan tim tidak akan terjadi jika McQueen masih melekati egonya untuk menjadi superhero bagi tim RustEze.


Disrupsi pendatang baru dapat terjadi di berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam kepemimpinan. Banyak pemimpin senior di dalam orgnanisasi modern enggan berpisah dengan fasilitas dan jabatannya, yang sebenarnya secara kognitif dan psikomotorik sudah tidak seperti pada masa kejayaan lalunya. Bakat-bakat muda yang dianggap berpotensi menjadi pesaing mulai disingkirkan dengan berbagai peraturan baru.

Pada masa sabaticalnya, McQueen sempat berkata ,"I can't go out on the track and do the same old thing. It wouldnt work!" Artinya, perlu cara baru untuk menghadapi arena bisnis baru. Cara-cara lama sudah usang dan pasti tidak akan berhasil. Smokey, salah satu mentor McQueen berkata, "You will never as fast as Storm, but you can be smarter than him." Pernyataan ini mengajarkan bahwa pemain senior memang secara fisik tidak lagi mampu bersaing, namun ia tetap memiliki kepandaian atau lebih tepatnya kebijaksanaan, yang jarang dimiliki oleh pemain junior. Bagaimanapun juga, si senior adalah mereka yang kaya masa lalu, tapi miskin masa depan. Dan sebaliknya, si junior adalah mereka yang kaya masa depan, tapi miskin masa lalu. Pemimpinan yang bijaksana perlu memiliki mental kesiapan pensiun sejak ia mulai diangkat  menjadi pemimpin. Tidak ada yang abadi selamanya. Tim McQueen berhasil karena kesiapannya untuk beregenerasi. Mengikhlaskan tampuk kepemimpinan dipegang oleh yang lebih muda dan berbakat. 


2. Regenerasi yang tepat adalah kunci sustainability
Regenerasi adalah kunci solutif dari film Cars 3. Bagaimana kehebatan McQueen menemukan bakat Cruz yang bahkan tak seorangpun mengetahuinya, termasuk dirinya yang tidak cukup yakin dengan nasibnya. Proses regenerasi mudah dibicarakan namun tidak untuk diterapkan. Kenikmatan menjabat dan kemelekatan adalah tantangan utama pemimpin existing, bahkan tidak banyak yang saat ini mengetahui, apalagi menyiapkan siapa bakal penggantinya. Namun pemimpin hebat seperti McQueen pada akhirnya peduli akan tentang masa depan organisasi, melebihi ego pribadi. Cars 3 mengajarkan 3 tahap regenerasi, yaitu mengenali bakat calon pengganti, mengasah bakat, dan mengarahkan pada tata nilai yang benar. Kita dapat melihat bagaimana McQueen tertegun mendengar impian Cruz. Gadis muda berbakat yang tidak pernah punya kesempatan maju. Kebesaran jiwa McQueen mengakui potensi besar Cruz inilah kunci utama regenerasi tim RustEze. Selanjutnya dalam adegan-adegan latihan bersama, justru tanpa sadar McQueen lebih banyak mengajarkan tentang teknik balapan pada Cruz dan bakat terpendam itu makin lama makin nampak jelas, Cruz adalah calon jawara, the future leader. Hingga pada titik balik, McQueen meminta Cruz melanjutkan pertandingan akhir di Florida. Cruz menyadari kalimat bijak yang pernah ia ucapan, "Don't fear of failure, be affraid of not having a chance." Ia mengambil peluang itu dan satu lagi tindakan ksatria McQueen, ia menjadi navigator Cruz. Kali ini ia tidak lagi mengajari teknik balapan. Ia menekankan pada value dan prinsip sebagai pemenang. Jika McQueen tidak merelakan Cruz menggantikannya, jelas ia akan pensiun selamanya dari dunia F1. 

Regenerasi adalah kunci orgasnisasi kawakan menghadapi pemain baru. Proses yang juga dikenal dengan rejuvenation. Regenerasi yang bebas dan berpirnsip, bukan regenerasi yang masih dibayang-bayangi sekelompok senior pengidap postpower syndrome, apalagi bayang-bayang yang tidak didasari tata nilai yang benar. Peran mantan pemimpin bukan lagi sebagai pemimpin. Mereka adalah orang tua, mereka adalah mentor, coach, pembimbing spiritual, mereka adalah ayah dan ibu yang pada titik tertentu harus rela dan percaya pada anak-anaknya. Menjalankan organisasi memiliki prinsip yang sama dengan sebuah keluarga yang melangsungkan dinastinya dengan tetap mempertahankan value-value utamanya (seperti kejujuran, kerja keras, keberanian, daya juang, sportivitas, dan kerendahan hati). Saya menyebut model ini sebagai Parenting Model Regeneration, tidak ada ketakutan kehilangan rejeki, tidak ada ketakutan kalah populer, tidak ada ketakutan tidak dibutuhkan karena sudah pensiun. Yang ada adalah orang tua yang mengasihi dan menyiapkan anak-anaknya demi keberlangsungan dan nama baik keluarga di masa depan. Yang ada hanya anak-anak yang terdidik dengan benar, berbakti, dan  mengasihi orang tuanya. 

Film Cars 3 bakal menjadi salah 1 dari 3 film favorit saya sepanjang 2017, sementara menantikan The Last Jedi. Semoga bermanfaat!

Selasa, 01 Agustus 2017

Cara "Ndheso" Menggerakkan Tim

pic: inovasee
Hari ini (1/8/17) kali pertama saya mengunjungi Desa Tanjungan, lokasi proyek pengabdian kepada masyarakat dibawah tim Universitas Surabaya (Idfi, Anton, dan Cak Ut). Desa sederhana yang memang tidak terkenal. Kami berencana menghadiri rapat bersama perangkat desa, kecamatan, kabupaten, serta dinas pariwisata.

Tiba di sana, ketua tim mengajak saya mendatangi sebuah danau sedang yang masih terkesan alami. Beberapa saat disana, terlihat warga tengah sibuk bekerja memperbaiki jembatan. Spontan 2 dari mereka mendatangi kami dan menyapa ramah. Mereka adalah salah satu sesepuh dan pemuda aktivis desa. Kami saling berkenalan dan banyak cerita tentang asal usul danau dan potensi tersembunyi di sana, mengingat desa ini adalah salah satu peninggalan kerajaan Majapahit. Mereka sempat mengajak saya berkeliling hutan samping danau naik sepeda motor, sensasinya memang seperti offroad.

Jam menunjukkan pukul 9.50, sudah saatnya kami melanjutkan perjalanan ke balai desa, mengingat rapat akan dimulai pukul 10.00. Tiba di sana, saya terkagum-kagum melihat ruang rapat sudah penuh. 100% undangan perangkat desa sudah hadir tanpa ada mesin presensi yang menakutkan. Menurut panitia, sejak 30 menit yang lalu, mereka sudah siap. Nampak ibu-ibu PKK sibuk menyuguhkan konsumsi dan bapak-bapak merapikan layar dan kursi. Semua kompak dan lugu.

Beberapa saat kemudian, doa dan sambutan dimulai. Dalam rapat tersebut, tim kami bertujuan untuk melakukan penilaian awal tentang kualitas SDM yang ada. Kekuatan swadaya masyarakat sangat kental. Bekerja sepenuh hati untuk anak cucu adalah motivasi mereka. Saya teringat pemandangan pertama tadi, warga bergotong royong membangun jembatan. Mereka bekerja tanpa upah limpah, semuanya hanya demi kemajuan bersama. Bahkan jika kucuran dana janji presiden tak kunjung cair, mereka tetap berusaha mandiri semampunya untuk membangun desa. Kehidupan mereka sangat sederhana, guyub, tidak pitungan, saling percaya, penuh syukur, dan produktif dengan perspektif mereka. Sebuah kondisi yang bagi saya sangat langka di kota besar, apalagi di perusahaan kapitalis. 

Apakah ini kondisi alami karena mereka masyarakat desa yang jauh dari modernitas?

Saya pikir bukan. Ini adalah prinsip. Prinsip yang makin hilang di dalam organisasi modern yang mengutamakan efisiensi, pendapatan, dan profit daripada manusia. Warga Tanjungan memiliki satu prinsip kehidupan yang sama. Hidup adalah tentang ibadah dan perbuatan baik kepada sesama (termasuk anak dan cucu kelak). Mereka hidup dan bekerja dengan tujuan. Mereka menemukan komunitas yang memiliki tujuan sama dan pada akhirnya, tujuan bersama inilah yang menggerakkan mereka bersama-sama. Mereka tidak menerima imbalan finansial berlimpah, mereka tidak perlu presensi waktu hadir dan pulang saat bekerja, mereka tidak perlu diawasi cctv untuk bekerja all out. Mereka bekerja untuk tujuan hidup, bukan ketaatan pada sebuah sistem. Mereka mengabdi kepada Allah Sang Pencipta, bukan untuk perut bos.

Mungkinkah idealisme ini diterapkan pada organisasi modern?

Sangat mungkin! Self Determination Theory mengungkap bahwa tujuan merupakan faktor utama yang menggerakkan manusia. Saya yakin ketika seorang karyawan menemukan tujuan hidupnya selaras dengan tujuan organisasi, mereka akan bekerja penuh hati dan pikiran. Mereka akan hadir saat diperlukan, mereka akan bekerja tanpa diancam, mereka akan lembur untuk menyelesaikan tugas tanpa dipaksa. Tidak perlu pengawasan sistem karena ia bertujuan dan mampu mengawasi dirinya sendiri. Sebaliknya sistem kendali yang tidak pada tempatnya justru akan kontra produktif dan menghancurkan trust. Karyawan adalah manusia. Sama halnya dengan warga desa Tanjungan. Mereka bukan mesin atau robot. Mereka berkehendak bebas. Memang tugas utama manajemen, khususnya terkait human resource bukan lagi sekedar fungsi personalia, menghitung gaji dan memberi punishment, namun pada upaya penyelarasan tujuan. Bantulah mereka (baca: karyawan) menemukan tujuan hidupnya atau setidaknya menyelaraskan tujuan hidupnya dengan tujuan organisasi, maka kita akan mendapatkan hati mereka, tim yang loyal, penuh dedikasi, tidak keterlaluan transaksional dan produktif. 

Cukup lama saya mempelajari aspek perilaku dalam bisnis, namun berinteraksi dengan warga Tanjungan menegaskan kembali bagaimana cara terbaik menggerakkan sebuah tim. Sudah saatnya, kita yang "sombong" hidup di kota dan bekerja di perusahaan modern, belajar lagi dari kebijaksanaan sederhana wong ndheso. 

Semoga bermanfaat!